Ayat 80:3

وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

Tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰwa-maa yudriika la'allahu yazzakkaatahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. يُدْرِيكَyudriikamemberitahumu
  3. لَعَلَّهُla'allahuagar ia
  4. يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Pertanyaan reflektif yang menantang asumsi: 'tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya (dari dosa)', pengingat bahwa penampilan luar (kemiskinan, keterbatasan fisik) tidak mencerminkan potensi spiritual sesungguhnya, dorongan untuk tidak meremehkan siapa pun berdasarkan status.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung berisi nama nabi dan "(dari dosa)" tidak dipakai. Kata kerja "yazzakkaa" diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", mengikuti keputusan yang berlaku bagi seluruh kata kerja akar z-k-w. Yang tertulis (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa), tanpa penyebutan dari apa penyucian itu dilakukan.

Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7. Kedua-duanya di surah ini. Tidak ada surah lain yang memakainya.

Perhatikan siapa yang dikenainya. Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) di sini tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya. Di 80:7 kata yang sama tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya.

Jadi (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk mengukur dua orang yang berlawanan. Alat timbangnya sama persis, dan hasilnya berbeda. Yang membedakan bukan alatnya, melainkan orangnya.

Akar kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya.

Artinya peluang yang diabaikan di ayat ini bukan peluang kecil. Ia peluang yang di dua surah lain disebut sebagai keberuntungan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu, dan pembacanya yang harus menaruhnya berdampingan.

Kata (لَعَلَّهُ, la'allahu) menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi teguran ini dibangun atas peluang yang diabaikan, bukan atas kerugian yang sudah terbukti.

Perhatikan betapa beratnya itu. Yang hilang belum tentu terjadi, dan tetap saja dipersoalkan. Sebuah teguran yang menunggu bukti akan selalu terlambat, karena peluang tidak meninggalkan jejak ketika ia lewat.

Kata (يُدْرِيكَ, yudriika) dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu.

Bentuk (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya. Ia yang mengerjakannya, dan itu terbaca dari bentuk katanya.

Ayat ini membuka dua ayat tentang peluang orang buta, dan 80:4 melengkapinya. Peluangnya disebut dua kali dengan dua kata kerja yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya.

Perhatikan juga arah pertanyaan di ayat ini. Ia tidak bertanya apa yang salah, melainkan apa yang tidak diketahui. Kesalahannya diletakkan pada penilaian, bukan pada perbuatan.

Penilaian yang keliru itu punya pola yang khas: menimbang orang dari apa yang terlihat. Yang terlihat pada orang buta cuma keterbatasannya. Yang tidak terlihat justru peluangnya, dan peluang itulah yang ditimbang di ayat ini.

Susunan seperti itu membalik urutan yang biasa. Biasanya orang dinilai dulu, baru diperlakukan. Di sini perlakuannya sudah terjadi, dan penilaiannya baru dipersoalkan sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa orang buta itu justru berpotensi besar mendapat kebaikan dari perhatian yang diabaikan. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7, dan kedua-duanya di surah ini.

Di sini kata itu tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya. Di 80:7 kata yang sama tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya. Jadi satu kata dipakai untuk mengukur dua orang yang berlawanan dengan alat timbang yang sama persis.

Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya, sehingga peluang yang diabaikan di sini bukan peluang kecil.

Kata ketiganya menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi teguran ini dibangun atas peluang yang diabaikan, bukan atas kerugian yang sudah terbukti. Yang hilang belum tentu terjadi, dan tetap saja dipersoalkan.

Kata keduanya dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu.

