Ayat 80:1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ

Dia bermuka masam dan berpaling,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ'abasa wa-tawallaadia bermuka masam dan berpaling

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَبَسَ'abasaia bermuka masam
  2. وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling

Inti bacaan

Surah dibuka dengan dua kata kerja lampau tanpa nama pelaku. Akar ع-ب-س tercatat di tiga ayat (74:22, 76:10, 80:1), dan bentuk tawallaa muncul di dua puluh ayat, empat di antaranya bersanding dengan kata mendustakan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kata kerja, (عَبَسَ, 'abasa) yang berarti "dia bermuka masam" dan (وَتَوَلَّىٰ, wa-tawallaa) yang berarti "dan berpaling". Keduanya berbentuk lampau dengan pelaku orang ketiga tunggal, dan nama pelaku itu tidak muncul di ayat ini maupun di ayat-ayat sesudahnya. Karena itu terjemahannya memakai "dia" tanpa tambahan nama di dalam kurung.

Akar ع-ب-س dipakai di tiga ayat. Bentuk yang sama muncul di 74:22, (ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ, tsumma 'abasa wa-basara) yang berarti "kemudian ia bermuka masam dan cemberut", tentang orang yang memikirkan Al-Qur'an lalu menyebutnya sihir yang dipelajari (74:24). Bentuk ketiga, (عَبُوسًا, 'abuusan), menyifati hari di 76:10, hari yang ditakuti orang-orang yang memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan (76:8). Akar ini dengan demikian dipakai untuk wajah seorang penolak, untuk wajah orang yang kemudian disapa surah ini, dan untuk sebuah hari.

Kata (وَتَوَلَّىٰ, wa-tawallaa) berasal dari akar و-ل-ي, yang tercatat di 202 ayat. Bentuk tawallaa sendiri, dengan atau tanpa kata sambung di depannya, muncul di dua puluh ayat, dan penilaiannya datang dari kata yang mendampinginya. Di 20:48, 75:32, 92:16, dan 96:13 kata itu berpasangan dengan "mendustakan", dan di 88:23 dengan "kufur". Kata yang sama dipakai di 7:79 dan 7:93 untuk rasul yang berpaling dari kaumnya sesudah menyampaikan risalah, di 12:84 untuk ayah Yusuf yang berpaling karena sedih, dan di 28:24 untuk Musa yang pindah ke tempat teduh sesudah memberi minum ternak dua perempuan. Di ayat ini pasangannya muka masam, dan kata mendustakan tidak ada di dekatnya.

Bentuk kata kerja ini menyatakan perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya sendiri. Perbedaannya terlihat di 4:115, yang memuat dua bentuk dari akar yang sama dalam satu kalimat, (نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ, nuwallihi maa tawallaa) yang berarti "Kami palingkan ia ke arah yang ia palingi". Bentuk pertama menyatakan Allah memalingkan seseorang, dan bentuk kedua menyatakan orang itu memalingkan dirinya. Ayat 80:1 memakai bentuk kedua, sehingga perpalingan di sini perbuatan orang itu sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut mendorongnya.

Di 7:79 dan 12:84 kata kerja ini diikuti keterangan (عَنْهُمْ, 'anhum), "dari mereka", sehingga pembaca langsung tahu dari siapa pelakunya berpaling. Di 80:1 keterangan semacam itu tidak ada. Dari siapa dia berpaling baru terjawab di ayat berikutnya, yang menyebut kedatangan orang buta, lalu dipertegas di 80:10 dengan (عَنْهُ تَلَهَّىٰ, 'anhu talahhaa), "engkau mengabaikannya".

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan teguran yang disampaikan tanpa nama dan tanpa kata penilaian. Dua perbuatan dicatat, bermuka masam lalu berpaling, dan sebabnya baru disebut di 80:2, yaitu kedatangan seorang buta. Pembaca mendengar perbuatannya lebih dulu, sebelum tahu kepada siapa perbuatan itu tertuju.

Dua ayat pertama membicarakan pelakunya sebagai orang ketiga, lalu mulai 80:3 surah ini menyapanya langsung dengan "engkau". Dari ayat-ayat berikutnya terlihat bahwa orang yang disapa itu sedang menyampaikan peringatan. Ayat 80:4 menyebut peringatan yang bisa bermanfaat bagi orang buta itu, 80:7 menyatakan bahwa dia tidak menanggung apa-apa bila orang yang merasa serba cukup tidak menyucitumbuhkan diri, dan 80:11 menyebut semua ini peringatan. Waktu, tempat, dan nama orang-orang yang terlibat tidak muncul di sepanjang surah, sehingga pembaca menerima peristiwanya sebatas perbuatan dan sebabnya.

