Ayat 80:12
فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ
Maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُfa-man syaa'a dzakarahumaka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- ذَكَرَهُdzakarahuia mengingatnya
Inti bacaan
Kalimat fa-man syaa'a dzakarahu tercatat di 74:55 dan 80:12. Di 74:56 kalimat itu segera disusul kehendak Allah, sedangkan di surah ini kata kerja syaa'a baru muncul lagi di 80:22 untuk membangkitkan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَمَنْ, fa-man) yang berarti "maka siapa", (شَاءَ, syaa'a) yang berarti "menghendaki", dan (ذَكَرَهُ, dzakarahu) yang berarti "tentu mengingatnya". Awalan fa- menyambungkan ayat ini dengan 80:11, sehingga keterangan tentang orang yang mengingat datang sebagai kelanjutan dari pernyataan bahwa pesan itu peringatan.
Rangkaian (فَمَنْ شَاءَ, fa-man syaa'a) tercatat di enam ayat, 18:29, 73:19, 74:55, 76:29, 78:39, dan 80:12. Di 73:19 dan 76:29 rangkaian itu disusul (اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا, ttakhadza ilaa rabbihi sabiilan), "dia mengambil jalan kepada Tuhannya", dan di 78:39 disusul jalan kembali kepada Tuhannya. Di 18:29 rangkaian itu dipakai dua kali, (فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ, fa-man syaa'a fa-l-yu'min wa-man syaa'a fa-l-yakfur), "maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, biarlah dia kufur". Di keenam ayat itu kehendak manusia disebut di depan perbuatan yang dipilihnya.
Kalimat yang sama bunyinya dengan 80:12 tercatat di 74:55. Di 74:56 kalimat itu disusul (وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ, wa-maa yadzkuruuna illaa an yasyaa'a llaahu), "dan mereka tidak akan mengambil pelajaran, kecuali jika Allah menghendaki", dan di 76:30 serta 81:29 keterangan serupa menyusul kehendak manusia. Sesudah 80:12 keterangan seperti itu tidak muncul, dan 80:13 langsung melanjutkan dengan tempat peringatan itu berada. Di dalam surah ini kehendak Allah disebut sepuluh ayat kemudian, (ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, tsumma idzaa syaa'a ansyarahu), "kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya", di 80:22.
Kata (شَاءَ, syaa'a) berasal dari akar ش-ي-ا, yang tercatat di 449 ayat, dan di surah ini akar itu muncul di tiga ayat. Di 80:12 pelakunya manusia, di 80:22 pelakunya Allah, dan di 80:18 akar yang sama menjadi kata benda (شَيْءٍ, syay'in), "sesuatu", dalam pertanyaan dari apakah manusia diciptakan.
Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk kata kerja lampau dengan akhiran -hu. Di dalam kalimat bersyarat ini terjemahan memakai "tentu", karena perbuatan mengingat dinyatakan mengikuti kehendak. Akar ذ-ك-ر di surah ini muncul di 80:4, 80:11, dan 80:12. Di 80:4 bentuknya (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru), "dia mengambil pelajaran", disusul (الذِّكْرَىٰ, dz-dzikraa), "pelajaran". Ketiga ayat itu menghubungkan orang buta yang boleh jadi mengambil pelajaran dengan peringatan dan dengan siapa pun yang mau mengingatnya.
Akhiran -hu pada (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk laki-laki, sedangkan kata ganti di 80:11, -haa, berbentuk perempuan. Di 74:54-55 kedua kata ganti itu sama-sama laki-laki. Rujukan -hu di 80:12 tidak disebut dengan nama, dan terjemahan "mengingatnya" membiarkan rujukan itu terbuka, mengikuti bunyi ayatnya.
Tafsiran
Ayat ini menaruh kehendak di depan ingatan. Sesudah 80:11 menyatakan bahwa pesan itu peringatan, 80:12 menyebut orang yang mengingatnya dengan satu syarat, menghendaki. Harta, kedudukan, dan asal-usul tidak disebut sebagai syarat, dan keterangan tentang kedua orang di 80:5-9 pun tidak memuatnya.
Syarat itu menjawab teguran di awal surah. Orang yang merasa serba cukup diberi perhatian dan orang yang datang dengan bersegera diabaikan, padahal 80:12 mengukur penerima peringatan dengan kehendaknya untuk mengingat. Kedatangan orang yang bersegera di 80:8 terbaca sebagai tanda kehendak itu, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak digambarkan membawa kehendak semacam itu.
