أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

Karena orang buta datang kepadanya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰan jaa'ahu l-a'maakarena orang buta datang kepadanya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَنْankarena
  2. جَاءَهُjaa'ahudatang kepadanya
  3. الْأَعْمَىٰl-a'maaorang buta

Inti bacaan

Kata sandang pada al-a'maa menunjuk seorang tertentu yang tidak dinamai. Dari tiga puluh ayat berakar ع-م-ي, orang yang buta matanya di dunia dibicarakan di tiga ayat, yaitu 24:61, 48:17, dan 80:2.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَنْ, an), yang di sini diterjemahkan "karena". Kata itu mengikat 80:2 kepada 80:1 sebagai sebab, sehingga kedua ayat membentuk satu kalimat: dia bermuka masam dan berpaling karena orang buta datang kepadanya. Terjemahan ini menaruh "karena" di awal ayat supaya hubungan sebab itu tetap terbaca meskipun kalimatnya terbagi ke dalam dua ayat.

Kata (جَاءَهُ, jaa'ahu) berarti "datang kepadanya", dari akar ج-ي-ا yang tercatat di 262 ayat. Akhiran -hu merujuk kepada orang yang bermuka masam di 80:1, yang masih dibicarakan sebagai orang ketiga. Kedatangan yang sama disebut lagi di 80:8 dengan (جَاءَكَ, jaa'aka), "datang kepadamu", sesudah surah ini beralih menyapa orang itu secara langsung. Di surah ini akar yang sama muncul sekali lagi, di 80:33, untuk datangnya suara yang memekakkan, disusul hari ketika manusia lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya (80:34-36).

Kata (الْأَعْمَىٰ, l-a'maa) berarti "orang buta". Kata sandang al- menunjuk seorang tertentu, tetapi namanya tidak diberikan. Di ayat ini orang itu dikenali dari kebutaannya, dan keterangan lain tentang dirinya baru datang di 80:8-9, yaitu dia datang dengan bersegera dan dia takut. Keterangan tentang apa yang dia minta atau katakan tidak ada di surah ini.

Dengan kata sandang, kata al-a'maa muncul di tujuh ayat, yaitu 6:50, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2, dan di 11:24 kata itu muncul dengan awalan ka-, "seperti". Di 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58 kata itu dipakai dalam pertanyaan atau pernyataan bahwa orang buta tidak sama dengan orang yang melihat, dan 11:24 memakainya dalam perumpamaan dua golongan. Di 24:61 dan 48:17 kata yang sama dipakai untuk orang yang benar-benar buta, dalam pernyataan bahwa tidak ada halangan atau keberatan atasnya. Ayat 80:2 termasuk kelompok kedua, karena orang yang datang di sini buta matanya, dan kalimatnya tidak memuat perumpamaan.

Akar ع-م-ي sendiri tercatat di 30 ayat, dan sebagian besar memakai kebutaan sebagai gambaran. Di 22:46 kebutaan yang dimaksud disebut ada pada hati di dalam dada, tidak pada mata, dan di 20:124-125 orang yang berpaling dari peringatan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta, padahal dahulu dia dapat melihat. Orang yang matanya buta di dunia dibicarakan di tiga ayat saja dari ketiga puluh ayat itu, yaitu 24:61, 48:17, dan 80:2.

Urutan katanya menyebut kedatangan lebih dulu, lalu orang yang didatangi melalui akhiran -hu, dan orang buta itu di akhir. Pembaca mendengar bahwa seseorang datang sebelum mendengar siapa dia, dan sebutan buta menjadi kata terakhir ayat. Di 80:8 urutannya serupa, yaitu kata kerja datang, akhiran untuk orang yang didatangi, lalu keterangan bahwa dia datang dengan bersegera.

Tafsiran

Ayat ini menyebut sebab teguran di 80:1, dan sebab itu terdiri dari satu peristiwa, seorang buta datang. Apa yang diminta orang itu, apa yang sedang dikerjakan orang yang didatanginya, dan berapa lama semuanya berlangsung tidak diceritakan. Teguran di surah ini dengan demikian menyangkut sikap terhadap sebuah kedatangan, sebelum ada percakapan apa pun yang dicatat.

