بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ
Dia bermuka masam dan berpaling,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ'abasa wa-tawallaadia bermuka masam dan berpaling
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَبَسَ'abasaia bermuka masam
- وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling
Inti bacaan
Pembukaan dramatis 'Abasa dengan teguran langsung: 'dia bermuka masam dan berpaling', momen koreksi yang tidak menyembunyikan kesalahan, keterbukaan luar biasa terhadap kritik bahkan terhadap sikap penyampai wahyu sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Subjek "dia" tidak ditambahi nama eksplisit yang tidak ada dalam Arab, konsisten disiplin anti-penyisipan nama atau insiden historis. Yang tertulis cuma dua kata, (عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ, 'abasa wa tawallaa), tanpa satu nama pun di antaranya.
Surah ini dibuka sesingkat itu. Seseorang bermuka masam, lalu berpaling. Siapa orangnya tidak disebut, dan tidak akan disebut sampai ayat terakhir.
Kata (عَبَسَ, 'abasa) berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1. Sejarang itu. Di 74:22 bentuknya sama persis, dan di sana ia dipakai untuk orang yang bermuka masam sesudah memikirkan Al-Qur'an.
Bandingkan keduanya. Yang bermuka masam di 74:22 sedang menolak wahyu. Yang bermuka masam di sini justru sedang membawanya. Al-Qur'an tidak menyambungkan dua tempat itu dengan satu kalimat pun. Yang menghubungkannya cuma satu kata yang sama.
Kata (عَبَسَ, 'abasa) di 76:10 muncul dalam bentuk lain, dan di sana ia menyifati hari, bukan wajah. Jadi satu akar yang cuma hidup di tiga tempat dipakai untuk tiga hal: wajah seorang penyampai wahyu, wajah seorang penolaknya, dan sifat sebuah hari.
Perhatikan apa yang tidak ada di sini. Tidak ada keterangan tentang alasannya. Tidak ada keterangan tentang waktu, tempat, atau siapa yang menyaksikannya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma perbuatannya.
Kata (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) bentuknya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dipalingkan. Ia berpaling. Tidak ada pihak lain yang disebut mendorongnya.
Bentuk (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa) itu penting karena menentukan letak tanggung jawabnya. Kalau ia dipalingkan, ada pihak lain yang bisa disalahkan. Kalau ia berpaling, tidak ada. Perbedaan sebesar itu terbawa di dalam susunan katanya saja, tanpa satu kata tambahan.
Dua kata kerja di ayat ini, (عَبَسَ, 'abasa) dan (وَتَوَلَّىٰ, wa tawallaa), sama-sama berbentuk lampau. Peristiwanya sudah selesai ketika tegurannya turun. Yang ditegur juga tidak disapa langsung, melainkan dibicarakan sebagai orang ketiga.
Cara bicara seperti itu menjauhkan jarak. Pembacanya seolah diajak menonton kejadiannya dari luar, bukan mendengar seseorang dimarahi di hadapannya. Baru di 80:3 sapaan berpindah menjadi langsung.
Panjangnya juga patut dicatat. Rangkaian (عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ, 'abasa wa tawallaa) cuma dua kata, dan itu salah satu yang terpendek di surah ini. Teguran yang membuka seluruh surah diucapkan sesingkat mungkin, tanpa satu keterangan pun.
Sepuluh ayat sesudahnya masih tentang peristiwa yang sama. Kapan maupun di mana ia terjadi tidak pernah disebut. Yang dikerjakan surah ini bukan menceritakan kejadiannya, melainkan menimbangnya.
Perhatikan juga apa yang tidak dikerjakan surah ini. Ia tidak menyebut siapa yang datang, siapa yang bermuka masam, atau apa yang sedang dibicarakan saat itu. Tiga keterangan yang paling ingin diketahui pembacanya justru yang paling tidak diberikan.
Kekosongan itu bukan kelalaian. Sebuah cerita yang lengkap akan mengikat tegurannya pada satu kejadian di satu masa. Cerita yang dikosongkan justru membuat tegurannya berlaku setiap kali keadaan yang sama berulang.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan teguran atas sikap bermuka masam dan berpaling. Kata pertamanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1.
Di 74:22 bentuknya sama persis dengan yang di sini. Bedanya, di sana yang bermuka masam sedang menolak wahyu, sedangkan di sini yang bermuka masam justru sedang membawanya.
Di 76:10 akar itu muncul dalam bentuk lain, dan di sana ia menyifati hari, bukan wajah. Jadi satu akar yang cuma hidup di tiga tempat dipakai untuk tiga hal yang berjauhan: wajah seorang penyampai wahyu, wajah seorang penolaknya, dan sifat sebuah hari.
Kata keduanya bentuknya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dipalingkan, melainkan ia berpaling. Tidak ada pihak lain yang disebut mendorongnya, sehingga tanggung jawabnya utuh pada orangnya.