Surah 74 memuat rangkaian yang dekat dengan bagian ini. Akar ع-ب-س, "bermuka masam", tercatat di tiga ayat, 74:22, 76:10, dan 80:1, dan di 74:22 dipakai untuk orang yang menurut 74:16 menentang tanda-tanda Allah, lalu menyebut apa yang dia dengar sihir yang dipelajari di 74:24. Di 74:49 ditanyakan mengapa orang-orang berpaling dari peringatan, di 74:52 mereka masing-masing ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka, lalu 74:54-56 menutup dengan peringatan, kehendak manusia, dan kehendak Allah. Di 80:12 rangkaian itu berhenti pada kehendak manusia, dan kehendak Allah menyusul di 80:22 dalam urusan membangkitkan manusia.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut syarat bagi orang yang mengingat peringatan-Nya, dan syarat itu kehendak. Syarat itu bisa dipenuhi siapa pun, tanpa memandang pengaruh, harta, atau keadaan tubuh, dan orang buta di 80:2 memenuhinya lewat kedatangannya. Seseorang yang merasa belum layak menerima peringatan karena kekurangannya bisa menemukan bahwa ukuran yang dipakai ayat ini berada di dalam kehendaknya sendiri, dan kekurangan yang dia sesali tidak disebut sebagai penghalang.
- Rangkaian "maka siapa yang menghendaki" di 18:29 dipakai untuk iman dan kufur sekaligus. Di 80:12 rangkaian itu tidak disertai paksaan atau bujukan, dan mengingat peringatan diserahkan kepada kehendak orang yang mendengar. Keterangan ini sejalan dengan 80:7, yang melepaskan orang yang disapa dari tanggungan atas orang yang tidak menyucitumbuhkan diri. Orang yang merasa harus memaksa orang lain menerima kebenaran bisa menemukan batas tugasnya di sini, sebab Tuhan sendiri menyerahkan pilihan itu kepada kehendak manusia.
- Di surah ini dua kehendak disebut dengan kata yang sama. Mengingat peringatan disandarkan kepada kehendak manusia di 80:12, dan membangkitkan manusia disandarkan kepada kehendak Allah di 80:22. Seseorang bisa merasa kehendaknya kecil di hadapan kehendak Tuhan, lalu menunggu tanpa berbuat. Susunan surah ini memberi kehendak manusia urusannya sendiri, sehingga bagian yang diserahkan kepada kita jelas, dan bagian itu tidak bisa dialihkan kepada orang lain.
- Ayat 80:10 berakhir dengan kelalaian, dan 80:12 berakhir dengan ingatan. Kelalaian di 80:10 terjadi terhadap seorang manusia, sedangkan ingatan di 80:12 tertuju kepada peringatan. Kedua hal itu bertaut di surah ini, sebab orang yang datang itu menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran yang bermanfaat baginya. Apa yang ikut terlewat ketika kita lalai terhadap seseorang yang datang, dan apakah di antara yang terlewat itu ada kesempatan untuk mengingat Allah bersama-sama?
- Rujukan kata ganti di akhir ayat ini tidak dinamai, dan terjemahan membiarkannya terbuka, "mengingatnya". Keterbukaan itu menyisakan pertanyaan bagi pembaca tentang apa yang sebenarnya dia ingat setiap hari. Pikiran bisa penuh dengan pekerjaan, kekhawatiran, dan rencana, dan tidak semuanya buruk. Ayat ini menaruh peringatan dari Tuhan di tengah ingatan-ingatan itu, dan kehendak menentukan berapa banyak tempat yang diberikan kepadanya.
- Kehendak berada di dalam diri dan tidak bisa dilihat orang lain. Di surah ini kehendak orang yang datang terbaca dari langkahnya, sebab dia datang dengan bersegera. Allah mengetahui kehendak setiap orang, sedangkan manusia melihat tandanya saja. Tanda seperti itu mudah terlewat bila perhatian sedang tertuju ke arah lain, misalnya kepada orang yang tampak lebih penting. Orang yang terbiasa membaca tanda kehendak pada orang lain lebih mungkin menyambut kedatangan mereka, sebelum kesempatan itu lewat.
