بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ
Dia bermuka masam dan berpaling,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ'abasa wa-tawallaadia bermuka masam dan berpaling
Terjemahan per kata (2 kata)
- عَبَسَ'abasaia bermuka masam
- وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling
Inti bacaan
Surah dibuka dengan dua kata kerja lampau tanpa nama pelaku. Akar ع-ب-س tercatat di tiga ayat (74:22, 76:10, 80:1), dan bentuk tawallaa muncul di dua puluh ayat, empat di antaranya bersanding dengan kata mendustakan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata kerja, (عَبَسَ, 'abasa) yang berarti "dia bermuka masam" dan (وَتَوَلَّىٰ, wa-tawallaa) yang berarti "dan berpaling". Keduanya berbentuk lampau dengan pelaku orang ketiga tunggal, dan nama pelaku itu tidak muncul di ayat ini maupun di ayat-ayat sesudahnya. Karena itu terjemahannya memakai "dia" tanpa tambahan nama di dalam kurung.
Akar ع-ب-س dipakai di tiga ayat. Bentuk yang sama muncul di 74:22, (ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ, tsumma 'abasa wa-basara) yang berarti "kemudian ia bermuka masam dan cemberut", tentang orang yang memikirkan Al-Qur'an lalu menyebutnya sihir yang dipelajari (74:24). Bentuk ketiga, (عَبُوسًا, 'abuusan), menyifati hari di 76:10, hari yang ditakuti orang-orang yang memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan (76:8). Akar ini dengan demikian dipakai untuk wajah seorang penolak, untuk wajah orang yang kemudian disapa surah ini, dan untuk sebuah hari.
Kata (وَتَوَلَّىٰ, wa-tawallaa) berasal dari akar و-ل-ي, yang tercatat di 202 ayat. Bentuk tawallaa sendiri, dengan atau tanpa kata sambung di depannya, muncul di dua puluh ayat, dan penilaiannya datang dari kata yang mendampinginya. Di 20:48, 75:32, 92:16, dan 96:13 kata itu berpasangan dengan "mendustakan", dan di 88:23 dengan "kufur". Kata yang sama dipakai di 7:79 dan 7:93 untuk rasul yang berpaling dari kaumnya sesudah menyampaikan risalah, di 12:84 untuk ayah Yusuf yang berpaling karena sedih, dan di 28:24 untuk Musa yang pindah ke tempat teduh sesudah memberi minum ternak dua perempuan. Di ayat ini pasangannya muka masam, dan kata mendustakan tidak ada di dekatnya.
Bentuk kata kerja ini menyatakan perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya sendiri. Perbedaannya terlihat di 4:115, yang memuat dua bentuk dari akar yang sama dalam satu kalimat, (نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ, nuwallihi maa tawallaa) yang berarti "Kami palingkan ia ke arah yang ia palingi". Bentuk pertama menyatakan Allah memalingkan seseorang, dan bentuk kedua menyatakan orang itu memalingkan dirinya. Ayat 80:1 memakai bentuk kedua, sehingga perpalingan di sini perbuatan orang itu sendiri, dan tidak ada pihak lain yang disebut mendorongnya.
Di 7:79 dan 12:84 kata kerja ini diikuti keterangan (عَنْهُمْ, 'anhum), "dari mereka", sehingga pembaca langsung tahu dari siapa pelakunya berpaling. Di 80:1 keterangan semacam itu tidak ada. Dari siapa dia berpaling baru terjawab di ayat berikutnya, yang menyebut kedatangan orang buta, lalu dipertegas di 80:10 dengan (عَنْهُ تَلَهَّىٰ, 'anhu talahhaa), "engkau mengabaikannya".
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan teguran yang disampaikan tanpa nama dan tanpa kata penilaian. Dua perbuatan dicatat, bermuka masam lalu berpaling, dan sebabnya baru disebut di 80:2, yaitu kedatangan seorang buta. Pembaca mendengar perbuatannya lebih dulu, sebelum tahu kepada siapa perbuatan itu tertuju.
Dua ayat pertama membicarakan pelakunya sebagai orang ketiga, lalu mulai 80:3 surah ini menyapanya langsung dengan "engkau". Dari ayat-ayat berikutnya terlihat bahwa orang yang disapa itu sedang menyampaikan peringatan. Ayat 80:4 menyebut peringatan yang bisa bermanfaat bagi orang buta itu, 80:7 menyatakan bahwa dia tidak menanggung apa-apa bila orang yang merasa serba cukup tidak menyucitumbuhkan diri, dan 80:11 menyebut semua ini peringatan. Waktu, tempat, dan nama orang-orang yang terlibat tidak muncul di sepanjang surah, sehingga pembaca menerima peristiwanya sebatas perbuatan dan sebabnya.
