Ayat 79:40
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
Dan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰwa-ammaa man khaafa maqaama rabbihi wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaadan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
- مَنْmanorang yang
- خَافَkhaafatakut
- مَقَامَmaqaamakedudukan
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- وَنَهَىwa-nahaadan melarang
- النَّفْسَn-nafsajiwa
- عَنِ'anidari
- الْهَوَىٰl-hawaahawa nafsu
Inti bacaan
Dua kualitas kunci golongan kedua: 'orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa', kombinasi kesadaran spiritual (takut) dan pengendalian diri (menahan hawa nafsu), dua elemen yang saling menguatkan dalam membentuk karakter yang berbeda dari golongan pertama.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (مَقَامَ رَبِّهِ, maqaama rabbihi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40. Di 55:46 rangkaian itu dipakai untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga.
Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama, dan keduanya sama-sama disusul janji surga. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Kata (خَافَ, khaafa) berasal dari akar yang dipakai di 112 ayat. Jadi takut salah satu pokok yang paling sering disebut.
Perhatikan bahwa akar (خَافَ, khaafa) berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45, yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan.
Perbedaan keduanya patut dicatat. Yang satu takut yang datang dari mengetahui kebesaran, dan yang lain takut yang datang dari bahaya. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa keduanya dipakai berdampingan.
Kata (وَنَهَى, wa nahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17.
Di hampir seluruh tempat itu akar (وَنَهَى, wa nahaa) dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar. Di sini ia dipakai untuk melarang diri sendiri.
Perpindahan itu tajam. Akar (وَنَهَى, wa nahaa) yang biasanya menyangkut hubungan dengan orang lain di sini dikenakan kepada diri sendiri.
Kata (الْهَوَىٰ, al-hawaa) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Akarnya dipakai di 37 ayat.
Di 4:135 dan 38:26 kata (الْهَوَىٰ, al-hawaa) dipakai di dalam peringatan agar tidak mengikutinya ketika menghukumi. Di 53:3 ia dipakai untuk menyatakan bahwa yang diucapkan bukan dari keinginan diri.
Jadi di tiga tempat lain (الْهَوَىٰ, al-hawaa) berdiri sebagai yang harus dijauhi dalam berbicara dan menghukumi. Di sini ia menjadi yang harus dilarang dari jiwa.
Ayat ini menyebut dua tanda, sedangkan pasangannya di 79:37 dan 79:38 juga menyebut dua. Jadi dua golongan sama-sama dikenali lewat dua tanda, dan kesetaraan itu berlaku di seluruh surah ini.
Perhatikan pula bahwa dua tanda di ayat ini berhubungan seperti sebab dan akibat. Yang takut kepada kedudukan Tuhannya akan menahan jiwanya, dan yang tidak takut tidak punya alasan menahan.
Susunan itu sejajar dengan dua tanda golongan pertama, yang juga berhubungan. Melampaui batas tumbuh dari mendahulukan yang dekat.
Jadi dua golongan sama-sama dilukiskan dengan sepasang sikap yang saling mengikat. Yang satu naik dari dalam ke luar, dan yang lain juga.
Al-Qur'an tidak merangkum kesejajaran itu di mana pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya disusun dengan cara yang sama persis.
Tafsiran
Ayat ini membuka golongan kedua: orang yang takut kepada Tuhan dan mengendalikan hawa nafsu. Ayat ini membuka golongan kedua dengan dua tanda: takut kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan. Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40.
Di 55:46 rangkaian itu dipakai untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga, sehingga dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama dan keduanya sama-sama disusul janji surga.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 112 ayat, dan akar itu berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45 yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan.
Kata kelimanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar, sedangkan di sini untuk melarang diri sendiri.
Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Dua tanda di ayat ini berhubungan seperti sebab dan akibat: yang takut kepada kedudukan Tuhannya akan menahan jiwanya. Susunan itu sejajar dengan dua tanda golongan pertama, yang juga berhubungan, sehingga dua golongan sama-sama dilukiskan dengan sepasang sikap yang saling mengikat.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40. Di 55:46 Allah memakainya untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga. Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama, dan keduanya sama-sama disusul janji surga tanpa satu ayat pun yang menandai kesejajaran itu. Dua tempat yang memakai rangkaian yang sama dan sama-sama disusul janji sulit dibaca sebagai kebetulan. Kesamaannya berlapis dua. Kesamaan yang berlapis lebih sulit dijelaskan sebagai kebetulan daripada kesamaan tunggal.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 112 ayat, dan akar itu berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45 yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan: yang satu takut yang datang dari mengetahui kebesaran, dan yang lain takut yang datang dari bahaya. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa keduanya dipakai berdampingan. Dua akar untuk satu perasaan menandai bahwa perasaan itu punya lebih dari satu asal. Bahasa membedakan apa yang sering disamakan orang. Perbedaan asal sebuah perasaan menentukan seberapa lama ia bertahan.
- Kata kelimanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar. Di sini ia dipakai untuk melarang diri sendiri, sehingga sebuah kata yang biasanya menyangkut hubungan dengan orang lain dikenakan ke dalam. Melarang diri sendiri lebih sulit daripada melarang orang lain, dan kata yang sama dipakai untuk keduanya. Bedanya cuma pada sasarannya. Sasaran sebuah larangan menentukan seberapa berat ia dikerjakan.
- Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Di 4:135 dan 38:26 Allah memakainya di dalam peringatan agar tidak mengikutinya ketika menghukumi, dan di 53:3 untuk menyatakan bahwa yang diucapkan bukan dari keinginan diri. Jadi di tiga tempat lain ia berdiri sebagai yang harus dijauhi dalam berbicara dan menghukumi. Sesuatu yang harus dijauhi dalam menghukumi ternyata juga harus dijauhi dalam hidup sehari-hari. Cakupannya lebih luas daripada yang disangka. Sebuah larangan yang lahir di ruang pengadilan ternyata berlaku juga di rumah sendiri.
- Ayat ini menyebut dua tanda, sedangkan golongan pertama di 79:37 dan 79:38 juga disebut dengan dua tanda. Jadi dua golongan sama-sama dikenali lewat dua tanda, dan kesetaraan itu berlaku di seluruh surah ini. Allah tidak melebihkan satu golongan pun dalam jumlah tanda yang diberikan. Kesetaraan jumlah tanda di dua golongan menjaga keadilan susunannya. Tidak satu pun diberi lebih banyak alasan. Keadilan susunan bekerja tanpa pernah diumumkan sebagai keadilan.
- Dua tanda di ayat ini keduanya berlangsung di dalam diri: takut kepada Allah dan menahan keinginan sendiri. Tidak satu pun bisa disaksikan orang lain. Apa yang dinyatakan sebuah pemilahan ketika golongan yang selamat dikenali lewat dua hal yang tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun kecuali kepada Allah sendiri? Tanda yang tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun menutup jalan bagi pamer. Pengakuan orang lain jadi tidak berguna ketika ukurannya berada di tempat yang tak terjangkau. Ukuran yang tidak terjangkau orang lain menutup jalan bagi penilaian sesama.
Ayat 79:41
فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
Maka sesungguhnya taman itulah tempat tinggalnya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰfa-inna l-jannata hiya l-ma'waamaka sesungguhnya taman itulah tempat tinggalnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- الْجَنَّةَl-jannatataman
- هِيَhiyaia
- الْمَأْوَىٰl-ma'waatempat tinggal
Inti bacaan
Hasil kontras yang jelas: 'maka sesungguhnya taman itulah tempat tinggalnya', pembalikan total dari nasib golongan pertama, penegasan bahwa pilihan berbeda menghasilkan konsekuensi yang sama sekali berlawanan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ, al-jannata hiya al-ma-waa) berpasangan dengan rangkaian penutup di 79:39. Akar kata terakhirnya dipakai di 36 ayat.
Dua ayat itu berbeda cuma pada satu kata. Susunan, penegasan, dan kata ganti (هِيَ, hiya) sama persis, dan yang berbeda cuma nama tempatnya.
