يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ
Pada hari manusia mengingat apa yang telah dia usahakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰyawma yatadzakkaru l-insaanu maa sa'aapada hari manusia mengingat apa yang telah dia usahakan
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يَتَذَكَّرُyatadzakkarumengambil pelajaran
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- مَاmaaapa yang
- سَعَىٰsa'aaia usahakan
Inti bacaan
Momen kesadaran retrospektif: 'pada hari manusia mengingat apa yang telah dia usahakan', titik ketika seluruh riwayat tindakan kembali muncul dalam kesadaran, tidak ada yang benar-benar terlupakan secara permanen.
Penjelasan pilihan kata
Kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:221, 13:19, 14:25, 20:44, 28:43, 39:9, dan 79:35. Jadi ia salah satu kata yang cukup sering dipakai.
Di 20:44 kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru) dipakai di dalam perintah berbicara lembut kepada Firaun supaya ia ingat. Jadi kata itu pernah dipakai di dalam kisah yang sama dengan kisah di surah ini.
Bandingkan dua tempat itu. Di 20:44 mengingat masih mungkin dan masih diharapkan. Di sini mengingat sudah terjadi, tetapi pada hari yang tidak lagi berguna.
Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menghubungkannya cuma satu kata yang sama dan satu tokoh yang sama.
Kata (مَا سَعَىٰ, maa sa'aa) memakai akar yang juga dipakai di 79:22, tempat Firaun disebut bergegas menjauh. Jadi satu akar mengikat usaha yang dilakukan dan usaha yang diingat kembali.
Perbandingan itu tajam. Yang di 79:22 dipakai untuk lari dari kebenaran di sini menjadi bahan yang harus diingat pada hari perhitungan.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan seorang tertentu. Ini satu-satunya pemakaiannya di surah ini.
Perhatikan letaknya. Kisah tentang satu orang sudah ditutup di 79:26, dan di sini pembicaraan melebar kepada seluruh jenis manusia.
Jadi surah ini bergerak dari yang tidak dinamai, ke satu nama, lalu kembali ke seluruh manusia. Tiga tahap itu tidak ditandai satu kalimat pun.
Kata (يَوْمَ, yauma) menyatakan waktu dan berdiri tanpa kata kerja utamanya, sama seperti susunan di 79:6. Dua kali di surah ini keterangan waktu diberikan lebih dulu.
Kata (يَتَذَكَّرُ, yatadzakkaru) berbentuk sekarang, sehingga mengingat itu dilukiskan sedang berlangsung. Pembacanya ditaruh di dalam kejadiannya, bukan di luar.
Perhatikan bahwa yang diingat perbuatannya sendiri, bukan perbuatan orang lain. Tidak ada satu kata pun tentang menyalahkan siapa pun di ayat ini.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang diingat manusia itu baik atau buruk. Yang disebut cuma bahwa ia mengingat apa yang diusahakannya.
Ketiadaan penilaian itu berlaku sampai 79:37. Baru di sana dua golongan dibedakan, dan sebelumnya gambaran berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.
Susunan seperti itu membuat pembacanya masuk lebih dulu sebelum dipilah. Setiap orang mengingat, dan pemilahannya datang sesudah pengingatan.
Urutan itu sejalan dengan cara surah ini bertutur di bagian lain. Gambaran selalu didahulukan, dan penilaian menyusul di belakangnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa manusia akan diingatkan kembali pada seluruh usahanya. Ayat ini menyebut hari ketika manusia mengingat apa yang telah diusahakannya. Kata keduanya muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:221, 13:19, 14:25, 20:44, 28:43, 39:9, dan 79:35.
Di 20:44 kata itu dipakai di dalam perintah berbicara lembut kepada Firaun supaya ia ingat, sehingga ia pernah dipakai di dalam kisah yang sama dengan kisah di surah ini. Bedanya, di 20:44 mengingat masih mungkin dan masih diharapkan, sedangkan di sini mengingat sudah terjadi pada hari yang tidak lagi berguna.
Kata terakhirnya memakai akar yang juga dipakai di 79:22, tempat Firaun disebut bergegas menjauh. Jadi satu akar mengikat usaha yang dilakukan dan usaha yang diingat kembali.
