Ayat 79:42
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا
Mereka bertanya kepadamu tentang Saat itu, “Kapan tibanya?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَاyas'aluunaka 'ani s-saa'ati ayyaana mursaahaamereka bertanya kepadamu tentang Saat itu, kapan tibanya
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَسْأَلُونَكَyas'aluunakamereka bertanya kepadamu
- عَنِ'anitentang
- السَّاعَةِs-saa'atihari Kiamat
- أَيَّانَayyaanakapankah
- مُرْسَاهَاmursaahaawaktu terjadinya
Inti bacaan
Pertanyaan yang berulang muncul: 'mereka bertanya kepadamu tentang Saat itu: kapan tibanya?', pengulangan tema pertanyaan tentang waktu kiamat yang sering muncul, menunjukkan keingintahuan (atau skeptisisme) yang persisten.
Penjelasan pilihan kata
'As-saa'ati' diterjemahkan 'Saat itu', acuan baku terjemahan ini untuk nama Hari Kiamat. Kutip mini 'Kapan tibanya?' dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri.
Kata (أَيَّانَ, ayyaana) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42. Jadi kata tanya tentang waktu itu berulang tetapi tidak sering.
Di 7:187, 51:12, dan 75:6 kata (أَيَّانَ, ayyaana) juga dipakai untuk menanyakan kapan hari itu tiba. Jadi empat dari enam pemakaiannya menanyakan hal yang sama.
Kata (مُرْسَاهَا, mursaahaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 11:41, dan 79:42. Di 11:41 kata itu dipakai untuk tempat berlabuhnya bahtera Nuh.
Perhatikan bahwa 7:187 memuat (أَيَّانَ مُرْسَاهَا, ayyaana mursaahaa) sekaligus. Jadi satu ayat lain memakai pasangan yang sama persis, dan di sana pertanyaannya juga dijawab dengan menyerahkan pengetahuannya kepada Allah.
Kesejajaran itu berlanjut. Di 7:187 jawabannya menyatakan bahwa ilmunya di sisi Tuhan, dan di 79:44 jawabannya menyatakan bahwa kesudahannya kepada Tuhanmu. Dua tempat memberi jawaban yang sama dengan kalimat berbeda.
Akar (مُرْسَاهَا, mursaahaa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:32 dan 79:42. Di 79:32 ia dipakai untuk gunung yang ditancapkan, dan di sini untuk waktu berlabuhnya hari itu.
Jadi akar (مُرْسَاهَا, mursaahaa) mengikat gunung yang berhenti dan hari yang akan berlabuh. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (يَسْأَلُونَكَ, yas-aluunaka) memakai kata ganti objek berorang kedua tunggal. Jadi sapaan kembali tunggal, sesudah jamak di 79:27 dan 79:33.
Perpindahan itu keempat kalinya di surah ini. Sapaan berganti antara tunggal dan jamak tanpa satu penanda, dan pembacanya berpindah kedudukan tanpa diberi tahu.
Kata (السَّاعَةِ, as-saa'ah) memakai kata sandang, sehingga yang disebut saat yang dianggap sudah dikenali. Akarnya dipakai di 44 ayat.
Ayat ini membuka lima ayat terakhir surahnya. Lima ayat itu seluruhnya menjawab satu pertanyaan, dan jawabannya bukan berupa waktu.
Pertanyaan tentang waktu hari itu diajukan orang lain, bukan oleh yang disapa. Perhatikan pula bahwa pertanyaan ini dikutip apa adanya. Al-Qur'an tidak menyisipkan satu kata pun yang menandai bahwa pertanyaannya keliru.
Cara itu sama dengan cara mengutip bantahan di 79:10 sampai 79:12. Dua kali di surah ini ucapan orang lain dikutip utuh tanpa satu tanda.
Yang membalasnya bukan bantahan, melainkan jawaban yang mengubah sumbunya. Di 79:13 jawabannya mengubah ukuran perkaranya, dan di 79:44 jawabannya mengubah arah pertanyaannya.
Dua cara menjawab itu sejajar. Keduanya tidak menyanggah, dan keduanya memindahkan perkaranya ke tempat yang tidak bisa dibantah lagi.
