وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ

Tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰwa-maa yudriika la'allahu yazzakkaatahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tahukah
  2. يُدْرِيكَyudriikamemberitahumu
  3. لَعَلَّهُla'allahuagar ia
  4. يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Akar د-ر-ي tercatat di 28 ayat, dan rangkaian wa-maa yudriika hanya di 33:63, 42:17, dan 80:3. Bentuk kata kerja yazzakkaa tercatat di tujuh ayat, dua di antaranya dalam surah ini (80:3, 80:7).

Penjelasan pilihan kata

Kata (يُدْرِيكَ, yudriika) berarti "memberitahumu", dari akar د-ر-ي yang tercatat di 28 ayat. Rangkaian (وَمَا يُدْرِيكَ, wa-maa yudriika), secara harfiah "dan apa yang memberitahumu", diterjemahkan "tahukah engkau". Akhiran -ka adalah sapaan langsung yang pertama di surah ini, sesudah dua ayat yang membicarakan pelakunya sebagai orang ketiga.

Rangkaian wa-maa yudriika dipakai di tiga ayat. Di 33:63 dan 42:17 rangkaian itu disusul (لَعَلَّ, la'alla) dan kata hari Kiamat, (وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ, wa-maa yudriika la'alla s-saa'ata), "tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat" sudah dekat. Di 80:3 susunannya sama, dan kemungkinan yang disebut sesudahnya menyangkut penyucian diri seorang buta. Bentuk lampaunya, (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka), muncul di dua belas ayat dan di banyak tempat disusul keterangan tentang hal yang ditanyakan, misalnya 97:2-3 dan 104:5-6. Ketiga ayat yang memakai bentuk yudriika disusul kemungkinan, dan kemungkinan itu dibiarkan terbuka.

Akar ini dipakai juga dalam pengakuan tidak tahu. Di 46:9 Rasul diperintah berkata (وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ, wa-maa adrii maa yuf'alu bii wa-laa bikum), "aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadap kalian", dan di 72:25 dia diperintah berkata bahwa dia tidak tahu apakah yang diancamkan itu dekat. Pertanyaan di 80:3 berasal dari akar yang sama, dan isinya sejalan dengan kedua pengakuan itu, karena apa yang akan terjadi pada diri seseorang tidak diketahui oleh orang yang menyampaikan peringatan kepadanya.

Kata (لَعَلَّهُ, la'allahu) berarti "boleh jadi dia". Kata ini menyatakan kemungkinan, sehingga ayat ini tidak menyatakan bahwa orang buta itu pasti akan menyucitumbuhkan diri. Teguran di surah ini bertumpu pada peluang yang terlewat, tanpa menunggu kerugian yang sudah terbukti.

Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) berasal dari akar ز-ك-و, yang tercatat di 56 ayat. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini muncul di tujuh ayat, yaitu 20:76, 35:18, 79:18, 80:3, 80:7, 87:14, dan 92:18. Terjemahan ini memakai "menyucitumbuhkan diri" untuk kata kerja dari akar ini, dan alasannya dicatat di catatan pilihan kata. Bentuk itu menyatakan perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya sendiri, sehingga penyuciannya berasal dari orang buta itu dan tidak diberikan oleh orang yang didatanginya.

Di antara ketujuh ayat itu, 79:18 berada tepat sebelum surah ini. Di sana Musa disuruh berkata kepada Firaun, (هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ, hal laka ilaa an tazakkaa) yang berarti "adakah keinginanmu untuk menyucitumbuhkan diri". Kata yang sama muncul dua kali di surah ini, di 80:3 untuk orang buta yang boleh jadi melakukannya dan di 80:7 untuk orang yang merasa serba cukup dan tidak melakukannya.

Tafsiran

Ayat ini mengubah cara surah berbicara. Dua ayat pertama menceritakan perbuatan seseorang, dan mulai ayat ini orang itu disapa langsung dengan pertanyaan. Pertanyaannya tidak meminta keterangan, sebab orang yang disapa tidak diharapkan menjawab. Isinya menyatakan bahwa orang itu tidak tahu apa yang mungkin terjadi pada orang yang dia abaikan. Kalimatnya belum selesai di sini, karena 80:4 menambahkan kemungkinan kedua dengan kata "atau".

