Ayat 80:11

كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah peringatan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌkallaa innahaa tadzkiratunsekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah peringatan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  3. تَذْكِرَةٌtadzkiratunperingatan

Inti bacaan

Kata kallaa tercatat di 33 ayat di 15 surah, dan susunan 80:11 hampir sama dengan 74:54, dengan innahaa menggantikan innahu. Kata tadzkiratun muncul di sembilan ayat, dan di 20:3 serta 69:48 penerimanya disebut langsung.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (كَلَّا, kallaa) yang berarti "sekali-kali tidak", (إِنَّهَا, innahaa) yang berarti "sesungguhnya itu", dan (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun) yang berarti "peringatan". Kalimatnya tidak memuat kata kerja. Sesudah kata penolakan, ayat ini menyatakan sifat sesuatu dengan kata benda, dan tidak ada keterangan waktu yang menyertainya.

Kata (كَلَّا, kallaa) tercatat di 33 ayat di 15 surah, semuanya di surah 19 dan sesudahnya, dan di surah ini kata itu membuka 80:11 dan 80:23. Di 26:15 Allah menjawab Musa, yang takut dibunuh, dengan (قَالَ كَلَّا, qaala kallaa), "Dia berfirman, sekali-kali tidak", lalu menyuruhnya pergi membawa tanda-tanda-Nya. Di 26:62 Musa menjawab para pengikutnya, yang mengira akan tersusul, dengan kata yang sama, disusul (إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ, inna ma'iya rabbii sa-yahdiini), "sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan menunjukiku". Di kedua tempat itu kata kallaa menolak sesuatu yang diucapkan sebelumnya, dan ucapan yang ditolak tertulis di ayat sebelumnya, 26:14 dan 26:61.

Di 80:11 kata itu berdiri langsung sesudah 80:10, "maka engkau mengabaikannya", tanpa didahului ucapan siapa pun. Sasaran penolakannya tidak disebut dengan kata tersendiri. Letaknya sesudah sepuluh ayat tentang perhatian kepada orang yang merasa serba cukup dan pengabaian terhadap orang yang datang dengan takut, sehingga penolakan itu terbaca mengenai cara menanggapi kedua orang itu, dan kalimat sesudahnya, tentang peringatan, memberi arah bacaan itu.

Kata (إِنَّهَا, innahaa) terdiri dari inna, penegas yang diterjemahkan "sesungguhnya", dan akhiran -haa, kata ganti perempuan. Rujukan kata ganti itu tidak disebut dengan nama, dan terjemahan memakai "itu". Bentuk perempuannya selaras dengan (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun), yang juga berbentuk perempuan. Di 74:54 kalimat yang hampir sama memakai kata ganti laki-laki, (كَلَّا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ, kallaa innahu tadzkiratun), dan di 73:19 serta 76:29 kata yang sama didahului kata tunjuk perempuan, (إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ, inna haadzihi tadzkiratun), "sesungguhnya ini adalah peringatan".

Kata (تَذْكِرَةٌ, tadzkiratun) berasal dari akar ذ-ك-ر, yang tercatat di 264 ayat, dan kata ini sendiri tercatat di sembilan ayat, 20:3, 56:73, 69:12, 69:48, 73:19, 74:49, 74:54, 76:29, dan 80:11. Di dua di antaranya penerimanya disebut, (تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ, tadzkiratan li-man yakhsyaa), "peringatan bagi orang yang takut", di 20:3, dan (لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ, la-tadzkiratun li-l-muttaqiina), "benar-benar peringatan bagi orang-orang yang bertakwa", di 69:48. Di 56:73 kata itu dipakai untuk api yang dinyalakan manusia, yang disebut di 56:71, dan di 69:12 untuk peristiwa ketika manusia diangkut di dalam bahtera sewaktu air melampaui batas.

Di 80:11 penerima peringatan tidak disebut di dalam ayat yang sama, dan keterangannya datang di 80:12. Susunan tadzkiratun yang langsung disusul "maka siapa yang menghendaki" tercatat di empat tempat, 73:19, 74:54-55, 76:29, dan 80:11-12. Di 74:49 kata yang sama memakai kata sandang, (عَنِ التَّذْكِرَةِ, 'ani t-tadzkirati), dalam pertanyaan mengapa orang-orang berpaling dari peringatan.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pokok pembicaraan surah. Sepuluh ayat pertama berbicara tentang dua orang dan sikap orang yang disapa terhadap keduanya, dan 80:11 berbicara tentang peringatan itu sendiri. Kata (كَلَّا, kallaa) menutup bagian pertama dengan penolakan, lalu kalimat sesudahnya menaruh perhatian pada sifat pesan yang dibawa. Orang yang disapa tidak lagi menjadi pokok kalimat, dan pembicaraan beralih kepada pesan yang sampai kepada kedua orang itu.

Pergantian ini memberi ukuran bagi teguran di 80:1-10. Bila pesan itu peringatan, orang yang menerimanya ditentukan oleh kesediaannya untuk mengingat, dan 80:12 menyatakan kesediaan itu dengan "siapa yang menghendaki". Ukuran itu berlainan dengan ukuran yang terbaca di 80:5-6, ketika perhatian diberikan kepada orang yang merasa serba cukup. Ayat 80:4 sudah menyebut kemungkinan orang buta itu mengambil pelajaran dengan akar yang sama, ذ-ك-ر, sehingga 80:11 menyambung kembali kepada kemungkinan yang disebut di awal surah.

Ayat ini juga membuka rangkaian 80:11-16. Sesudah pesan disebut peringatan, 80:13-16 menerangkan tempatnya, lembaran-lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan, di tangan para penulis yang mulia lagi berbudi. Rangkaian itu tersusun dari kata benda dan kata sifat tanpa kata kerja, kecuali 80:12, tempat kehendak manusia disebut.

