فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا
Untuk apa engkau menyebut-nyebutnya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَاfiima anta min dzikraahaauntuk apa engkau menyebut-nyebutnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- فِيمَfiimatentang apa
- أَنْتَantaengkau
- مِنْmindari
- ذِكْرَاهَاdzikraahaaperingatannya
Inti bacaan
Pengalihan fokus dari pertanyaan yang tak berguna: 'untuk apa engkau menyebut-nyebutnya?', pengingat bahwa detail waktu bukan hal yang perlu difokuskan, energi lebih baik dialokasikan pada persiapan daripada spekulasi waktu.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 264 ayat, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul.
Akar (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 dan 79:43. Di 79:35 ia dipakai untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu.
Jadi akar (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat. Dua pemakaian itu berjarak delapan ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya.
Kata (فِيمَ, fiima) tersusun dari huruf dan kata tanya. Susunannya berupa pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, melainkan menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa.
Perhatikan bahwa jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan. Yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya memang tidak memegang jawabannya.
Susunan seperti itu memindahkan perkaranya. Pertanyaannya tidak dijawab, melainkan alamatnya yang diperbaiki. Yang bertanya salah alamat, bukan salah bertanya.
Kata (أَنْتَ, anta) adalah kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri. Susunan seperti itu menonjolkan yang disapa, dan penonjolan itu bagian dari pernyataannya.
Bandingkan (أَنْتَ, anta) dengan 79:24, yang juga memakai kata ganti berdiri sendiri. Di sana yang ditonjolkan orang yang mengaku sebagai tuhan; di sini yang ditonjolkan orang yang dinyatakan tidak memegang pengetahuannya.
Dua penonjolan itu berlawanan arah. Yang satu mengangkat diri, dan yang lain dinyatakan tidak berwenang. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya.
Kata (ذِكْرَاهَا, dzikraahaa) memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42. Jadi dua ayat itu terikat, dan saat itu tidak disebut ulang.
Ayat ini tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya. Jawabannya baru datang di 79:44, dan di sana pun ia tidak berupa waktu.
Susunan bertahap itu memperlambat jawabannya. Pertanyaan diajukan, lalu ditolak alamatnya, baru sesudah itu ditunjukkan kepada siapa ia seharusnya dialamatkan.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyatakan batas seseorang, bukan kekurangannya. Yang dinyatakan bukan bahwa ia gagal mengetahui, melainkan bahwa hal itu memang bukan bagiannya.
Perbedaan itu menentukan nada seluruh penutupnya. Sebuah batas yang dinyatakan sebagai kekurangan akan terdengar sebagai celaan; sebuah batas yang dinyatakan sebagai pembagian tugas tidak.
Susunan itu sejalan dengan 79:45, yang juga membatasi tugasnya dengan nada yang sama. Dua ayat berjarak dua ayat sama-sama menyatakan batas tanpa mencela.
Jadi tiga ayat terakhir surah ini melepaskan beban dari orang yang disapa. Yang tidak menjadi bagiannya dinyatakan bukan bagiannya, dan tidak ada satu tuntutan pun yang ditambahkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan waktu pastinya bukan wewenang Nabi. Ayat ini menyatakan bahwa penyebutan waktu itu bukan urusan yang disapa. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 264 ayat.
Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu. Jadi satu akar mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat.
Kata pertamanya tersusun dari huruf dan kata tanya, dan susunannya berupa pertanyaan yang tidak menunggu jawaban melainkan menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa. Jadi jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan, dan yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya tidak memegang jawabannya.
Kata keduanya kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri, sama seperti susunan di 79:24, tetapi dengan arah yang berlawanan.
Ayat ini juga tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya, dan jawabannya baru datang di 79:44. Jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan di sini, dan yang diberikan justru perbaikan alamatnya. Ayat ini menyatakan batas seseorang, bukan kekurangannya, sehingga nadanya bukan celaan melainkan pembagian tugas. Susunan itu sejalan dengan 79:45, dan tiga ayat terakhir surah ini melepaskan beban dari orang yang disapa tanpa menambahkan satu tuntutan pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 264 ayat. Akar itu juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:35 untuk manusia yang mengingat usahanya, dan di sini untuk penyebutan tentang hari itu. Jadi satu akar mengikat mengingat perbuatan sendiri dan menyebut waktu hari kiamat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu akar yang mengikat mengingat dan menyebut menyatakan bahwa keduanya pekerjaan yang serupa. Yang membedakan cuma apa yang diingat. Mengingat dan menyebut adalah dua sisi dari satu pekerjaan yang sama.
- Kata pertamanya tersusun dari huruf dan kata tanya, dan susunannya menyatakan bahwa perkaranya bukan urusan yang disapa. Jawaban atas pertanyaan di 79:42 tidak diberikan Allah, dan yang diberikan justru pernyataan bahwa yang ditanya tidak memegang jawabannya. Jadi pertanyaannya tidak dijawab, melainkan alamatnya yang diperbaiki. Memperbaiki alamat lebih menolong daripada menjawab pertanyaan yang salah alamat. Jawaban yang benar di tempat yang salah tetap tidak berguna. Alamat yang benar lebih menolong daripada jawaban yang panjang.
- Kata keduanya kata ganti orang kedua yang berdiri sendiri, dan susunan seperti itu menonjolkan yang disapa. Bandingkan dengan 79:24, yang juga memakai kata ganti berdiri sendiri: di sana yang ditonjolkan orang yang mengaku sebagai tuhan, dan di sini orang yang dinyatakan tidak memegang pengetahuannya. Dua penonjolan itu berlawanan arah, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya. Dua penonjolan yang berlawanan arah di satu surah menuntut dibandingkan. Yang satu mengangkat diri, dan yang lain menerima batas. Dua orang bisa berdiri di tempat yang sama dan memilih arah yang berlawanan.
- Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk saat di 79:42, sehingga dua ayat itu terikat dan saat itu tidak disebut ulang Allah. Cara itu dipakai berulang di lima ayat terakhir surah ini, yang seluruhnya diikat kata ganti yang menunjuk satu hal yang disebut sekali. Ikatan kata ganti sepanjang lima ayat menolak dibaca sepotong. Penggalannya kehilangan apa yang sedang dibicarakan. Rangkaian yang diikat rapat memaksa dibaca utuh atau tidak sama sekali.
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang memegang jawabannya, dan jawabannya baru datang di 79:44. Susunan bertahap itu memperlambat jawabannya: pertanyaan diajukan, lalu ditolak alamatnya, baru sesudah itu ditunjukkan kepada siapa ia seharusnya dialamatkan. Allah tidak memberikan ketiganya sekaligus. Jawaban yang diberikan bertahap memberi waktu bagi pembacanya untuk menyesuaikan diri. Yang datang sekaligus sering terlewat. Bertahap adalah cara mengajar yang menyesuaikan diri dengan yang diajar.
- Susunan ayat ini menyatakan bahwa yang ditanya memang tidak memegang jawabannya. Apa yang dinyatakan sebuah pertanyaan ketika ia dialamatkan kepada orang yang justru diberi tahu bahwa ia bukan tempat bertanya, sedangkan yang bertanya sendiri tidak pernah mengajukannya kepada yang memegangnya? Bertanya kepada yang tidak memegang jawabannya adalah kesalahan yang jarang disadari. Yang disadari biasanya cuma bahwa jawabannya tidak datang. Salah alamat lebih sering terjadi daripada salah pertanyaan.