Kesamaan itu jarang di dalam Al-Qur'an. Dua ayat yang berjarak satu ayat memakai kerangka yang sama untuk dua akhir yang paling berjauhan.
Kata (الْمَأْوَىٰ, al-ma-waa) diulang dari 79:39, dan dua ayat itu memuat separuh dari seluruh pemakaian kata tersebut. Empat pemakaiannya ada di 32:19, 53:15, 79:39, dan 79:41.
Kata (الْجَنَّةَ, al-jannata) memakai kata sandang, sama seperti kata di 79:39. Dua nama tempat itu sejajar penakrifannya.
Perhatikan bahwa surah ini tidak menyebut satu nikmat pun tentang surga. Yang disebut cuma namanya, dan isinya dibiarkan kosong.
Kekosongan itu sama dengan yang berlaku pada 79:39, yang juga tidak menyebut satu siksa pun. Dua akhir sama-sama cuma dinamai.
Susunan seperti itu jarang. Sebuah gambaran tentang dua akhir biasanya disertai rincian, dan di sini rinciannya tidak diberikan sama sekali.
Kekosongan yang setara itu menjaga kesetaraan dua golongan sampai ayat terakhirnya. Tidak satu pun diberi lebih banyak ruang daripada yang lain.
Kata (فَإِنَّ, fa inna) memuat huruf penegas, sama seperti di 79:39. Dua ayat berpasangan itu sama-sama dibuka dengan penegasan.
Ayat ini menutup pembagian dua golongan. Sesudahnya, 79:42 berpindah kepada pertanyaan tentang waktu hari itu, dan peralihan itu terjadi tanpa satu kalimat penghubung.
Lompatan itu kelima kalinya di surah ini. Lima kali pembicaraannya berpindah tanpa satu penanda, dan lima kali pembacanya harus menyambung sendiri.
Surga disebut sekali saja di seluruh empat puluh enam ayat surah ini, dan penyebutannya ditaruh di ayat ini. Perhatikan pula bahwa surah ini tidak menyebut satu amal pun di dalam pembagiannya. Tidak ada salat, tidak ada sedekah, dan tidak ada perbuatan yang bisa dihitung.
Yang disebut cuma empat sikap: melampaui batas, mendahulukan yang dekat, takut kepada kedudukan Tuhannya, dan menahan jiwa. Keempatnya berada di dalam.
Susunan itu jarang di dalam pembagian dua golongan. Al-Qur'an di banyak tempat menyebut amal, dan di sini ia memilih tidak.
Pilihan itu tidak diterangkan. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang dijadikan pembeda justru bagian yang cuma diketahui pemiliknya dan Tuhannya.
Sebuah pembagian yang bersandar pada hal yang tak terlihat menutup jalan bagi penilaian sesama. Tidak seorang pun bisa menempatkan orang lain di salah satu golongan itu, dan tidak seorang pun bisa memastikan tempatnya sendiri lewat apa yang dilihat orang.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa taman menjadi tempat tinggal bagi golongan yang takut kepada Tuhan. Ayat ini menyebut tempat tinggal bagi golongan kedua. Rangkaian tiga katanya berpasangan dengan rangkaian penutup di 79:39.
Dua ayat itu berbeda cuma pada satu kata, karena susunan, penegasan, dan kata gantinya sama persis. Kesamaan itu jarang di dalam Al-Qur'an, dan dua ayat yang berjarak satu ayat memakai kerangka yang sama untuk dua akhir yang paling berjauhan.
Kata terakhirnya diulang dari 79:39, dan dua ayat itu memuat separuh dari seluruh pemakaian kata tersebut, yang ada di 32:19, 53:15, 79:39, dan 79:41.
Surah ini tidak menyebut satu nikmat pun tentang surga; yang disebut cuma namanya. Kekosongan itu sama dengan yang berlaku pada 79:39, yang juga tidak menyebut satu siksa pun.
