وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَا

Dan bumi, setelah itu, Dia hamparkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَٰلِكَ دَحَاهَاwa-l-ardha ba'da dzaalika dahaahaadan bumi, setelah itu, Dia hamparkan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  2. بَعْدَba'dasesudah
  3. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  4. دَحَاهَاdahaahaaDia hamparkan

Inti bacaan

Persiapan bumi untuk kehidupan: 'dan bumi, setelah itu, Dia hamparkan', urutan logis penciptaan yang mempersiapkan lingkungan sebelum kehidupan dapat berkembang di atasnya.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika' (jauh) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'itu': draf sudah tepat.

Kata (دَحَاهَا, dahaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal keenam di surah ini.

Enam akar tunggal seperti (دَحَاهَا, dahaahaa) sudah terkumpul sampai ayat ini, dan satu lagi menyusul di 79:34. Tujuh seluruhnya di satu surah pendek, dan tidak satu pun diterangkan Al-Qur'an.

Kepadatan seperti itu patut dicatat. Sebuah surah yang panjangnya empat puluh enam ayat memuat tujuh akar yang tidak pernah dipakai lagi di 6235 ayat lain.

Kata (بَعْدَ, ba'da) menyatakan urutan waktu. Jadi bumi dihamparkan sesudah langit ditinggikan dan disempurnakan.

Susunan itu memberi urutan yang jarang dinyatakan. Al-Qur'an biasanya menyebut langit dan bumi bersama tanpa menyebut mana yang lebih dulu; di sini urutannya disebut terang-terangan.

Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) adalah kata penunjuk jauh yang menunjuk seluruh perbuatan di 79:27 sampai 79:29. Jadi satu kata menampung tiga ayat.

Kata (وَالْأَرْضَ, wa al-ardh) didahulukan dari kata kerjanya. Susunan seperti itu menonjolkan yang dikenai perbuatan sebelum perbuatannya disebut.

Cara yang sama dipakai di 79:32, yang juga mendahulukan bendanya. Dua ayat di bagian ini memakai susunan yang sama persis.

Perhatikan bahwa ayat ini cuma menyebut satu perbuatan, berbeda dari 79:28 dan 79:29 yang menyebut dua. Polanya diputus tepat di ayat ini.

Pemutusan itu sejalan dengan isinya. Di sini pembicaraan berpindah dari langit ke bumi, dan perpindahannya ditandai dengan berubahnya pola.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sesudah (دَحَاهَا, dahaahaa) jumlah perbuatan per ayat berubah tepat di titik perpindahan.

Kata (دَحَاهَا, dahaahaa) memakai kata ganti objek yang menunjuk bumi di ayat yang sama. Jadi bendanya disebut dua kali: sekali sebagai kata, sekali sebagai kata ganti.

Bumi dinyatakan dihamparkan sesudah langit selesai, dan itu satu-satunya urutan yang disebut di seluruh rangkaian ini. Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut urutan, sedangkan ayat sebelum dan sesudahnya tidak menyebut satu keterangan waktu pun. Cuma di sini waktu dinyatakan dengan satu kata yang menunjuk urutan.

Penyebutan itu ganjil di tengah rangkaian yang seluruhnya tanpa ukuran. Tidak ada lama, tidak ada jarak, dan tiba-tiba ada satu kata tentang urutan.

Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa cuma urutan yang disebut. Yang bisa dibaca cuma bahwa dari seluruh keterangan waktu yang mungkin, yang dipilih justru yang paling sederhana.

Urutan tidak menuntut alat ukur. Ia cukup menyatakan mana yang lebih dulu, dan itu bisa dipahami siapa saja tanpa perlu menghitung.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke penciptaan bumi setelah penciptaan langit. Ayat ini berpindah ke bumi yang dihamparkan sesudah langit. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal keenam di surah ini.

Enam akar tunggal sudah terkumpul sampai ayat ini, dan satu lagi menyusul di 79:34. Tujuh seluruhnya di satu surah pendek, dan tidak satu pun diterangkan Al-Qur'an.

Kata ketiganya menyatakan urutan waktu, sehingga bumi dihamparkan sesudah langit ditinggikan dan disempurnakan. Susunan itu memberi urutan yang jarang dinyatakan, karena Al-Qur'an biasanya menyebut langit dan bumi bersama tanpa menyebut mana yang lebih dulu.

