فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

Maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُfa-man syaa'a dzakarahumaka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. شَاءَsyaa'amenghendaki
  3. ذَكَرَهُdzakarahuia mengingatnya

Inti bacaan

Kalimat fa-man syaa'a dzakarahu tercatat di 74:55 dan 80:12. Di 74:56 kalimat itu segera disusul kehendak Allah, sedangkan di surah ini kata kerja syaa'a baru muncul lagi di 80:22 untuk membangkitkan manusia.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فَمَنْ, fa-man) yang berarti "maka siapa", (شَاءَ, syaa'a) yang berarti "menghendaki", dan (ذَكَرَهُ, dzakarahu) yang berarti "tentu mengingatnya". Awalan fa- menyambungkan ayat ini dengan 80:11, sehingga keterangan tentang orang yang mengingat datang sebagai kelanjutan dari pernyataan bahwa pesan itu peringatan.

Rangkaian (فَمَنْ شَاءَ, fa-man syaa'a) tercatat di enam ayat, 18:29, 73:19, 74:55, 76:29, 78:39, dan 80:12. Di 73:19 dan 76:29 rangkaian itu disusul (اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا, ttakhadza ilaa rabbihi sabiilan), "dia mengambil jalan kepada Tuhannya", dan di 78:39 disusul jalan kembali kepada Tuhannya. Di 18:29 rangkaian itu dipakai dua kali, (فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ, fa-man syaa'a fa-l-yu'min wa-man syaa'a fa-l-yakfur), "maka siapa yang menghendaki, hendaklah dia beriman, dan siapa yang menghendaki, biarlah dia kufur". Di keenam ayat itu kehendak manusia disebut di depan perbuatan yang dipilihnya.

Kalimat yang sama bunyinya dengan 80:12 tercatat di 74:55. Di 74:56 kalimat itu disusul (وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ, wa-maa yadzkuruuna illaa an yasyaa'a llaahu), "dan mereka tidak akan mengambil pelajaran, kecuali jika Allah menghendaki", dan di 76:30 serta 81:29 keterangan serupa menyusul kehendak manusia. Sesudah 80:12 keterangan seperti itu tidak muncul, dan 80:13 langsung melanjutkan dengan tempat peringatan itu berada. Di dalam surah ini kehendak Allah disebut sepuluh ayat kemudian, (ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, tsumma idzaa syaa'a ansyarahu), "kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya", di 80:22.

Kata (شَاءَ, syaa'a) berasal dari akar ش-ي-ا, yang tercatat di 449 ayat, dan di surah ini akar itu muncul di tiga ayat. Di 80:12 pelakunya manusia, di 80:22 pelakunya Allah, dan di 80:18 akar yang sama menjadi kata benda (شَيْءٍ, syay'in), "sesuatu", dalam pertanyaan dari apakah manusia diciptakan.

Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk kata kerja lampau dengan akhiran -hu. Di dalam kalimat bersyarat ini terjemahan memakai "tentu", karena perbuatan mengingat dinyatakan mengikuti kehendak. Akar ذ-ك-ر di surah ini muncul di 80:4, 80:11, dan 80:12. Di 80:4 bentuknya (يَذَّكَّرُ, yadzdzakkaru), "dia mengambil pelajaran", disusul (الذِّكْرَىٰ, dz-dzikraa), "pelajaran". Ketiga ayat itu menghubungkan orang buta yang boleh jadi mengambil pelajaran dengan peringatan dan dengan siapa pun yang mau mengingatnya.

Akhiran -hu pada (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk laki-laki, sedangkan kata ganti di 80:11, -haa, berbentuk perempuan. Di 74:54-55 kedua kata ganti itu sama-sama laki-laki. Rujukan -hu di 80:12 tidak disebut dengan nama, dan terjemahan "mengingatnya" membiarkan rujukan itu terbuka, mengikuti bunyi ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini menaruh kehendak di depan ingatan. Sesudah 80:11 menyatakan bahwa pesan itu peringatan, 80:12 menyebut orang yang mengingatnya dengan satu syarat, menghendaki. Harta, kedudukan, dan asal-usul tidak disebut sebagai syarat, dan keterangan tentang kedua orang di 80:5-9 pun tidak memuatnya.

