أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰammaa mani staghnaaadapun orang yang merasa dirinya serba cukup
Terjemahan per kata (3 kata)
- أَمَّاammaaadapun
- مَنِmanisiapa yang
- اسْتَغْنَىٰstaghnaamerasa cukup
Inti bacaan
Kontras dengan yang merasa berkecukupan: 'adapun orang yang merasa dirinya serba cukup', identifikasi kelompok yang menerima perhatian lebih (para pembesar), meski responsnya terhadap kebenaran belum tentu lebih baik.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(para pembesar Quraisy)" tidak dipakai: identitas historis tidak eksplisit dalam Arab, konsisten disiplin anti-penyisipan nama atau insiden historis. Yang tertulis (مَنِ اسْتَغْنَىٰ, mani istaghnaa), tanpa satu nama golongan pun.
Kata (اسْتَغْنَىٰ, istaghnaa) muncul 3 kali di 3 surah: 80:5, 92:8, dan 96:7. Ketiganya berada di juz yang sama. Di 92:8 kata itu menyebut orang yang kikir dan merasa cukup. Di 96:7 ia menyebut sebab manusia melampaui batas.
Jadi tiga tempat memakai (اسْتَغْنَىٰ, istaghnaa) untuk satu sikap: merasa tidak membutuhkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya, dan yang menyatukan mereka cuma bentuk katanya yang sama persis.
Perhatikan apa yang menyertai sikap itu di dua tempat lain. Di 92:8 ia bersanding dengan kekikiran. Di 96:7 ia menjadi sebab melampaui batas. Di sini ia menjadi sebab seseorang diberi perhatian penuh. Tiga akibat, satu sebab.
Bentuk (اسْتَغْنَىٰ, istaghnaa) menyatakan orang yang menganggap dirinya tidak butuh. Yang dinyatakan sangkaan, bukan kenyataan. Ia belum tentu benar-benar cukup; ia merasa cukup, dan itu dua hal yang berbeda.
Perbedaan itu menentukan seluruh bacaan ayatnya. Kalau yang disebut kekayaan, tegurannya tentang harta. Karena yang disebut perasaan, tegurannya tentang sikap. Harta bisa diukur; perasaan cukup tidak, dan justru itu yang membuatnya sulit disadari.
Akar kata (اسْتَغْنَىٰ, istaghnaa) muncul di dua ayat di surah ini: 80:5 dan 80:37. Di 80:37 akar itu dipakai untuk urusan yang mencukupkan setiap orang pada hari kiamat.
Perbandingannya patut dicatat. Orang yang merasa cukup di dunia dan urusan yang benar-benar mencukupkan pada hari itu dinamai dengan akar yang sama. Yang pertama sangkaan, dan yang kedua memaksa. Jarak antara keduanya tiga puluh dua ayat.
Kata (أَمَّا, ammaa) membuka pembagian, dan pasangannya baru datang di 80:8. Jadi ayat ini setengah dari sebuah susunan. Membacanya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya.
Kata (مَنِ, mani) tidak menamai siapa pun. Golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah. Kata yang sama dipakai lagi di 80:8 untuk golongan yang berlawanan, jadi keduanya sama-sama dibiarkan terbuka dan tidak satu pihak pun bisa merasa berada di luar jangkauannya.
Perhatikan juga bahwa ayat ini tidak menyebut satu perbuatan pun. Yang disebut cuma keadaan batin: merasa cukup. Padahal ayat sesudahnya menegur perbuatan yang nyata, yaitu memberi perhatian penuh.
Jadi yang ditimbang bukan cuma apa yang dikerjakan, melainkan juga siapa yang dianggap pantas menerimanya. Anggapan itu tidak kelihatan, tetapi akibatnya kelihatan.
Susunan itu juga menjelaskan mengapa golongan ini disebut lebih dulu. Yang lebih dulu disebut bukan yang lebih penting, melainkan yang lebih dulu diperhatikan. Urutan penyebutannya meniru urutan kejadiannya.
Tafsiran
Ayat ini beralih menyoroti sikap terhadap orang yang merasa tidak membutuhkan peringatan. Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah: 80:5, 92:8, dan 96:7, dan ketiganya berada di juz yang sama.
Di 92:8 kata itu menyebut orang yang kikir dan merasa cukup, dan di 96:7 ia menyebut sebab manusia melampaui batas. Jadi tiga tempat memakai satu kata untuk satu sikap yang sama, dengan tiga akibat yang berbeda.
