وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

Dan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰwa-ammaa man khaafa maqaama rabbihi wa-nahaa n-nafsa 'ani l-hawaadan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. خَافَkhaafatakut
  4. مَقَامَmaqaamakedudukan
  5. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  6. وَنَهَىwa-nahaadan melarang
  7. النَّفْسَn-nafsajiwa
  8. عَنِ'anidari
  9. الْهَوَىٰl-hawaahawa nafsu

Inti bacaan

Dua kualitas kunci golongan kedua: 'orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari hawa', kombinasi kesadaran spiritual (takut) dan pengendalian diri (menahan hawa nafsu), dua elemen yang saling menguatkan dalam membentuk karakter yang berbeda dari golongan pertama.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (مَقَامَ رَبِّهِ, maqaama rabbihi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40. Di 55:46 rangkaian itu dipakai untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga.

Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama, dan keduanya sama-sama disusul janji surga. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata (خَافَ, khaafa) berasal dari akar yang dipakai di 112 ayat. Jadi takut salah satu pokok yang paling sering disebut.

Perhatikan bahwa akar (خَافَ, khaafa) berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45, yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan.

Perbedaan keduanya patut dicatat. Yang satu takut yang datang dari mengetahui kebesaran, dan yang lain takut yang datang dari bahaya. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa keduanya dipakai berdampingan.

Kata (وَنَهَى, wa nahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17.

Di hampir seluruh tempat itu akar (وَنَهَى, wa nahaa) dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar. Di sini ia dipakai untuk melarang diri sendiri.

Perpindahan itu tajam. Akar (وَنَهَى, wa nahaa) yang biasanya menyangkut hubungan dengan orang lain di sini dikenakan kepada diri sendiri.

Kata (الْهَوَىٰ, al-hawaa) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Akarnya dipakai di 37 ayat.

Di 4:135 dan 38:26 kata (الْهَوَىٰ, al-hawaa) dipakai di dalam peringatan agar tidak mengikutinya ketika menghukumi. Di 53:3 ia dipakai untuk menyatakan bahwa yang diucapkan bukan dari keinginan diri.

Jadi di tiga tempat lain (الْهَوَىٰ, al-hawaa) berdiri sebagai yang harus dijauhi dalam berbicara dan menghukumi. Di sini ia menjadi yang harus dilarang dari jiwa.

Ayat ini menyebut dua tanda, sedangkan pasangannya di 79:37 dan 79:38 juga menyebut dua. Jadi dua golongan sama-sama dikenali lewat dua tanda, dan kesetaraan itu berlaku di seluruh surah ini.

Perhatikan pula bahwa dua tanda di ayat ini berhubungan seperti sebab dan akibat. Yang takut kepada kedudukan Tuhannya akan menahan jiwanya, dan yang tidak takut tidak punya alasan menahan.

Susunan itu sejajar dengan dua tanda golongan pertama, yang juga berhubungan. Melampaui batas tumbuh dari mendahulukan yang dekat.

Jadi dua golongan sama-sama dilukiskan dengan sepasang sikap yang saling mengikat. Yang satu naik dari dalam ke luar, dan yang lain juga.

Al-Qur'an tidak merangkum kesejajaran itu di mana pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya disusun dengan cara yang sama persis.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan kedua: orang yang takut kepada Tuhan dan mengendalikan hawa nafsu. Ayat ini membuka golongan kedua dengan dua tanda: takut kedudukan Tuhannya dan menahan diri dari keinginan. Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40.

Di 55:46 rangkaian itu dipakai untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga, sehingga dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama dan keduanya sama-sama disusul janji surga.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 112 ayat, dan akar itu berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45 yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan.

Kata kelimanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar, sedangkan di sini untuk melarang diri sendiri.

Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Dua tanda di ayat ini berhubungan seperti sebab dan akibat: yang takut kepada kedudukan Tuhannya akan menahan jiwanya. Susunan itu sejajar dengan dua tanda golongan pertama, yang juga berhubungan, sehingga dua golongan sama-sama dilukiskan dengan sepasang sikap yang saling mengikat.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata di tengahnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 55:46 dan 79:40. Di 55:46 Allah memakainya untuk orang yang takut kedudukan Tuhannya dan dijanjikan dua surga. Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama untuk satu sikap yang sama, dan keduanya sama-sama disusul janji surga tanpa satu ayat pun yang menandai kesejajaran itu. Dua tempat yang memakai rangkaian yang sama dan sama-sama disusul janji sulit dibaca sebagai kebetulan. Kesamaannya berlapis dua. Kesamaan yang berlapis lebih sulit dijelaskan sebagai kebetulan daripada kesamaan tunggal.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 112 ayat, dan akar itu berbeda dari akar di 79:19, 79:26, dan 79:45 yang juga berarti takut. Surah ini memakai dua akar berbeda untuk satu perasaan: yang satu takut yang datang dari mengetahui kebesaran, dan yang lain takut yang datang dari bahaya. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa keduanya dipakai berdampingan. Dua akar untuk satu perasaan menandai bahwa perasaan itu punya lebih dari satu asal. Bahasa membedakan apa yang sering disamakan orang. Perbedaan asal sebuah perasaan menentukan seberapa lama ia bertahan.
  • Kata kelimanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 54 ayat, antara lain 3:104, 7:157, 16:90, dan 31:17. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk melarang orang lain dari yang mungkar. Di sini ia dipakai untuk melarang diri sendiri, sehingga sebuah kata yang biasanya menyangkut hubungan dengan orang lain dikenakan ke dalam. Melarang diri sendiri lebih sulit daripada melarang orang lain, dan kata yang sama dipakai untuk keduanya. Bedanya cuma pada sasarannya. Sasaran sebuah larangan menentukan seberapa berat ia dikerjakan.
  • Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 4:135, 38:26, 53:3, dan 79:40. Di 4:135 dan 38:26 Allah memakainya di dalam peringatan agar tidak mengikutinya ketika menghukumi, dan di 53:3 untuk menyatakan bahwa yang diucapkan bukan dari keinginan diri. Jadi di tiga tempat lain ia berdiri sebagai yang harus dijauhi dalam berbicara dan menghukumi. Sesuatu yang harus dijauhi dalam menghukumi ternyata juga harus dijauhi dalam hidup sehari-hari. Cakupannya lebih luas daripada yang disangka. Sebuah larangan yang lahir di ruang pengadilan ternyata berlaku juga di rumah sendiri.
  • Ayat ini menyebut dua tanda, sedangkan golongan pertama di 79:37 dan 79:38 juga disebut dengan dua tanda. Jadi dua golongan sama-sama dikenali lewat dua tanda, dan kesetaraan itu berlaku di seluruh surah ini. Allah tidak melebihkan satu golongan pun dalam jumlah tanda yang diberikan. Kesetaraan jumlah tanda di dua golongan menjaga keadilan susunannya. Tidak satu pun diberi lebih banyak alasan. Keadilan susunan bekerja tanpa pernah diumumkan sebagai keadilan.
  • Dua tanda di ayat ini keduanya berlangsung di dalam diri: takut kepada Allah dan menahan keinginan sendiri. Tidak satu pun bisa disaksikan orang lain. Apa yang dinyatakan sebuah pemilahan ketika golongan yang selamat dikenali lewat dua hal yang tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun kecuali kepada Allah sendiri? Tanda yang tidak bisa dibuktikan kepada siapa pun menutup jalan bagi pamer. Pengakuan orang lain jadi tidak berguna ketika ukurannya berada di tempat yang tak terjangkau. Ukuran yang tidak terjangkau orang lain menutup jalan bagi penilaian sesama.