أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ
Atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰaw yadzdzakkaru fa-tanfa'ahu dz-dzikraaatau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَوْawatau
- يَذَّكَّرُyadzdzakkarumengambil pelajaran
- فَتَنْفَعَهُfa-tanfa'ahulalu bermanfaat baginya
- الذِّكْرَىٰdz-dzikraaperingatan
Inti bacaan
Kemungkinan manfaat yang terlewatkan: 'atau dia mengambil pelajaran, sehingga pelajaran itu bermanfaat baginya', penegasan bahwa orang yang tampak kurang penting bisa jadi justru yang paling reseptif terhadap pesan yang disampaikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Jadi ia tersebar tipis, satu kali di tiap surah yang memakainya.
Di 87:9 kata (الذِّكْرَىٰ, adz-dzikraa) berdiri di dalam perintah memberi peringatan. Bandingkan dua tempat itu. Di 87:9 peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan. Di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang justru diabaikan.
Susunannya jadi ganjil kalau dibaca berdampingan. Yang diperintahkan disampaikan ternyata tidak sampai kepada orang yang paling siap menerimanya. Al-Qur'an tidak menyambungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Di sini akar itu menamai peluang orang buta. Di 80:11 ia menamai sifat wahyu. Di 80:12 ia menamai pilihan siapa pun yang mau.
Jadi akar (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) mengikat tiga hal: orang yang diabaikan, wahyu yang tidak mengabaikan seorang pun, dan pilihan yang terbuka bagi semua. Rangkaian itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, tetapi urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas.
Bentuk (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru) menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain.
Perhatikan apa akibatnya. Yang menyampaikan tidak memegang hasilnya. Ia cuma membuka pintunya, dan yang melangkah masuk orang itu sendiri. Karena itu mengabaikannya bukan sekadar menahan sesuatu; ia menutup pintu bagi orang yang sudah berjalan menujunya.
Kata (أَوْ, aw) menyatakan pilihan. Dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian.
Kata (فَتَنْفَعَهُ, fa-tanfa'ahu) memakai kata ganti yang menunjuk orang buta. Manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Jadi yang dirugikan pengabaian itu adalah pihak yang paling tidak berdaya di dalam kejadiannya.
Ayat ini menutup dua ayat tentang peluangnya. Sesudahnya, enam ayat berikutnya dipakai untuk membandingkan dua sikap. Dua ayat peluang dijawab enam ayat perbandingan, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun.
Perhatikan juga bahwa dua peluang di ayat ini sama-sama tidak terlihat dari luar. Mengingat dan mengambil manfaat berlangsung di dalam diri orangnya. Tidak ada tanda lahir yang bisa dipakai untuk menakarnya lebih dulu.
Karena tidak terlihat, ia tidak bisa diperkirakan. Karena tidak bisa diperkirakan, tidak ada dasar untuk memilih siapa yang layak diberi perhatian dan siapa yang tidak.
Di situlah teguran empat ayat pertama surah ini bertumpu. Bukan pada hasil yang gagal dicapai, melainkan pada keputusan memilih yang dibuat tanpa dasar sama sekali.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan potensi kebaikan yang mungkin diperoleh orang buta tersebut. Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23.
Di 87:9 kata yang sama berdiri di dalam perintah memberi peringatan. Jadi di sana peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan, dan di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang justru diabaikan.
Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Akar itu menamai peluang orang buta di sini, sifat wahyu di 80:11, dan pilihan siapa pun di 80:12. Urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas.
Bentuk kata keduanya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain.
Kata pertamanya menyatakan pilihan, sehingga dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian.
Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang buta, sehingga manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Dua peluang di ayat ini sama-sama tidak terlihat dari luar, sehingga tidak ada tanda lahir yang bisa dipakai untuk menakarnya lebih dulu. Di situlah teguran empat ayat pertama surah ini bertumpu: bukan pada hasil yang gagal dicapai, melainkan pada keputusan memilih yang dibuat tanpa dasar.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 6 kali di 6 surah: 6:68, 44:13, 51:55, 80:4, 87:9, dan 89:23. Di 87:9 kata yang sama berdiri di dalam perintah Allah memberi peringatan. Jadi di sana peringatan adalah yang diperintahkan untuk disampaikan, dan di sini peringatan adalah yang bermanfaat bagi orang yang diabaikan. Dibaca berdampingan, susunannya jadi ganjil: yang diperintahkan disampaikan justru tidak sampai kepada orang yang paling siap menerimanya. Perintah menyampaikan dan kenyataan tidak sampai berdiri berdampingan tanpa satu kalimat pun yang mendamaikannya.
- Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:4, 80:11, dan 80:12. Akar itu menamai peluang orang buta, sifat wahyu Allah, dan pilihan siapa pun yang mau. Jadi satu akar mengikat orang yang diabaikan dan wahyu yang tidak mengabaikan seorang pun, tanpa satu kata penghubung. Urutannya berjalan dari yang paling sempit ke yang paling luas, dan Al-Qur'an tidak menandai gerak itu. Yang paling sempit dan yang paling luas diikat satu bunyi, dan bunyi itu satu-satunya penghubungnya.
- Bentuk kata keduanya menyatakan perbuatan yang dikerjakan orangnya sendiri, sama seperti bentuk kata kerja di 80:3. Jadi dua peluang orang buta itu sama-sama bergantung pada dirinya, bukan pada orang lain. Allah tidak menaruh satu pun di tangan orang yang menyampaikan. Yang menyampaikan cuma membuka pintunya, dan yang melangkah masuk orang itu sendiri. Karena itu mengabaikannya berarti menutup pintu bagi orang yang sudah berjalan menujunya. Menahan sesuatu dari yang tidak mencarinya berbeda jauh dari menahannya dari yang sudah berjalan menuju.
- Kata pertamanya menyatakan pilihan, sehingga dua peluang itu tidak harus terjadi bersama. Salah satunya sudah cukup untuk membuat pengabaian tadi terbaca sebagai kerugian. Allah tidak menuntut keduanya sekaligus, dan pembatasan itu terbawa di dalam satu huruf. Jadi ambang kerugiannya serendah mungkin, dan pengabaian tadi tidak butuh akibat besar untuk terbaca salah. Ambang yang serendah itu berarti tidak ada ruang untuk berkata bahwa kerugiannya belum tentu cukup besar untuk dipersoalkan.
- Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk orang buta, sehingga manfaatnya kembali kepadanya, bukan kepada yang menyampaikan. Jadi yang dirugikan oleh pengabaian itu adalah pihak yang paling tidak berdaya di dalam kejadiannya, dan Allah menaruh kerugian itu tepat di sana. Yang paling sedikit dayanya menanggung paling banyak akibatnya, dan itulah yang membuat tegurannya berat. Daya seseorang dan akibat yang ditanggungnya ternyata bergerak berlawanan arah, dan susunan ayat ini menaruh keduanya berdampingan.
- Ayat ini menutup dua ayat tentang peluangnya, dan enam ayat berikutnya dipakai untuk membandingkan dua sikap. Allah tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun. Apa yang dinyatakan dengan memberi peluang orang buta dua ayat, lalu memakai tiga kali lipatnya untuk menimbang bagaimana ia diperlakukan? Yang ditimbang panjang lebar bukan peluangnya, melainkan sikap terhadapnya. Panjang pendeknya bagian bukan soal ruang, melainkan tanda tentang bagian mana yang paling perlu diperiksa pembacanya.