Bentuk kata terakhirnya menyatakan orang yang menganggap dirinya tidak butuh. Yang dinyatakan sangkaan, bukan kenyataan. Ia belum tentu benar-benar cukup; ia merasa cukup. Kalau yang disebut kekayaan, tegurannya tentang harta; karena yang disebut perasaan, tegurannya tentang sikap.
Akarnya muncul di dua ayat di surah ini: 80:5 dan 80:37. Di 80:37 akar itu dipakai untuk urusan yang mencukupkan setiap orang pada hari kiamat, sehingga satu akar mengikat kecukupan yang disangka dan kecukupan yang memaksa.
Kata pertamanya membuka pembagian, dan pasangannya baru datang di 80:8. Jadi ayat ini setengah dari sebuah susunan, dan membacanya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya. Ayat ini juga tidak menyebut satu perbuatan pun; yang disebut cuma keadaan batin, padahal ayat sesudahnya menegur perbuatan yang nyata. Jadi yang ditimbang bukan cuma apa yang dikerjakan, melainkan juga siapa yang dianggap pantas menerimanya.
Renungan dan Hikmah
- Sikap merasa cukup di sini dinamai dengan kata yang muncul 3 kali di 3 surah: 80:5, 92:8, dan 96:7, dan ketiganya berada di juz yang sama. Di 92:8 kata itu menyebut orang yang kikir dan merasa cukup, dan di 96:7 sebab manusia melampaui batas. Jadi Allah memakai satu kata untuk satu sikap di tiga surah yang berdekatan. Akibatnya berbeda di tiap tempat: kekikiran, pelampauan batas, dan di sini perhatian yang salah sasaran. Satu sebab, tiga akibat. Yang berbahaya karena itu bukan akibat yang terlihat, melainkan pangkal yang tidak terlihat.
- Bentuk kata terakhirnya menyatakan orang yang menganggap dirinya tidak butuh. Yang dinyatakan Allah sangkaan, bukan kenyataan. Ia belum tentu benar-benar cukup; ia merasa cukup, dan itu dua hal yang berbeda. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya saja, tanpa satu kata tambahan. Harta bisa diukur, tetapi perasaan cukup tidak bisa, dan justru itu yang membuatnya sulit disadari oleh yang mengidapnya. Sesuatu yang tidak bisa diukur juga tidak bisa disadari oleh yang mengidapnya, dan di situlah letak beratnya.
- Akar kata terakhirnya muncul di dua ayat di surah ini: 80:5 dan 80:37. Di 80:37 akar itu dipakai Allah untuk urusan yang mencukupkan setiap orang pada hari kiamat. Jadi satu akar mengikat kecukupan yang cuma disangka di dunia dan kecukupan yang memaksa pada hari itu. Jarak antara keduanya tiga puluh dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menyambungkannya dengan satu kalimat pun. Sangkaan bisa bertahan bertahun-tahun, tetapi ia runtuh dalam satu hari ketika kecukupan yang sebenarnya datang.
- Kata pertamanya membuka pembagian, dan pasangannya baru datang di 80:8. Jadi ayat ini setengah dari sebuah susunan yang dibangun Allah, dan membacanya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya. Tiga ayat memisahkan dua bagian itu, dan selama tiga ayat itu pembacanya menahan satu susunan yang belum lengkap. Menahan penilaian selama tiga ayat adalah latihan yang sulit, dan susunannya memang memaksakannya.
- Kata keduanya tidak menamai siapa pun, sehingga golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah. Kata yang sama dipakai Allah lagi di 80:8 untuk golongan yang berlawanan. Jadi keduanya sama-sama dibiarkan terbuka, dan tidak satu pihak pun bisa merasa aman di luar jangkauannya. Yang tidak dinamai tidak bisa dibatasi pada satu kaum di satu masa. Golongan tanpa nama tidak bisa ditunjuk kepada orang lain, dan itu sebabnya pembacanya sulit merasa aman dari jangkauannya.
- Kata terakhirnya berdiri tanpa menyebut dari apa orang itu merasa cukup. Allah tidak melengkapinya di ayat ini maupun sesudahnya. Apa yang dinyatakan sebuah sikap ketika yang disebut cuma perasaan tidak membutuhkan, dan apa yang dianggap tidak dibutuhkan justru dibiarkan kosong? Kekosongan itu membuat sikapnya berlaku atas apa saja, termasuk atas hal yang paling dibutuhkan orangnya. Sebuah perasaan cukup yang tidak menyebut dari apa akan diam-diam mencakup juga hal yang paling dibutuhkan orangnya.