فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰ

Maka adapun orang yang melampaui batas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَمَّا مَنْ طَغَىٰfa-ammaa man thaghaamaka adapun orang yang melampaui batas

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَمَّاfa-ammaaadapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. طَغَىٰthaghaamelampaui batas

Inti bacaan

Kategori pertama yang diidentifikasi: 'maka adapun orang yang melampaui batas', pembukaan klasifikasi nasib berdasarkan perilaku, memulai pembedaan antara dua jalan hidup yang berbeda.

Penjelasan pilihan kata

Kata (طَغَىٰ, thaghaa) berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37.

Di 79:17 akar (طَغَىٰ, thaghaa) menamai sikap Firaun, dan alasan pengutusan Musa dibangun atas satu kata itu. Di sini akar yang sama menamai golongan pada hari kiamat.

Jadi akar (طَغَىٰ, thaghaa) mengikat kisah dan penghakiman. Yang dulu ditegur di dalam cerita di sini muncul lagi sebagai golongan yang dinilai.

Perbandingan itu menerangkan mengapa kisah Musa dipasang di tengah surah ini. Ia bukan selipan, melainkan contoh bagi golongan yang disebut di ayat ini.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Yang menghubungkan keduanya cuma satu akar yang berulang dengan jarak dua puluh ayat.

Kata (فَأَمَّا, fa ammaa) membuka pembagian, dan pasangannya datang di 79:40. Jadi ayat ini setengah dari sebuah susunan yang baru lengkap tiga ayat kemudian.

Susunan yang sama dipakai di 80:5 sampai 80:8, yang juga membagi dua golongan dengan cara ini. Dua surah bertetangga memakai cara membagi yang sama.

Kata (مَنْ, man) tidak menamai siapa pun. Golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah, sama seperti golongan lawannya di 79:40.

Jadi dua golongan di penutup surah ini sama-sama dibiarkan terbuka. Tidak ada satu pihak pun yang bisa merasa berada di luar jangkauannya.

Kata (طَغَىٰ, thaghaa) berbentuk lampau, sehingga sikapnya dinyatakan sudah tertanam sebelum hari itu tiba. Bukan sikap yang muncul pada hari perhitungan, melainkan yang dibawa ke sana.

Ayat ini menyebut satu sifat saja, sedangkan pasangannya di 79:40 menyebut dua. Jadi golongan pertama dikenali lewat satu tanda, dan golongan kedua lewat dua.

Perbedaan jumlah itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tercela dinyatakan lebih ringkas daripada yang terpuji.

Dua golongan di penutup surah ini sama-sama disebut tanpa nama dan tanpa jumlah. Perhatikan pula bahwa pembagian dua golongan ini datang paling akhir di surahnya, sesudah seluruh bahannya selesai disodorkan. Sebelumnya empat puluh enam ayat berjalan tanpa memilah siapa pun.

Susunan itu menahan pemilahan sampai seluruh bahannya selesai disodorkan. Sumpah, guncangan, kisah, langit, bumi, dan hari itu disebut lebih dulu.

Jadi pembacanya sudah melewati seluruhnya ketika ia dipilah. Yang memilah bukan kalimat penilaian, melainkan sikapnya sendiri terhadap apa yang sudah dibacanya.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma letak pembagiannya, yang ditaruh sesudah semua bahan diberikan.

Tafsiran

Ayat ini membuka pembagian dua golongan manusia berdasarkan responsnya. Ayat ini membuka pembagian dua golongan dengan menyebut yang melampaui batas. Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, dan akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37.

Di 79:17 akar itu menamai sikap Firaun, dan alasan pengutusan Musa dibangun atas satu kata itu. Di sini akar yang sama menamai golongan pada hari kiamat, sehingga satu akar mengikat kisah dan penghakiman. Perbandingan itu menerangkan mengapa kisah Musa dipasang di tengah surah ini.

Kata pertamanya membuka pembagian, dan pasangannya datang di 79:40. Susunan yang sama dipakai di 80:5 sampai 80:8, sehingga dua surah bertetangga memakai cara membagi yang sama.

Kata keduanya tidak menamai siapa pun, sehingga golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah, sama seperti golongan lawannya di 79:40.