Renungan dan Hikmah

  • Kata "sekali-kali tidak" datang sesudah sepuluh ayat teguran, dan apa yang ditolak tidak disebut dengan kata tersendiri. Seseorang yang membaca teguran bisa merasa urusannya selesai begitu kesalahan disebut. Allah menambahkan penolakan yang tegas, lalu segera beralih kepada peringatan itu sendiri, sehingga sesudah kesalahan disebut, pembaca diberi pegangan untuk menggantinya. Ketika kita menyadari sebuah kekeliruan dalam memperlakukan orang lain, apa yang kita pakai sebagai ukuran pengganti?
  • Perhatian di 80:5-10 dibagi menurut keadaan orang, yang satu merasa serba cukup dan yang lain datang dengan takut. Ayat ini memindahkan timbangan kepada pesan yang dibawa, dan menurut 80:12 pesan itu sampai kepada siapa pun yang mau mengingat. Ketika perhatian dibagi menurut siapa orangnya, peringatan Tuhan bisa terlambat sampai kepada orang yang siap menerimanya. Bila pesan ditaruh di depan, pertanyaan tentang siapa yang layak didengar dapat dijawab dengan kesediaan orang itu untuk mengingat, dan kedudukannya tidak lagi menjadi ukuran.
  • Kata tadzkiratun dipakai untuk Al-Qur'an, untuk api yang dinyalakan manusia di 56:73, dan untuk peristiwa bahtera di 69:12. Allah menjadikan benda sehari-hari dan peristiwa masa lalu sebagai peringatan, di samping firman-Nya. Api yang dinyalakan setiap hari bisa lewat tanpa direnungkan, dan kisah lama bisa terdengar sebagai cerita biasa. Ayat-ayat itu memperlihatkan bahwa peringatan bisa hadir dalam hal-hal yang dekat, dan kesediaan untuk mengingat menentukan apakah peringatan itu sampai.
  • Di 26:15 dan 26:62 kata yang sama menolak rasa takut, takut Musa akan dibunuh dan takut para pengikutnya akan tersusul, lalu disusul keyakinan bahwa Tuhan menyertai. Di 80:11 kata itu menolak sikap orang yang disapa. Satu kata bisa menenangkan dan bisa menegur, dan di kedua pemakaian itu arahnya bersumber dari Allah atau dari keyakinan kepada-Nya. Penolakan dalam hidup seseorang, terhadap rasa takut yang berlebihan atau terhadap kebiasaan yang keliru, bisa bersumber dari tempat yang sama.
  • Ayat sebelumnya berakhir dengan kelalaian, "maka engkau mengabaikannya", dan ayat ini dibuka dengan penolakan lalu menyebut peringatan. Kelalaian dijawab Tuhan dengan peringatan, dan jawaban itu tidak memuat ancaman hukuman. Akar yang sama dipakai untuk pelajaran di 80:4, untuk peringatan di 80:11, dan untuk mengingat di 80:12. Orang yang lalai diberi jalan kembali lewat ingatan, dan jalan itu terbuka bagi siapa pun yang pernah lalai terhadap orang yang datang kepadanya.
  • Allah menyatakan sifat pesan-Nya dengan kalimat tanpa kata kerja dan tanpa keterangan waktu. Teguran di 80:1-10 mengenai satu perjumpaan, dan 80:11 menarik pembicaraan kepada sesuatu yang tetap berlaku sesudah perjumpaan itu lewat. Pembaca yang datang jauh sesudahnya menerima kalimat yang sama, "sesungguhnya itu peringatan". Bagi pembaca itu, pertanyaannya tetap terbuka, apakah peringatan itu sedang diterima atau sedang dilewatkan?

Ayat 80:12

فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

Maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُfa-man syaa'a dzakarahumaka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. شَاءَsyaa'amenghendaki
  3. ذَكَرَهُdzakarahuia mengingatnya

Inti bacaan

Kalimat fa-man syaa'a dzakarahu tercatat di 74:55 dan 80:12. Di 74:56 kalimat itu segera disusul kehendak Allah, sedangkan di surah ini kata kerja syaa'a baru muncul lagi di 80:22 untuk membangkitkan manusia.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَمَنْ, fa-man) yang berarti "maka siapa", (شَاءَ, syaa'a) yang berarti "menghendaki", dan (ذَكَرَهُ, dzakarahu) yang berarti "tentu mengingatnya". Awalan fa- menyambungkan ayat ini dengan 80:11, sehingga keterangan tentang orang yang mengingat datang sebagai kelanjutan dari pernyataan bahwa pesan itu peringatan.

Rangkaian (فَمَنْ شَاءَ, fa-man syaa'a) tercatat di enam ayat, 18:29, 73:19, 74:55, 76:29, 78:39, dan 80:12. Di 73:19 dan 76:29 rangkaian itu disusul (اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا, ttakhadza ilaa rabbihi sabiilan), "dia mengambil jalan kepada Tuhannya", dan di 78:39 disusul jalan kembali kepada Tuhannya. Di 18:29 rangkaian itu dipakai dua kali, (فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ, fa-man syaa'a fa-l-yu'min wa-man syaa'a fa-l-yakfur), "maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, biarlah dia kufur". Di keenam ayat itu kehendak manusia disebut di depan perbuatan yang dipilihnya.

Kalimat yang sama bunyinya dengan 80:12 tercatat di 74:55. Di 74:56 kalimat itu disusul (وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ, wa-maa yadzkuruuna illaa an yasyaa'a llaahu), "dan mereka tidak akan mengambil pelajaran, kecuali jika Allah menghendaki", dan di 76:30 serta 81:29 keterangan serupa menyusul kehendak manusia. Sesudah 80:12 keterangan seperti itu tidak muncul, dan 80:13 langsung melanjutkan dengan tempat peringatan itu berada. Di dalam surah ini kehendak Allah disebut sepuluh ayat kemudian, (ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, tsumma idzaa syaa'a ansyarahu), "kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya", di 80:22.

Kata (شَاءَ, syaa'a) berasal dari akar ش-ي-ا, yang tercatat di 449 ayat, dan di surah ini akar itu muncul di tiga ayat. Di 80:12 pelakunya manusia, di 80:22 pelakunya Allah, dan di 80:18 akar yang sama menjadi kata benda (شَيْءٍ, syay'in), "sesuatu", dalam pertanyaan dari apakah manusia diciptakan.

Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk kata kerja lampau dengan akhiran -hu. Di dalam kalimat bersyarat ini terjemahan memakai "tentu", karena perbuatan mengingat dinyatakan mengikuti kehendak. Akar ذ-ك-ر di surah ini muncul di 80:4, 80:11, dan 80:12. Di 80:4 bentuknya (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru), "dia mengambil pelajaran", disusul (الذِّكْرَىٰ, dz-dzikraa), "pelajaran". Ketiga ayat itu menghubungkan orang buta yang boleh jadi mengambil pelajaran dengan peringatan dan dengan siapa pun yang mau mengingatnya.

Akhiran -hu pada (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk laki-laki, sedangkan kata ganti di 80:11, -haa, berbentuk perempuan. Di 74:54-55 kedua kata ganti itu sama-sama laki-laki. Rujukan -hu di 80:12 tidak disebut dengan nama, dan terjemahan "mengingatnya" membiarkan rujukan itu terbuka, mengikuti bunyi ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini menaruh kehendak di depan ingatan. Sesudah 80:11 menyatakan bahwa pesan itu peringatan, 80:12 menyebut orang yang mengingatnya dengan satu syarat, menghendaki. Harta, kedudukan, dan asal-usul tidak disebut sebagai syarat, dan keterangan tentang kedua orang di 80:5-9 pun tidak memuatnya.

