فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
Maka engkau mengabaikannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰfa-anta 'anhu talahhaamaka engkau mengabaikannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْتَfa-antamaka engkau
- عَنْهُ'anhudarinya
- تَلَهَّىٰtalahhaamengabaikan
Inti bacaan
Perilaku yang dikoreksi secara eksplisit: 'maka engkau mengabaikannya', pengakuan langsung terhadap kesalahan yang terjadi, mengabaikan orang yang justru menunjukkan kesungguhan dan ketakwaan sejati.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَلَهَّىٰ, talahhaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 15 ayat, antara lain 6:32, 21:3, 47:36, 57:20, dan 62:11.
Di 6:32 dan 57:20 akar (تَلَهَّىٰ, talahhaa) dipakai untuk kehidupan dunia yang disebut sebagai permainan dan hal yang melalaikan. Di 62:11 ia dipakai untuk perdagangan yang membuat orang meninggalkan sesuatu yang lebih penting.
Jadi akar (تَلَهَّىٰ, talahhaa) biasanya menamai hal besar yang menarik perhatian manusia: dunia, perdagangan, permainan. Di sini ia dipakai untuk satu perbuatan kecil dalam satu perjumpaan.
Perbandingan itu mengubah ukurannya. Perbuatan yang terlihat sepele diberi nama yang biasanya dipakai untuk hal yang menyeret seluruh hidup seseorang. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan kata itu.
Bentuk (تَلَهَّىٰ, talahhaa) menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dilalaikan oleh sesuatu; ia melalaikan dirinya. Tidak ada pihak luar yang disebut menariknya.
Catatan itu penting karena di tempat lain akar (تَلَهَّىٰ, talahhaa) justru dipakai untuk hal yang melalaikan dari luar. Di sini arahnya dibalik, dan yang melalaikan tidak disebut sama sekali.
Kata (فَأَنْتَ, fa-anta) memakai susunan yang sama persis dengan 80:6. Dua teguran di surah ini dibangun dengan rangka kalimat yang identik, dan yang berbeda cuma sasarannya.
Kesamaan itu mengikat keduanya. Memberi perhatian kepada yang merasa cukup dan lalai dari yang datang bergegas bukan dua kesalahan; keduanya satu perbuatan yang dilihat dari dua sisi.
Kata (عَنْهُ, 'anhu) didahulukan dari kata kerjanya, sama seperti di 80:6. Pendahuluan itu menonjolkan sasarannya sebelum perbuatannya sendiri disebut.
Ayat ini menutup sepuluh ayat pertama surah ini. Sesudahnya sapaan orang kedua berhenti, dan tidak dipakai lagi sampai ayat terakhir. Bagian yang paling pribadi selesai di sini.
Perhatikan bahwa sepuluh ayat itu tidak memuat satu perintah pun. Tidak ada suruhan, tidak ada larangan. Yang ada cuma penyebutan perbuatan dan penilaian atasnya.
Susunan tanpa perintah itu meninggalkan pembacanya dengan gambaran, bukan dengan daftar. Gambaran lebih sulit dilupakan daripada daftar, dan lebih sulit pula dipenuhi setengah-setengah.
Perhatikan pula bahwa sepuluh ayat pertama surah ini menyebut dua orang tanpa menamai satu pun. Yang pertama merasa cukup, yang kedua datang bergegas dan takut. Nama keduanya tidak pernah muncul.
Ketiadaan nama itu bukan penghalus. Ia yang membuat perbandingannya bisa dipakai berulang kali di keadaan yang berbeda-beda, oleh pembaca yang tidak pernah bertemu keduanya.
Yang tersisa dari sepuluh ayat itu cuma dua gambaran: seseorang yang diberi perhatian karena terlihat cukup, dan seseorang yang ditinggalkan padahal datang sendiri. Dua gambaran itu tidak butuh nama untuk dikenali.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan pengabaian terhadap orang yang justru paling siap menerima. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 15 ayat, antara lain 6:32, 21:3, 47:36, 57:20, dan 62:11.
Di 6:32 dan 57:20 akar itu dipakai untuk kehidupan dunia yang disebut sebagai permainan dan hal yang melalaikan, dan di 62:11 untuk perdagangan yang membuat orang meninggalkan sesuatu yang lebih penting. Jadi akar itu biasanya menamai hal besar yang menarik perhatian manusia, sedangkan di sini ia dipakai untuk satu perbuatan kecil dalam satu perjumpaan.
Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dilalaikan oleh sesuatu, melainkan ia melalaikan dirinya, dan tidak ada pihak luar yang disebut menariknya.
Kata pertamanya memakai susunan yang sama persis dengan 80:6, sehingga dua teguran di surah ini dibangun dengan rangka kalimat yang identik dan yang berbeda cuma sasarannya.
Ayat ini menutup sepuluh ayat pertama surah ini. Sesudahnya sapaan orang kedua berhenti, dan sepuluh ayat itu tidak memuat satu perintah pun. Sepuluh ayat pertama surah ini menyebut dua orang tanpa menamai satu pun, dan ketiadaan nama itulah yang membuat perbandingannya bisa dipakai berulang kali di keadaan yang berbeda-beda. Yang tersisa cuma dua gambaran, dan dua gambaran itu tidak butuh nama untuk dikenali.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 15 ayat, antara lain 6:32, 21:3, 47:36, 57:20, dan 62:11. Di 6:32 dan 57:20 akar itu menamai kehidupan dunia sebagai permainan yang melalaikan, dan di 62:11 perdagangan yang membuat orang meninggalkan yang lebih penting. Jadi akar yang biasanya memikul hal sebesar itu di sini dipakai untuk satu perbuatan kecil dalam satu perjumpaan. Ukuran perbuatannya berubah karena nama yang diberikan kepadanya. Nama yang besar diberikan kepada perbuatan yang kecil, dan pemberian nama itu sendiri sudah merupakan penilaian.
- Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang datang dari orangnya sendiri. Bukan ia dilalaikan oleh sesuatu; ia melalaikan dirinya, dan Allah tidak menyebut satu pihak luar pun yang menariknya. Di tempat lain akar yang sama justru dipakai untuk hal yang melalaikan dari luar, sehingga di sini arahnya dibalik. Tidak ada godaan yang bisa disebut sebagai penyebab, dan karena itu tidak ada pula yang bisa disalahkan. Sebuah kesalahan tanpa penyebab dari luar tidak menyisakan satu pun pihak untuk dijadikan pembelaan.
- Kata pertamanya memakai susunan yang sama persis dengan 80:6, sehingga dua teguran di surah ini dibangun Allah dengan rangka kalimat yang identik. Yang berbeda cuma sasarannya. Kesamaan itu mengikat keduanya: memberi perhatian kepada yang merasa cukup dan lalai dari yang datang bergegas bukan dua kesalahan yang terpisah, melainkan satu perbuatan yang dilihat dari dua sisi. Dua sisi dari satu perbuatan lebih sulit diperbaiki daripada dua kesalahan yang berdiri sendiri-sendiri.
- Kata keduanya didahulukan dari kata kerjanya, sama seperti di 80:6. Pendahuluan itu menonjolkan sasarannya sebelum perbuatannya sendiri disebut. Jadi yang lebih dulu terbaca bukan apa yang dikerjakan, melainkan siapa yang ditinggalkan. Allah menaruh orang yang diabaikan di depan kalimat, tepat di tempat yang paling sulit dilewati mata pembacanya. Letak sebuah kata di dalam kalimat ternyata ikut menentukan siapa yang lebih dulu terbayang.
- Ayat ini menutup sepuluh ayat pertama surah ini, dan sesudahnya sapaan orang kedua berhenti serta tidak dipakai lagi sampai ayat terakhir. Bagian yang paling pribadi dari surah ini selesai di sini. Allah beralih dari menyapa satu orang menjadi berbicara tentang manusia pada umumnya, dan peralihan itu tidak ditandai dengan satu kata pun. Yang berpindah bukan pokoknya, melainkan luas jangkauannya, dan perluasan itu berjalan diam-diam.
- Sepuluh ayat pertama surah ini tidak memuat satu perintah pun. Tidak ada suruhan dan tidak ada larangan; yang ada cuma penyebutan perbuatan dan penilaian Allah atasnya. Susunan tanpa perintah itu meninggalkan pembacanya dengan gambaran, bukan dengan daftar. Apa yang lebih sulit dilupakan, sebuah daftar yang bisa dicentang atau sebuah gambaran yang harus ditanggung sendiri? Gambaran menuntut lebih banyak daripada daftar, karena ia tidak bisa dipenuhi dengan mencentang satu per satu.