Di empat ayat, orang buta dan orang yang melihat menjadi perbandingan bagi dua golongan, misalnya di 13:16, yang menyandingkannya dengan kegelapan dan cahaya, dan di 40:58, yang menyandingkannya dengan orang beriman dan orang yang berbuat keburukan. Di surah ini keadaannya berbeda. Orang yang matanya buta datang dengan bersegera dan takut (80:8-9), dan boleh jadi dia menyucitumbuhkan diri atau mengambil pelajaran (80:3-4), sedangkan orang yang matanya melihat bermuka masam dan berpaling. Al-Qur'an tidak menyandingkan ayat ini dengan keempat ayat tadi, tetapi pembaca yang membawa gambaran dari sana akan mendapati bahwa di sini orang yang melihatlah yang berpaling.

Dua ayat lain, 24:61 dan 48:17, menyatakan tidak ada halangan atau keberatan atas orang buta, yang pertama dalam urusan makan di rumah-rumah kerabat dan yang kedua dalam seruan berperang (48:16). Keduanya melonggarkan kewajiban bagi orang buta. Ayat ini menunjukkan sisi yang lain, yaitu perhatian yang semestinya diberikan kepadanya ketika dia datang sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini tidak mencatat perkataan apa pun dari orang buta itu. Muka masam dan perpalingan di 80:1 disebabkan oleh kedatangannya, sebelum ada keperluan yang diucapkan atau pertanyaan yang diajukan. Seseorang bisa sudah menutup diri terhadap orang lain sejak orang itu terlihat mendekat, sebelum tahu apa yang dibawanya. Allah menyebut kedatangan itu sebagai sebab teguran, sehingga sambutan pertama ikut ditimbang, sebelum ada jawaban apa pun. Apa yang biasanya sudah kita putuskan tentang seseorang pada saat dia baru datang?
  • Di 80:2 orang itu disebut dengan kebutaannya, dan di 80:8-9 dengan apa yang dia kerjakan, yaitu datang dengan bersegera dan takut. Allah menambahkan keterangan kedua itu sesudah menegur sikap terhadapnya. Orang sering dikenal dan disebut dengan kekurangannya, sampai sebutan itu menggantikan namanya. Surah ini memulai dengan sebutan semacam itu, lalu melengkapinya dengan apa yang dia lakukan, sehingga pembaca tidak bisa berhenti pada kebutaannya saja.
  • Di 24:61 dan 48:17 Allah menyatakan tidak ada halangan atau keberatan atas orang buta, dalam urusan makan dan dalam seruan berperang. Aturan-aturan itu melonggarkan beban bagi orang yang terbatas geraknya. Ayat ini membicarakan hal lain, yaitu sambutan ketika orang itu datang sendiri untuk mencari sesuatu. Kelonggaran dalam aturan tidak menggantikan perhatian dalam pertemuan sehari-hari, dan teguran surah ini jatuh pada bagian yang kedua. Keringanan yang sudah diatur bisa membuat orang merasa kewajibannya kepada kaum yang lemah sudah selesai.
  • Kedatangan yang sama disebut dua kali. Di 80:2 orang buta itu datang "kepadanya", dan di 80:8 dia datang "kepadamu". Allah lebih dulu menceritakan peristiwa itu seperti kisah tentang orang lain, lalu menyapa pelakunya langsung dengan peristiwa yang sama. Pembaca yang mendengar kisah tentang kekeliruan orang lain biasanya merasa aman di luar kisah itu. Susunan dua ayat ini memindahkan pendengarnya dari luar ke dalam, karena kalimat yang tadinya bercerita tentang "dia" kemudian ditujukan kepada "engkau".
  • Akar kata "datang" di ayat ini muncul lagi di 80:33 untuk datangnya suara yang memekakkan. Kedatangan orang buta bisa disambut dengan muka masam dan dibiarkan, sedangkan kedatangan di 80:33 disusul hari ketika manusia lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya (80:34-36). Surah yang sama memakai satu akar untuk kedua kedatangan itu dan menaruhnya di awal dan di akhir. Pembaca diajak menimbang kedatangan-kedatangan kecil yang bisa diabaikan dengan kedatangan yang membuat setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri (80:37).
  • Ayat ini seluruhnya berisi sebab. Allah tidak berhenti pada perbuatan yang ditegur di 80:1. Dia menyebut kedatangan orang buta sebagai alasannya, dan ayat-ayat sesudahnya menguraikan apa yang terlewat. Orang yang ditegur dengan demikian tahu persis apa yang dipersoalkan dan mengapa. Teguran yang kita berikan kepada orang lain sering berhenti pada kesalahan tanpa menyebut kejadian yang menjadi dasarnya. Susunan 80:1-2 menaruh perbuatan dan sebabnya bersebelahan, sehingga teguran itu dapat diperiksa oleh orang yang menerimanya.