Syarat itu menjawab teguran di awal surah. Orang yang merasa serba cukup diberi perhatian dan orang yang datang dengan bersegera diabaikan, padahal 80:12 mengukur penerima peringatan dengan kehendaknya untuk mengingat. Kedatangan orang yang bersegera di 80:8 terbaca sebagai tanda kehendak itu, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak digambarkan membawa kehendak semacam itu.

Surah 74 memuat rangkaian yang dekat dengan bagian ini. Akar ع-ب-س, "bermuka masam", tercatat di tiga ayat, 74:22, 76:10, dan 80:1, dan di 74:22 dipakai untuk orang yang menurut 74:16 menentang tanda-tanda Allah, lalu menyebut apa yang dia dengar sihir yang dipelajari di 74:24. Di 74:49 ditanyakan mengapa orang-orang berpaling dari peringatan, di 74:52 mereka masing-masing ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka, lalu 74:54-56 menutup dengan peringatan, kehendak manusia, dan kehendak Allah. Di 80:12 rangkaian itu berhenti pada kehendak manusia, dan kehendak Allah menyusul di 80:22 dalam urusan membangkitkan manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut syarat bagi orang yang mengingat peringatan-Nya, dan syarat itu kehendak. Syarat itu bisa dipenuhi siapa pun, tanpa memandang pengaruh, harta, atau keadaan tubuh, dan orang buta di 80:2 memenuhinya lewat kedatangannya. Seseorang yang merasa belum layak menerima peringatan karena kekurangannya bisa menemukan bahwa ukuran yang dipakai ayat ini berada di dalam kehendaknya sendiri, dan kekurangan yang dia sesali tidak disebut sebagai penghalang.
  • Rangkaian "maka siapa yang menghendaki" di 18:29 dipakai untuk iman dan kufur sekaligus. Di 80:12 rangkaian itu tidak disertai paksaan atau bujukan, dan mengingat peringatan diserahkan kepada kehendak orang yang mendengar. Keterangan ini sejalan dengan 80:7, yang melepaskan orang yang disapa dari tanggungan atas orang yang tidak menyucitumbuhkan diri. Orang yang merasa harus memaksa orang lain menerima kebenaran bisa menemukan batas tugasnya di sini, sebab Tuhan sendiri menyerahkan pilihan itu kepada kehendak manusia.
  • Di surah ini dua kehendak disebut dengan kata yang sama. Mengingat peringatan disandarkan kepada kehendak manusia di 80:12, dan membangkitkan manusia disandarkan kepada kehendak Allah di 80:22. Seseorang bisa merasa kehendaknya kecil di hadapan kehendak Tuhan, lalu menunggu tanpa berbuat. Susunan surah ini memberi kehendak manusia urusannya sendiri, sehingga bagian yang diserahkan kepada kita jelas, dan bagian itu tidak bisa dialihkan kepada orang lain.
  • Ayat 80:10 berakhir dengan kelalaian, dan 80:12 berakhir dengan ingatan. Kelalaian di 80:10 terjadi terhadap seorang manusia, sedangkan ingatan di 80:12 tertuju kepada peringatan. Kedua hal itu bertaut di surah ini, sebab orang yang datang itu menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran yang bermanfaat baginya. Apa yang ikut terlewat ketika kita lalai terhadap seseorang yang datang, dan apakah di antara yang terlewat itu ada kesempatan untuk mengingat Allah bersama-sama?
  • Rujukan kata ganti di akhir ayat ini tidak dinamai, dan terjemahan membiarkannya terbuka, "mengingatnya". Keterbukaan itu menyisakan pertanyaan bagi pembaca tentang apa yang sebenarnya dia ingat setiap hari. Pikiran bisa penuh dengan pekerjaan, kekhawatiran, dan rencana, dan tidak semuanya buruk. Ayat ini menaruh peringatan dari Tuhan di tengah ingatan-ingatan itu, dan kehendak menentukan berapa banyak tempat yang diberikan kepadanya.
  • Kehendak berada di dalam diri dan tidak bisa dilihat orang lain. Di surah ini kehendak orang yang datang terbaca dari langkahnya, sebab dia datang dengan bersegera. Allah mengetahui kehendak setiap orang, sedangkan manusia melihat tandanya saja. Tanda seperti itu mudah terlewat bila perhatian sedang tertuju ke arah lain, misalnya kepada orang yang tampak lebih penting. Orang yang terbiasa membaca tanda kehendak pada orang lain lebih mungkin menyambut kedatangan mereka, sebelum kesempatan itu lewat.

Ayat 80:13

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ

Di dalam suhuf yang dimuliakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍfii shuhufin mukarramatindi dalam suhuf yang dimuliakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيfiidi
  2. صُحُفٍshuhufinlembaran
  3. مُكَرَّمَةٍmukarramatinyang dimuliakan

Inti bacaan

Bentuk mukarramatin muncul di 80:13 saja, dan kata shuhufin di delapan ayat. Rangkaian fii dengan kitab atau lauh dipakai pula di 56:78 dan 85:22, dua ayat yang juga didahului pujian bagi Al-Qur'an.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فِي, fii) yang berarti "di dalam", (صُحُفٍ, shuhufin) yang berarti "suhuf" atau lembaran-lembaran, dan (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) yang berarti "yang dimuliakan". Kata depan (فِي, fii) menyambungkan ayat ini dengan peringatan di 80:11, sehingga ayat ini menyebut tempat peringatan itu berada. Ayat 80:13-16 tidak memuat kata kerja, dan keempatnya terdiri dari kata benda dan kata sifat yang menerangkan lembaran-lembaran itu dan pihak yang memegangnya.

Kata (صُحُفٍ, shuhufin) berbentuk jamak dan tercatat di delapan ayat, 20:133, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 53:36 lembaran-lembaran itu milik Musa, (بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, bi-maa fii shuhufi muusaa), "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa", dan di 87:19 milik Ibrahim dan Musa. Di 20:133 dan 87:18 kata itu disifati "yang terdahulu". Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi (صُحُفًا مُنَشَّرَةً, shuhufan munasysyaratan), "lembaran-lembaran yang terbuka", dan di 81:10 lembaran-lembaran dibentangkan, di antara peristiwa-peristiwa yang disusun 81:1-14.

Kata depan fii bersama lembaran-lembaran dipakai juga di 87:18, (لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ, la-fii sh-shuhufi l-uulaa), "benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu", tentang isi yang disebut di ayat-ayat sebelumnya. Di 56:78, (فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ, fii kitaabin maknuunin), "dalam Kitab yang terpelihara", dan di 85:22, (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, fii lawhin mahfuuzhin), "dalam lauh yang terpelihara", kata depan yang sama menyebut tempat Al-Qur'an. Di kedua ayat itu Al-Qur'an disebut lebih dulu dengan sifatnya, mulia di 56:77 dan luhur di 85:21, lalu tempatnya. Susunan 80:11-13 serupa, peringatan disebut lebih dulu, lalu tempatnya.

