أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰammaa mani staghnaaadapun orang yang merasa dirinya serba cukup

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. أَمَّاammaaadapun
  2. مَنِmanisiapa yang
  3. اسْتَغْنَىٰstaghnaamerasa cukup

Inti bacaan

Bentuk istaghnaa tercatat di empat ayat (64:6, 80:5, 92:8, 96:7), dan di 64:6 pelakunya Allah. Jawaban bagi ammaa di ayat ini baru datang di 80:6, dibuka dengan fa-anta.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمَّا, ammaa), "adapun", yang membuka pembagian. Pasangannya datang di 80:8, (وَأَمَّا, wa-ammaa), sehingga 80:5-10 membicarakan dua orang secara berurutan: orang yang merasa serba cukup di 80:5-7 dan orang yang datang dengan bersegera di 80:8-10.

Pasangan "adapun orang yang" seperti ini muncul juga di beberapa surah lain. Di 69:19 dan 69:25 serta 84:7 dan 84:10 pasangan itu memisahkan orang yang diberi kitabnya dari kanan dan dari kiri atau belakang, di 101:6 dan 101:8 orang yang berat dan ringan timbangannya, dan di 79:37 dan 79:40, tepat di surah sebelumnya, orang yang melampaui batas dan orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di 92:5 dan 92:8 pasangan itu memisahkan orang yang memberi dan bertakwa dari orang yang kikir dan merasa cukup. Di surah ini pasangan yang sama memisahkan dua orang menurut sikap mereka, lalu menyebut bagaimana orang yang disapa memperlakukan masing-masing.

Kata (مَنِ, mani) berarti "orang yang", kata yang tidak menunjuk nama, jumlah, atau kedudukan. Siapa orang itu tidak disebut, dan ayat ini tidak memberi keterangan apakah dia kaya, berkuasa, atau terpandang. Keterangan yang tersedia tentang dirinya hanya kata kerja sesudahnya.

Kata (اسْتَغْنَىٰ, staghnaa) berasal dari akar غ-ن-ي, yang tercatat di 72 ayat. Bentuk kata kerja ini hanya muncul di empat ayat, yaitu 64:6, 80:5, 92:8, dan 96:7. Di 96:7 bentuk itu didahului kata melihat, (أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ, an ra'aahu staghnaa), "ketika melihat dirinya serba cukup", sehingga kecukupan itu penilaian orang tersebut atas dirinya. Di 64:6 bentuk yang sama dipakai untuk Allah, (وَاسْتَغْنَى اللَّهُ, wa-staghnaa llaahu), sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah berkecukupan lagi terpuji. Terjemahan ini memakai "merasa dirinya serba cukup" untuk manusia, karena bagi manusia kata itu menyatakan cara dia memandang dirinya.

Akar yang sama muncul sekali lagi di surah ini, di 80:37, (يُغْنِيهِ, yughniihi), "yang cukup menyibukkannya". Ayat itu menyebut bahwa pada hari itu setiap orang mempunyai urusan yang menyibukkannya. Kalimat di 80:5 belum selesai. Di pasangan-pasangan yang disebut tadi, jawaban bagi ammaa dibuka dengan fa-, misalnya (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu) di 92:7 dan 92:10. Di surah ini jawaban bagi 80:5 datang di 80:6, (فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ, fa-anta lahu tashaddaa), dan jawaban bagi 80:8 datang di 80:10 dengan pembuka yang sama, (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa). Kedua jawaban itu dimulai dengan kata "engkau", sehingga keduanya menerangkan perbuatan orang yang disapa terhadap kedua orang tersebut.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian pertama dari dua bagian yang berpasangan. Orang yang merasa serba cukup disebut lebih dulu, dan 80:6-7 menyatakan bahwa orang yang disapa menghadapkan perhatian kepadanya, padahal dia tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Bagian kedua, 80:8-10, membicarakan orang buta yang datang dengan bersegera dan takut, tetapi diabaikan.

Surah ini menyebut orang pertama dengan sikapnya saja. Tidak ada keterangan tentang harta, kedudukan, atau apa yang dia katakan, dan keterangan tentang orang kedua pun terbatas pada perbuatannya. Pembagian di 80:5-10 dengan demikian membandingkan dua sikap, merasa cukup dan datang dengan takut, lalu menunjukkan bahwa perhatian diberikan kepada sikap yang pertama.

