أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

Darinya Dia mengeluarkan air dan padang gembalanya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَاakhraja minhaa maa'ahaa wa-mar'aahaadarinya Dia mengeluarkan air dan padang gembalanya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَخْرَجَakhrajamengeluarkan
  2. مِنْهَاminhaadarinya
  3. مَاءَهَاmaa'ahaaairnya
  4. وَمَرْعَاهَاwa-mar'aahaadan rumputnya

Inti bacaan

Penyediaan sumber daya esensial: 'darinya Dia mengeluarkan air dan padang gembalanya', kelengkapan infrastruktur yang mendukung baik kebutuhan manusia (air) maupun hewan (padang gembala).

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَمَرْعَاهَا, wa mar'aahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 9 ayat saja, antara lain 2:104, 20:54, 23:8, dan 57:27.

Di 20:54 akar (وَمَرْعَاهَا, wa mar'aahaa) dipakai untuk perintah makan dan menggembalakan ternak. Di 23:8 dan 57:27 ia dipakai untuk memelihara amanat dan memelihara sesuatu dengan benar.

Jadi akar (وَمَرْعَاهَا, wa mar'aahaa) yang cuma hidup di sembilan ayat memuat menggembala hewan dan memelihara amanat. Yang menyatukannya cuma satu gambaran: menjaga sesuatu supaya tumbuh.

Kata (أَخْرَجَ, akhraja) diulang dari 79:29, dan dua ayat itu satu-satunya di surah ini yang memakainya. Di 79:29 yang dikeluarkan terang, dan di sini air serta padang rumput.

Perhatikan susunannya. Yang dikeluarkan dari langit satu hal, dan yang dikeluarkan dari bumi dua hal. Bumi diberi lebih banyak sebutan daripada langit.

Perbandingan itu ganjil kalau ditimbang dengan besarnya. Langit yang disebut lebih besar penciptaannya di 79:27 justru diberi lebih sedikit rincian.

Kata (مِنْهَا, minhaa) memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 79:30. Jadi dua ayat itu terikat, dan bumi tidak disebut ulang.

Kata (مَاءَهَا, maa-ahaa) dan (وَمَرْعَاهَا, wa mar'aahaa) sama-sama memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk bumi. Jadi air dan padang rumput disebut sebagai milik bumi.

Cara yang sama dipakai di 79:29 untuk malam dan terang, yang disebut sebagai milik langit. Dua ayat berdampingan memakai susunan kepemilikan yang sama.

Perhatikan urutan yang disebut. Air lebih dulu, lalu padang rumput. Yang menghidupkan mendahului yang dihidupkan.

Urutan itu sejalan dengan urutan di 80:25 sampai 80:27, yang juga menyebut air lebih dulu lalu tumbuhan. Dua surah bertetangga memakai urutan yang sama.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya menaruh air sebelum apa pun yang tumbuh darinya.

Air dan padang rumput disebut berpasangan, dan keduanya keluar dari satu tempat yang sama. Perhatikan pula bahwa dua hal yang disebut di ayat ini keduanya tentang hidup, dan bukan tentang bentuk atau ukuran. Air menghidupkan, dan padang rumput menghidupi.

Susunan itu berbeda dari ayat sebelumnya, yang menyebut bumi dihamparkan. Yang pertama tentang bentuknya, dan yang kedua tentang isinya.

Jadi tiga ayat tentang bumi bergerak dari bentuk ke isi lalu ke penahannya di 79:32. Rangkaian (مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا, maa-ahaa wa mar'aahaa) berdiri di tengahnya tanpa satu penghubung pun.

Yang bisa dibaca cuma urutannya sendiri. Dan urutan itu berjalan dari yang paling luas ke yang paling dibutuhkan, lalu ke yang paling berat.

Tafsiran

Ayat ini merinci penciptaan bumi dengan sumber air dan padang gembala. Ayat ini menyebut air dan padang rumput yang dikeluarkan dari bumi. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 9 ayat saja, antara lain 2:104, 20:54, 23:8, dan 57:27.

Di 20:54 akar itu dipakai untuk perintah makan dan menggembalakan ternak, sedangkan di 23:8 dan 57:27 untuk memelihara amanat dan memelihara sesuatu dengan benar. Jadi satu akar yang cuma hidup di sembilan ayat memuat menggembala hewan dan memelihara amanat.

Kata pertamanya diulang dari 79:29, dan dua ayat itu satu-satunya di surah ini yang memakainya. Di 79:29 yang dikeluarkan terang, dan di sini air serta padang rumput, sehingga bumi diberi lebih banyak sebutan daripada langit.

