فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ

Maka engkau mengabaikannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰfa-anta 'anhu talahhaamaka engkau mengabaikannya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَنْتَfa-antamaka engkau
  2. عَنْهُ'anhudarinya
  3. تَلَهَّىٰtalahhaamengabaikan

Inti bacaan

Bentuk talahhaa muncul di 80:10 saja dari 15 ayat berakar ل-ه-و. Di 62:11 lahw membuat orang berpencar, di 21:3 hati lalai ketika zikir baru tiba, dan susunan fa-anta menyejajarkan 80:10 dengan 80:6.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَأَنْتَ, fa-anta) yang berarti "maka engkau", (عَنْهُ, 'anhu) yang berarti "darinya", dan (تَلَهَّىٰ, talahhaa) yang berarti "mengabaikan". Awalan fa- menjawab (وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ, wa-ammaa man jaa'aka yas'aa) di 80:8, sehingga 80:8-10 terbaca sebagai satu kalimat, yaitu adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera, sedang dia takut, maka engkau mengabaikannya.

Kata (تَلَهَّىٰ, talahhaa) berasal dari akar ل-ه-و, yang tercatat di 15 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:10 saja. Di ayat-ayat lain akar ini sering muncul sebagai kata benda "kelengahan" atau "senda gurau", yang disandingkan dengan permainan untuk menyifati kehidupan dunia, misalnya di 6:32, 29:64, 47:36, dan 57:20. Di 21:2-3 akar ini menyifati hati orang-orang yang mendengar peringatan baru sambil bermain-main, (لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ, laahiyatan quluubuhum), "hati mereka dalam keadaan lalai". Di sana kelalaian terjadi ketika peringatan sedang sampai kepada mereka.

Di 62:11 kata benda yang sama dipakai untuk sesuatu yang membuat orang berpencar, (وَتَرَكُوكَ قَائِمًا, wa-tarakuuka qaa'iman), "dan meninggalkanmu berdiri". Dalam ayat itu orang yang disapa ditinggalkan oleh orang-orang yang tertarik pada perdagangan atau kelengahan. Di 80:10 kedudukannya terbalik, sebab orang yang disapa menjadi pelaku kelalaian, dan orang yang datang kepadanya yang ditinggalkan.

Bentuk kata kerjanya muncul di empat ayat lain, dan di keempatnya pelaku yang melalaikan berupa sesuatu di luar diri manusia. Di 15:3 angan-angan, (وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ, wa-yulhihimu l-amalu), di 24:37 perniagaan dan jual beli, (لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, laa tulhiihim tijaaratun wa-laa bay'un 'an dzikri llaahi), di 63:9 harta dan anak-anak, dan di 102:1 berlomba memperbanyak, (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, alhaakumu t-takaatsuru). Di 80:10 pelakunya "engkau", dan tidak ada sesuatu di luar diri yang disebut melalaikannya.

Kata (عَنْهُ, 'anhu) berhadapan dengan (لَهُ, lahu) di 80:6. Kedua ayat dibangun dengan urutan yang sama, dimulai (فَأَنْتَ, fa-anta), disusul kata depan berakhiran -hu, lalu kata kerja yang sebunyi, (تَصَدَّىٰ, tashaddaa) dan (تَلَهَّىٰ, talahhaa). Kata ganti fa-anta tercatat di dua ayat ini saja di seluruh Al-Qur'an, sehingga kedua ayat terbaca sebagai sepasang.

Terjemahan "mengabaikannya" memuat akhiran -nya dari (عَنْهُ, 'anhu). Kata kerja "mengabaikan" dalam bahasa Indonesia langsung menerima sasaran, sehingga "darinya" tidak perlu diterjemahkan terpisah, dan maknanya tetap utuh.

Tafsiran

Ayat ini menutup perbandingan di 80:5-10 dan menutup sapaan kepada "engkau" di awal surah. Orang yang merasa serba cukup diberi perhatian, sedangkan orang yang datang dengan bersegera dan takut diabaikan, dan dua perbuatan itu dicatat dengan kalimat yang sejajar di 80:6 dan 80:10, masing-masing dibuka dengan kata ganti "engkau".