Ayat-ayat lain yang memakai kata kerja ini memperlihatkan ke mana sikap merasa serba cukup bisa berujung. Di 96:6-7 manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, dan di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup serta mendustakan yang terbaik dimudahkan menuju kesukaran. Ayat 80:5 tidak menyebut perbuatan semacam itu pada orang ini. Persoalan yang diangkat di sini ada pada orang yang disapa, yang memilih mendekati orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa dan menjauhi orang yang datang karena memerlukan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut orang itu dengan sikapnya, merasa serba cukup, dan tidak menyebut hartanya atau kedudukannya. Orang yang miskin pun bisa merasa tidak memerlukan apa-apa, dan orang yang kaya bisa datang dengan rasa takut. Pembagian di 80:5-10 berjalan menurut sikap terhadap peringatan, dan pembaca tidak diberi pegangan untuk membaginya menurut kelas. Allah menegur orang yang disapa karena dia mendekati orang yang merasa tidak perlu, dan menjauhi orang yang merasa perlu. Siapa pun, kaya atau miskin, bisa berada di salah satu dari kedua sisi itu, dan pembagian ini berlaku bagi keduanya.
  • Menurut 96:6-7, manusia melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup. Kecukupan di ayat itu terletak pada cara seseorang memandang dirinya, dan pandangan itu yang mendorongnya melampaui batas. Perasaan tidak memerlukan siapa pun bisa tumbuh pelan-pelan dari keberhasilan kecil yang berulang, sampai seseorang tidak lagi merasa perlu mendengar. Di mana di dalam hidup kita perasaan cukup itu sudah membuat kita berhenti mendengar peringatan dari Tuhan?
  • Di 92:8-10 orang yang kikir dan merasa cukup, lalu mendustakan yang terbaik, dimudahkan Allah menuju kesukaran. Ayat itu memakai kata kerja yang sama dan pembuka yang sama, "adapun orang yang". Surah ini tidak menyebut orang di 80:5 kikir atau mendustakan, tetapi 92:8-10 memperlihatkan arah yang bisa ditempuh sikap seperti itu. Ayat itu menyebut kikir di samping merasa cukup, sehingga orang yang merasa tidak memerlukan apa-apa digambarkan juga menahan apa yang dimilikinya dari orang lain.
  • Kata kerja di ayat ini juga dipakai untuk Allah di 64:6. Sesudah suatu kaum kufur dan berpaling, Allah tidak memerlukan mereka, dan ayat itu menyatakan Allah berkecukupan lagi terpuji. Bagi Allah, kecukupan itu sifat yang benar, sedangkan bagi manusia kata yang sama menyatakan perasaan tentang dirinya. Manusia yang merasa serba cukup sedang memakai bagi dirinya ukuran yang hanya benar bagi Tuhannya, dan 80:37 kemudian menyebut hari ketika setiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri.
  • Akar kata "cukup" di ayat ini muncul lagi di 80:37, pada hari ketika setiap orang mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Di 80:5 seseorang merasa dirinya cukup dan tidak memerlukan apa-apa. Di 80:37 setiap orang disibukkan oleh urusannya sampai lari dari saudara, orang tua, istri, dan anak-anaknya. Akar yang sama muncul di bagian awal dan bagian akhir surah, sehingga perasaan cukup di awal berhadapan dengan urusan yang menyibukkan di akhir, pada hari yang digambarkan di 80:33-37.
  • Pembagian "adapun orang yang" di surah sebelumnya, 79:37-41, memisahkan orang yang melampaui batas dari orang yang takut akan kedudukan Tuhannya. Di surah ini pembagian yang sama memisahkan orang yang merasa serba cukup dari orang yang datang dengan takut. Pada kedua surah, orang yang takut berada di sisi yang dipuji, walaupun 80:9 tidak menyebut apa yang ditakuti orang buta itu. Orang yang disapa di surah ini memberi perhatian kepada sisi yang lain, dan teguran di 80:5-10 membalik urutan perhatian itu.