Kata (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) berasal dari akar ك-ر-م, yang tercatat di 46 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:13 saja. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dimuliakan, dan pihak yang memuliakan tidak disebut. Bentuk yang dekat, (مُكْرَمُونَ, mukramuuna), dipakai di 21:26 untuk hamba-hamba yang dimuliakan, (بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ, bal 'ibaadun mukramuuna), dan di 37:42 serta 70:35 untuk penghuni taman di akhirat. Di 56:77 akar yang sama menyifati Al-Qur'an, (لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, la-qur'aanun kariimun), Al-Qur'an yang mulia.

Di surah ini akar ك-ر-م muncul di 80:13 dan 80:16. Di 80:16 akar itu menyifati para pemegang lembaran, (كِرَامٍ, kiraamin), "yang mulia". Lembaran-lembaran dan para pemegangnya sama-sama disifati dengan akar ini, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak.

Terjemahan ayat ini mempertahankan kata suhuf, sedangkan di ayat-ayat lain kata yang sama diterjemahkan "lembaran-lembaran", misalnya di 53:36, 74:52, 87:19, dan 98:2, atau "kitab-kitab" di 20:133. Terjemahan juga tidak menambahkan keterangan dalam kurung tentang siapa yang memuliakan, sesuai bunyi ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan peringatan di dalam lembaran-lembaran. Sesudah 80:11-12 menyatakan sifat pesan dan siapa yang mengingatnya, 80:13 menyebut tempatnya, dan tempat itu disifati dimuliakan. Kemuliaan di sini menyangkut lembaran-lembarannya, sedangkan isinya sudah ditunjuk di 80:11 dengan satu kata, peringatan.

Kata sifat ini berhadapan dengan teguran di awal surah. Perhatian di 80:6 diberikan kepada orang yang merasa serba cukup, dan 80:13 menaruh kemuliaan pada tempat peringatan itu berada. Orang yang datang dengan bersegera di 80:8 sedang mendekati pesan yang tempatnya dimuliakan, sehingga pengabaian terhadapnya menyentuh jalan orang itu menuju peringatan.

Pihak yang memuliakan tidak disebut, dan hal serupa berlaku bagi dua sifat di 80:14, ditinggikan dan disucikan. Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka untuk diri mereka masing-masing. Di 80:13 lembaran-lembaran itu sudah ada dan dimuliakan, dan menurut 80:12 peringatan di dalamnya terbuka bagi siapa pun yang mau mengingat. Tuntutan di 74:52 berhadapan dengan keterbukaan di 80:12-13, sebab yang satu meminta lembaran khusus bagi tiap orang, sedangkan yang lain menawarkan lembaran yang sama kepada setiap orang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut lembaran tempat peringatan itu dengan kata dimuliakan, dan pembawa pesan baru disebut kemudian di 80:15-16. Dalam keseharian, kemuliaan sering dilekatkan pada orang yang berbicara, pada gelar, jabatan, atau penampilannya. Ayat ini mengarahkan hormat kepada tempat dan isi pesan yang dibawa, sehingga orang yang datang untuk mendengar peringatan itu, siapa pun dia, sedang mendekati sesuatu yang dimuliakan. Hormat kepada pesan dengan demikian menjadi alasan untuk menghormati orang yang datang mencarinya.
  • Bentuk kata dimuliakan menyatakan kemuliaan yang diberikan, dan pemberinya tidak dinamai di sini. Seseorang bisa sibuk mencari pengakuan orang lain agar dianggap mulia, lalu merasa kehilangan ketika pengakuan itu tidak datang. Di 49:13 kemuliaan manusia diukur di sisi Allah dengan takwa, (إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ, inna akramakum 'inda llaahi atqaakum). Ukuran itu tidak bergantung pada pengakuan orang, dan siapa pun bisa menimbang dirinya dengan ukuran yang sama, tanpa menunggu penilaian dari sekitarnya.
  • Lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim di 53:36 dan 87:19 disebut untuk menunjuk isi yang sudah sampai kepada manusia sejak dahulu. Tuhan menyampaikan peringatan-Nya dalam bentuk tertulis yang bisa dibaca berulang kali, dan lembaran Musa dan Ibrahim masih disebut di 53:36 dan 87:19, lama sesudah keduanya. Peringatan yang tertulis tetap bisa dibuka oleh orang yang datang kemudian. Tulisan apa yang kita baca ulang ketika perlu diingatkan, dan seberapa sering lembaran-lembaran itu dibuka?
  • Keterangan tentang tempat peringatan memberi pegangan bagi pembacanya. Pesan yang dia terima berada di tempat yang dimuliakan, dan menurut 56:78 dan 85:22 tempat yang disebut untuk Al-Qur'an juga terpelihara. Keraguan tentang asal pesan dijawab dengan keterangan tentang tempatnya, sehingga pembaca bisa memusatkan perhatian pada apa yang diminta pesan itu darinya, mengingat Allah dan kembali kepada-Nya.
  • Lembaran yang dimuliakan tidak disebut untuk golongan tertentu, dan 80:12 menyerahkannya kepada siapa pun yang mau mengingat. Kemuliaan pesan tidak menjauhkannya dari orang biasa. Orang yang merasa dirinya jauh dari hal-hal yang mulia, karena pendidikan, kemiskinan, atau keterbatasan tubuh, tetap berada di dalam jangkauan peringatan ini, sebagaimana orang buta di 80:2 datang mendekat dengan bersegera. Keterbatasan tubuhnya tidak disebut sebagai penghalang, dan Allah menyebut kemungkinan dia menyucitumbuhkan diri di 80:3.
  • Penjelasan ayat ini mencatat bahwa akar yang berarti mulia di surah ini menyifati lembaran dan para pemegangnya, dan orang yang merasa serba cukup tidak ikut disifati dengannya. Di 89:15-17 manusia mengira kenikmatan menandakan dirinya dimuliakan Tuhan, dan anggapan itu ditolak. Ukuran kemuliaan di kedua surah itu tidak mengikuti kekayaan atau kedudukan. Siapa yang selama ini kita anggap mulia, dan dari mana ukuran itu kita ambil?

