وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
Padahal, tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰwa-maa 'alayka allaa yazzakkaapadahal tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- عَلَيْكَ'alaykaatasmu
- أَلَّاallaakalau tidak
- يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri
Inti bacaan
Rangkaian wa-maa 'alayka menyerupai 6:52, dan bentuk yazzakkaa tercatat di 80:3 dan 80:7 saja. Pada 80:3 bentuk itu didahului la'alla, pada 80:7 didahului allaa, sehingga harapan dan kemungkinan gagal dirumuskan dengan kata kerja yang sama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari empat kata, (وَمَا, wa-maa) yang berarti "dan tidaklah", (عَلَيْكَ, 'alayka) yang berarti "atasmu", (أَلَّا, allaa) yang berarti "kalau tidak", dan (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) yang berarti "menyucitumbuhkan diri". Terjemahan memakai "padahal" untuk awalan wa-, karena keterangan di ayat ini berhadapan dengan perbuatan di 80:6, perhatian yang diberikan kepada orang yang merasa dirinya serba cukup.
Kata (عَلَيْكَ, 'alayka) memakai kata depan "atas" dengan akhiran orang kedua, dan kata ini tercatat di 52 ayat. Di sejumlah ayat susunan ini menyatakan apa yang ditanggungkan kepada seseorang. Di 6:52 bunyinya (مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ, maa 'alayka min hisaabihim min syay'in), "tidak ada atasmu dari perhitungan mereka sedikit pun", tentang orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pagi dan petang dan tidak boleh diusir. Di 3:20 susunan yang sama menyatakan tanggungan yang ada, (فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ, fa-innamaa 'alayka l-balaaghu), yaitu menyampaikan, dan bunyi serupa ada di 13:40 dan 16:82. Di 42:48 tanggungan itu dinyatakan dengan (إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ, in 'alayka illaa l-balaaghu), "tidak ada atasmu selain menyampaikan". Ayat 80:7 berada di sisi yang meniadakan, seperti 6:52.
Kata (أَلَّا, allaa) tersusun dari an, "bahwa", dan laa, "tidak". Tanggungan yang ditiadakan di ayat ini dengan demikian mengenai keadaan ketika orang itu tidak menyucitumbuhkan diri, dan terjemahan menandainya dengan "kalau dia tidak". Keberhasilan orang itu tidak dibicarakan. Kalimatnya berhenti pada kemungkinan gagal, dan kemungkinan itu dilepaskan dari orang yang disapa.
Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) berasal dari akar ز-ك-و, yang tercatat di 56 ayat, dan bentuk yazzakkaa sendiri tercatat di dua ayat, 80:3 dan 80:7. Di 80:3 kata itu dipakai untuk orang buta, (وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ, wa-maa yudriika la'allahu yazzakkaa), "tahukah engkau, boleh jadi dia menyucitumbuhkan dirinya". Di 80:7 kata yang sama dipakai untuk orang yang merasa dirinya serba cukup. Pada 80:3 kata itu didahului "boleh jadi", dan pada 80:7 didahului (أَلَّا, allaa), "kalau tidak".
Terjemahan "menyucitumbuhkan diri" memuat dua makna sekaligus, menjadi bersih dan bertumbuh, seperti di 80:3. Akhiran "diri" menandai bahwa perbuatan itu dikerjakan orangnya atas dirinya sendiri. Di 79:18 penyucian itu ditawarkan kepada Fir'aun sebagai perbuatannya sendiri, dan di 87:14 orang yang menyucitumbuhkan diri disebut beruntung. Di kedua ayat itu, seperti di 80:7, pelakunya orang yang menjalani penyucian, dan orang yang disapa tidak disebut sebagai pelakunya.
Tafsiran
Ayat ini menyela perbandingan dengan pernyataan tentang batas tanggungan. Sesudah 80:6 menyebut perhatian yang diberikan kepada orang yang merasa serba cukup, 80:7 menyatakan bahwa orang yang disapa tidak menanggung apa-apa bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri. Perhatian itu dengan demikian tertuju pada hasil yang tidak ditanggungkan kepadanya.
Ayat 35:18 memberi keterangan yang sejalan. Sesudah menyatakan bahwa peringatan seorang utusan sampai kepada orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka tanpa melihat-Nya, ayat itu melanjutkan dengan (وَمَنْ تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ, wa-man tazakkaa fa-innamaa yatazakkaa li-nafsihi), "dan siapa yang menyucitumbuhkan dirinya, sesungguhnya dia menyucitumbuhkan diri untuk dirinya sendiri". Penyucian itu milik orang yang menjalaninya, dan 80:7 menarik akibatnya bagi orang yang menyampaikan. Bila orang itu tidak menyucitumbuhkan diri, kegagalannya tidak dibebankan kepada yang menyampaikan.
