أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ
Karena orang buta datang kepadanya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰan jaa'ahu l-a'maakarena orang buta datang kepadanya
Terjemahan per kata (3 kata)
- أَنْankarena
- جَاءَهُjaa'ahudatang kepadanya
- الْأَعْمَىٰl-a'maaorang buta
Inti bacaan
Konteks spesifik yang memicu teguran: 'karena orang buta datang kepadanya', identifikasi jelas penyebab sikap yang dikritik, kedatangan seseorang dengan keterbatasan fisik yang direspons kurang tepat.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْأَعْمَىٰ, al-a'maa) muncul 8 kali di 8 surah: 6:50, 11:24, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2. Jadi ia bukan kata langka, tetapi juga tidak sering.
Di empat tempat, yaitu 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58, kata (الْأَعْمَىٰ, al-a'maa) dipakai untuk membandingkan orang yang buta dengan orang yang melihat. Perbandingan itu selalu berarti sama: yang buta adalah yang tidak melihat kebenaran.
Di sini artinya justru terbalik. Yang buta adalah orang yang datang mencari kebenaran, dan yang melihat justru berpaling darinya. Lambang yang sudah dipakai empat kali dibalik tanpa satu kata peringatan pun.
Kata (الْأَعْمَىٰ, al-a'maa) juga dipakai di 24:61 dan 48:17. Di kedua tempat itu Al-Qur'an menyatakan tidak ada keberatan atas orang buta. Jadi dua ayat lain membela kedudukannya, dan ayat ini menegur orang yang mengabaikannya.
Kumpulkan ketiganya dan gambarannya utuh. Empat ayat memakai kebutaan sebagai lambang penolakan. Dua ayat membela orang buta yang sebenarnya. Satu ayat, yaitu yang ini, menegur orang yang mengabaikannya. Al-Qur'an tidak merangkum ketiga kelompok itu di mana pun.
Kata (جَاءَهُ, jaa-ahu) berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta itu. Yang ketiga tentang kedatangan suara memekakkan pada hari kiamat.
Jadi akar (جَاءَهُ, jaa-ahu) mengikat dua kedatangan yang tidak sebanding besarnya. Seorang manusia yang bisa diabaikan, dan sebuah hari yang tidak bisa diabaikan siapa pun. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang.
Kata (أَنْ, an) di awal ayat menyatakan sebab. Jadi ayat ini bukan kalimat baru, melainkan alasan bagi teguran di 80:1. Membacanya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perbuatan yang disebabkannya.
Sebab dan akibatnya dipisahkan ke dalam dua ayat. Pemisahan itu tidak ditandai dengan satu kata pun. Pembacanya harus menyambungnya sendiri, dan sambungan itulah yang membuat tegurannya terasa.
Kata (الْأَعْمَىٰ, al-a'maa) memakai kata sandang, sehingga yang ditunjuk seorang tertentu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi namanya tidak pernah disebut, tidak di ayat ini dan tidak di mana pun di surah ini.
Susunan ayat ini menaruh kedatangannya lebih dulu, dan sebutan buta baru menyusul. Yang terbaca pertama perbuatannya, bukan keadaan tubuhnya. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun, tetapi ia mengubah cara pembacanya melihat orang itu.
Perhatikan pula bahwa dua ayat pertama surah ini tidak memuat satu sebutan penilaian pun. Tidak ada baik, buruk, salah, atau benar di dalamnya. Yang tertulis cuma perbuatan dan sebabnya.
Penilaiannya baru datang lewat susunan, bukan lewat sebutan langsung. Pembacanya sendiri yang menyimpulkan, dan kesimpulan yang ditarik sendiri lebih sulit ditolak daripada yang disodorkan.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan sebab teguran: kedatangan seorang buta yang diabaikan. Kata terakhirnya muncul 8 kali di 8 surah: 6:50, 11:24, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2.
Di 6:50, 13:16, 35:19, dan 40:58 kata itu dipakai untuk membandingkan orang yang buta dengan orang yang melihat, dan yang buta selalu berarti yang tidak melihat kebenaran. Di sini artinya terbalik: yang buta datang mencari kebenaran, dan yang melihat berpaling darinya.
Di 24:61 dan 48:17 Al-Qur'an justru menyatakan tidak ada keberatan atas orang buta. Jadi dua ayat lain membela kedudukannya, dan ayat ini menegur orang yang mengabaikannya.
Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta, dan yang ketiga tentang kedatangan hari kiamat. Jadi satu akar mengikat kedatangan yang paling mudah diabaikan dan kedatangan yang tidak bisa diabaikan siapa pun.
Kata pertamanya menyatakan sebab, sehingga ayat ini bukan kalimat baru melainkan alasan bagi teguran di 80:1. Sebab dan akibatnya dipisahkan ke dalam dua ayat tanpa satu kata penanda pun.
Susunan ayat ini juga menaruh kedatangannya lebih dulu, dan sebutan buta baru menyusul. Dua ayat pertama surah ini juga tidak memuat satu kata pun yang menilai, sehingga penilaiannya datang lewat susunan dan bukan lewat kata.
Renungan dan Hikmah
- Sebutan bagi orang buta di ayat ini muncul 8 kali di 8 surah: 6:50, 11:24, 13:16, 24:61, 35:19, 40:58, 48:17, dan 80:2. Di 6:50, 13:16, 35:19, serta 40:58 Allah memakainya untuk membandingkan orang buta dengan orang yang melihat. Di keempat tempat itu yang buta berarti yang tidak melihat kebenaran. Di sini artinya terbalik: yang buta datang mencari kebenaran, dan yang melihat berpaling darinya. Lambang yang sudah dipakai empat kali dibalik tanpa satu kata peringatan. Pembaca yang datang dengan kebiasaan dari empat ayat itu akan salah membaca ayat ini, dan justru itu yang diuji. Sebuah lambang yang sudah mapan justru jadi jebakan bagi yang menghafalnya tanpa memeriksa.
- Kata terakhirnya juga dipakai di 24:61 dan 48:17. Di kedua tempat itu Allah menyatakan tidak ada keberatan atas orang buta. Jadi dua ayat lain membela kedudukannya, sedangkan ayat ini menegur orang yang mengabaikannya. Kumpulkan ketiganya dan gambarannya utuh: empat ayat memakai kebutaan sebagai lambang penolakan, dua ayat membela orang buta yang sebenarnya, dan satu ayat menegur yang mengabaikannya. Al-Qur'an tidak merangkum ketiga kelompok itu di mana pun. Tiga kelompok ayat yang tidak pernah dipertemukan itu baru terbaca sebagai satu gambaran ketika pembacanya sendiri menaruhnya berdampingan.
- Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta, dan yang ketiga tentang kedatangan suara memekakkan pada hari kiamat. Jadi Allah memakai satu akar untuk kedatangan yang paling mudah diabaikan dan kedatangan yang tidak bisa diabaikan siapa pun. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang di tiga tempat. Ukuran besar kecilnya sebuah kedatangan ternyata tidak ditentukan oleh siapa yang datang, melainkan oleh siapa yang menyambutnya.
- Kata pertamanya menyatakan sebab, sehingga ayat ini alasan bagi teguran di 80:1, bukan kalimat baru. Membacanya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa perbuatan yang disebabkannya. Allah memisahkan sebab dari akibatnya ke dalam dua ayat, dan tidak menandai pemisahan itu dengan satu kata pun. Pembacanya harus menyambungnya sendiri, dan sambungan itulah yang membuat tegurannya terasa. Kalau keduanya digabung dalam satu ayat, jeda itu hilang. Jeda antara dua ayat itu bekerja seperti tarikan napas sebelum alasannya diucapkan, dan jeda itu bagian dari tegurannya.
- Kata terakhirnya memakai kata sandang, sehingga yang ditunjuk seorang tertentu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi namanya tidak pernah disebut Allah, tidak di ayat ini dan tidak di mana pun di surah ini. Jadi ia dikenali sekaligus dibiarkan tanpa nama. Yang dikenali tanpa nama tidak bisa dijadikan milik satu masa, dan setiap pembaca yang pernah diabaikan bisa mengenali dirinya di situ. Nama yang tidak disebut membuat pembacanya berhenti menebak siapa orangnya, lalu mulai memeriksa dirinya sendiri.
- Susunan ayat ini menaruh kedatangannya lebih dulu, dan sebutan buta baru menyusul. Yang terbaca pertama perbuatannya, bukan keadaan tubuhnya. Allah tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun, tetapi ia mengubah cara pembacanya melihat orang tersebut. Apa yang berubah pada gambaran seseorang ketika yang disebut lebih dulu adalah apa yang dikerjakannya, bukan apa yang kurang padanya? Urutan penyebutan bukan hal kecil, karena yang disebut lebih dulu akan lebih dulu pula membentuk kesan pembacanya.