Ayat 80:14

مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ

Yang ditinggikan lagi disucikan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍmarfuu'atin muthahharatinyang ditinggikan lagi disucikan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. مَرْفُوعَةٍmarfuu'atinyang ditinggikan
  2. مُطَهَّرَةٍmuthahharatinlagi disucikan

Inti bacaan

Bentuk marfuu'atin menyifati kasur di 56:34 dan dipan di 88:13, sedangkan muthahharatin menyifati pasangan di 2:25, 3:15, dan 4:57, serta lembaran di 98:2. Di 56:79 kata sekerabat dipakai untuk pihak yang menyentuh kitab.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kata, (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'atin) yang berarti "yang ditinggikan", dan (مُطَهَّرَةٍ, muthahharatin) yang berarti "disucikan". Keduanya kata sifat yang menerangkan (صُحُفٍ, shuhufin) di 80:13, dan terjemahan menghubungkan keduanya dengan "lagi". Bersama (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) di 80:13, lembaran-lembaran itu menerima tiga sifat berturut-turut, dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan, dan ketiganya menyatakan keadaan yang dikenakan kepada lembaran-lembaran itu.

Kata (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'atin) berasal dari akar ر-ف-ع, yang tercatat di 29 ayat. Bentuk perempuan ini tercatat di tiga ayat, 56:34, 80:14, dan 88:13, dan bentuk laki-lakinya di 52:5. Di 56:34, (وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ, wa-furusyin marfuu'atin), kata ini menyifati kasur-kasur, dan di 88:13, (فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ, fiihaa sururun marfuu'atun), dipan-dipan di dalam taman yang tinggi. Di 52:5 bentuk laki-lakinya menyifati atap, (الْمَرْفُوعِ, al-marfuu'i), "yang ditinggikan".

Kata kerja dari akar ini sering berpelaku Allah. Di 79:28, di surah sebelum ini, (رَفَعَ سَمْكَهَا, rafa'a samkahaa), "Dia meninggikan bangunannya", tentang langit, dan di 13:2 serta 55:7 langit juga disebut ditinggikan-Nya. Di 94:4 akar ini bersanding dengan akar ذ-ك-ر, (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, wa-rafa'naa laka dzikraka), "dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu". Pelaku yang meninggikan lembaran di 80:14 tidak disebut, dan terjemahan mengikuti bunyi itu.

Kata (مُطَهَّرَةٍ, muthahharatin) berasal dari akar ط-ه-ر, yang tercatat di 26 ayat, dan bentuk ini tercatat di lima ayat. Di 2:25, 3:15, dan 4:57 kata ini menyifati pasangan-pasangan di dalam taman, (أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ, azwaajun muthahharatun), "pasangan-pasangan yang disucikan", dan di 98:2 serta 80:14 menyifati lembaran-lembaran. Di 98:2 bunyinya (يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً, yatluu shuhufan muthahharatan), "yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan", dan pembacanya disebut seorang rasul dari Allah. Bentuk-bentuk lain dari akar ini banyak menyangkut penyucian yang dilakukan orang atas dirinya, misalnya di 9:108, (وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ, wa-llaahu yuhibbu l-muththahhiriina), "dan Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri".

Di 56:79 bentuk jamak laki-laki dari kata yang sama dipakai untuk pihak yang menyentuh kitab, (لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ, laa yamassuhu illaa l-muthahharuuna), "tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan". Di 56:77-79 kitab itu disifati mulia dan yang menyentuhnya disifati disucikan, sedangkan di 80:13-14 kedua sifat itu dikenakan kepada lembaran-lembarannya. Kedua rangkaian memakai akar ك-ر-م dan ط-ه-ر berdekatan, dan keduanya menyebut tempat tertulis dengan kata depan fii.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran tentang lembaran-lembaran tempat peringatan itu berada. Sesudah dimuliakan di 80:13, lembaran-lembaran itu disebut ditinggikan dan disucikan, dan ketiga sifat itu tidak menyebut pelakunya. Isi lembaran tidak diuraikan di 80:13-16, dan 80:11 sudah menyebut isinya, peringatan.

Kedua kata sifat di ayat ini dipakai juga untuk isi taman di akhirat, kasur dan dipan yang ditinggikan di 56:34 dan 88:13, dan pasangan-pasangan yang disucikan di 2:25, 3:15, dan 4:57. Lembaran-lembaran peringatan disifati dengan kata-kata yang di tempat lain dipakai untuk kenikmatan yang dijanjikan kepada orang-orang beriman. Pertalian itu terbatas pada kata, dan kata-kata itu menempatkan lembaran peringatan di antara hal-hal yang di tempat lain disebut sebagai balasan yang baik.

Di 98:1-3 lembaran-lembaran yang disucikan dibacakan seorang rasul sebagai bukti nyata yang datang kepada orang-orang yang kufur dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Di 80:14 lembaran-lembaran yang disucikan berada di tangan para penulis menurut 80:15, dan peringatan di dalamnya terbuka bagi siapa pun yang mau mengingat menurut 80:12. Kesucian lembaran itu disebut sesudah seorang yang datang dengan takut diabaikan, sehingga kesucian pesan ditaruh berdampingan dengan perlakuan terhadap orang yang datang kepada pembawanya.

