أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

Atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya?

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰaw yadzdzakkaru fa-tanfa'ahu dz-dzikraaatau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَوْawatau
  2. يَذَّكَّرُyadzdzakkarumengambil pelajaran
  3. فَتَنْفَعَهُfa-tanfa'ahulalu bermanfaat baginya
  4. الذِّكْرَىٰdz-dzikraaperingatan

Inti bacaan

Akar ذ-ك-ر dipakai tiga kali dalam surah ini (80:4, 80:11, 80:12), dan dz-dzikraa dengan kata sandang tercatat di enam ayat. Awalan fa- pada fa-tanfa'ahu menandai akibat dari pelajaran yang diambil.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوْ, aw), "atau", yang menyambungnya dengan kemungkinan di 80:3. Kedua kemungkinan berada di bawah satu kata "boleh jadi", yaitu dia menyucitumbuhkan diri, atau dia mengambil pelajaran sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya. Kalimatnya tidak menyatakan mana yang lebih besar di antara keduanya.

Kata (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) berarti "dia mengambil pelajaran", dari akar ذ-ك-ر yang tercatat di 264 ayat. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini muncul di lima puluh ayat, misalnya 2:269 dan 13:19. Di surah ini akar yang sama dipakai lagi di 80:11, (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun), "peringatan", dan di 80:12, (ذَكَرَهُ, dzakarahu), "mengingatnya". Pelajaran yang mungkin diambil orang buta itu dengan demikian berasal dari peringatan yang menurut 80:11-12 terbuka bagi siapa saja yang menghendaki. Di surah sebelumnya bentuk yang sama dipakai untuk hari ketika manusia mengingat apa yang telah dia usahakan (79:35).

Kata (فَتَنْفَعَهُ, fa-tanfa'ahu) berarti "sehingga bermanfaat baginya", dari akar ن-ف-ع yang tercatat di 49 ayat. Awalan fa- menyatakan akibat. Manfaat itu datang sesudah pelajaran diambil, dan akhiran -hu menunjuk orang buta itu sebagai penerimanya.

Akar ن-ف-ع juga dipakai untuk hal-hal yang tidak lagi bermanfaat. Di 26:88, (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ, yawma laa yanfa'u maalun wa-laa banuuna), "pada hari harta dan anak-anak tidak berguna", dan 26:89 mengecualikan orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Di 74:48 syafaat para pemberi syafaat tidak berguna bagi orang-orang yang dibicarakan di sana. Manfaat yang disebut di 80:4 masih terbuka, karena orang buta itu datang sendiri pada waktu peringatan masih bisa berguna.

Kata (الذِّكْرَىٰ, dz-dzikraa) dengan kata sandang muncul di enam ayat, yaitu 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Di tiga ayat kata itu bersanding dengan akar ن-ف-ع. Di 51:55 peringatan disebut bermanfaat bagi orang-orang beriman, di 87:9 perintah memberi peringatan disusul (إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَىٰ, in nafa'ati dz-dzikraa), "jika peringatan itu bermanfaat", dan di ayat ini manfaatnya disebut sebagai kemungkinan bagi satu orang. Di 89:23 kata yang sama dipakai untuk hari ketika manusia teringat tetapi peringatan itu tidak lagi berguna baginya.

Terjemahan ayat ini memakai "pelajaran" untuk dz-dzikraa, sedangkan terjemahan 51:55 dan 87:9 memakai "peringatan". Kedua kata Indonesia itu menerjemahkan kata Arab yang sama. Di ayat ini "pelajaran" dipilih supaya bersambung dengan kata kerja "mengambil pelajaran" sebelumnya, karena keduanya berasal dari akar yang sama.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi 80:3 dengan kemungkinan kedua, sehingga peluang yang terlewat disebut dua kali. Kemungkinan pertama menyangkut diri orang buta itu, yaitu penyucian diri, dan kemungkinan kedua menyangkut hubungannya dengan peringatan, yaitu pelajaran yang diambil lalu bermanfaat. Keduanya tidak diperingkat, dan salah satunya sudah cukup menjadi alasan teguran.

Kata-kata di ayat ini bertemu lagi di 87:9-10. Di sana perintah memberi peringatan disertai syarat "jika peringatan itu bermanfaat", lalu disusul (سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ, sa-yadzdzakkaru man yakhsyaa), "orang yang takut akan mengambil pelajaran". Surah ini menyebut dua unsur yang sama pada orang buta itu, yaitu pelajaran yang boleh jadi bermanfaat baginya (80:4) dan rasa takutnya (80:9). Menurut ukuran 87:9-10, orang buta itu memenuhi ciri orang yang akan mengambil pelajaran.