Kata pertamanya memuat huruf penegas, sama seperti di 79:39, dan ayat ini menutup pembagian dua golongan. Dua ayat penutup pembagian ini berbeda cuma pada nama tempatnya, dan susunan selebihnya sama persis. Surga disebut sekali saja di seluruh surah ini, dan penyebutannya ditaruh di ayat ini. Surah ini tidak menyebut satu amal pun di dalam pembagiannya: tidak ada salat, sedekah, maupun perbuatan yang bisa dihitung. Yang disebut cuma empat sikap, dan keempatnya berada di dalam diri, sehingga yang dijadikan pembeda justru bagian yang cuma diketahui pemiliknya dan Tuhannya.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian tiga katanya berpasangan dengan rangkaian penutup di 79:39. Dua ayat itu berbeda cuma pada satu kata, karena susunan, penegasan, dan kata gantinya sama persis. Allah memakai kerangka yang sama untuk dua akhir yang paling berjauhan, dan yang membedakan keduanya cuma nama tempatnya. Kerangka yang sama untuk dua akhir yang berlawanan membuat perbandingannya tidak bisa dihindari. Yang berbeda satu kata terasa lebih besar daripada yang berbeda seluruhnya. Kemiripan yang nyaris sempurna menonjolkan titik pisahnya sampai tidak bisa diabaikan.
- Kata terakhirnya diulang dari 79:39, dan dua ayat itu memuat separuh dari seluruh pemakaian kata tersebut, yang ada di 32:19, 53:15, 79:39, dan 79:41. Jadi Allah menumpuk separuh pemakaian satu kata di dua ayat yang berjarak satu ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Separuh pemakaian satu kata yang berkumpul di dua ayat menandai penumpukan yang disengaja. Sebaran biasanya lebih merata daripada itu. Penumpukan yang disengaja selalu menandai bagian yang paling ingin ditekankan.
- Surah ini tidak menyebut satu nikmat pun tentang surga; yang disebut Allah cuma namanya, dan isinya dibiarkan kosong. Kekosongan itu sama dengan yang berlaku pada 79:39, yang juga tidak menyebut satu siksa pun. Susunan seperti itu jarang, karena gambaran tentang dua akhir biasanya disertai rincian. Nama tanpa isi membiarkan pembacanya membawa apa yang paling dikenalnya. Cara itu menjangkau lebih banyak orang daripada satu rincian. Apa yang dibawa pembacanya sendiri selalu lebih tepat baginya daripada rincian umum.
- Kekosongan yang setara itu menjaga kesetaraan dua golongan sampai ayat terakhirnya. Allah tidak memberi satu pun lebih banyak ruang daripada yang lain, baik dalam jumlah tanda maupun dalam rincian akhirnya. Kesetaraan itu berlaku sejak 79:37 sampai ayat ini, tanpa satu penyimpangan. Kesetaraan yang dijaga sampai ayat terakhir menandai bahwa keadilan susunannya memang disengaja. Tidak ada satu kelebihan pun yang terselip. Keadilan yang dijaga sampai kata terakhir menandai bahwa ia memang dirancang.
- Kata pertamanya memuat huruf penegas, sama seperti di 79:39, sehingga dua ayat berpasangan itu sama-sama dibuka Allah dengan penegasan. Dua akhir yang berlawanan dinyatakan dengan tingkat kepastian yang sama. Tidak ada yang dinyatakan lebih pasti daripada yang lain. Dua akhir yang sama-sama ditegaskan menyatakan bahwa keduanya sama pastinya. Yang baik tidak lebih diragukan daripada yang buruk. Kepastian yang setara menutup jalan bagi harapan yang timpang.
- Ayat ini menutup pembagian dua golongan, dan 79:42 berpindah kepada pertanyaan tentang waktu hari itu tanpa satu kalimat penghubung. Lompatan itu kelima kalinya di surah ini. Apa yang dikerjakan sebuah susunan yang lima kali berpindah tanpa penanda, sehingga pembacanya lima kali harus menyambung sendiri apa yang tidak disambungkan? Lima lompatan tanpa penanda menuntut pembacanya bekerja di setiap perpindahan. Pekerjaan itu bagian dari cara membaca surah ini. Bekerja di setiap perpindahan membuat pembacanya tidak sekadar melintas.