Renungan dan Hikmah

  • Lembaran di ayat ini ditinggikan, dan kata itu menyatakan ketinggian yang diberikan. Orang di 80:5 merasa dirinya serba cukup, sebuah perasaan tentang diri sendiri yang tidak disebut diberikan oleh siapa pun. Allah meninggikan langit di 79:28 dan meninggikan sebutan di 94:4, dan ketinggian seperti itu berasal dari-Nya. Rasa tinggi yang dibangun seseorang atas dirinya sendiri bisa ditimbang dengan ukuran ini, apakah dia sedang merasa tinggi atau sedang ditinggikan?
  • Di 56:79 pihak yang menyentuh kitab disifati disucikan, dan di ayat ini lembaran-lembarannya sendiri disucikan. Pesan yang disucikan layak didekati dengan kesiapan batin. Orang di 80:8-9 datang dengan takut, keadaan yang di ayat-ayat lain menjadi tanda kesiapan menerima peringatan. Bagaimana kita mendekati firman Tuhan sehari-hari, dengan tergesa-gesa, dengan kebiasaan yang sudah hambar, atau dengan kesiapan untuk diubah olehnya?
  • Kata-kata yang menyifati lembaran peringatan dipakai juga untuk kenikmatan di taman akhirat. Pertalian kata ini mengundang pembaca melihat peringatan sebagai pemberian dari Allah, walaupun isinya kadang terasa berat. Peringatan yang menegur, seperti di 80:1-10, bisa terasa tidak menyenangkan pada saat diterima, dan orang cenderung menghindarinya. Lembaran yang memuatnya disifati dengan kata-kata yang di tempat lain menyertai balasan yang baik, dan sifat itu bisa mengubah cara seseorang menerima teguran.
  • Allah menggambarkan tempat dan kedudukan pesan-Nya sebelum menguraikan isinya, dan isi yang disebut 80:11 berupa peringatan. Pembaca sering bertanya lebih dulu apakah sebuah pesan menarik atau berguna baginya. Rangkaian ini mengajak pembaca memandang kedudukan pesan lebih dulu, sehingga isinya diterima dengan kesadaran tentang asal pesan itu. Kesadaran seperti itu bisa mengubah cara seseorang mendengar, dari menimbang selera menjadi bersiap menerima, sebab pesan yang datang dari Tuhan tidak diukur dengan kesenangan pendengarnya.
  • Lembaran yang disucikan di 98:2 dibacakan seorang rasul, dan kesucian lembaran sampai kepada manusia lewat orang yang membacakannya. Surah ini memperlihatkan bahwa orang yang membawa pesan pun bisa ditegur Allah ketika perhatiannya salah arah. Pesan yang disucikan tidak disebut membuat sikap pembawanya ikut tersucikan, sebab 80:1-10 menegur sikap itu. Siapa pun yang pernah menyampaikan ayat kepada orang lain bisa memeriksa, apakah sikapnya kepada pendengar sepadan dengan pesan yang dia bawa.
  • Kesucian pesan disebut sesudah pengabaian di 80:10. Pesan yang suci dan perlakuan yang keliru kepada orang yang datang ditaruh berdekatan, sehingga pembaca melihat keduanya bersama. Cara menyampaikan kebaikan ikut ditimbang di samping kebaikan yang disampaikan. Susunan firman Allah menaruh kemuliaan pesan berdekatan dengan teguran tentang cara pesan itu dibagikan. Pembaca bisa bertanya apakah cara yang dia pakai, nada bicaranya, kesabarannya, dan kepada siapa perhatiannya tertuju, sepadan dengan kebaikan yang dia bagikan.

Ayat 80:15

بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

Di tangan para penulis,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. بِأَيْدِي سَفَرَةٍbi-aydii safaratindi tangan para penulis

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. بِأَيْدِيbi-aydiidi tangan
  2. سَفَرَةٍsafaratinpara penulis

Inti bacaan

Bentuk bi-aydii tanpa akhiran dan kata safaratin sama-sama tercatat di 80:15 saja. Akar س-ف-ر dipakai untuk perjalanan di delapan ayat, untuk kitab-kitab di 62:5, dan untuk subuh yang mulai terang di 74:34.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kata, (بِأَيْدِي, bi-aydii) yang berarti "di tangan", dan (سَفَرَةٍ, safaratin) yang berarti "para penulis". Kata (بِأَيْدِي, bi-aydii) tersusun dari kata depan bi- dan bentuk jamak kata tangan, tanpa akhiran kata ganti, sehingga pemilik tangan itu disebut dengan kata sesudahnya. Ayat ini masih menerangkan lembaran-lembaran di 80:13-14, dengan menyebut pihak yang memegangnya.

Bentuk bi-aydii tanpa akhiran tercatat di 80:15 saja. Dengan akhiran kata ganti, kata depan bi- dan kata tangan muncul di enam ayat lain, 2:79, 2:195, 6:7, 9:14, 9:52, dan 59:2. Di dua di antaranya tangan berurusan dengan kitab. Di 2:79, (يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ, yaktubuuna l-kitaaba bi-aydiihim), "menulis Kitab dengan tangan mereka", tentang orang-orang yang lalu mengatakan tulisan itu dari sisi Allah untuk menukarnya dengan harga murah. Di 6:7, (فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ, fa-lamasuuhu bi-aydiihim), "lalu mereka menyentuhnya dengan tangan mereka", tentang kitab di atas kertas yang tetap disebut sihir oleh orang-orang yang kufur.

Di empat ayat lainnya tangan berurusan dengan perbuatan. Di 59:2 orang-orang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin, di 2:195 manusia dilarang menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, dan di 9:14 serta 9:52 azab Allah disebut datang lewat tangan orang-orang beriman. Di 80:15 tangan tidak disertai perbuatan, dan kata itu menyatakan tempat lembaran-lembaran berada.

Kata (سَفَرَةٍ, safaratin) tercatat di 80:15 saja. Akarnya, س-ف-ر, tercatat di 12 ayat dengan tiga arah makna. Delapan ayat memakainya untuk perjalanan, misalnya 2:184, 4:43, dan 34:19. Di 62:5 akar itu dipakai untuk kitab-kitab dalam perumpamaan keledai, (يَحْمِلُ أَسْفَارًا, yahmilu asfaaran), "yang membawa kitab-kitab". Di 74:34, (إِذَا أَسْفَرَ, idzaa asfara), akar itu dipakai untuk subuh yang mulai terang, dan di 80:38, (مُسْفِرَةٌ, musfiratun), untuk wajah-wajah yang berseri-seri.

Terjemahan "para penulis" sejalan dengan pertalian akar ini dengan kitab-kitab di 62:5. Pertalian dengan perjalanan dan dengan terang juga terbuka menurut pemakaian akarnya di tempat lain, dan kata safaratin sendiri tidak dipakai di ayat lain yang bisa menjadi pembanding. Siapa para penulis itu tidak disebut dengan nama. Keterangan tentang mereka datang di 80:16, (كِرَامٍ بَرَرَةٍ, kiraamin bararatin), "yang mulia lagi berbudi", dan terjemahan tidak menambahkan keterangan dalam kurung tentang siapa mereka.

Kata (سَفَرَةٍ, safaratin) berbentuk jamak, seperti (صُحُفٍ, shuhufin) di 80:13, dan kata tangan pun berbentuk jamak. Lembaran-lembaran itu dengan demikian digambarkan berada di tangan banyak pemegang, dan bilangan mereka tidak disebut.

Tafsiran

Ayat ini menyebut pihak yang memegang lembaran-lembaran peringatan. Sesudah tiga sifat lembaran di 80:13-14, 80:15 berpindah kepada tangan-tangan yang memegangnya, dan 80:16 menyifati pemegang itu mulia lagi berbudi. Rangkaian dari 80:11 sampai 80:16 bergerak dari pesan, ke tempatnya, lalu ke pemegangnya.

Di 2:79 tangan menulis kitab lalu mengaku tulisan itu dari sisi Allah, dan di 6:7 tangan menyentuh kitab lalu menyebutnya sihir. Di 80:15 tangan-tangan yang memegang lembaran disusul sifat mulia dan berbudi. Ketiga ayat itu memperlihatkan bahwa kitab yang sama-sama berada di tangan bisa disikapi dengan cara yang berlawanan, dan 80:15-16 menempatkan lembaran peringatan pada tangan yang disifati dengan kebaikan.