Susunan "boleh jadi dia" dengan kata kerja mengambil pelajaran muncul juga di 20:44. Di sana Musa dan Harun diperintah berkata lembut kepada Firaun, (لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ, la'allahu yatadzakkaru aw yakhsyaa), "semoga ia sadar atau takut". Harapan yang sama dipegang terhadap seorang penguasa yang melampaui batas (20:43), dan di surah ini harapan itu ada pada seorang buta yang datang sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Akhiran di kata "bermanfaat baginya" menunjuk orang buta itu sebagai penerima manfaat. Allah menyebut keuntungan peringatan itu dari sisi orang yang mendengarnya, dan tidak menyebut apa yang didapat oleh orang yang menyampaikannya. Orang yang mengajar atau menasihati mudah menimbang siapa yang layak didekati berdasarkan apa yang akan kembali kepada dirinya, misalnya pengaruh, dukungan, atau nama baik. Ayat ini mengukur dengan manfaat yang sampai kepada orang yang datang, dan ukuran itu membuat seorang buta yang tidak membawa apa-apa bernilai sama dengan siapa pun.
  • Menurut 87:10, orang yang takut akan mengambil pelajaran, dan 80:9 menyebut orang buta itu datang dalam keadaan takut. Dua unsur yang di 87:9-10 menjadi ukuran siapa yang akan mendapat manfaat dari peringatan ada pada dirinya. Orang yang didatangi mencurahkan perhatian kepada orang yang merasa serba cukup (80:5-6), yang tidak disebut takut. Bagaimana kita menentukan kepada siapa sebuah nasihat akan berguna, bila tanda-tanda yang disebut Tuhan sendiri terlewat di depan mata?
  • Di 20:44 Allah memerintah Musa dan Harun berkata lembut kepada Firaun, dengan harapan dia sadar atau takut. Firaun sudah melampaui batas (20:43), dan harapan itu tetap dipegang sampai dia sendiri menolaknya. Harapan yang dipegang untuk seorang penguasa seperti itu tidak semestinya dicabut dari seorang buta yang datang dengan bersegera. Ayat ini memperlihatkan bahwa kemungkinan seseorang mengambil pelajaran tidak ditentukan oleh kedudukannya, dan bahwa perkataan lembut diperintahkan bahkan kepada orang yang telah melampaui batas.
  • Di 89:23 kata "peringatan" dipakai untuk hari ketika manusia teringat, tetapi peringatan itu tidak lagi berguna baginya. Ayat ini membicarakan peringatan yang masih bisa bermanfaat, pada waktu seseorang datang sendiri untuk mendengarnya. Ada waktu ketika peringatan bisa mengubah seseorang, dan ada waktu ketika mengingat tidak lagi mengubah apa-apa. Orang yang menunda perhatian kepada orang lain mungkin mengira kesempatannya akan selalu ada, padahal kesempatan orang buta itu jatuh pada hari dia datang, dan Allah menyebutnya dengan kata "boleh jadi".
  • Ayat ini menambah kemungkinan kedua dengan kata "atau", tanpa menyebut mana yang lebih besar. Salah satu saja, penyucian diri atau pelajaran yang bermanfaat, sudah cukup untuk membuat perpalingan di 80:1 terbaca sebagai kehilangan. Orang yang mengabaikan orang lain sering membela diri dengan berkata bahwa manfaatnya kecil atau tidak pasti. Allah menyebut dua kemungkinan tanpa menakar besarnya, sehingga pembelaan semacam itu tidak mendapat pegangan dari teksnya.
  • Pelajaran yang mungkin diambil orang buta itu berasal dari peringatan yang di 80:11-12 disebut terbuka bagi siapa saja yang menghendaki. Tidak ada syarat penglihatan, kekayaan, atau kedudukan di dalam kalimat itu. Orang yang menyampaikan peringatan bisa tanpa sadar menambahkan syarat sendiri, misalnya hanya melayani orang yang dianggap penting atau yang pertanyaannya menarik. Surah ini menyebut peringatan itu milik siapa pun yang menghendakinya, dan orang buta yang datang dengan bersegera jelas termasuk orang yang menghendaki.