Dua kata kerja di ayat ini sama-sama berbentuk lampau, dan pelakunya tidak disebutkan. Yang ditegur juga tidak disapa langsung, melainkan dibicarakan sebagai orang ketiga. Baru di 80:3 sapaan berpindah menjadi langsung.
Ayat ini cuma dua kata, dan itu salah satu yang terpendek di surah ini. Teguran yang membuka seluruh surah diucapkan sesingkat mungkin, tanpa satu keterangan pun tentang waktu, tempat, atau sebabnya. Kekosongan keterangan itu membuat tegurannya tidak terikat pada satu kejadian di satu masa, melainkan berlaku setiap kali keadaan yang sama berulang.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata pertamanya cuma dipakai di 3 ayat: 74:22, 76:10, dan 80:1. Di 74:22 bentuknya sama persis, dan di sana Allah memakainya untuk orang yang bermuka masam sesudah memikirkan Al-Qur'an. Di 76:10 akar itu menyifati hari, bukan wajah. Jadi satu akar yang jarang dipakai memikul tiga hal yang berjauhan: wajah seorang penyampai, wajah seorang penolak, dan sifat sebuah hari. Al-Qur'an tidak menyambungkan ketiganya dengan satu kalimat pun, dan yang menyatukannya cuma bunyi katanya. Pembacanya sendiri yang harus melihat hubungan itu. Kesamaan bunyi bukan kesamaan makna, dan justru itu yang membuat ketiganya patut diperiksa satu per satu.
- Yang bermuka masam di 74:22 sedang menolak wahyu Allah. Yang bermuka masam di sini justru sedang membawanya. Dua sikap yang paling berlawanan itu dinamai dengan satu kata yang sama. Artinya, bentuk luar sebuah perbuatan bisa serupa walau isinya berjauhan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu di mana pun, dan tidak satu ayat pun menghubungkan dua tempat tadi. Yang tersedia cuma kesamaan katanya, dan itu sudah cukup untuk membuat pembacanya berhenti sejenak sebelum menilai sebuah wajah. Wajah yang sama bisa menutupi dua hati yang berjauhan, dan itu sebabnya wajah tidak pernah cukup jadi dasar penilaian.
- Kata keduanya berbentuk lampau, dan bentuknya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dipalingkan; ia berpaling. Allah tidak menyebut satu pihak pun yang mendorongnya. Kalau ia dipalingkan, akan ada pihak lain yang bisa disalahkan; karena ia berpaling, tidak ada. Jadi tanggung jawabnya utuh pada orangnya, dan itu terbaca dari bentuk katanya saja. Tidak ada satu kata tambahan pun di ayat ini yang menyatakannya, dan memang tidak diperlukan. Bentuk yang menutup jalan keluar itu juga menutup alasan bagi pembacanya sendiri ketika ia berpaling dari sesuatu.
- Pelaku kedua perbuatan di ayat ini tidak disebutkan, dan ia juga tidak disapa langsung melainkan dibicarakan sebagai orang ketiga. Allah menegur tanpa menamai siapa yang ditegur, dan nama itu tidak muncul sampai ayat terakhir surahnya. Cara bicara seperti itu menjauhkan jarak: pembacanya seolah menonton kejadiannya dari luar. Yang tidak dinamai juga tidak bisa dikurung pada satu orang di satu masa, sehingga tegurannya tetap terbuka bagi siapa saja yang membacanya. Teguran yang tidak beralamat justru sampai ke lebih banyak alamat daripada teguran yang menyebut satu nama.
- Ayat ini cuma dua kata, dan itu salah satu yang terpendek di dalam surah ini. Teguran yang membuka seluruh surah diucapkan Allah sesingkat mungkin, tanpa satu kata penjelas. Tidak ada keterangan tentang waktu, tempat, maupun sebabnya. Apa yang ditambahkan sebuah teguran ketika ia dijadikan kalimat pertama, dan tidak diberi satu keterangan pun tentang latar belakangnya? Yang tinggal cuma perbuatannya sendiri, dan justru itu yang ditimbang. Yang paling pendek di sini juga yang paling berat, dan dua hal itu ternyata tidak saling bertentangan.
- Sepuluh ayat pertama surah ini seluruhnya tentang satu peristiwa yang dibuka di sini. Kapan peristiwa itu terjadi tidak disebut Allah, dan di mana juga tidak. Yang tersedia bagi pembacanya cuma perbuatannya: bermuka masam, lalu berpaling. Sisanya dibiarkan kosong, dan tidak satu ayat pun mengisinya. Jadi yang dikerjakan surah ini bukan menceritakan sebuah kejadian, melainkan menimbangnya. Cerita yang lengkap akan mengikat pembacanya pada satu waktu; timbangan tidak. Timbangan tetap berlaku selama keadaan yang sama masih mungkin berulang pada siapa pun yang membacanya.