وَهُوَ يَخْشَىٰ
Sedang dia takut,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُوَ يَخْشَىٰwa-huwa yakhsyaasedang dia takut
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَهُوَwa-huwasedang dia
- يَخْشَىٰyakhsyaatakut
Inti bacaan
Kualitas batin yang mendasari kesungguhan: 'sedang dia takut (kepada Allah)', pengungkapan motivasi spiritual yang tulus di balik usaha mendekat, kesungguhan yang berakar pada kesadaran religius bukan sekadar keingintahuan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(kepada Allah)' tidak dipakai.
Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) muncul 5 kali, tetapi cuma di 4 surah: 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10. Dua angka itu berbeda karena surah 20 memakainya dua kali.
Di 20:3 dan 20:44 kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) dipakai untuk orang yang diharapkan takut ketika diberi peringatan. Di 87:10 ia dipakai untuk orang yang akan mengambil pelajaran. Di sini ia menyifati orang yang datang.
Jadi di empat tempat lain (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) menandai orang yang siap menerima. Di sini orang yang bertanda sama justru ditinggalkan. Al-Qur'an tidak menyatakan pertentangan itu, dan yang menunjukkannya cuma kesamaan katanya.
Akar (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Jadi takut jenis ini bukan hal kecil di dalam Al-Qur'an; ia disebut berulang kali sebagai tanda orang yang menerima.
Kata (وَهُوَ, wa huwa) berdiri sendiri sebagai pokok kalimat. Susunan seperti itu menonjolkan keadaannya, bukan sekadar menempelkannya pada kata kerja sebelumnya.
Penonjolan itu punya akibat. Kalau keadaannya disisipkan begitu saja, ia terbaca sebagai keterangan tambahan. Karena ia ditonjolkan, ia terbaca sebagai bagian yang setara pentingnya dengan kedatangannya.
Rangkaian (وَهُوَ يَخْشَىٰ, wa huwa yakhsyaa) cuma dua kata, sama pendeknya dengan 80:1. Dua ayat terpendek di surah ini dipakai untuk dua hal yang berlawanan: satu untuk perbuatan yang ditegur, satu untuk keadaan yang dipuji.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang ditakutinya. Kalimatnya berhenti sebelum menyebut sasarannya. Kekosongan itu tidak diisi di ayat mana pun di surah ini.
Kekosongan seperti itu memperluas jangkauannya. Kalau sasarannya disebut, takutnya akan terbatas pada satu hal. Karena tidak disebut, ia mencakup segala yang pantas ditakuti.
Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja di 80:8 juga berbentuk sekarang. Dua-duanya melukiskan keadaan yang sedang berlangsung, bukan yang sudah selesai.
Bandingkan (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) dengan dua kata kerja di 80:1 yang berbentuk lampau. Yang ditegur sudah selesai berbuat; yang datang masih dalam perjalanan. Perbedaan waktu itu memisahkan dua pihaknya dengan tajam.
Tiga ayat tentang orang ini, yaitu 80:8 sampai 80:10, menyebut geraknya, hatinya, lalu perlakuan atasnya. Urutan itu bergerak dari yang paling terlihat ke yang paling menentukan.
Perhatikan pula bahwa dua ayat ini, yaitu 80:8 dan 80:9, dipisah menjadi dua padahal bisa dijadikan satu kalimat. Pemisahan itu memberi jeda antara geraknya dan keadaan hatinya.
Jeda itu bekerja seperti tanda baca yang tidak tertulis. Pembacanya berhenti sejenak sesudah melihat orang itu bergegas, lalu baru diberi tahu apa yang ada di dalam dirinya.
Kalau keduanya digabung, keadaan hatinya akan terbaca sebagai keterangan bagi geraknya. Karena dipisah, ia berdiri sendiri sebagai kenyataan yang setara, dan bukan sekadar penjelas.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan ketakwaan orang buta tersebut sebagai kontras dengan orang yang merasa cukup. Ayat ini menambahkan bahwa orang tersebut datang dalam keadaan takut. Kata terakhirnya muncul 5 kali, tetapi cuma di 4 surah: 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10, karena surah 20 memakainya dua kali.
Di 20:3 dan 20:44 kata itu dipakai untuk orang yang diharapkan takut ketika diberi peringatan, dan di 87:10 untuk orang yang akan mengambil pelajaran. Jadi di tempat lain kata itu menandai orang yang siap menerima, sedangkan di sini orang yang bertanda sama justru ditinggalkan.
Akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Jadi takut jenis ini bukan hal kecil; ia disebut berulang kali sebagai tanda orang yang menerima.
Kata pertamanya berdiri sendiri sebagai pokok kalimat, sehingga keadaannya ditonjolkan dan bukan sekadar ditempelkan pada kata kerja sebelumnya.
Ayat ini cuma dua kata, sama pendeknya dengan 80:1, dan ia tidak menyebut apa yang ditakutinya. Kalimatnya berhenti sebelum menyebut sasarannya, dan kekosongan itu tidak diisi di ayat mana pun di surah ini. Dua ayat ini dipisah menjadi dua padahal bisa dijadikan satu kalimat, dan pemisahan itu memberi jeda antara geraknya dan keadaan hatinya. Kalau digabung, keadaan hatinya akan terbaca sebagai keterangan bagi geraknya; karena dipisah, ia berdiri sendiri sebagai kenyataan yang setara.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10, tetapi cuma di 4 surah, karena surah 20 memakainya dua kali. Di 20:3, 20:44, dan 87:10 Allah memakainya untuk orang yang diharapkan takut dan mengambil pelajaran. Jadi di tempat lain kata itu menandai orang yang siap menerima, sedangkan di sini orang yang bertanda sama justru ditinggalkan. Al-Qur'an tidak menyatakan pertentangan itu, dan yang menunjukkannya cuma kesamaan katanya di lima tempat. Tanda yang sudah dikenali di empat tempat lain ternyata masih bisa terlewat ketika ia datang pada orang yang tidak diperhitungkan.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Jadi takut jenis ini bukan hal kecil di dalam Al-Qur'an; ia disebut berulang kali sebagai tanda orang yang menerima. Sebuah tanda yang disebut sebanyak itu tidak mungkin luput karena kurang jelas, sehingga yang membuatnya terlewat pasti sesuatu yang lain. Kegagalan melihat karena itu bukan soal penglihatan, melainkan soal ke mana mata diarahkan. Sebuah tanda yang jelas tetap tidak berguna kalau yang melihatnya sedang menghadap ke arah lain.
- Kata pertamanya berdiri sendiri sebagai pokok kalimat, dan susunan seperti itu menonjolkan keadaannya. Kalau keadaannya disisipkan begitu saja, ia akan terbaca sebagai keterangan tambahan; karena ditonjolkan Allah, ia terbaca setara pentingnya dengan kedatangannya. Jadi hati orang itu dan langkah kakinya diberi bobot yang sama di dalam susunannya. Dua hal yang diberi bobot sama tidak bisa saling ditukar sebagai alasan untuk mengabaikan yang lain. Yang bergegas tanpa takut dan yang takut tanpa bergegas sama-sama belum lengkap.
- Ayat ini cuma dua kata, sama pendeknya dengan 80:1. Dua ayat terpendek di surah ini dipakai Allah untuk dua hal yang berlawanan: satu untuk perbuatan yang ditegur, satu untuk keadaan yang dipuji. Kependekan yang sama memikul muatan yang berlawanan, dan tidak ada satu kata pun di antara keduanya yang menandai kesejajaran itu. Panjang sebuah ayat ternyata tidak menyatakan apa-apa tentang berat isinya. Dua kata bisa memikul teguran, dan dua kata bisa memikul pujian, tanpa satu pun terlihat berbeda dari luar.
- Ayat ini tidak menyebut apa yang ditakutinya, dan kalimatnya berhenti sebelum menyebut sasarannya. Allah tidak mengisi kekosongan itu di ayat mana pun di surah ini. Kalau sasarannya disebut, takutnya akan terbatas pada satu hal; karena tidak disebut, ia mencakup segala yang pantas ditakuti. Apa yang bertambah pada sebuah sifat ketika batasnya justru sengaja tidak diberikan? Sebuah sifat yang tidak diberi batas akan mencakup lebih luas daripada sifat yang batasnya disebutkan.
- Kata terakhirnya berbentuk sekarang, sama seperti kata kerja di 80:8, sehingga keduanya melukiskan keadaan yang sedang berlangsung. Bandingkan dengan dua kata kerja di 80:1 yang berbentuk lampau: yang ditegur sudah selesai berbuat, sedangkan yang datang masih dalam perjalanan. Allah memisahkan dua pihaknya dengan perbedaan waktu, bukan dengan satu kata penilaian pun. Yang satu sudah selesai berbuat dan yang lain masih berjalan, dan perbedaan itu masuk lewat bentuk waktu saja.