Kata ketiga dan kata terakhirnya sama-sama memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk bumi, sama seperti susunan di 79:29 untuk langit.

Urutan yang disebut menaruh air lebih dulu, lalu padang rumput, sejalan dengan urutan di 80:25 sampai 80:27. Susunannya berbeda dari ayat sebelumnya yang menyebut bentuk bumi, dan di sini yang disebut isinya. Dua hal yang disebut di ayat ini keduanya tentang hidup: air menghidupkan, dan padang rumput menghidupi. Tiga ayat tentang bumi bergerak dari bentuk ke isi lalu ke penahannya di 79:32, dan rangkaian itu tidak ditandai satu kata penghubung pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 9 ayat saja, antara lain 2:104, 20:54, 23:8, dan 57:27. Di 20:54 akar itu dipakai untuk menggembalakan ternak, dan di 23:8 serta 57:27 untuk memelihara amanat. Jadi satu akar memuat menjaga hewan dan menjaga kepercayaan, dan yang menyatukannya cuma gambaran menjaga supaya tumbuh. Menjaga hewan dan menjaga kepercayaan dinamai satu akar, dan keduanya sama-sama menuntut kesabaran. Bahasa menyimpan hubungan yang jarang dipikirkan. Sabar adalah syarat yang sama bagi keduanya, dan syarat itu tidak pernah disebut.
  • Kata pertamanya diulang dari 79:29, dan dua ayat itu satu-satunya di surah ini yang memakainya. Di 79:29 yang dikeluarkan Allah terang dari langit, dan di sini dua hal dari bumi. Perbandingan itu ganjil kalau ditimbang dengan besarnya, karena langit yang disebut lebih besar penciptaannya di 79:27 justru diberi lebih sedikit rincian. Yang lebih besar tidak selalu diberi lebih banyak kata, dan panjang keterangan bukan ukuran kepentingan. Yang dekat dengan hidup sehari-hari justru diberi rincian lebih banyak. Kedekatan sering lebih menentukan panjang keterangan daripada besarnya.
  • Kata keduanya memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 79:30, sehingga dua ayat itu terikat dan bumi tidak disebut ulang Allah. Rangkaian yang diikat kata ganti menolak dibaca sepotong, dan cara itu dipakai berulang di seluruh surah ini. Pembacanya harus membawa sebutan dari ayat sebelumnya di hampir setiap bagian. Ikatan lewat kata ganti membuat tiga ayat tentang bumi terbaca sebagai satu uraian. Memetik satu ayat akan menghilangkan bendanya. Uraian yang diikat rapat menolak dipenggal, dan penggalannya kehilangan bendanya.
  • Kata ketiga dan kata terakhirnya sama-sama memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk bumi, sehingga air dan padang rumput disebut Allah sebagai milik bumi. Cara yang sama dipakai di 79:29 untuk malam dan terang, yang disebut sebagai milik langit. Dua ayat berdampingan memakai susunan kepemilikan yang sama persis. Menyebut sesuatu sebagai milik bumi dan milik langit menaruh keduanya sebagai pemilik, bukan sekadar tempat. Susunan itu berulang di dua ayat berdampingan. Menyebut sesuatu sebagai pemilik berbeda dari menyebutnya sebagai tempat.
  • Urutan yang disebut menaruh air lebih dulu, lalu padang rumput, sehingga yang menghidupkan mendahului yang dihidupkan. Urutan itu sejalan dengan 80:25 sampai 80:27, yang juga menyebut air lebih dulu lalu tumbuhan. Dua surah bertetangga memakai urutan yang sama, dan Allah tidak menandai kesejajaran itu. Menaruh air sebelum apa pun yang tumbuh darinya adalah urutan yang berulang di dua surah bertetangga. Pengulangan itu tidak pernah ditandai. Kesejajaran dua surah cuma terlihat oleh pembaca yang membaca berurutan.
  • Ayat ini cuma menyebut dua hal dari bumi: air dan padang rumput. Allah tidak merinci lebih jauh, padahal di 80:27 sampai 80:31 daftar yang sama diberi delapan jenis. Apa yang dinyatakan sebuah pilihan ketika dua kata dianggap cukup untuk menampung seluruh yang keluar dari bumi? Dua kata yang dianggap cukup untuk menampung seluruh isi bumi menyatakan bahwa yang penting bukan jumlahnya. Cukup atau tidaknya sebuah daftar diukur dari maksudnya, bukan dari panjangnya. Maksud sebuah daftar menentukan cukup tidaknya, bukan jumlah yang didaftarnya.