Muka masam yang disusul perpalingan pernah digambarkan di 74:22-23, dengan kata kerja lain untuk berpaling, (ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ, tsumma adbara wa-stakbara) yang berarti "kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri". Di sana rangkaian itu berakhir dengan tuduhan bahwa Al-Qur'an sihir dan perkataan manusia (74:24-25). Di surah ini urutan yang mirip dilakukan oleh orang yang menyampaikan peringatan, dan surahnya menegur dia di kalimat pertama. Ayat 80:3-10 kemudian menguraikan apa yang terlewat karena muka masam dan perpalingan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang datang di 80:2 buta, sehingga muka masam itu tidak dapat dilihatnya. Perbuatan yang luput dari mata orang yang dikenainya tetap dicatat Allah dan dijadikan kalimat pertama sebuah surah. Sikap semacam itu mudah dianggap tidak berakibat, karena orang yang dikenainya tidak tahu dan tidak ada yang tersinggung. Ayat ini memperlihatkan bahwa ukurannya tidak bergantung pada apakah orang itu melihatnya. Berapa banyak raut muka kita yang tidak tertangkap oleh orang yang sedang kita hadapi, tetapi tetap diketahui Tuhan?
  • Ayat 4:115 membedakan Allah yang memalingkan seseorang dari orang yang memalingkan dirinya, dan ayat ini memakai bentuk yang kedua. Muka masam dan perpalingan itu tidak disebut didorong oleh siapa pun, tidak oleh orang buta itu dan tidak oleh keadaan. Ketika seseorang berpaling dari orang lain, alasannya mudah dicari di luar dirinya, misalnya orang itu datang pada saat yang salah atau ada urusan lain yang lebih penting. Bentuk kata di ayat ini meletakkan perbuatan itu pada pelakunya, dan teguran di 80:3-10 ditujukan kepadanya, tidak kepada orang yang datang.
  • Kata berpaling dipakai untuk orang yang mendustakan (92:16, 96:13), dan dipakai juga untuk dua rasul (7:79, 7:93), ayah Yusuf (12:84), serta Musa (28:24). Kata itu tidak membawa penilaian sendiri, dan penilaiannya datang dari kata di sebelahnya serta dari arah perpalingannya. Di sini kata di sebelahnya muka masam, dan arahnya menjauh dari orang yang datang mencari. Setiap orang berpaling dari banyak hal setiap hari, dan sebagian perpalingan itu memang perlu. Ayat ini membuat pembacanya memeriksa dari apa dia berpaling dan dengan raut seperti apa, karena dua hal itu yang membedakan Musa yang pindah ke tempat teduh dari orang yang ditegur di sini.
  • Akar kata pertama ayat ini dipakai lagi di 76:10 untuk menyifati sebuah hari. Orang-orang di 76:8-10 memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan demi wajah Allah, dan mereka takut kepada Tuhan mereka akan hari yang disifati dengan akar itu. Muka masam di 80:1 tertuju kepada seorang yang lemah, sedangkan orang-orang di 76:8-10 memberi makan orang-orang yang lemah karena takut akan hari tersebut. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu, tetapi pembaca yang menaruhnya berdampingan akan melihat dua sikap terhadap orang yang lemah, dan kedua sikap itu dihubungkan oleh akar yang sama.
  • Kalimat pertama surah ini berisi teguran kepada orang yang, menurut ayat-ayat berikutnya, sedang menyampaikan peringatan. Teguran itu dibacakan bersama seluruh surah, sehingga siapa pun yang mendengar peringatan dari surah ini juga mendengar teguran kepada penyampainya. Orang yang mengajar atau menasihati sering merasa kedudukannya melindunginya dari teguran, terutama di hadapan orang yang diajarnya. Di surah ini Allah menempatkan teguran itu di awal, di hadapan semua pendengarnya, sebelum peringatan-peringatan lain di dalamnya sampai kepada mereka.
  • Pembaca yang ingin tahu siapa orangnya mendapat perbuatannya saja, yaitu bermuka masam, berpaling, dan mengabaikan (80:10). Tanpa nama, waktu, dan tempat, peristiwanya tidak bisa dipindahkan ke satu masa lalu lalu ditinggalkan di sana sebagai kisah orang lain. Siapa pun yang pernah bermuka masam kepada orang yang datang kepadanya dengan keperluan bisa menemukan perbuatannya sendiri di dalam dua kata ini. Tuhan menegur perbuatannya, dan perbuatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang sedang sibuk dengan orang lain.

