فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰ
Maka apabila malapetaka terbesar telah datang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَىٰfa-idzaa jaa'ati th-thaammatu l-kubraamaka apabila malapetaka terbesar telah datang
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- جَاءَتِjaa'atidatang
- الطَّامَّةُth-thaammatumalapetaka besar
- الْكُبْرَىٰl-kubraayang terbesar
Inti bacaan
Transisi menuju puncak peristiwa: 'maka, apabila malapetaka terbesar telah datang', penanda momen klimaks yang telah dipersiapkan melalui seluruh argumen dan bukti sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(hari Kiamat)' tidak dipakai.
Kata (الطَّامَّةُ, ath-thaammah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal ketujuh dan terakhir di surah ini.
Tujuh akar tunggal seperti (الطَّامَّةُ, ath-thaammah) berkumpul di surah ini, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Tidak satu pun dipakai lagi di 6235 ayat lain.
Perhatikan sebaran ketujuhnya. Satu di bagian sumpah, dua di bagian hari kiamat awal, tiga di bagian langit dan bumi, dan satu di bagian penutup. Ketujuhnya tersebar merata.
Rangkaian (فَإِذَا جَاءَتِ, fa idzaa jaa-ati) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:34 dan 80:33. Dua ayat itu sama-sama membuka bagian tentang hari kiamat dengan kalimat yang identik.
Kesejajaran itu berlanjut dari ayat sebelumnya. Di 79:33 dan 80:32 ayatnya sama persis, dan di sini dua kata pertamanya sama. Dua pasangan berurutan di dua surah bertetangga.
Yang berbeda cuma nama harinya. Di sini disebut bencana besar, dan di 80:33 disebut suara memekakkan. Dua nama yang berbeda untuk satu hari yang sama.
Nama (الطَّامَّةُ, ath-thaammah) dan namanya di 80:33 sama-sama berasal dari akar yang cuma dipakai sekali. Jadi dua surah bertetangga sama-sama menamai hari kiamat dengan kata yang tidak punya banding.
Kesamaan itu jarang dan tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa menemukannya cuma pembaca yang menaruh kedua surah berdampingan.
Kata (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) menyifati bencana itu sebagai yang terbesar. Kata yang sama dipakai di 79:20 untuk tanda yang diperlihatkan kepada Firaun.
Jadi (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) menyifati tanda terbesar di dunia dan bencana terbesar di akhirat. Dua ayat itu berjarak empat belas ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya.
Kata (فَإِذَا, fa idzaa) menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti di 79:14. Dua kali di surah ini peristiwa besar dilukiskan sebagai yang tinggal menunggu waktu.
Ayat ini membuka bagian terakhir surahnya. Sesudahnya, tiga belas ayat berjalan sampai penutup, dan seluruhnya tentang hari itu.
Perhatikan pula bahwa peralihan dari pemberian ke hari kiamat terjadi dalam satu ayat. Ayat sebelumnya menutup daftar nikmat, dan ayat ini langsung menyebut bencana terbesar.
Lompatan itu keempat kalinya di surah ini. Sebelumnya dari sumpah ke hari kiamat, dari hari kiamat ke kisah, dan dari kisah ke langit.
Empat lompatan tanpa penghubung menandai bahwa surah ini memang disusun sebagai bagian-bagian yang diletakkan berdampingan. Yang menyambungkannya bukan kalimat, melainkan pokoknya.
Cara yang sama dipakai di surah 80, yang juga melompat dari daftar pemberian ke hari kiamat di ayat yang berurutan. Dua surah bertetangga memakai peralihan yang sama.
Tafsiran
Ayat ini membuka gambaran puncak kedahsyatan Hari Kiamat. Ayat ini kembali ke hari kiamat lewat sebutan bencana yang terbesar. Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal ketujuh dan terakhir di surah ini.
Tujuh akar tunggal seluruhnya berkumpul di sini, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34, dan tidak satu pun dipakai lagi di 6235 ayat lain.
Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:34 dan 80:33, dan dua ayat itu sama-sama membuka bagian tentang hari kiamat. Kesejajaran itu berlanjut dari ayat sebelumnya, karena 79:33 dan 80:32 sama persis. Yang berbeda cuma nama harinya, dan kedua nama itu sama-sama berasal dari akar yang cuma dipakai sekali.
Kata terakhirnya menyifati bencana itu sebagai yang terbesar, dan kata yang sama dipakai di 79:20 untuk tanda yang diperlihatkan kepada Firaun.
Kata pertamanya menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti di 79:14. Peralihan dari pemberian ke hari kiamat terjadi dalam satu ayat, dan lompatan itu keempat kalinya di surah ini. Empat lompatan tanpa penghubung menandai bahwa surah ini disusun sebagai bagian-bagian yang diletakkan berdampingan, dan yang menyambungkannya bukan kalimat melainkan pokoknya.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal ketujuh dan terakhir di surah ini, sesudah akar di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, dan 79:30. Ketujuhnya tersebar merata: satu di bagian sumpah, dua di bagian hari kiamat awal, tiga di bagian langit dan bumi, dan satu di penutup. Tujuh akar tunggal yang tersebar merata di satu surah menandai rancangan, bukan kebetulan. Sebarannya sendiri yang menunjukkannya. Sebaran yang merata jarang terjadi tanpa penataan.
- Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:34 dan 80:33. Kesejajaran itu berlanjut dari ayat sebelumnya, karena 79:33 dan 80:32 sama persis kata demi kata. Jadi dua pasangan berurutan di dua surah bertetangga, dan Allah tidak menandai satu pun di antaranya. Dua pasangan berurutan di dua surah bertetangga hampir mustahil terjadi tanpa disusun. Al-Qur'an membiarkannya tanpa satu penanda. Dua surah yang berpasangan di dua ayat berurutan menuntut dibaca bersama.
- Yang berbeda antara dua ayat kembar itu cuma nama harinya: di sini bencana besar, dan di 80:33 suara memekakkan. Kedua nama itu sama-sama berasal dari akar yang cuma dipakai Allah sekali. Jadi dua surah bertetangga sama-sama menamai hari kiamat dengan kata yang tidak punya banding di seluruh kitab. Dua nama tanpa banding untuk satu hari yang sama menyatakan bahwa hari itu memang tidak bisa disamakan dengan apa pun. Namanya ikut menyatakannya. Sebuah nama yang tidak punya banding menandai bahwa yang dinamai juga tidak ada duanya.
- Kata terakhirnya menyifati bencana itu sebagai yang terbesar, dan kata yang sama dipakai Allah di 79:20 untuk tanda yang diperlihatkan kepada Firaun. Jadi satu kata menyifati tanda terbesar di dunia dan bencana terbesar di akhirat. Dua ayat itu berjarak empat belas ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya. Satu kata yang menyifati dua hal terbesar di dua zaman mengikat dunia dan akhirat. Ikatan itu tidak pernah diucapkan. Dua zaman yang berjauhan dipertemukan lewat satu sifat yang sama.
- Kata pertamanya menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti di 79:14. Dua kali di surah ini Allah melukiskan peristiwa besar sebagai yang tinggal menunggu waktu, bukan sebagai kemungkinan yang masih ditimbang. Kepastian itu masuk lewat satu kata, dan tidak satu keterangan pun ditambahkan. Kepastian yang masuk lewat satu kata tidak menyediakan ruang untuk menawar. Yang tinggal menunggu waktu menuntut kesiapan, bukan perhitungan. Kesiapan menuntut setiap hari, sedangkan perhitungan cuma menuntut sekali.
- Ayat ini membuka bagian terakhir surahnya, dan sesudahnya tiga belas ayat berjalan sampai penutup dengan seluruhnya tentang hari itu. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika Allah menutup surah dengan bagian terpanjang tentang hari yang sama, sesudah pembacanya dibawa melewati sumpah, kisah, dan gambaran langit? Bagian terpanjang yang ditaruh paling akhir menandai apa yang paling ingin ditinggalkan pada pembacanya. Letak sering berbicara sekeras isi. Bagian terakhir yang terpanjang menandai apa yang paling ingin diingat pembacanya.