Tafsiran
Ayat ini beralih ke pertanyaan orang-orang tentang waktu terjadinya Hari Kiamat. Ayat ini mengutip pertanyaan mereka tentang kapan hari itu tiba. Kata ketiganya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42.
Di 7:187, 51:12, dan 75:6 kata itu juga dipakai untuk menanyakan kapan hari itu tiba, sehingga empat dari enam pemakaiannya menanyakan hal yang sama.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 11:41, dan 79:42. Di 11:41 kata itu dipakai untuk tempat berlabuhnya bahtera Nuh. Jadi 7:187 memuat kedua kata di ayat ini sekaligus, dan di sana pertanyaannya juga dijawab dengan menyerahkan pengetahuannya kepada Allah.
Akarnya juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:32 untuk gunung yang ditancapkan, dan di sini untuk waktu berlabuhnya hari itu.
Kata pertamanya memakai kata ganti objek berorang kedua tunggal, sehingga sapaan kembali tunggal sesudah jamak di 79:27 dan 79:33. Pertanyaan tentang waktu hari itu diajukan orang lain, bukan oleh yang disapa, dan ia dialamatkan kepada orang yang justru dinyatakan tidak memegang jawabannya. Pertanyaan ini dikutip apa adanya, sama seperti cara mengutip bantahan di 79:10 sampai 79:12. Yang membalasnya bukan bantahan melainkan jawaban yang mengubah sumbunya, karena di 79:13 jawabannya mengubah ukuran perkaranya dan di 79:44 mengubah arah pertanyaannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 16:21, 27:65, 51:12, 75:6, dan 79:42. Di 7:187, 51:12, dan 75:6 Allah juga memakainya untuk menanyakan kapan hari itu tiba. Jadi empat dari enam pemakaiannya menanyakan hal yang sama, dan pertanyaan itu ternyata berulang di beberapa surah tanpa pernah dijawab dengan waktu. Sebuah pertanyaan yang berulang di beberapa surah menandai bahwa ia memang selalu diajukan orang. Yang selalu diajukan jarang benar-benar mencari jawaban. Mengulang satu pertanyaan di banyak tempat menandai keresahan, bukan pencarian.
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 7:187, 11:41, dan 79:42, sehingga 7:187 memuat kedua kata di ayat ini sekaligus. Di sana pertanyaannya juga dijawab Allah dengan menyerahkan pengetahuannya kepada-Nya, dan di 79:44 jawabannya menyatakan bahwa kesudahannya kepada Tuhanmu. Dua tempat memberi jawaban yang sama dengan kalimat yang berbeda. Satu ayat lain yang memuat pasangan kata yang sama menyediakan pembanding yang tidak diminta. Pembaca yang mencarinya akan menemukan jawaban kedua. Pembanding yang tidak diminta tetap tersedia bagi yang mencarinya.
- Akar kata terakhirnya muncul di dua ayat di surah ini: 79:32 dan 79:42. Di 79:32 Allah memakainya untuk gunung yang ditancapkan, dan di sini untuk waktu berlabuhnya hari itu. Jadi satu akar mengikat gunung yang berhenti dan hari yang akan berlabuh, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Gunung yang berhenti dan hari yang tiba dinamai satu akar. Keduanya sama-sama sampai di tempat yang sudah ditentukan. Berhenti pada titik yang sudah ditetapkan berlaku bagi benda mati dan bagi zaman.
- Di 11:41 kata terakhirnya dipakai Allah untuk tempat berlabuhnya bahtera Nuh. Jadi tiga pemakaian kata itu menyangkut kapal yang berhenti, gunung yang tertancap, dan hari yang akan tiba. Tiga hal yang berjauhan dinamai dengan satu kata, dan yang menyatukannya cuma gambaran sesuatu yang sampai di tempat berhentinya. Tiga hal berjauhan yang dinamai satu kata menuntut pembacanya mencari apa yang menyatukan. Yang menyatukan biasanya lebih dalam daripada bendanya. Bahasa menyimpan kesamaan yang tidak terlihat pada bendanya sendiri.