Kata keempatnya kata penunjuk jauh yang menunjuk seluruh perbuatan di 79:27 sampai 79:29, sehingga satu kata menampung tiga ayat.

Ayat ini cuma menyebut satu perbuatan, berbeda dari 79:28 dan 79:29 yang menyebut dua, sehingga polanya diputus tepat di titik perpindahan dari langit ke bumi. Penyebutan urutan itu ganjil di tengah rangkaian yang seluruhnya tanpa ukuran. Ayat ini menyebut urutan, sedangkan ayat sebelum dan sesudahnya tidak, sehingga cuma di sini waktu dinyatakan. Dari seluruh keterangan waktu yang mungkin, yang dipilih justru yang paling sederhana, karena urutan tidak menuntut alat ukur dan bisa dipahami siapa saja.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal keenam di surah ini, dan satu lagi menyusul di 79:34. Tujuh seluruhnya di satu surah yang panjangnya empat puluh enam ayat, dan tidak satu pun pernah dipakai lagi di 6235 ayat lain. Enam akar tunggal yang terkumpul sebelum satu surah selesai menandai kosakata yang memang khas. Kekhasan itu tidak diberi satu penunjuk pun. Kosakata yang tidak dipakai di tempat lain menuntut pembacanya menerima batas pengetahuannya.
  • Kata ketiganya menyatakan urutan waktu, sehingga bumi dihamparkan Allah sesudah langit ditinggikan dan disempurnakan. Susunan itu memberi urutan yang jarang dinyatakan, karena Al-Qur'an biasanya menyebut langit dan bumi bersama tanpa menyebut mana yang lebih dulu. Di sini urutannya disebut terang-terangan lewat satu kata. Menyebut urutan tanpa menyebut lama adalah cara memberi keterangan yang tidak bisa diperdebatkan. Yang tidak berangka tidak bisa dibantah dengan angka. Keterangan yang paling sederhana sering yang paling sulit dibantah.
  • Kata keempatnya kata penunjuk jauh yang menunjuk seluruh perbuatan di 79:27 sampai 79:29. Jadi satu kata menampung tiga ayat, dan Allah tidak mengulang penyebutan satu pun di antaranya. Rangkaian yang diikat seperti itu memaksa pembacanya membawa tiga ayat sekaligus ketika sampai di sini. Satu kata penunjuk yang menampung tiga ayat menuntut pembacanya membawa ketiganya sekaligus. Yang tidak membawanya kehilangan apa yang ditunjuk. Membawa tiga ayat sekaligus adalah pekerjaan yang diserahkan kepada pembacanya.
  • Kata pertamanya didahulukan dari kata kerjanya, dan susunan seperti itu menonjolkan yang dikenai perbuatan sebelum perbuatannya disebut. Cara yang sama dipakai Allah di 79:32, yang juga mendahulukan bendanya. Dua ayat di bagian ini memakai susunan yang sama persis, dan keduanya menyebut bagian dari bumi. Menaruh benda di depan kalimat menentukan apa yang lebih dulu terbayang. Letak sebuah kata ikut menyusun gambaran di benak pembacanya. Apa yang lebih dulu terbayang menentukan bagaimana sisa kalimatnya dibaca.
  • Ayat ini cuma menyebut satu perbuatan, berbeda dari 79:28 dan 79:29 yang menyebut dua. Polanya diputus tepat di ayat ini, dan pemutusan itu sejalan dengan isinya karena di sini pembicaraan Allah berpindah dari langit ke bumi. Jumlah perbuatan per ayat berubah persis di titik perpindahan. Pola yang berubah tepat di titik perpindahan menandai bahwa perubahannya memang disengaja. Yang berubah bersamaan biasanya berhubungan. Perubahan yang berbarengan dengan perpindahan pokok biasanya bukan kebetulan.
  • Kata terakhirnya memakai kata ganti objek yang menunjuk bumi di ayat yang sama, sehingga bendanya disebut dua kali: sekali sebagai kata, sekali sebagai kata ganti. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika satu benda disebut dua kali di dalam satu ayat pendek, sedangkan di ayat lain benda yang lebih besar cukup disebut sekali? Menyebut satu benda dua kali di dalam satu ayat pendek adalah pemborosan yang disengaja. Yang diulang biasanya yang ingin ditekankan. Pengulangan di dalam satu ayat pendek selalu patut ditanyakan sebabnya.