Ayat 80:13
فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ
Di dalam suhuf yang dimuliakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍfii shuhufin mukarramatindi dalam suhuf yang dimuliakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيfiidi
- صُحُفٍshuhufinlembaran
- مُكَرَّمَةٍmukarramatinyang dimuliakan
Inti bacaan
Bentuk mukarramatin muncul di 80:13 saja, dan kata shuhufin di delapan ayat. Rangkaian fii dengan kitab atau lauh dipakai pula di 56:78 dan 85:22, dua ayat yang juga didahului pujian bagi Al-Qur'an.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فِي, fii) yang berarti "di dalam", (صُحُفٍ, shuhufin) yang berarti "suhuf" atau lembaran-lembaran, dan (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) yang berarti "yang dimuliakan". Kata depan (فِي, fii) menyambungkan ayat ini dengan peringatan di 80:11, sehingga ayat ini menyebut tempat peringatan itu berada. Ayat 80:13-16 tidak memuat kata kerja, dan keempatnya terdiri dari kata benda dan kata sifat yang menerangkan lembaran-lembaran itu dan pihak yang memegangnya.
Kata (صُحُفٍ, shuhufin) berbentuk jamak dan tercatat di delapan ayat, 20:133, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 53:36 lembaran-lembaran itu milik Musa, (بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, bi-maa fii shuhufi muusaa), "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa", dan di 87:19 milik Ibrahim dan Musa. Di 20:133 dan 87:18 kata itu disifati "yang terdahulu". Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi (صُحُفًا مُنَشَّرَةً, shuhufan munasysyaratan), "lembaran-lembaran yang terbuka", dan di 81:10 lembaran-lembaran dibentangkan, di antara peristiwa-peristiwa yang disusun 81:1-14.
Kata depan fii bersama lembaran-lembaran dipakai juga di 87:18, (لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ, la-fii sh-shuhufi l-uulaa), "benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu", tentang isi yang disebut di ayat-ayat sebelumnya. Di 56:78, (فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ, fii kitaabin maknuunin), "dalam Kitab yang terpelihara", dan di 85:22, (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, fii lawhin mahfuuzhin), "dalam lauh yang terpelihara", kata depan yang sama menyebut tempat Al-Qur'an. Di kedua ayat itu Al-Qur'an disebut lebih dulu dengan sifatnya, mulia di 56:77 dan luhur di 85:21, lalu tempatnya. Susunan 80:11-13 serupa, peringatan disebut lebih dulu, lalu tempatnya.
Kata (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) berasal dari akar ك-ر-م, yang tercatat di 46 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:13 saja. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dimuliakan, dan pihak yang memuliakan tidak disebut. Bentuk yang dekat, (مُكْرَمُونَ, mukramuuna), dipakai di 21:26 untuk hamba-hamba yang dimuliakan, (بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ, bal 'ibaadun mukramuuna), dan di 37:42 serta 70:35 untuk penghuni taman di akhirat. Di 56:77 akar yang sama menyifati Al-Qur'an, (لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, la-qur'aanun kariimun), Al-Qur'an yang mulia.
Di surah ini akar ك-ر-م muncul di 80:13 dan 80:16. Di 80:16 akar itu menyifati para pemegang lembaran, (كِرَامٍ, kiraamin), "yang mulia". Lembaran-lembaran dan para pemegangnya sama-sama disifati dengan akar ini, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak.
Terjemahan ayat ini mempertahankan kata suhuf, sedangkan di ayat-ayat lain kata yang sama diterjemahkan "lembaran-lembaran", misalnya di 53:36, 74:52, 87:19, dan 98:2, atau "kitab-kitab" di 20:133. Terjemahan juga tidak menambahkan keterangan dalam kurung tentang siapa yang memuliakan, sesuai bunyi ayatnya.
Tafsiran
Ayat ini menempatkan peringatan di dalam lembaran-lembaran. Sesudah 80:11-12 menyatakan sifat pesan dan siapa yang mengingatnya, 80:13 menyebut tempatnya, dan tempat itu disifati dimuliakan. Kemuliaan di sini menyangkut lembaran-lembarannya, sedangkan isinya sudah ditunjuk di 80:11 dengan satu kata, peringatan.