- Kata pertamanya memakai kata ganti objek berorang kedua tunggal, sehingga sapaan kembali tunggal sesudah jamak di 79:27 dan 79:33. Perpindahan itu keempat kalinya di surah ini, dan Allah berganti sasaran bicara tanpa satu penanda. Pembacanya berpindah kedudukan berulang kali tanpa pernah diberi tahu. Sapaan yang berganti-ganti membuat pembacanya tidak pernah menetap di satu kedudukan. Ketidaktetapan itu menjaganya tetap terjaga. Berpindah kedudukan berulang kali menjaga pembacanya tetap terjaga.
- Ayat ini membuka lima ayat terakhir surahnya, dan kelimanya seluruhnya menjawab satu pertanyaan. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika Allah memberi lima ayat untuk satu pertanyaan, dan jawabannya sama sekali bukan berupa waktu yang ditanyakan? Lima ayat untuk satu pertanyaan yang tidak dijawab dengan waktu menandai bahwa yang penting bukan waktunya. Yang penting kepada siapa ia berpulang. Waktu bukan yang paling perlu diketahui tentang sesuatu yang pasti datang.
Ayat 79:43
فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا
Untuk apa engkau menyebut-nyebutnya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَاfiima anta min dzikraahaauntuk apa engkau menyebut-nyebutnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- فِيمَfiimatentang apa
- أَنْتَantaengkau
- مِنْmindari
- ذِكْرَاهَاdzikraahaaperingatannya
Inti bacaan
Pengalihan fokus dari pertanyaan yang tak berguna: 'untuk apa engkau menyebut-nyebutnya?', pengingat bahwa detail waktu bukan hal yang perlu difokuskan, energi lebih baik dialokasikan pada persiapan daripada spekulasi waktu.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 264 ayat, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul.
Akar (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 dan 79:43. Di 79:35 ia dipakai untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu.
Jadi akar (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat. Dua pemakaian itu berjarak delapan ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya.
Kata (فِيمَ, fiima) tersusun dari huruf dan kata tanya. Susunannya berupa pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, melainkan menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa.
Perhatikan bahwa jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan. Yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya memang tidak memegang jawabannya.
Susunan seperti itu memindahkan perkaranya. Pertanyaannya tidak dijawab, melainkan alamatnya yang diperbaiki. Yang bertanya salah alamat, bukan salah bertanya.
Kata (أَنْتَ, anta) adalah kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri. Susunan seperti itu menonjolkan yang disapa, dan penonjolan itu bagian dari pernyataannya.
Bandingkan (أَنْتَ, anta) dengan 79:24, yang juga memakai kata ganti berdiri sendiri. Di sana yang ditonjolkan orang yang mengaku sebagai tuhan; di sini yang ditonjolkan orang yang dinyatakan tidak memegang pengetahuannya.
Dua penonjolan itu berlawanan arah. Yang satu mengangkat diri, dan yang lain dinyatakan tidak berwenang. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya.
Kata (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42. Jadi dua ayat itu terikat, dan saat itu tidak disebut ulang.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya. Jawabannya baru datang di 79:44, dan di sana pun ia tidak berupa waktu.
Susunan bertahap itu memperlambat jawabannya. Pertanyaan diajukan, lalu ditolak alamatnya, baru sesudah itu ditunjukkan kepada siapa ia seharusnya dialamatkan.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyatakan batas seseorang, bukan kekurangannya. Yang dinyatakan bukan bahwa ia gagal mengetahui, melainkan bahwa hal itu memang bukan bagiannya.
Perbedaan itu menentukan nada seluruh penutupnya. Sebuah batas yang dinyatakan sebagai kekurangan akan terdengar sebagai celaan; sebuah batas yang dinyatakan sebagai pembagian tugas tidak.
Susunan itu sejalan dengan 79:45, yang juga membatasi tugasnya dengan nada yang sama. Dua ayat berjarak dua ayat sama-sama menyatakan batas tanpa mencela.
Jadi tiga ayat terakhir surah ini melepaskan beban dari orang yang disapa. Yang tidak menjadi bagiannya dinyatakan bukan bagiannya, dan tidak ada satu tuntutan pun yang ditambahkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan waktu pastinya bukan wewenang Nabi. Ayat ini menyatakan bahwa penyebutan waktu itu bukan urusan yang disapa. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 264 ayat.
Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu. Jadi satu akar mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat.
Kata pertamanya tersusun dari huruf dan kata tanya, dan susunannya berupa pertanyaan yang tidak menunggu jawaban melainkan menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa. Jadi jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan, dan yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya tidak memegang jawabannya.
Kata keduanya kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri, sama seperti susunan di 79:24, tetapi dengan arah yang berlawanan.
Ayat ini juga tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya, dan jawabannya baru datang di 79:44. Jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan di sini, dan yang diberikan justru perbaikan alamatnya. Ayat ini menyatakan batas seseorang, bukan kekurangannya, sehingga nadanya bukan celaan melainkan pembagian tugas. Susunan itu sejalan dengan 79:45, dan tiga ayat terakhir surah ini melepaskan beban dari orang yang disapa tanpa menambahkan satu tuntutan pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 264 ayat. Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu. Jadi satu akar mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu akar yang mengikat mengingat dan menyebut menyatakan bahwa keduanya pekerjaan yang serupa. Yang membedakan cuma apa yang diingat. Mengingat dan menyebut adalah dua sisi dari satu pekerjaan yang sama.
- Kata pertamanya tersusun dari huruf dan kata tanya, dan susunannya menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa. Jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan Allah, dan yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya tidak memegang jawabannya. Jadi pertanyaannya tidak dijawab, melainkan alamatnya yang diperbaiki. Memperbaiki alamat lebih menolong daripada menjawab pertanyaan yang salah alamat. Jawaban yang benar di tempat yang salah tetap tidak berguna. Alamat yang benar lebih menolong daripada jawaban yang panjang.
- Kata keduanya kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri, dan susunan seperti itu menonjolkan yang disapa. Bandingkan dengan 79:24, yang juga memakai kata ganti berdiri sendiri: di sana yang ditonjolkan orang yang mengaku sebagai tuhan, dan di sini orang yang dinyatakan tidak memegang pengetahuannya. Dua penonjolan itu berlawanan arah, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya. Dua penonjolan yang berlawanan arah di satu surah menuntut dibandingkan. Yang satu mengangkat diri, dan yang lain menerima batas. Dua orang bisa berdiri di tempat yang sama dan memilih arah yang berlawanan.
- Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42, sehingga dua ayat itu terikat dan saat itu tidak disebut ulang Allah. Cara itu dipakai berulang di lima ayat terakhir surah ini, yang seluruhnya diikat kata ganti yang menunjuk satu hal yang disebut sekali. Ikatan kata ganti sepanjang lima ayat menolak dibaca sepotong. Penggalannya kehilangan apa yang sedang dibicarakan. Rangkaian yang diikat rapat memaksa dibaca utuh atau tidak sama sekali.
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya, dan jawabannya baru datang di 79:44. Susunan bertahap itu memperlambat jawabannya: pertanyaan diajukan, lalu ditolak alamatnya, baru sesudah itu ditunjukkan kepada siapa ia seharusnya dialamatkan. Allah tidak memberikan ketiganya sekaligus. Jawaban yang diberikan bertahap memberi waktu bagi pembacanya untuk menyesuaikan diri. Yang datang sekaligus sering terlewat. Bertahap adalah cara mengajar yang menyesuaikan diri dengan yang diajar.
- Susunan ayat ini menyatakan bahwa yang ditanya memang tidak memegang jawabannya. Apa yang dinyatakan sebuah pertanyaan ketika ia dialamatkan kepada orang yang justru diberi tahu bahwa ia bukan tempat bertanya, sedangkan yang bertanya sendiri tidak pernah mengajukannya kepada yang memegangnya? Bertanya kepada yang tidak memegang jawabannya adalah kesalahan yang jarang disadari. Yang disadari biasanya cuma bahwa jawabannya tidak datang. Salah alamat lebih sering terjadi daripada salah pertanyaan.