Sapaan orang kedua tunggal berhenti di ayat ini. Sesudahnya 80:11 dibuka dengan (كَلَّا, kallaa), "sekali-kali tidak", dan surah beralih membicarakan peringatan itu sendiri, lalu manusia pada umumnya sejak 80:17. Selama sepuluh ayat pertama tidak ada kata perintah maupun larangan. Teguran itu disampaikan lewat penyebutan perbuatan, dengan dua pasang kalimat yang saling berhadapan, 80:5-7 dengan 80:8-10.

Pengabaian di ayat ini berhadapan dengan 80:4, yang menyebut kemungkinan orang buta itu mengambil pelajaran lalu pelajaran itu bermanfaat baginya. Di 24:37 dan 63:9 kata kerja dari akar ini bersambung dengan "dari mengingat Allah". Di 80:10 kata kerjanya bersambung dengan "darinya", dari orang yang menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran. Kelalaian itu dengan demikian mengenai seorang manusia yang sedang berada di dekat peringatan, dan ayat berikutnya langsung dibuka dengan (كَلَّا, kallaa).

Renungan dan Hikmah

  • Di ayat-ayat lain yang melalaikan manusia disebut dengan jelas, angan-angan, perniagaan, harta dan anak-anak, atau berlomba memperbanyak. Di 80:10 tidak ada penyebab seperti itu, dan pelakunya "engkau". Kelalaian sering dijelaskan dengan menunjuk kesibukan atau keadaan, dan penjelasan itu bisa benar. Allah di ayat ini menaruh kelalaian pada orang yang disapa, sehingga pertanyaan tentang siapa yang diabaikan kembali kepada orang yang mengabaikan, dan tidak berhenti pada keadaan di sekitarnya.
  • Dua kalimat sejajar di 80:6 dan 80:10 memperlihatkan seluruh persoalan dalam dua baris, kepadanya engkau menghadapkan perhatian, darinya engkau lalai. Bila hari seseorang ditulis dalam dua kalimat seperti itu, siapa yang akan berada di kalimat pertama dan siapa di kalimat kedua? Tuhan menyusun teguran ini dengan cara yang membuat pembacanya bisa memakai rangka yang sama untuk menimbang harinya sendiri. Rangka itu tidak menuntut penjelasan panjang, cukup dua orang dan dua arah perhatian.
  • Orang yang datang dengan bersegera dan takut disambut dengan pengabaian. Siapa pun yang pernah datang dengan sungguh-sungguh lalu tidak dihiraukan bisa mengenali rasa itu. Allah mencatat kesungguhan orang ini di 80:8-9 sebelum mencatat pengabaian yang dia terima, sehingga kesungguhannya tetap tercatat walaupun manusia di depannya tidak menyambut. Bagi orang yang merasa diabaikan, catatan ini memperlihatkan bahwa langkahnya tetap terlihat oleh-Nya.
  • Sepuluh ayat pertama surah ini mencatat empat perbuatan, bermuka masam, berpaling, menghadapkan perhatian, dan mengabaikan. Keempatnya dicatat sebagai raut wajah, arah tubuh, dan arah perhatian, dan ucapan yang mungkin menyertainya tidak ikut dicatat. Allah menegur gerak dan arah perhatian, hal-hal yang sering luput dari pemeriksaan diri karena tidak berupa ucapan. Seseorang bisa menjaga lisannya dengan baik, sementara raut wajah dan arah perhatiannya memperlihatkan hal lain kepada orang yang datang.
  • Isi perhatian di 80:6 tidak dicatat, sehingga kesibukan itu tidak dinilai buruk atau baik, dan kelalaian di 80:10 terjadi di tengah kesibukan yang tidak dicela isinya. Seseorang bisa merasa sedang mengerjakan urusan yang baik, lalu melewatkan orang yang datang, orang yang menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran. Tuhan mencatat keduanya, kesibukan itu dan orang yang datang. Siapa yang sedang datang kepada kita dengan pertanyaan, dan apakah kita mendengarnya di tengah kesibukan yang kita anggap penting?
  • Akar yang di ayat ini dipakai untuk satu pengabaian juga dipakai untuk menyifati kehidupan dunia sebagai permainan dan kelengahan, di 6:32 dan 57:20. Kelengahan yang di ayat-ayat itu disebut dalam ukuran seluruh kehidupan, di sini muncul dalam satu perjumpaan dengan satu orang. Allah memakai akar yang sama untuk keduanya, dan pembaca bisa menimbang apakah kelengahan yang disebut di 57:20 juga hadir dalam perbuatan-perbuatan kecil seperti ini.