Bentuk kata terakhirnya juga menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Pertanyaannya tidak menyoal apa yang salah, melainkan apa yang tidak diketahui, sehingga kesalahannya diletakkan pada penilaian dan bukan pada perbuatan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7, dan kedua-duanya di surah ini. Di sini kata itu tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya, dan di 80:7 tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya. Jadi Allah memakai satu kata yang cuma hidup di dua tempat untuk mengukur dua orang yang berlawanan. Alat timbangnya sama persis, dan hasilnya berbeda. Yang membedakan bukan alatnya, melainkan orang yang ditimbang. Alat ukur yang sama untuk dua orang yang berbeda adalah tanda bahwa kedudukan keduanya di hadapan-Nya tidak dibedakan lebih dulu.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya. Jadi peluang yang diabaikan di ayat ini adalah peluang yang di dua surah lain disebut sebagai keberuntungan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu di mana pun, dan pembacanya yang harus menaruh kedua tempat itu berdampingan. Peluang yang di tempat lain disebut keberuntungan tidak berubah nilainya cuma karena orang yang memegangnya terlihat lemah.
  • Kata ketiganya menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi Allah membangun tegurannya atas peluang, bukan atas kerugian yang sudah terbukti. Yang hilang belum tentu terjadi, dan justru itu yang dipersoalkan. Sebuah teguran yang menunggu bukti akan selalu terlambat, karena peluang tidak meninggalkan jejak ketika ia lewat. Apa yang dinyatakan sebuah teguran ketika ia dijatuhkan atas sesuatu yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi? Peluang tidak meninggalkan bekas ketika ia lewat, dan karena itu kehilangannya tidak pernah bisa dihitung sesudahnya.
  • Kata keduanya dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan Allah bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu. Jadi bentuk pertanyaan itu dipakai untuk menutup dugaan, bukan untuk membukanya. Penilaian tentang siapa yang layak diperhatikan dibatalkan justru karena dasarnya tidak pernah ada pada yang menilai. Sebuah penilaian yang dasarnya tidak pernah dimiliki penilainya bukan penilaian yang lemah, melainkan penilaian yang tidak sah sejak awal.
  • Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya. Ia yang mengerjakannya, dan itu terbaca dari bentuk katanya saja. Allah tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakannya. Jadi orang yang diabaikan di ayat sebelumnya bukan penerima yang pasif; ia pelaku bagi peluangnya sendiri. Orang yang dianggap paling tidak berdaya ternyata dinyatakan sebagai pelaku, dan pernyataan itu datang lewat bentuk kata, bukan lewat pembelaan.
  • Ayat ini membuka dua ayat tentang peluang orang buta, dan 80:4 melengkapinya. Peluangnya disebut Allah dua kali dengan dua kata kerja yang berbeda. Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya, dan pembacanya tidak diberi alat untuk memeringkatnya. Dua peluang yang tidak diperingkat berarti dua-duanya cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kehilangan. Dua peluang yang tidak diperingkat menutup celah bagi siapa pun yang ingin menawar dengan berkata bahwa yang hilang cuma yang kecil.

Ayat 80:4

أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

Atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰaw yadzdzakkaru fa-tanfa'ahu dz-dzikraaatau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَوْawatau
  2. يَذَّكَّرُyadzdzakkarumengambil pelajaran
  3. فَتَنْفَعَهُfa-tanfa'ahulalu bermanfaat baginya
  4. الذِّكْرَىٰdz-dzikraaperingatan

Inti bacaan

Kemungkinan manfaat yang terlewatkan: 'atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya', penegasan bahwa orang yang tampak kurang penting bisa jadi justru yang paling reseptif terhadap pesan yang disampaikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Jadi ia tersebar tipis, satu kali di tiap surah yang memakainya.

Di 87:9 kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) berdiri di dalam perintah memberi peringatan. Bandingkan dua tempat itu. Di 87:9 peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan. Di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang justru diabaikan.

Susunannya jadi ganjil kalau dibaca berdampingan. Yang diperintahkan disampaikan ternyata tidak sampai kepada orang yang paling siap menerimanya. Al-Qur'an tidak menyambungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Di sini akar itu menamai peluang orang buta. Di 80:11 ia menamai sifat wahyu. Di 80:12 ia menamai pilihan siapa pun yang mau.

Jadi akar (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) mengikat tiga hal: orang yang diabaikan, wahyu yang tidak mengabaikan seorang pun, dan pilihan yang terbuka bagi semua. Rangkaian itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, tetapi urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas.

Bentuk (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain.

Perhatikan apa akibatnya. Yang menyampaikan tidak memegang hasilnya. Ia cuma membuka pintunya, dan yang melangkah masuk orang itu sendiri. Karena itu mengabaikannya bukan sekadar menahan sesuatu; ia menutup pintu bagi orang yang sudah berjalan menujunya.

Kata (أَوْ, aw) menyatakan pilihan. Dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian.

Kata (فَتَنْفَعَهُ, fa-tanfa'ahu) memakai kata ganti yang menunjuk orang buta. Manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Jadi yang dirugikan pengabaian itu adalah pihak yang paling tidak berdaya di dalam kejadiannya.

Ayat ini menutup dua ayat tentang peluangnya. Sesudahnya, enam ayat berikutnya dipakai untuk membandingkan dua sikap. Dua ayat peluang dijawab enam ayat perbandingan, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun.