Ayat 79:44
إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا
Kepada Tuhanmulah kesudahannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَاilaa rabbika muntahaahaakepada Tuhanmulah kesudahannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِلَىٰilaakepada
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- مُنْتَهَاهَاmuntahaahaakesudahannya
Inti bacaan
Batas pengetahuan yang jelas: 'kepada Tuhanmulah kesudahannya', pengakuan bahwa informasi tentang waktu pasti berada sepenuhnya di luar jangkauan pengetahuan manusia, termasuk penyampai wahyu sekalipun.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُنْتَهَاهَا, muntahaahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 54 ayat, dan akar itu juga muncul di 79:40 di surah ini.
Di 79:40 akar (مُنْتَهَاهَا, muntahaahaa) dipakai untuk orang yang menahan jiwanya dari keinginan. Di sini ia dipakai untuk kesudahan hari kiamat.
Jadi akar (مُنْتَهَاهَا, muntahaahaa) mengikat menahan diri dan batas akhir sesuatu. Yang menyatukannya cuma satu gambaran: tempat sesuatu berhenti.
Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal. Jadi yang disebut Tuhan orang yang disapa, sama seperti susunan di 79:19.
Perhatikan bahwa (رَبِّكَ, rabbika) dan bentuk sejenisnya dipakai tiga kali di surah ini: 79:16, 79:19, dan 79:44. Ketiganya memakai kata ganti kepemilikan, dan tidak satu pun memakai nama.
Nama Allah sendiri cuma disebut sekali di seluruh surah ini, yaitu di 79:25. Jadi surah ini lebih sering menyebut-Nya lewat hubungan daripada lewat nama.
Kata (إِلَىٰ, ilaa) menyatakan arah, bukan tempat. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa pengetahuannya ada di sisi-Nya, melainkan bahwa kesudahannya menuju kepada-Nya.
Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Yang pertama tentang siapa yang tahu, dan yang kedua tentang kepada siapa segalanya berakhir. Susunannya memilih yang kedua.
Bandingkan dengan 7:187, yang menjawab pertanyaan yang sama dengan menyatakan bahwa ilmunya di sisi Tuhan. Dua tempat menjawab pertanyaan yang sama dengan dua sudut yang berbeda.
Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pertanyaan dijawab dengan pengetahuan di satu tempat dan dengan arah di tempat lain.
Kata (مُنْتَهَاهَا, muntahaahaa) memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42. Jadi tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu hal yang disebut sekali.
Ayat ini menjawab pertanyaan tanpa menyebut satu waktu pun. Yang diberikan bukan kapan, melainkan kepada siapa. Pertanyaannya dijawab dengan mengganti sumbunya.
Perhatikan pula bahwa jawaban ini tidak menyebut siapa pun yang mengetahui waktunya. Yang disebut cuma kepada siapa kesudahannya berakhir.
Susunan itu menutup pertanyaan dengan cara yang tidak biasa. Sebuah pertanyaan tentang kapan biasanya dijawab dengan waktu atau dengan pernyataan tidak tahu.
Di sini keduanya tidak dipakai. Yang dipakai justru pernyataan tentang arah, dan arah tidak bisa dibantah dengan hitungan mana pun.
Cara menjawab seperti itu sejalan dengan 79:13, yang juga tidak menyanggah melainkan mengubah ukuran perkaranya. Dua jawaban di surah ini sama-sama memindahkan sumbu pertanyaannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan akhir tentang Saat itu hanya ada pada Allah. Ayat ini menjawab pertanyaan itu dengan menyatakan kesudahannya kepada Tuhanmu. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 54 ayat serta juga muncul di 79:40.
Di 79:40 akar itu dipakai untuk orang yang menahan jiwanya dari keinginan, dan di sini untuk kesudahan hari kiamat. Jadi satu akar mengikat menahan diri dan batas akhir sesuatu, dan yang menyatukannya cuma gambaran tempat sesuatu berhenti.
Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, sama seperti susunan di 79:19. Kata itu dipakai tiga kali di surah ini, yaitu di 79:16, 79:19, dan 79:44, dan ketiganya memakai kata ganti kepemilikan. Nama Allah sendiri cuma disebut sekali di seluruh surah ini, yaitu di 79:25.
