وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ

Padahal, tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰwa-maa 'alayka allaa yazzakkaapadahal tidak ada atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  3. أَلَّاallaakalau tidak
  4. يَزَّكَّىٰyazzakkaamenyucitumbuhkan diri

Inti bacaan

Pembebasan dari tanggung jawab atas pilihan orang lain: 'padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucitumbuhkan diri', pengingat bahwa hasil akhir keputusan seseorang bukan tanggung jawab penyampai pesan, fokus seharusnya pada penyampaian yang adil bukan hasil yang dikendalikan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(cela)" dan "(beriman)" tidak dipakai. Kata kerja "yazzakkaa" diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", konsisten 80:3. Yang tertulis (أَلَّا يَزَّكَّىٰ, allaa yazzakkaa), tanpa satu kata pun yang menamai celanya.

Kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) diulang persis dari 80:3. Kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an ada di surah ini, dan tidak di surah lain mana pun.

Perhatikan apa yang dikerjakan pengulangan itu. Di 80:3 kata (يَزَّكَّىٰ, yazzakkaa) menyebut peluang orang buta. Di sini ia menyebut orang yang merasa cukup. Satu kata yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk menimbang dua orang, dan alat timbangnya sama persis.

Jarak antara dua pemakaian itu cuma empat ayat. Pembacanya masih mengingat yang pertama ketika sampai pada yang kedua, dan pengulangan sedekat itu membuat perbandingannya sulit dihindari.

Rangkaian (وَمَا عَلَيْكَ, wa maa 'alaika) menyatakan bahwa perkara itu bukan tanggungan yang disapa. Susunannya melepaskan beban, bukan menambahkannya.

Itu patut dicatat karena ayat sebelumnya berisi teguran. Biasanya teguran disusul tuntutan. Di sini teguran disusul pelepasan, dan yang dilepaskan adalah beban yang memang tidak pernah dibebankan.

Kata (أَلَّا, allaa) tersusun dari dua huruf: satu memperkenalkan isi, satu mengingkari. Gabungannya membalik apa yang dilepaskan. Yang bukan tanggungannya bukan penyucian orang itu, melainkan ketiadaan penyuciannya.

Perbedaannya halus tetapi menentukan. Kalau yang dilepaskan penyuciannya, artinya hasil baik bukan urusannya. Kalau yang dilepaskan ketiadaannya, artinya kegagalan orang itu bukan bebannya. Yang tertulis yang kedua, dan pembedanya cuma dua huruf.

Kata (عَلَيْكَ, 'alaika) memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas seseorang. Tanggungan dilukiskan sebagai muatan di pundak. Gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja.

Kata (عَلَيْكَ, 'alaika) berorang kedua tunggal, sama seperti sapaan di 80:3, 80:6, dan 80:10. Jadi sepuluh ayat pertama surah ini seluruhnya menyapa satu orang, dan sesudah 80:10 sapaan itu berhenti.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang golongan yang merasa cukup. Golongan yang berlawanan juga diberi tiga ayat, yaitu 80:8 sampai 80:10. Pembagiannya sama besar, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata pun.

Perhatikan juga betapa jarangnya susunan seperti ini. Sebuah teguran biasanya berakhir dengan perintah. Di sini ia berakhir dengan pembebasan, dan pembebasan itu justru mempertajam tegurannya.

Kalau seseorang tidak bertanggung jawab atas kegagalan orang lain, maka usaha yang berlebihan ke arah itu kehilangan alasannya. Yang tertinggal cuma kenyataan bahwa orang yang benar-benar datang justru ditinggalkan.

Susunan itu memisahkan dua hal yang mudah tertukar: kesungguhan menyampaikan dan keinginan agar diterima. Yang pertama tetap dituntut. Yang kedua justru dilepaskan di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab Nabi bukan memaksa keimanan orang yang merasa cukup. Kata terakhirnya diulang persis dari 80:3, dan kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an ada di surah ini.

Di 80:3 kata ini menyebut peluang orang buta, dan di sini ia menyebut orang yang merasa cukup. Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk menimbang dua orang dengan alat yang sama persis. Jarak antara keduanya cuma empat ayat.

Rangkaian dua kata pertamanya menyatakan bahwa perkara itu bukan tanggungan yang disapa. Susunannya melepaskan beban, bukan menambahkannya, padahal ayat sebelumnya berisi teguran.