Pihak yang memegang lembaran itu tidak dinamai, dan terjemahan membiarkannya demikian tanpa keterangan tambahan. Keterangan yang tersedia di surah ini berupa dua sifat di 80:16, sehingga pembacaan ini berhenti pada sifat-sifat itu tanpa menambahkan nama dari luar teks. Di awal surah orang yang bermuka masam pun disebut tanpa nama, lewat perbuatannya, dan di 80:15-16 para pemegang lembaran disebut dengan cara yang sama, lewat tempat dan sifat mereka. Surah ini memperkenalkan orang-orangnya lewat apa yang mereka lakukan dan bagaimana keadaan mereka, dan nama tidak menjadi bagian dari keterangan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tangan-tangan yang memegang lembaran peringatan, dan 80:16 menyifatinya mulia lagi berbudi. Pesan yang dimuliakan dipegang oleh tangan yang disifati mulia pula. Siapa pun yang dipercaya menyampaikan kebaikan, mengajar, menasihati, atau meneruskan ayat kepada orang lain sedang memegang sesuatu dengan tangannya. Rangkaian ini mengajak pemegang pesan bertanya apakah sifatnya sepadan dengan pesan yang dia pegang, dan apakah tangannya terbuka bagi orang yang datang untuk mendengar, seperti orang di 80:8-9.
  • Di 2:79 tangan menulis kitab, lalu tulisan itu diakui berasal dari sisi Allah demi harga murah. Kecenderungan menyandarkan pendapat sendiri kepada Tuhan bisa muncul dalam bentuk yang halus, misalnya ketika tafsiran pribadi disampaikan seolah-olah bunyi firman. Lembaran di 80:13-15 disifati dengan sifat-sifat yang tinggi, dan 2:79 memperlihatkan celaan bagi tangan yang menambahkan tulisannya sendiri. Bagaimana kita menjaga batas antara bunyi firman dan pendapat kita tentangnya?
  • Di 6:7 kitab di atas kertas disentuh dengan tangan, lalu tetap ditolak. Menyentuh, memegang, bahkan memiliki kitab tidak menjamin pesan di dalamnya diterima. Mushaf bisa tersimpan rapi di rumah dan sering dipegang, sementara isinya jarang diingat atau dipikirkan. Allah menyerahkan ingatan kepada kehendak di 80:12, dan kehendak itu yang membedakan tangan yang memegang saja dari hati yang menerima.
  • Akar yang dipakai untuk para penulis di 80:15 juga dipakai untuk kitab-kitab yang dibawa keledai di 62:5, perumpamaan bagi orang-orang yang dibebani Taurat lalu tidak mengamalkannya. Membawa kitab dan mengamalkannya dipisahkan dengan tegas dalam perumpamaan itu. Allah memakai perumpamaan yang keras untuk jarak antara membawa dan mengamalkan, dan jarak itu bisa diperiksa pada diri siapa pun yang membaca kitab-Nya setiap hari, menghafalnya, atau mengajarkannya kepada orang lain.
  • Para pemegang lembaran disebut dengan tempat dan sifat, tanpa nama. Rasa ingin tahu tentang siapa mereka bisa besar, dan jawabannya tidak diberikan di sini. Tuhan memberi pembaca sifat-sifat mereka, mulia lagi berbudi, sehingga perhatian diarahkan kepada sifat yang bisa ditimbang oleh siapa pun. Cara itu sejalan dengan cara surah ini menyebut orang-orang lain di dalamnya, tanpa nama. Bila seseorang kelak dikenal lewat sifatnya saja, sifat apa yang akan tercatat tentang dirinya?
  • Rangkaian 80:11-16 menggambarkan pesan yang dimuliakan, disimpan di tempat yang ditinggikan dan disucikan, dan dipegang tangan yang mulia. Pesan dengan kedudukan seperti itu sampai kepada manusia, dan di awal surah seorang yang datang dengan takut diabaikan ketika mendekatinya. Kedudukan pesan yang tinggi berhadapan dengan perlakuan yang diterima orang itu. Ketika peringatan Tuhan sampai kepada kita dengan kedudukan seperti itu, bagaimana kita memperlakukan orang yang datang untuk mendengarnya?

Ayat 80:16

كِرَامٍ بَرَرَةٍ

Yang mulia lagi berbudi.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كِرَامٍ بَرَرَةٍkiraamin bararatinyang mulia lagi berbudi

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. كِرَامٍkiraaminyang mulia
  2. بَرَرَةٍbararatinyang berbakti

Inti bacaan

Bentuk jamak kiraam tercatat di 25:72, 80:16, dan 82:11, sedangkan bararatin tercatat di 80:16 saja. Di 82:11-13 kedua akar ayat ini hadir berdekatan, kiraam untuk para pencatat dan abraar untuk orang-orang yang berbakti.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kata, (كِرَامٍ, kiraamin) yang berarti "yang mulia", dan (بَرَرَةٍ, bararatin) yang berarti "berbudi". Keduanya kata sifat berbentuk jamak dan berakhiran -in, sama dengan (سَفَرَةٍ, safaratin) di 80:15, sehingga keduanya menerangkan para penulis yang disebut di ayat sebelumnya. Kalimatnya tidak memuat kata kerja, dan ayat ini menutup rangkaian kata sifat yang dimulai di 80:13.

Kata (كِرَامٍ, kiraamin) berasal dari akar ك-ر-م. Bentuk tunggalnya, kariim, bersama bentuk jamak ini tercatat di 30 ayat, dan bentuk jamak kiraam tercatat di tiga ayat, 25:72, 80:16, dan 82:11. Di 25:72 kata itu menerangkan manusia, hamba-hamba Ar-Rahman yang disebut sejak 25:63, yang (مَرُّوا كِرَامًا, marruu kiraaman), "berlalu dengan menjaga kehormatan", ketika berpapasan dengan perbuatan sia-sia. Di 82:11 kata itu menerangkan para penjaga yang disebut di 82:10, (كِرَامًا كَاتِبِينَ, kiraaman kaatibiina), "yang mulia dan mencatat", dan 82:12 menambahkan bahwa mereka mengetahui apa yang dikerjakan manusia.

Di surah ini akar ك-ر-م dipakai di 80:13 dan 80:16. Di 80:13 lembaran-lembaran itu disebut (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin), "yang dimuliakan", bentuk yang menyatakan kemuliaan yang diterima dari pihak lain, sedangkan di 80:16 para pembawanya disebut kiraam, bentuk yang menyatakan sifat pada diri mereka. Kata kerja dari akar yang sama dipakai di 17:70, (وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ, wa-la-qad karramnaa banii aadama), "dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam".