Syarat itu menjawab teguran di awal surah. Orang yang merasa serba cukup diberi perhatian dan orang yang datang dengan bersegera diabaikan, padahal 80:12 mengukur penerima peringatan dengan kehendaknya untuk mengingat. Kedatangan orang yang bersegera di 80:8 terbaca sebagai tanda kehendak itu, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak digambarkan membawa kehendak semacam itu.

Surah 74 memuat rangkaian yang dekat dengan bagian ini. Akar ع-ب-س, "bermuka masam", tercatat di tiga ayat, 74:22, 76:10, dan 80:1, dan di 74:22 dipakai untuk orang yang menurut 74:16 menentang tanda-tanda Allah, lalu menyebut apa yang dia dengar sihir yang dipelajari di 74:24. Di 74:49 ditanyakan mengapa orang-orang berpaling dari peringatan, di 74:52 mereka masing-masing ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka, lalu 74:54-56 menutup dengan peringatan, kehendak manusia, dan kehendak Allah. Di 80:12 rangkaian itu berhenti pada kehendak manusia, dan kehendak Allah menyusul di 80:22 dalam urusan membangkitkan manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut syarat bagi orang yang mengingat peringatan-Nya, dan syarat itu kehendak. Syarat itu bisa dipenuhi siapa pun, tanpa memandang pengaruh, harta, atau keadaan tubuh, dan orang buta di 80:2 memenuhinya lewat kedatangannya. Seseorang yang merasa belum layak menerima peringatan karena kekurangannya bisa menemukan bahwa ukuran yang dipakai ayat ini berada di dalam kehendaknya sendiri, dan kekurangan yang dia sesali tidak disebut sebagai penghalang.
  • Rangkaian "maka siapa yang menghendaki" di 18:29 dipakai untuk iman dan kufur sekaligus. Di 80:12 rangkaian itu tidak disertai paksaan atau bujukan, dan mengingat peringatan diserahkan kepada kehendak orang yang mendengar. Keterangan ini sejalan dengan 80:7, yang melepaskan orang yang disapa dari tanggungan atas orang yang tidak menyucitumbuhkan diri. Orang yang merasa harus memaksa orang lain menerima kebenaran bisa menemukan batas tugasnya di sini, sebab Tuhan sendiri menyerahkan pilihan itu kepada kehendak manusia.
  • Di surah ini dua kehendak disebut dengan kata yang sama. Mengingat peringatan disandarkan kepada kehendak manusia di 80:12, dan membangkitkan manusia disandarkan kepada kehendak Allah di 80:22. Seseorang bisa merasa kehendaknya kecil di hadapan kehendak Tuhan, lalu menunggu tanpa berbuat. Susunan surah ini memberi kehendak manusia urusannya sendiri, sehingga bagian yang diserahkan kepada kita jelas, dan bagian itu tidak bisa dialihkan kepada orang lain.
  • Ayat 80:10 berakhir dengan kelalaian, dan 80:12 berakhir dengan ingatan. Kelalaian di 80:10 terjadi terhadap seorang manusia, sedangkan ingatan di 80:12 tertuju kepada peringatan. Kedua hal itu bertaut di surah ini, sebab orang yang datang itu menurut 80:4 boleh jadi mengambil pelajaran yang bermanfaat baginya. Apa yang ikut terlewat ketika kita lalai terhadap seseorang yang datang, dan apakah di antara yang terlewat itu ada kesempatan untuk mengingat Allah bersama-sama?
  • Rujukan kata ganti di akhir ayat ini tidak dinamai, dan terjemahan membiarkannya terbuka, "mengingatnya". Keterbukaan itu menyisakan pertanyaan bagi pembaca tentang apa yang sebenarnya dia ingat setiap hari. Pikiran bisa penuh dengan pekerjaan, kekhawatiran, dan rencana, dan tidak semuanya buruk. Ayat ini menaruh peringatan dari Tuhan di tengah ingatan-ingatan itu, dan kehendak menentukan berapa banyak tempat yang diberikan kepadanya.
  • Kehendak berada di dalam diri dan tidak bisa dilihat orang lain. Di surah ini kehendak orang yang datang terbaca dari langkahnya, sebab dia datang dengan bersegera. Allah mengetahui kehendak setiap orang, sedangkan manusia melihat tandanya saja. Tanda seperti itu mudah terlewat bila perhatian sedang tertuju ke arah lain, misalnya kepada orang yang tampak lebih penting. Orang yang terbiasa membaca tanda kehendak pada orang lain lebih mungkin menyambut kedatangan mereka, sebelum kesempatan itu lewat.