Kata ketiganya memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, dan ini satu-satunya pemakaiannya di surah ini.
Kata pertamanya menyatakan waktu dan berdiri tanpa kata kerja utamanya, sama seperti susunan di 79:6. Susunan itu sejalan dengan cara surah ini bertutur di bagian lain, tempat gambaran selalu didahulukan dan penilaian menyusul. Ayat ini tidak menyebut apa yang diingat manusia itu baik atau buruk; yang disebut cuma bahwa ia mengingat apa yang diusahakannya. Ketiadaan penilaian itu berlaku sampai 79:37, sehingga setiap orang masuk lebih dulu ke dalam gambarannya sebelum dipilah.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:221, 13:19, 14:25, 20:44, 28:43, 39:9, dan 79:35. Di 20:44 Allah memakainya di dalam perintah berbicara lembut kepada Firaun supaya ia ingat. Jadi kata itu pernah dipakai di dalam kisah yang sama, dan bedanya di sana mengingat masih diharapkan sedangkan di sini ia terjadi pada hari yang tidak lagi berguna. Satu kata yang muncul di dua tempat dari kisah yang sama mengikat harapan dan kenyataan. Yang membedakan cuma kapan ia datang. Terlambat mengingat sama sekali berbeda dari tidak pernah mengingat.
- Kata terakhirnya memakai akar yang juga dipakai di 79:22, tempat Firaun disebut bergegas menjauh. Jadi satu akar mengikat usaha yang dilakukan dan usaha yang diingat kembali. Yang di 79:22 dipakai untuk lari dari kebenaran di sini menjadi bahan yang harus diingat pada hari perhitungan, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Usaha yang dilakukan dan usaha yang diingat dinamai satu akar. Yang sama bunyinya ternyata berjarak seumur hidup. Satu bunyi yang sama bisa menyimpan jarak seumur hidup di antara dua pemakaiannya.
- Kata ketiganya memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis dan bukan seorang tertentu. Ini satu-satunya pemakaiannya di surah ini, dan letaknya sesudah kisah tentang satu orang ditutup di 79:26. Jadi surah ini bergerak dari yang tidak dinamai, ke satu nama, lalu kembali ke seluruh manusia. Bergerak dari yang tanpa nama ke satu nama lalu ke seluruh manusia adalah gerak yang tidak diumumkan. Tiga tahap itu cuma bisa dilihat dengan membaca utuh. Gerak yang tidak diumumkan cuma bisa dilihat oleh yang membaca dari awal.
- Kata pertamanya menyatakan waktu dan berdiri tanpa kata kerja utamanya, sama seperti susunan di 79:6. Dua kali di surah ini Allah memberikan keterangan waktu lebih dulu, dan apa yang terjadi pada waktu itu menyusul kemudian. Susunan yang menggantung seperti itu memaksa ayatnya dibaca berlanjut. Memberi keterangan waktu lebih dulu memaksa pembacanya menunggu. Penungguan itu bagian dari cara ayatnya bekerja. Menunggu adalah bagian dari cara membaca, bukan gangguan di dalamnya.
- Kata keduanya berbentuk sekarang, sehingga mengingat itu dilukiskan sedang berlangsung. Allah menaruh pembacanya di dalam kejadiannya, bukan di luar sebagai penonton. Yang dilukiskan bukan laporan tentang masa depan, melainkan pemandangan yang sedang terjadi di hadapannya. Bentuk waktu yang sedang berlangsung memindahkan pembacanya dari pembaca menjadi saksi. Perpindahan itu tidak diumumkan. Saksi menanggung apa yang dilihatnya, dan pembaca bisa menutup halamannya.
- Yang diingat di ayat ini perbuatannya sendiri, bukan perbuatan orang lain. Allah tidak menyebut satu kata pun tentang menyalahkan siapa pun. Apa yang tersisa bagi seseorang pada hari ketika yang muncul di hadapannya cuma apa yang dikerjakannya sendiri, dan tidak ada satu pihak pun yang bisa dijadikan sebabnya? Sebuah hari ketika tidak ada pihak yang bisa disalahkan meninggalkan seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih sunyi dari itu. Kesunyian yang paling berat adalah kesunyian tanpa siapa pun untuk disalahkan.