فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ
Maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰfa-anta lahu tashaddaamaka kepadanya engkau menghadapkan perhatian
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْتَfa-antamaka engkau
- لَهُlahubaginya
- تَصَدَّىٰtashaddaamenghadapkan perhatian
Inti bacaan
Perilaku yang dikritik secara spesifik: 'maka kepadanya engkau menghadapkan perhatian', deskripsi konkret tindakan yang menjadi sasaran teguran, memberikan perhatian penuh kepada yang berstatus tinggi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 8:35 dan 80:6. Jadi akar ini hampir tidak dipakai sama sekali.
Di 8:35 akar yang sama dengan (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) dipakai untuk siulan dan tepuk tangan yang mereka jadikan ibadah. Perbuatan yang bentuknya seperti pengabdian, tetapi salah sasaran.
Bandingkan dengan ayat ini. Di sini akar (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) dipakai untuk perhatian penuh yang diberikan kepada orang yang merasa cukup. Perbuatannya juga terlihat baik, dan juga salah sasaran.
Jadi dua pemakaian akar (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) yang langka itu sama-sama menyebut usaha yang tertuju ke arah yang keliru. Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu, dan yang menyambungkan keduanya cuma akarnya yang hidup di dua tempat saja.
Bentuk (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Perhatian itu diberikan atas kemauannya, bukan karena diminta. Tidak ada seorang pun yang disebut memintanya.
Perhatikan akibat dari catatan itu. Kalau perhatiannya diminta, sebagian tanggung jawabnya pindah kepada yang meminta. Karena tidak diminta, seluruhnya tinggal pada yang memberi. Bentuk katanya yang menutup jalan keluar itu.
Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) menaruh kata ganti "engkau" berdiri sendiri di depan kalimat. Susunan seperti itu menonjolkan pelakunya. Jadi teguran ini tidak berputar-putar; ia menunjuk langsung.
Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) dipakai lagi di 80:10 dengan susunan yang sama persis. Di sana yang ditegur perbuatan yang berlawanan: lalai dari orang yang bersungguh-sungguh. Jadi dua teguran memakai rangka kalimat yang sama, dan yang berbeda cuma sasarannya.
Dua rangka yang sama itu membuat keduanya terbaca sebagai satu pasangan. Memberi perhatian kepada yang salah dan lalai dari yang benar bukan dua kesalahan terpisah; keduanya sisi dari satu perbuatan yang sama.
Kata (لَهُ, lahu) menunjuk orang yang disebut di 80:5. Dua ayat itu terikat. Membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa tahu kepada siapa perhatian itu diberikan.
Ayat ini menutup dua ayat tentang golongan yang merasa cukup, dan 80:7 memberi penilaiannya. Perbuatan disebut lebih dulu, penilaian menyusul. Urutan itu diulang persis di 80:8 sampai 80:10 untuk golongan yang lain.
Perhatikan juga bahwa ayat ini tidak menyebut isi pembicaraannya. Yang disebut cuma arah perhatiannya. Apa yang disampaikan mungkin benar seluruhnya, dan tetap saja ditegur.
Jadi yang salah bukan isinya, melainkan pilihan siapa yang didahulukan. Sebuah kebenaran yang disampaikan kepada orang yang tidak memintanya, sementara yang meminta ditinggalkan, tetap terbaca sebagai kekeliruan.
Perhatikan pula bahwa tegurannya tidak memakai satu ungkapan keras pun. Tidak ada ancaman, tidak ada celaan. Yang dipakai cuma penyebutan perbuatannya secara terus terang, dan itu sudah cukup memberat.
Tafsiran
Ayat ini menegur pemberian perhatian penuh kepada orang yang merasa serba cukup. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 8:35 dan 80:6.
Di 8:35 akar itu dipakai untuk siulan dan tepuk tangan yang mereka jadikan ibadah. Perbuatan yang bentuknya seperti pengabdian, tetapi salah sasaran.
Di sini akar yang sama dipakai untuk perhatian penuh yang diberikan kepada orang yang merasa cukup. Jadi dua pemakaian akar yang langka itu sama-sama menyebut usaha yang tertuju ke arah yang keliru, dan Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu di mana pun.
Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Perhatian itu diberikan atas kemauannya, bukan karena diminta, sehingga seluruh tanggung jawabnya tinggal pada yang memberi.
Kata pertamanya menaruh kata ganti berdiri sendiri di depan kalimat, dan susunan yang sama dipakai lagi di 80:10 untuk perbuatan yang berlawanan. Jadi dua teguran memakai rangka kalimat yang sama, dan yang berbeda cuma sasarannya. Ayat ini juga tidak menyebut isi pembicaraannya, melainkan cuma arah perhatiannya, sehingga yang ditegur bukan isinya melainkan pilihan siapa yang didahulukan. Tegurannya pun tidak memakai satu kata keras pun; yang dipakai cuma penyebutan perbuatannya secara terus terang.
Renungan dan Hikmah
- Perhatian penuh di sini dinamai dengan kata yang muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 8:35 dan 80:6. Di 8:35 akar itu dipakai untuk siulan dan tepuk tangan yang mereka jadikan ibadah. Jadi dua pemakaian akar yang langka itu sama-sama menyebut usaha yang tertuju ke arah yang keliru. Allah tidak menyatakan kesejajaran itu, dan yang menyambungkan keduanya cuma akar yang hidup di dua tempat saja. Dua perbuatan yang bentuknya baik dan arahnya keliru ternyata cukup dinamai dengan satu akar yang sama.
- Perbuatan di ayat ini berbentuk yang datang dari orangnya sendiri. Perhatian itu diberikan atas kemauannya, bukan karena diminta, dan Allah tidak menyebut seorang pun yang memintanya. Kalau perhatiannya diminta, sebagian tanggung jawabnya akan pindah kepada yang meminta; karena tidak diminta, seluruhnya tinggal pada yang memberi. Bentuk katanya sendiri yang menutup jalan keluar itu. Perhatian yang diberikan tanpa diminta adalah pilihan penuh, dan pilihan penuh tidak menyisakan pihak lain untuk disalahkan.
- Kata pertamanya menaruh kata ganti berdiri sendiri di depan kalimat, dan susunan seperti itu menonjolkan pelakunya. Jadi teguran Allah tidak berputar-putar; ia menunjuk langsung kepada yang disapa. Penonjolan itu terbawa di dalam susunan katanya, bukan di dalam kata tambahan. Sesudah dua ayat yang membicarakan orang ketiga, sapaan langsung ini terasa berpindah dekat. Sapaan yang berpindah dekat itu mengubah nada seluruh rangkaiannya, dari kisah yang ditonton menjadi percakapan yang dihadapi.
- Kata pertamanya dipakai lagi di 80:10 dengan susunan yang sama persis, dan di sana yang ditegur perbuatan yang berlawanan. Jadi Allah memakai rangka kalimat yang sama untuk memberi perhatian kepada yang merasa cukup dan untuk lalai dari yang bersungguh-sungguh. Kesamaan rangka itu membuat keduanya terbaca sebagai satu pasangan, bukan dua kesalahan yang terpisah. Satu perbuatan yang punya dua sisi lebih sulit diperbaiki daripada dua kesalahan yang berdiri sendiri-sendiri.
- Kata keduanya menunjuk orang yang disebut di 80:5, sehingga dua ayat itu terikat. Membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa tahu kepada siapa perhatian itu diberikan. Allah tidak mengulang penyebutannya, dan pembacanya harus menengok satu ayat ke belakang. Cara itu memaksa ayatnya dibaca sebagai bagian dari satu rangkaian, bukan sebagai kalimat yang berdiri sendiri. Ayat yang tidak bisa berdiri sendiri memaksa pembacanya membaca perlahan, dan bacaan yang perlahan lebih sulit dilupakan.
- Penutup dua ayat tentang golongan yang merasa cukup ini disusul penilaiannya di 80:7. Urutan itu diulang Allah persis di 80:8 sampai 80:10 untuk golongan yang lain. Apa yang dikerjakan susunan itu pada pembacanya ketika perbuatan selalu disebut lebih dulu daripada nilainya? Pembacanya sempat melihat perbuatannya polos, sebelum diberi tahu bagaimana ia harus dinilai. Melihat perbuatan sebelum mendengar nilainya membuat pembacanya sempat menimbang sendiri, dan timbangan itu tidak mudah dibatalkan.