Kata sifat ini berhadapan dengan teguran di awal surah. Perhatian di 80:6 diberikan kepada orang yang merasa serba cukup, dan 80:13 menaruh kemuliaan pada tempat peringatan itu berada. Orang yang datang dengan bersegera di 80:8 sedang mendekati pesan yang tempatnya dimuliakan, sehingga pengabaian terhadapnya menyentuh jalan orang itu menuju peringatan.
Pihak yang memuliakan tidak disebut, dan hal serupa berlaku bagi dua sifat di 80:14, ditinggikan dan disucikan. Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka untuk diri mereka masing-masing. Di 80:13 lembaran-lembaran itu sudah ada dan dimuliakan, dan menurut 80:12 peringatan di dalamnya terbuka bagi siapa pun yang mau mengingat. Tuntutan di 74:52 berhadapan dengan keterbukaan di 80:12-13, sebab yang satu meminta lembaran khusus bagi tiap orang, sedangkan yang lain menawarkan lembaran yang sama kepada setiap orang.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut lembaran tempat peringatan itu dengan kata dimuliakan, dan pembawa pesan baru disebut kemudian di 80:15-16. Dalam keseharian, kemuliaan sering dilekatkan pada orang yang berbicara, pada gelar, jabatan, atau penampilannya. Ayat ini mengarahkan hormat kepada tempat dan isi pesan yang dibawa, sehingga orang yang datang untuk mendengar peringatan itu, siapa pun dia, sedang mendekati sesuatu yang dimuliakan. Hormat kepada pesan dengan demikian menjadi alasan untuk menghormati orang yang datang mencarinya.
- Bentuk kata dimuliakan menyatakan kemuliaan yang diberikan, dan pemberinya tidak dinamai di sini. Seseorang bisa sibuk mencari pengakuan orang lain agar dianggap mulia, lalu merasa kehilangan ketika pengakuan itu tidak datang. Di 49:13 kemuliaan manusia diukur di sisi Allah dengan takwa, (إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ, inna akramakum 'inda llaahi atqaakum). Ukuran itu tidak bergantung pada pengakuan orang, dan siapa pun bisa menimbang dirinya dengan ukuran yang sama, tanpa menunggu penilaian dari sekitarnya.
- Lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim di 53:36 dan 87:19 disebut untuk menunjuk isi yang sudah sampai kepada manusia sejak dahulu. Tuhan menyampaikan peringatan-Nya dalam bentuk tertulis yang bisa dibaca berulang kali, dan lembaran Musa dan Ibrahim masih disebut di 53:36 dan 87:19, lama sesudah keduanya. Peringatan yang tertulis tetap bisa dibuka oleh orang yang datang kemudian. Tulisan apa yang kita baca ulang ketika perlu diingatkan, dan seberapa sering lembaran-lembaran itu dibuka?
- Keterangan tentang tempat peringatan memberi pegangan bagi pembacanya. Pesan yang dia terima berada di tempat yang dimuliakan, dan menurut 56:78 dan 85:22 tempat yang disebut untuk Al-Qur'an juga terpelihara. Keraguan tentang asal pesan dijawab dengan keterangan tentang tempatnya, sehingga pembaca bisa memusatkan perhatian pada apa yang diminta pesan itu darinya, mengingat Allah dan kembali kepada-Nya.
- Lembaran yang dimuliakan tidak disebut untuk golongan tertentu, dan 80:12 menyerahkannya kepada siapa pun yang mau mengingat. Kemuliaan pesan tidak menjauhkannya dari orang biasa. Orang yang merasa dirinya jauh dari hal-hal yang mulia, karena pendidikan, kemiskinan, atau keterbatasan tubuh, tetap berada di dalam jangkauan peringatan ini, sebagaimana orang buta di 80:2 datang mendekat dengan bersegera. Keterbatasan tubuhnya tidak disebut sebagai penghalang, dan Allah menyebut kemungkinan dia menyucitumbuhkan diri di 80:3.
- Penjelasan ayat ini mencatat bahwa akar yang berarti mulia di surah ini menyifati lembaran dan para pemegangnya, dan orang yang merasa serba cukup tidak ikut disifati dengannya. Di 89:15-17 manusia mengira kenikmatan menandakan dirinya dimuliakan Tuhan, dan anggapan itu ditolak. Ukuran kemuliaan di kedua surah itu tidak mengikuti kekayaan atau kedudukan. Siapa yang selama ini kita anggap mulia, dan dari mana ukuran itu kita ambil?