Kata (بَرَرَةٍ, bararatin) berasal dari akar ب-ر-ر, yang tercatat di 30 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:16 saja. Akar itu dipakai dengan dua makna. Di dua belas ayat akar itu menunjuk daratan, misalnya (فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ, fii l-barri wa-l-bahri), "di darat dan di laut", di 17:70. Di ayat-ayat lain akar itu menunjuk kebaikan. Di 19:14 Yahya disebut (وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ, wa-barran bi-waalidayhi), "dan berbakti kepada kedua orang tuanya", dan di 52:28 Allah disebut (الْبَرُّ الرَّحِيمُ, l-barru r-rahiimu), "Sang Baik lagi Sang Pengasih", dalam ucapan orang-orang yang dahulu cemas di tengah keluarga mereka (52:26).

Bentuk jamak lain dari akar itu, abraar, tercatat di enam ayat, 3:193, 3:198, 76:5, 82:13, 83:18, dan 83:22. Di 82:13 bentuk itu muncul dua ayat sesudah kiraam, (إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ, inna l-abraara la-fii na'iimin), "sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan". Dalam tiga ayat di surah 82 kedua akar 80:16 hadir berdekatan, kiraam untuk para pencatat dan abraar untuk manusia yang berbakti, sedangkan di 80:16 kedua sifat itu menerangkan pihak yang sama.

Siapa para penulis itu tidak dijelaskan dengan nama di 80:15-16. Kedua kata sifat di ayat ini menerangkan watak mereka, mulia dan berbudi, dan tidak menerangkan jenis mereka. Sebutan kiraam dipakai untuk pihak yang menulis di 80:15-16 dan untuk pihak yang mencatat di 82:11, dan tidak dinyatakan bahwa kedua pihak itu sama.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran tentang peringatan yang dibuka di 80:11. Rangkaian 80:13-16 mengikuti peringatan itu dari lembarannya sampai ke tangan yang memegangnya, lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan, lalu para penulis yang mulia dan berbudi. Akar kemuliaan dipakai pada kata sifat pertama rangkaian itu, untuk lembaran, dan pada ayat penutupnya, untuk para pembawa lembaran, sehingga rangkaian itu dibuka dan ditutup dengan kemuliaan, sekali pada benda yang dibawa dan sekali pada pembawanya.

Rangkaian ini terletak sesudah sepuluh ayat tentang orang yang disapa di awal surah, yang perhatiannya tertuju kepada orang yang merasa serba cukup sementara orang buta yang datang kepadanya diabaikan. Dua gambaran itu berdampingan dalam satu surah, orang yang disapa dengan sikapnya di 80:1-10 dan para pembawa lembaran dengan watak mereka di 80:15-16. Kedua kata sifat di ayat ini terbaca sebagai ukuran bagi siapa pun yang menyampaikan peringatan itu kepada orang lain.

Sesudah ayat ini surah berbalik arah. Ayat 80:17 menyebut manusia yang kufur, tanpa kata penghubung dengan 80:16. Di 17:70 Allah menyatakan telah memuliakan anak cucu Adam, tetapi di surah ini akar kemuliaan tidak dipakai lagi sesudah 80:16, dan manusia di 80:17 disebut dengan kekufurannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menerangkan para pembawa lembaran dengan watak mereka, mulia dan berbudi, dan tidak dengan kedudukan atau jumlah mereka. Siapa pun yang menyampaikan peringatan kepada orang lain membawa sesuatu yang di 80:13 disebut dimuliakan. Teguran di 80:1-10 memperlihatkan bahwa orang yang disapa di awal surah, yang menyampaikan pesan itu, bisa keliru menimbang siapa yang didahulukan. Kedua kata sifat di 80:16 memberi ukuran untuk menguji diri, apakah cara kita menyampaikan sesuatu yang baik sepadan dengan kemuliaan pesan yang kita bawa?
  • Di 25:72 kata kiraam dipakai untuk manusia, hamba-hamba Ar-Rahman yang berpapasan dengan perbuatan sia-sia lalu berlalu dengan menjaga kehormatan. Kemuliaan di ayat itu tampak dalam cara mereka berlalu, dan tidak tampak dalam kemenangan berdebat. Allah memakai sebutan yang sama untuk para pembawa lembaran dan untuk hamba-Nya yang berjalan di bumi tanpa keangkuhan, sehingga sifat itu terbuka bagi manusia. Ketika kita berpapasan dengan pembicaraan yang sia-sia, pilihan untuk berlalu dengan terhormat tetap tersedia.
  • Akar kata berbudi dipakai untuk Yahya, yang berbakti kepada kedua orang tuanya (19:14). Kebaikan yang disebut dengan akar itu tampak dalam hubungan yang paling dekat. Para pembawa lembaran berbudi ketika memegang lembaran peringatan, dan Yahya berbudi di rumahnya sendiri, dan Allah memakai satu akar untuk keduanya. Seseorang bisa bersungguh-sungguh dalam urusan yang terlihat luas dan lalai terhadap orang tuanya. Pemakaian akar yang sama untuk kedua keadaan itu menaruh keduanya dalam satu ukuran.
  • Di 52:28 Allah disebut al-barr, Sang Baik, oleh orang-orang yang dahulu cemas di tengah keluarga mereka (52:26) lalu dijaga dari azab (52:27). Akar yang sama menerangkan para pembawa lembaran di 80:16. Kebaikan makhluk disebut dengan akar yang juga dipakai untuk menyebut Tuhan. Orang yang ingin berbuat baik dapat mengenal ukurannya dari kebaikan Allah, kebaikan yang diakui oleh mereka yang pernah merasa cemas lalu dijaga.
  • Sebutan kiraam di 82:11 dipakai untuk para penjaga yang mencatat, dan 82:12 menyatakan bahwa mereka mengetahui apa yang dikerjakan manusia. Di 80:15-16 sebutan itu dipakai untuk para penulis yang memegang lembaran peringatan. Tulisan hadir di kedua tempat, yang satu berisi peringatan untuk manusia dan yang lain berisi perbuatan manusia. Allah menyebut pihak yang memegang kedua tulisan itu dengan sebutan yang sama. Apa yang kita kerjakan sesudah membaca tulisan yang pertama akan masuk ke tulisan yang kedua.
  • Sesudah 80:16, ayat berikutnya menyebut manusia yang kufur. Pembaca berpindah dari para pembawa peringatan yang mulia kepada penerima yang menolaknya, dalam jarak satu ayat. Di 17:70 Allah menyatakan telah memuliakan anak cucu Adam, sehingga kemuliaan manusia berasal dari pemberian-Nya. Rangkaian 80:16-17 memperlihatkan dua kemungkinan bagi penerima pemberian itu, hidup dengan watak yang mulia atau dengan kekufuran. Di sisi mana kita berdiri ketika peringatan itu sampai kepada kita?