Kata pertamanya menyatakan arah, bukan tempat, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa pengetahuannya ada di sisi-Nya melainkan bahwa kesudahannya menuju kepada-Nya.
Ayat ini menjawab pertanyaan tanpa menyebut satu waktu pun. Jawaban ini tidak menyebut siapa pun yang mengetahui waktunya; yang disebut cuma kepada siapa kesudahannya berakhir. Sebuah pertanyaan tentang kapan biasanya dijawab dengan waktu atau dengan pernyataan tidak tahu, dan di sini keduanya tidak dipakai.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 54 ayat serta juga muncul di 79:40. Di 79:40 akar itu dipakai untuk orang yang menahan jiwanya dari keinginan, dan di sini untuk kesudahan hari kiamat. Jadi satu akar mengikat menahan diri dan batas akhir sesuatu, dan yang menyatukannya cuma gambaran tempat sesuatu berhenti. Menahan diri dan berhenti di batas dinamai satu akar, dan keduanya menyangkut mengenali tempat berhenti. Yang tidak mengenalinya akan melewatinya. Mengenali tempat berhenti adalah kemampuan yang menentukan di banyak hal.
- Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, dan kata itu dipakai tiga kali di surah ini: 79:16, 79:19, dan 79:44. Ketiganya memakai kata ganti kepemilikan, dan tidak satu pun memakai nama. Nama Allah sendiri cuma disebut sekali di seluruh surah ini, yaitu di 79:25, sehingga surah ini lebih sering menyebut-Nya lewat hubungan daripada lewat nama. Menyebut Allah lewat hubungan lebih sering dipakai di surah ini daripada menyebut nama-Nya. Cara itu mendekatkan tanpa mengurangi. Menyebut lewat hubungan mendekatkan tanpa mengurangi kebesaran.
- Kata pertamanya menyatakan arah, bukan tempat, sehingga yang dinyatakan bukan bahwa pengetahuannya ada di sisi Allah melainkan bahwa kesudahannya menuju kepada-Nya. Perbedaan itu halus tetapi berakibat: yang pertama tentang siapa yang tahu, dan yang kedua tentang kepada siapa segalanya berakhir. Susunannya memilih yang kedua. Arah dan tempat adalah dua hal yang berbeda, dan susunannya memilih yang pertama. Arah menuntut gerak, dan tempat cuma menuntut pengetahuan. Sesuatu yang perlu ditempuh menuntut lebih dari sesuatu yang cukup dihafal.
- Bandingkan dengan 7:187, yang menjawab pertanyaan yang sama dengan menyatakan bahwa ilmunya di sisi Tuhan. Dua tempat menjawab pertanyaan yang sama dengan dua sudut yang berbeda, dan Allah tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu pertanyaan dijawab dengan pengetahuan di satu tempat dan dengan arah di tempat lain. Dua jawaban berbeda untuk satu pertanyaan yang sama menandai bahwa jawabannya punya lebih dari satu sisi. Keduanya benar dan keduanya tidak lengkap sendirian. Dua sisi dari satu jawaban saling melengkapi tanpa pernah dipertemukan.
- Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42, sehingga tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu hal yang disebut Allah sekali. Rangkaian yang diikat seperti itu menolak dibaca sepotong, dan cara itu dipakai di seluruh lima ayat terakhir surahnya. Rangkaian yang diikat kata ganti memaksa lima ayat dibaca sebagai satu tarikan. Memisahkannya akan menghilangkan bendanya. Ikatan yang panjang menandai bahwa bagian itu memang satu kesatuan.
- Ayat ini menjawab pertanyaan tanpa menyebut satu waktu pun. Yang diberikan Allah bukan kapan, melainkan kepada siapa. Apa yang dikerjakan sebuah jawaban ketika ia tidak menjawab yang ditanyakan, melainkan mengganti sumbu pertanyaannya sehingga yang bertanya harus memikirkan ulang apa yang sebenarnya perlu diketahuinya? Mengganti sumbu sebuah pertanyaan lebih menolong daripada menjawabnya. Yang bertanya diajak memikirkan ulang apa yang sebenarnya perlu. Memikirkan ulang pertanyaan sering lebih berguna daripada mendapat jawabannya.