Kata terakhirnya berbentuk lampau, sehingga sikapnya dinyatakan sudah tertanam sebelum hari itu tiba. Dua golongan di penutup surah ini sama-sama disebut tanpa nama dan tanpa jumlah, sehingga tidak satu pihak pun bisa merasa berada di luar jangkauannya. Pembagian dua golongan ini datang paling akhir di surahnya, sesudah sumpah, guncangan, kisah, langit, bumi, dan hari itu disebut lebih dulu. Jadi pembacanya sudah melewati seluruhnya ketika ia dipilah, dan yang memilah bukan kalimat penilaian melainkan sikapnya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya muncul di dua ayat di surah ini: 79:17 dan 79:37. Di 79:17 akar itu menamai sikap Firaun, dan alasan pengutusan Musa dibangun Allah atas satu kata itu. Di sini akar yang sama menamai golongan pada hari kiamat. Jadi satu akar mengikat kisah dan penghakiman, dan yang dulu ditegur di dalam cerita muncul lagi sebagai golongan yang dinilai. Satu akar yang muncul di dua ujung surah mengikat kisah dan penghakiman. Jaraknya dua puluh ayat, dan ikatannya tidak pernah diucapkan. Jarak dua puluh ayat tidak menghapus kesamaan bunyi di antara keduanya.
  • Perbandingan itu menerangkan mengapa kisah Musa dipasang Allah di tengah surah ini. Ia bukan cerita yang diselipkan, melainkan contoh bagi golongan yang disebut di ayat ini. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menghubungkan keduanya cuma satu akar yang berulang dengan jarak dua puluh ayat. Sebuah kisah yang jadi contoh bagi golongan berubah kedudukannya dari cerita menjadi bukti. Letaknya yang menentukan. Letak sebuah kisah menentukan apakah ia dibaca sebagai cerita atau sebagai bukti.
  • Kata pertamanya membuka pembagian, dan pasangannya datang di 79:40. Susunan yang sama dipakai Allah di 80:5 sampai 80:8, yang juga membagi dua golongan dengan cara ini. Dua surah bertetangga memakai cara membagi yang sama, dan itu kesejajaran keempat di antara keduanya sesudah 79:33, 79:34, dan pemakaian satu kata di 79:22. Empat kesejajaran dengan satu surah bertetangga sulit dibaca sebagai kebetulan. Yang berulang sebanyak itu biasanya dirancang. Kesejajaran yang berulang empat kali sudah melewati batas kebetulan.
  • Kata keduanya tidak menamai siapa pun, sehingga golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah, sama seperti golongan lawannya di 79:40. Jadi dua golongan di penutup surah ini sama-sama dibiarkan Allah terbuka. Tidak ada satu pihak pun yang bisa merasa berada di luar jangkauannya. Dua golongan yang sama-sama tanpa nama menutup pintu bagi siapa pun yang ingin merasa aman. Yang tidak dinamai tidak bisa dikecualikan. Menunjuk orang lain menjadi mustahil ketika namanya sengaja dikosongkan.
  • Kata terakhirnya berbentuk lampau, sehingga sikapnya dinyatakan sudah tertanam sebelum hari itu tiba. Bukan sikap yang muncul pada hari perhitungan, melainkan yang dibawa ke sana. Allah menyatakan hal itu lewat bentuk waktu saja, tanpa satu keterangan pun tentang kapan sikap itu mulai tumbuh. Sikap yang sudah tertanam sebelum hari itu tiba tidak bisa disiapkan pada hari itu juga. Bentuk waktunya yang menyatakan hal itu. Sesuatu yang dibawa ke hari itu tidak bisa ditinggalkan di pintunya.
  • Ayat ini menyebut satu sifat saja, sedangkan pasangannya di 79:40 menyebut dua. Jadi golongan pertama dikenali lewat satu tanda, dan golongan kedua lewat dua. Apa yang dinyatakan Allah dengan menyebut yang tercela lebih ringkas daripada yang terpuji, padahal di bagian lain surah ini kedua golongan selalu diberi ruang yang setara? Ringkas dan panjang di dua golongan yang berhadapan adalah pilihan yang tidak diterangkan. Perbedaannya sendiri yang harus dibaca. Perbedaan panjang di antara dua golongan adalah keterangan yang tidak berupa kata.