Kata ketiganya tersusun dari dua huruf: satu memperkenalkan isi, satu mengingkari. Yang bukan tanggungannya bukan penyucian orang itu, melainkan ketiadaan penyuciannya. Kalau yang dilepaskan hasil baiknya, artinya lain sama sekali, dan pembedanya cuma dua huruf.

Ayat ini menutup tiga ayat tentang golongan yang merasa cukup, dan golongan yang berlawanan juga diberi tiga ayat di 80:8 sampai 80:10. Pembagiannya sama besar. Sebuah teguran biasanya berakhir dengan perintah, dan di sini ia berakhir dengan pembebasan. Susunan itu memisahkan dua hal yang mudah tertukar: kesungguhan menyampaikan, yang tetap dituntut, dan keinginan agar diterima, yang justru dilepaskan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya diulang persis dari 80:3, dan kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an ada di surah ini. Di 80:3 kata ini menyebut peluang orang buta, dan di sini orang yang merasa cukup. Jadi Allah menimbang dua orang yang berlawanan dengan satu kata yang sama persis. Jarak antara keduanya cuma empat ayat, sehingga pembacanya masih mengingat yang pertama ketika sampai pada yang kedua, dan perbandingannya sulit dihindari. Jarak empat ayat itu terlalu dekat untuk dilupakan, dan terlalu jauh untuk terbaca sebagai pengulangan yang kebetulan.
  • Rangkaian dua kata pertamanya menyatakan bahwa perkara itu bukan tanggungan yang disapa. Susunannya melepaskan beban, bukan menambahkannya. Jadi teguran Allah di ayat sebelumnya tidak disusul tuntutan baru, melainkan pelepasan dari tuntutan yang tidak pernah dibebankan. Biasanya teguran disusul tuntutan; di sini urutannya justru sebaliknya, dan itu mengubah nada seluruh rangkaiannya. Teguran yang berakhir dengan pembebasan tidak melemah karenanya; ia justru kehilangan satu-satunya alasan yang bisa dipakai membelanya.
  • Kata ketiganya tersusun dari dua huruf: satu memperkenalkan isi, satu mengingkari. Yang bukan tanggungannya bukan penyucian orang itu, melainkan ketiadaan penyuciannya. Kalau yang dilepaskan hasil baiknya, artinya lain sama sekali. Yang ditulis Allah yang kedua, dan perbedaannya cuma dua huruf. Sekecil itu jarak antara melepas tanggung jawab atas keberhasilan orang lain dan melepas tanggung jawab atas kegagalannya. Dua huruf yang memisahkan dua makna sebesar itu adalah pengingat bahwa membaca cepat dan membaca benar bukan hal yang sama.
  • Kata keduanya memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas seseorang. Tanggungan dilukiskan sebagai muatan di pundak. Gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan Allah tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakannya. Gambaran yang masuk lewat satu huruf tidak perlu dijelaskan, karena pembacanya sudah merasakannya sebelum sempat memikirkannya. Gambaran yang masuk lewat satu huruf bekerja lebih dulu daripada penjelasan apa pun yang datang sesudahnya.
  • Kata keduanya berorang kedua tunggal, sama seperti sapaan di 80:3, 80:6, dan 80:10. Jadi sepuluh ayat pertama surah ini seluruhnya menyapa satu orang. Sesudah 80:10 sapaan itu berhenti, dan Allah tidak memakainya lagi di sepanjang tiga puluh dua ayat berikutnya. Bagian yang paling pribadi dari surah ini juga bagian yang paling pendek. Bagian yang paling pribadi dibuat paling pendek, seolah ia tidak dimaksudkan untuk ditahan lama di hadapan pembacanya.
  • Ayat ini menutup tiga ayat tentang golongan yang merasa cukup, dan golongan yang berlawanan juga diberi Allah tiga ayat. Pembagiannya sama besar, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata pun. Apa yang berubah pada seorang penyampai ketika ia diberi tahu bahwa kegagalan orang lain memang tidak pernah menjadi bebannya, sedangkan pengabaian atas orang yang datang tetap ditegur? Pembagian yang sama besar itu menyatakan bahwa dua golongan tadi ditimbang dengan ruang yang setara, bukan dengan berat sebelah.