Kesalahan yang ditunjuk di sini terletak pada penilaian. Orang yang bermuka masam memperlakukan tamunya seakan-akan dia sudah tahu bahwa kedatangan itu tidak membawa apa-apa. Pertanyaan "tahukah engkau" menarik dasar penilaian itu, karena kemungkinan yang dimaksud, penyucian diri, terjadi di dalam diri orang buta itu dan tidak tampak dari luar.

Susunan yang sama dipakai di 33:63 dan 42:17 untuk hari Kiamat, yang waktunya disebut di 33:63 hanya diketahui di sisi Allah. Dengan susunan yang sama, 80:3 menaruh kemungkinan penyucian diri seseorang di wilayah yang tidak diketahui orang yang disapa. Di surah sebelumnya, 79:17-22, penyucian diri ditawarkan kepada Firaun yang melampaui batas, dan dia berpaling. Di surah ini orang yang boleh jadi menyucitumbuhkan diri datang sendiri, dan orang yang didatangi berpaling darinya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menegur dengan pertanyaan yang isinya pernyataan bahwa orang yang disapa tidak tahu. Keputusan untuk mengabaikan seseorang biasanya diambil seakan-akan kita sudah tahu siapa yang layak diperhatikan dan siapa yang tidak. Ayat ini menarik dasar keputusan itu, karena apa yang terjadi di dalam diri orang lain tidak terlihat dari luar. Sebelum menyimpulkan bahwa seseorang tidak akan mendapat apa-apa dari kita, apa sebenarnya yang kita ketahui tentang dirinya?
  • Susunan "tahukah engkau, boleh jadi" di ayat ini hanya dipakai lagi di 33:63 dan 42:17, keduanya untuk hari Kiamat yang boleh jadi sudah dekat. Kedua ayat itu meminta hari yang waktunya tidak diketahui tetap diperhitungkan. Di sini susunan yang sama dipakai untuk kemungkinan yang jauh lebih kecil, penyucian diri seorang buta. Allah memakai ukuran kalimat yang sama untuk keduanya, sehingga kemungkinan kecil yang terjadi pada satu orang tidak boleh dicoret hanya karena belum pasti.
  • Di 79:17-19 Musa diutus kepada Firaun, yang telah melampaui batas, untuk menawarkan penyucian diri dan petunjuk ke jalan Tuhannya. Firaun mendustakan dan berpaling (79:21-22). Di surah ini orang yang boleh jadi menyucitumbuhkan diri datang sendiri tanpa perlu diundang. Tawaran yang sama diantar jauh-jauh kepada seorang penguasa dan ditolaknya, lalu orang yang boleh jadi menerimanya datang sendiri dan disambut dengan muka masam. Urutan kedua surah itu membuat pembaca bertanya kepada siapa selama ini perhatian lebih banyak diberikan.
  • Menurut 35:18, siapa yang menyucitumbuhkan diri melakukannya untuk dirinya sendiri, dan kepada Allah tempat kembali. Penyucian orang buta itu akan menjadi miliknya, tidak menjadi milik orang yang didatanginya. Orang yang didatangi tidak diminta menyucikan tamunya. Dia hanya diminta tidak menghalangi jalan orang itu dengan muka masam dan perpalingan. Peran semacam itu terasa kecil, dan karena kecil mudah dilalaikan, padahal ayat-ayat ini menegur orang yang disapa karena peran kecil itu terlewat.
  • Menurut 87:14, orang yang menyucitumbuhkan diri itu beruntung. Kemungkinan yang dipersoalkan di ayat ini dengan demikian mengarah kepada apa yang di surah lain disebut keberuntungan. Orang yang bermuka masam mungkin tidak memikirkan sejauh itu ketika seorang buta datang kepadanya. Allah menyebut kemungkinan itu dengan kata yang sama dengan kata di 87:14, sehingga pembaca tahu bahwa yang hampir terlewat bukan urusan remeh.
  • Kata "boleh jadi" di ayat ini tidak memberi kepastian bahwa orang buta itu akan berubah. Tegurannya tetap dijatuhkan, walaupun kemungkinan itu belum terbukti dan mungkin tidak pernah terbukti. Orang biasanya menunggu tanda yang meyakinkan sebelum memberi perhatian, dan tanda semacam itu jarang datang pada orang yang belum diberi kesempatan. Ayat ini menjadikan kemungkinan itu cukup untuk mewajibkan perhatian, dan menyerahkan kepastiannya kepada Tuhan yang mengetahui apa yang tidak diketahui orang yang disapa.