Perhatikan juga bahwa dua peluang di ayat ini sama-sama tidak terlihat dari luar. Mengingat dan mengambil manfaat berlangsung di dalam diri orangnya. Tidak ada tanda lahir yang bisa dipakai untuk menakarnya lebih dulu.

Karena tidak terlihat, ia tidak bisa diperkirakan. Karena tidak bisa diperkirakan, tidak ada dasar untuk memilih siapa yang layak diberi perhatian dan siapa yang tidak.

Di situlah teguran empat ayat pertama surah ini bertumpu. Bukan pada hasil yang gagal dicapai, melainkan pada keputusan memilih yang dibuat tanpa dasar sama sekali.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan potensi kebaikan yang mungkin diperoleh orang buta tersebut. Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23.

Di 87:9 kata yang sama berdiri di dalam perintah memberi peringatan. Jadi di sana peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan, dan di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang justru diabaikan.

Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Akar itu menamai peluang orang buta di sini, sifat wahyu di 80:11, dan pilihan siapa pun di 80:12. Urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas.

Bentuk kata keduanya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain.

Kata pertamanya menyatakan pilihan, sehingga dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian.

Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang buta, sehingga manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Dua peluang di ayat ini sama-sama tidak terlihat dari luar, sehingga tidak ada tanda lahir yang bisa dipakai untuk menakarnya lebih dulu. Di situlah teguran empat ayat pertama surah ini bertumpu: bukan pada hasil yang gagal dicapai, melainkan pada keputusan memilih yang dibuat tanpa dasar.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Di 87:9 kata yang sama berdiri di dalam perintah Allah memberi peringatan. Jadi di sana peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan, dan di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang diabaikan. Dibaca berdampingan, susunannya jadi ganjil: yang diperintahkan disampaikan justru tidak sampai kepada orang yang paling siap menerimanya. Perintah menyampaikan dan kenyataan tidak sampai berdiri berdampingan tanpa satu kalimat pun yang mendamaikannya.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Akar itu menamai peluang orang buta, sifat wahyu Allah, dan pilihan siapa pun yang mau. Jadi satu akar mengikat orang yang diabaikan dan wahyu yang tidak mengabaikan seorang pun, tanpa satu kata penghubung. Urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas, dan Al-Qur'an tidak menandai gerak itu. Yang paling sempit dan yang paling luas diikat satu bunyi, dan bunyi itu satu-satunya penghubungnya.
  • Bentuk kata keduanya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain. Allah tidak menaruh satu pun di tangan orang yang menyampaikan. Yang menyampaikan cuma membuka pintunya, dan yang melangkah masuk orang itu sendiri. Karena itu mengabaikannya berarti menutup pintu bagi orang yang sudah berjalan menujunya. Menahan sesuatu dari yang tidak mencarinya berbeda jauh dari menahannya dari yang sudah berjalan menuju.
  • Kata pertamanya menyatakan pilihan, sehingga dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian. Allah tidak menuntut keduanya sekaligus, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu huruf. Jadi ambang kerugiannya serendah mungkin, dan pengabaian tadi tidak butuh akibat besar untuk terbaca salah. Ambang yang serendah itu berarti tidak ada ruang untuk berkata bahwa kerugiannya belum tentu cukup besar untuk dipersoalkan.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang buta, sehingga manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Jadi yang dirugikan oleh pengabaian itu adalah pihak yang paling tidak berdaya di dalam kejadiannya, dan Allah menaruh kerugian itu tepat di sana. Yang paling sedikit dayanya menanggung paling banyak akibatnya, dan itulah yang membuat tegurannya berat. Daya seseorang dan akibat yang ditanggungnya ternyata bergerak berlawanan arah, dan susunan ayat ini menaruh keduanya berdampingan.
  • Ayat ini menutup dua ayat tentang peluangnya, dan enam ayat berikutnya dipakai untuk membandingkan dua sikap. Allah tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun. Apa yang dinyatakan dengan memberi peluang orang buta dua ayat, lalu memakai tiga kali lipatnya untuk menimbang bagaimana ia diperlakukan? Yang ditimbang panjang lebar bukan peluangnya, melainkan sikap terhadapnya. Panjang pendeknya bagian bukan soal ruang, melainkan tanda tentang bagian mana yang paling perlu diperiksa pembacanya.