Di 6:52 kalimat serupa dipakai untuk melarang pengusiran orang-orang yang menyeru Tuhan mereka dengan mengharapkan wajah-Nya. Di 80:7 kalimat itu melepaskan orang yang disapa dari tanggungan atas orang yang merasa cukup. Kedua ayat menempatkan tanggungan dengan cara yang sama, dan keduanya bersinggungan dengan orang yang datang membawa harapan atau rasa takut, di 6:52 orang-orang yang mengharapkan wajah Tuhan mereka, dan di sini orang yang datang dengan bersegera dan takut pada 80:8-9. Kata yazzakkaa yang dipakai untuk kedua orang di 80:3 dan 80:7 memperlihatkan timbangannya. Peluang orang buta dibuka dengan "boleh jadi", sedangkan kemungkinan gagalnya orang yang merasa cukup dilepaskan dari tanggungan, padahal perhatian diberikan ke arah sebaliknya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyatakan di ayat ini bahwa orang yang disapa tidak menanggung apa-apa bila orang lain tidak menyucitumbuhkan diri. Pelepasan beban ini bisa menenangkan siapa pun yang pernah berusaha keras meyakinkan seseorang lalu gagal. Usaha menyampaikan tetap punya tempatnya, sedangkan pilihan untuk berubah berada di tangan orang yang mendengar. Menurut 35:18, siapa yang menyucitumbuhkan diri melakukannya untuk dirinya sendiri, dan kepada Allah tempat kembali, sehingga hasil akhir setiap orang kembali kepada-Nya.
- Seseorang bisa memikul beban yang tidak ditanggungkan kepadanya, misalnya merasa harus berhasil mengubah orang yang tidak merasa perlu berubah. Beban seperti itu menyita tenaga dan perhatian, dan 80:6-10 memperlihatkan akibatnya, yaitu orang yang datang dengan bersegera terabaikan. Tuhan melepaskan beban itu lewat satu kalimat pendek. Melepaskan beban yang keliru membuka ruang bagi orang yang sedang menunggu, dan pertanyaannya bagi siapa pun, beban siapa yang sedang dipikul tanpa diminta?
- Kata yang sama, menyucitumbuhkan diri, dipakai di 80:3 untuk orang buta dan di 80:7 untuk orang yang merasa serba cukup. Allah menimbang keduanya dengan ukuran yang sama, kesediaan untuk menjadi bersih dan bertumbuh. Ukuran yang dipakai manusia sering berlainan, misalnya pengaruh, kekayaan, atau manfaat yang bisa diharapkan dari seseorang. Ayat ini mengembalikan timbangan kepada ukuran yang dipakai Tuhan, dan menurut ukuran itu orang yang datang dengan takut mempunyai peluang yang disebut dengan harapan.
- Di 6:52, kalimat "tidak ada atasmu" dipakai untuk menjaga orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pagi dan petang, mengharapkan wajah-Nya, agar tidak diusir. Keterangan tentang mereka terbatas pada ibadah dan harapan itu. Orang yang datang kepada seseorang dengan niat seperti itu bisa saja tidak membawa kedudukan apa pun, dan 6:52 menaruh mereka di tempat yang dijaga, sedangkan 80:8-10 menegur pengabaian terhadap orang yang datang dengan takut. Ketika perhatian harus dibagi, ayat-ayat ini memberi arah yang jelas tentang siapa yang tidak boleh ditinggalkan.
- Menurut 3:20 dan 42:48, tanggungan seorang utusan terletak pada menyampaikan. Pelepasan di 80:7 tidak menghapus tugas itu, sebab yang dilepaskan hasilnya, apakah orang itu menyucitumbuhkan diri atau tidak. Seseorang yang merasa bertanggung jawab atas iman atau perubahan orang lain bisa tergoda untuk mendesak, membujuk berlebihan, atau mengabaikan orang lain demi satu orang yang sulit. Allah membagi pekerjaan itu dengan jelas, menyampaikan menjadi tugas manusia dan hasilnya kembali kepada-Nya.
- Bila hasil penyucian orang lain tidak ditanggungkan kepada kita, sisi sebaliknya pun berlaku. Penyucian diri kita sendiri tidak bisa dikerjakan orang lain atas nama kita, dan 35:18 menyebutnya perbuatan seseorang untuk dirinya sendiri. Kata kerja di ayat ini berakhiran "diri", perbuatan yang dikerjakan pelakunya atas dirinya. Apa yang sedang kita kerjakan atas diri sendiri hari ini, di hadapan Tuhan yang menjadi tempat kembali?