Ayat 80:2

أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

Karena orang buta datang kepadanya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰan jaa'ahu l-a'maakarena orang buta datang kepadanya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَنْankarena
  2. جَاءَهُjaa'ahudatang kepadanya
  3. الْأَعْمَىٰl-a'maaorang buta

Inti bacaan

Kata sandang pada al-a'maa menunjuk seorang tertentu yang tidak dinamai. Dari tiga puluh ayat berakar ع-م-ي, orang yang buta matanya di dunia dibicarakan di tiga ayat, yaitu 24:61, 48:17, dan 80:2.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَنْ, an), yang di sini diterjemahkan "karena". Kata itu mengikat 80:2 kepada 80:1 sebagai sebab, sehingga kedua ayat membentuk satu kalimat: dia bermuka masam dan berpaling karena orang buta datang kepadanya. Terjemahan ini menaruh "karena" di awal ayat supaya hubungan sebab itu tetap terbaca meskipun kalimatnya terbagi ke dalam dua ayat.

Kata (جَاءَهُ, jaa'ahu) berarti "datang kepadanya", dari akar ج-ي-ا yang tercatat di 262 ayat. Akhiran -hu merujuk kepada orang yang bermuka masam di 80:1, yang masih dibicarakan sebagai orang ketiga. Kedatangan yang sama disebut lagi di 80:8 dengan (جَاءَكَ, jaa'aka), "datang kepadamu", sesudah surah ini beralih menyapa orang itu secara langsung. Di surah ini akar yang sama muncul sekali lagi, di 80:33, untuk datangnya suara yang memekakkan, disusul hari ketika manusia lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya (80:34-36).

Kata (الْأَعْمَىٰ, l-a'maa) berarti "orang buta". Kata sandang al- menunjuk seorang tertentu, tetapi namanya tidak diberikan. Di ayat ini orang itu dikenali dari kebutaannya, dan keterangan lain tentang dirinya baru datang di 80:8-9, yaitu dia datang dengan bersegera dan dia takut. Keterangan tentang apa yang dia minta atau katakan tidak ada di surah ini.

Dengan kata sandang, kata al-a'maa muncul di tujuh ayat, yaitu 6:50, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2, dan di 11:24 kata itu muncul dengan awalan ka-, "seperti". Di 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58 kata itu dipakai dalam pertanyaan atau pernyataan bahwa orang buta tidak sama dengan orang yang melihat, dan 11:24 memakainya dalam perumpamaan dua golongan. Di 24:61 dan 48:17 kata yang sama dipakai untuk orang yang benar-benar buta, dalam pernyataan bahwa tidak ada halangan atau keberatan atasnya. Ayat 80:2 termasuk kelompok kedua, karena orang yang datang di sini buta matanya, dan kalimatnya tidak memuat perumpamaan.

Akar ع-م-ي sendiri tercatat di 30 ayat, dan sebagian besar memakai kebutaan sebagai gambaran. Di 22:46 kebutaan yang dimaksud disebut ada pada hati di dalam dada, tidak pada mata, dan di 20:124-125 orang yang berpaling dari peringatan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta, padahal dahulu dia dapat melihat. Orang yang matanya buta di dunia dibicarakan di tiga ayat saja dari ketiga puluh ayat itu, yaitu 24:61, 48:17, dan 80:2.

Urutan katanya menyebut kedatangan lebih dulu, lalu orang yang didatangi melalui akhiran -hu, dan orang buta itu di akhir. Pembaca mendengar bahwa seseorang datang sebelum mendengar siapa dia, dan sebutan buta menjadi kata terakhir ayat. Di 80:8 urutannya serupa, yaitu kata kerja datang, akhiran untuk orang yang didatangi, lalu keterangan bahwa dia datang dengan bersegera.

Tafsiran

Ayat ini menyebut sebab teguran di 80:1, dan sebab itu terdiri dari satu peristiwa, seorang buta datang. Apa yang diminta orang itu, apa yang sedang dikerjakan orang yang didatanginya, dan berapa lama semuanya berlangsung tidak diceritakan. Teguran di surah ini dengan demikian menyangkut sikap terhadap sebuah kedatangan, sebelum ada percakapan apa pun yang dicatat.