Muka masam yang disusul perpalingan pernah digambarkan di 74:22-23, dengan kata kerja lain untuk berpaling, (ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ, tsumma adbara wa-stakbara) yang berarti "kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri". Di sana rangkaian itu berakhir dengan tuduhan bahwa Al-Qur'an sihir dan perkataan manusia (74:24-25). Di surah ini urutan yang mirip dilakukan oleh orang yang menyampaikan peringatan, dan surahnya menegur dia di kalimat pertama. Ayat 80:3-10 kemudian menguraikan apa yang terlewat karena muka masam dan perpalingan itu.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang datang di 80:2 buta, sehingga muka masam itu tidak dapat dilihatnya. Perbuatan yang luput dari mata orang yang dikenainya tetap dicatat Allah dan dijadikan kalimat pertama sebuah surah. Sikap semacam itu mudah dianggap tidak berakibat, karena orang yang dikenainya tidak tahu dan tidak ada yang tersinggung. Ayat ini memperlihatkan bahwa ukurannya tidak bergantung pada apakah orang itu melihatnya. Berapa banyak raut muka kita yang tidak tertangkap oleh orang yang sedang kita hadapi, tetapi tetap diketahui Tuhan?
- Ayat 4:115 membedakan Allah yang memalingkan seseorang dari orang yang memalingkan dirinya, dan ayat ini memakai bentuk yang kedua. Muka masam dan perpalingan itu tidak disebut didorong oleh siapa pun, tidak oleh orang buta itu dan tidak oleh keadaan. Ketika seseorang berpaling dari orang lain, alasannya mudah dicari di luar dirinya, misalnya orang itu datang pada saat yang salah atau ada urusan lain yang lebih penting. Bentuk kata di ayat ini meletakkan perbuatan itu pada pelakunya, dan teguran di 80:3-10 ditujukan kepadanya, tidak kepada orang yang datang.
- Kata berpaling dipakai untuk orang yang mendustakan (92:16, 96:13), dan dipakai juga untuk dua rasul (7:79, 7:93), ayah Yusuf (12:84), serta Musa (28:24). Kata itu tidak membawa penilaian sendiri, dan penilaiannya datang dari kata di sebelahnya serta dari arah perpalingannya. Di sini kata di sebelahnya muka masam, dan arahnya menjauh dari orang yang datang mencari. Setiap orang berpaling dari banyak hal setiap hari, dan sebagian perpalingan itu memang perlu. Ayat ini membuat pembacanya memeriksa dari apa dia berpaling dan dengan raut seperti apa, karena dua hal itu yang membedakan Musa yang pindah ke tempat teduh dari orang yang ditegur di sini.
- Akar kata pertama ayat ini dipakai lagi di 76:10 untuk menyifati sebuah hari. Orang-orang di 76:8-10 memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan demi wajah Allah, dan mereka takut kepada Tuhan mereka akan hari yang disifati dengan akar itu. Muka masam di 80:1 tertuju kepada seorang yang lemah, sedangkan orang-orang di 76:8-10 memberi makan orang-orang yang lemah karena takut akan hari tersebut. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu, tetapi pembaca yang menaruhnya berdampingan akan melihat dua sikap terhadap orang yang lemah, dan kedua sikap itu dihubungkan oleh akar yang sama.
- Kalimat pertama surah ini berisi teguran kepada orang yang, menurut ayat-ayat berikutnya, sedang menyampaikan peringatan. Teguran itu dibacakan bersama seluruh surah, sehingga siapa pun yang mendengar peringatan dari surah ini juga mendengar teguran kepada penyampainya. Orang yang mengajar atau menasihati sering merasa kedudukannya melindunginya dari teguran, terutama di hadapan orang yang diajarnya. Di surah ini Allah menempatkan teguran itu di awal, di hadapan semua pendengarnya, sebelum peringatan-peringatan lain di dalamnya sampai kepada mereka.
- Pembaca yang ingin tahu siapa orangnya mendapat perbuatannya saja, yaitu bermuka masam, berpaling, dan mengabaikan (80:10). Tanpa nama, waktu, dan tempat, peristiwanya tidak bisa dipindahkan ke satu masa lalu lalu ditinggalkan di sana sebagai kisah orang lain. Siapa pun yang pernah bermuka masam kepada orang yang datang kepadanya dengan keperluan bisa menemukan perbuatannya sendiri di dalam dua kata ini. Tuhan menegur perbuatannya, dan perbuatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang sedang sibuk dengan orang lain.