وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ
Tahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰwa-maa yudriika la'allahu yazzakkaatahukah engkau, boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tahukah
- يُدْرِيكَyudriikamemberitahumu
- لَعَلَّهُla'allahuagar ia
- يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri
Inti bacaan
Pertanyaan reflektif yang menantang asumsi: 'tahukah engkau boleh jadi dia ingin menyucitumbuhkan dirinya (dari dosa)', pengingat bahwa penampilan luar (kemiskinan, keterbatasan fisik) tidak mencerminkan potensi spiritual sesungguhnya, dorongan untuk tidak meremehkan siapa pun berdasarkan status.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung berisi nama nabi dan "(dari dosa)" tidak dipakai. Kata kerja "yazzakkaa" diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", mengikuti keputusan yang berlaku bagi seluruh kata kerja akar z-k-w. Yang tertulis (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa), tanpa penyebutan dari apa penyucian itu dilakukan.
Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7. Kedua-duanya di surah ini. Tidak ada surah lain yang memakainya.
Perhatikan siapa yang dikenainya. Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) di sini tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya. Di 80:7 kata yang sama tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya.
Jadi (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk mengukur dua orang yang berlawanan. Alat timbangnya sama persis, dan hasilnya berbeda. Yang membedakan bukan alatnya, melainkan orangnya.
Akar kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya.
Artinya peluang yang diabaikan di ayat ini bukan peluang kecil. Ia peluang yang di dua surah lain disebut sebagai keberuntungan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu, dan pembacanya yang harus menaruhnya berdampingan.
Kata (لَعَلَّهُ, la'allahu) menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi teguran ini dibangun atas peluang yang diabaikan, bukan atas kerugian yang sudah terbukti.
Perhatikan betapa beratnya itu. Yang hilang belum tentu terjadi, dan tetap saja dipersoalkan. Sebuah teguran yang menunggu bukti akan selalu terlambat, karena peluang tidak meninggalkan jejak ketika ia lewat.
Kata (يُدْرِيكَ, yudriika) dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu.
Bentuk (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya. Ia yang mengerjakannya, dan itu terbaca dari bentuk katanya.
Ayat ini membuka dua ayat tentang peluang orang buta, dan 80:4 melengkapinya. Peluangnya disebut dua kali dengan dua kata kerja yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya.
Perhatikan juga arah pertanyaan di ayat ini. Ia tidak bertanya apa yang salah, melainkan apa yang tidak diketahui. Kesalahannya diletakkan pada penilaian, bukan pada perbuatan.
Penilaian yang keliru itu punya pola yang khas: menimbang orang dari apa yang terlihat. Yang terlihat pada orang buta cuma keterbatasannya. Yang tidak terlihat justru peluangnya, dan peluang itulah yang ditimbang di ayat ini.
Susunan seperti itu membalik urutan yang biasa. Biasanya orang dinilai dulu, baru diperlakukan. Di sini perlakuannya sudah terjadi, dan penilaiannya baru dipersoalkan sesudahnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa orang buta itu justru berpotensi besar mendapat kebaikan dari perhatian yang diabaikan. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7, dan kedua-duanya di surah ini.
Di sini kata itu tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya. Di 80:7 kata yang sama tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya. Jadi satu kata dipakai untuk mengukur dua orang yang berlawanan dengan alat timbang yang sama persis.
Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya, sehingga peluang yang diabaikan di sini bukan peluang kecil.
Kata ketiganya menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi teguran ini dibangun atas peluang yang diabaikan, bukan atas kerugian yang sudah terbukti. Yang hilang belum tentu terjadi, dan tetap saja dipersoalkan.
Kata keduanya dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu.
Bentuk kata terakhirnya juga menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Pertanyaannya tidak menyoal apa yang salah, melainkan apa yang tidak diketahui, sehingga kesalahannya diletakkan pada penilaian dan bukan pada perbuatan.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:3 dan 80:7, dan kedua-duanya di surah ini. Di sini kata itu tentang orang buta yang mungkin menyucitumbuhkan dirinya, dan di 80:7 tentang orang yang merasa cukup dan tidak melakukannya. Jadi Allah memakai satu kata yang cuma hidup di dua tempat untuk mengukur dua orang yang berlawanan. Alat timbangnya sama persis, dan hasilnya berbeda. Yang membedakan bukan alatnya, melainkan orang yang ditimbang. Alat ukur yang sama untuk dua orang yang berbeda adalah tanda bahwa kedudukan keduanya di hadapan-Nya tidak dibedakan lebih dulu.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 24:21, 87:14, dan 91:9. Di 87:14 dan 91:9 akar itu dipakai untuk orang yang beruntung karena menyucikan dirinya. Jadi peluang yang diabaikan di ayat ini adalah peluang yang di dua surah lain disebut sebagai keberuntungan. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu di mana pun, dan pembacanya yang harus menaruh kedua tempat itu berdampingan. Peluang yang di tempat lain disebut keberuntungan tidak berubah nilainya cuma karena orang yang memegangnya terlihat lemah.
- Kata ketiganya menyatakan kemungkinan, bukan kepastian. Jadi Allah membangun tegurannya atas peluang, bukan atas kerugian yang sudah terbukti. Yang hilang belum tentu terjadi, dan justru itu yang dipersoalkan. Sebuah teguran yang menunggu bukti akan selalu terlambat, karena peluang tidak meninggalkan jejak ketika ia lewat. Apa yang dinyatakan sebuah teguran ketika ia dijatuhkan atas sesuatu yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi? Peluang tidak meninggalkan bekas ketika ia lewat, dan karena itu kehilangannya tidak pernah bisa dihitung sesudahnya.
- Kata keduanya dipakai di dalam bentuk pertanyaan yang tidak menunggu jawaban. Yang dinyatakan Allah bukan permintaan keterangan, melainkan bahwa yang disapa memang tidak tahu. Jadi bentuk pertanyaan itu dipakai untuk menutup dugaan, bukan untuk membukanya. Penilaian tentang siapa yang layak diperhatikan dibatalkan justru karena dasarnya tidak pernah ada pada yang menilai. Sebuah penilaian yang dasarnya tidak pernah dimiliki penilainya bukan penilaian yang lemah, melainkan penilaian yang tidak sah sejak awal.
- Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri. Penyucian itu tidak diberikan pihak lain kepadanya. Ia yang mengerjakannya, dan itu terbaca dari bentuk katanya saja. Allah tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakannya. Jadi orang yang diabaikan di ayat sebelumnya bukan penerima yang pasif; ia pelaku bagi peluangnya sendiri. Orang yang dianggap paling tidak berdaya ternyata dinyatakan sebagai pelaku, dan pernyataan itu datang lewat bentuk kata, bukan lewat pembelaan.
- Ayat ini membuka dua ayat tentang peluang orang buta, dan 80:4 melengkapinya. Peluangnya disebut Allah dua kali dengan dua kata kerja yang berbeda. Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya, dan pembacanya tidak diberi alat untuk memeringkatnya. Dua peluang yang tidak diperingkat berarti dua-duanya cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kehilangan. Dua peluang yang tidak diperingkat menutup celah bagi siapa pun yang ingin menawar dengan berkata bahwa yang hilang cuma yang kecil.