Di empat ayat, orang buta dan orang yang melihat menjadi perbandingan bagi dua golongan, misalnya di 13:16, yang menyandingkannya dengan kegelapan dan cahaya, dan di 40:58, yang menyandingkannya dengan orang beriman dan orang yang berbuat keburukan. Di surah ini keadaannya berbeda. Orang yang matanya buta datang dengan bersegera dan takut (80:8-9), dan boleh jadi dia menyucitumbuhkan diri atau mengambil pelajaran (80:3-4), sedangkan orang yang matanya melihat bermuka masam dan berpaling. Al-Qur'an tidak menyandingkan ayat ini dengan keempat ayat tadi, tetapi pembaca yang membawa gambaran dari sana akan mendapati bahwa di sini orang yang melihatlah yang berpaling.

Dua ayat lain, 24:61 dan 48:17, menyatakan tidak ada halangan atau keberatan atas orang buta, yang pertama dalam urusan makan di rumah-rumah kerabat dan yang kedua dalam seruan berperang (48:16). Keduanya melonggarkan kewajiban bagi orang buta. Ayat ini menunjukkan sisi yang lain, yaitu perhatian yang semestinya diberikan kepadanya ketika dia datang sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini tidak mencatat perkataan apa pun dari orang buta itu. Muka masam dan perpalingan di 80:1 disebabkan oleh kedatangannya, sebelum ada keperluan yang diucapkan atau pertanyaan yang diajukan. Seseorang bisa sudah menutup diri terhadap orang lain sejak orang itu terlihat mendekat, sebelum tahu apa yang dibawanya. Allah menyebut kedatangan itu sebagai sebab teguran, sehingga sambutan pertama ikut ditimbang, sebelum ada jawaban apa pun. Apa yang biasanya sudah kita putuskan tentang seseorang pada saat dia baru datang?
  • Di 80:2 orang itu disebut dengan kebutaannya, dan di 80:8-9 dengan apa yang dia kerjakan, yaitu datang dengan bersegera dan takut. Allah menambahkan keterangan kedua itu sesudah menegur sikap terhadapnya. Orang sering dikenal dan disebut dengan kekurangannya, sampai sebutan itu menggantikan namanya. Surah ini memulai dengan sebutan semacam itu, lalu melengkapinya dengan apa yang dia lakukan, sehingga pembaca tidak bisa berhenti pada kebutaannya saja.
  • Di 24:61 dan 48:17 Allah menyatakan tidak ada halangan atau keberatan atas orang buta, dalam urusan makan dan dalam seruan berperang. Aturan-aturan itu melonggarkan beban bagi orang yang terbatas geraknya. Ayat ini membicarakan hal lain, yaitu sambutan ketika orang itu datang sendiri untuk mencari sesuatu. Kelonggaran dalam aturan tidak menggantikan perhatian dalam pertemuan sehari-hari, dan teguran surah ini jatuh pada bagian yang kedua. Keringanan yang sudah diatur bisa membuat orang merasa kewajibannya kepada kaum yang lemah sudah selesai.
  • Kedatangan yang sama disebut dua kali. Di 80:2 orang buta itu datang "kepadanya", dan di 80:8 dia datang "kepadamu". Allah lebih dulu menceritakan peristiwa itu seperti kisah tentang orang lain, lalu menyapa pelakunya langsung dengan peristiwa yang sama. Pembaca yang mendengar kisah tentang kekeliruan orang lain biasanya merasa aman di luar kisah itu. Susunan dua ayat ini memindahkan pendengarnya dari luar ke dalam, karena kalimat yang tadinya bercerita tentang "dia" kemudian ditujukan kepada "engkau".
  • Akar kata "datang" di ayat ini muncul lagi di 80:33 untuk datangnya suara yang memekakkan. Kedatangan orang buta bisa disambut dengan muka masam dan dibiarkan, sedangkan kedatangan di 80:33 disusul hari ketika manusia lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya (80:34-36). Surah yang sama memakai satu akar untuk kedua kedatangan itu dan menaruhnya di awal dan di akhir. Pembaca diajak menimbang kedatangan-kedatangan kecil yang bisa diabaikan dengan kedatangan yang membuat setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri (80:37).
  • Ayat ini seluruhnya berisi sebab. Allah tidak berhenti pada perbuatan yang ditegur di 80:1. Dia menyebut kedatangan orang buta sebagai alasannya, dan ayat-ayat sesudahnya menguraikan apa yang terlewat. Orang yang ditegur dengan demikian tahu persis apa yang dipersoalkan dan mengapa. Teguran yang kita berikan kepada orang lain sering berhenti pada kesalahan tanpa menyebut kejadian yang menjadi dasarnya. Susunan 80:1-2 menaruh perbuatan dan sebabnya bersebelahan, sehingga teguran itu dapat diperiksa oleh orang yang menerimanya.