فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ

Maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُfa-man syaa'a dzakarahumaka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. شَاءَsyaa'amenghendaki
  3. ذَكَرَهُdzakarahuia mengingatnya

Inti bacaan

Kebebasan memilih yang tetap dihormati: 'maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya', meski koreksi telah diberikan, prinsip kehendak bebas tetap berlaku, tidak ada paksaan meski kesalahan prioritas telah dikoreksi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:55 dan 80:12. Cuma dua tempat, dan salah satunya di surah yang juga memuat kata pembuka surah ini.

Perhatikan kaitan itu. Surah 74 memuat sebutan bermuka masam di 74:22, memuat lembaran di 74:52, dan memuat (ذَكَرَهُ, dzakarahu) di 74:55. Tiga kaitan dengan surah ini, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu pun di antaranya.

Di 74:55 kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) juga didahului kalimat tentang siapa yang mau. Jadi dua tempat itu memakai susunan yang hampir sama untuk menyatakan hal yang sama: peringatan terbuka bagi siapa saja yang mau.

Kata (فَمَنْ, fa-man) tersusun dari huruf penyambung dan kata sambung. Penyambung itu mengikat ayat ini kepada sifat wahyu di 80:11. Keterbukaannya bukan pernyataan baru, melainkan akibat dari sifat yang baru disebut.

Susunan itu menutup kemungkinan membaca dua ayat ini secara terpisah. Karena wahyu itu peringatan, maka siapa pun yang mau bisa mengingatnya. Sebab dan akibatnya dirangkai dengan satu huruf.

Kata (شَاءَ, syaa-a) menaruh kehendak sebagai satu-satunya syarat. Tidak ada syarat kedudukan, tidak ada syarat kekayaan, tidak ada syarat penglihatan. Yang diminta cuma kemauan.

Bandingkan syarat itu dengan sepuluh ayat sebelumnya. Di sana seseorang dipilih berdasarkan sesuatu yang bukan kemauannya. Di sini satu-satunya ukuran justru kemauannya sendiri.

Pertentangan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang menyatakannya cuma letak kedua bagian itu berdekatan, dipisahkan satu ayat saja.

Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) berbentuk lampau, sama seperti kata kerja sebelumnya di ayat ini. Dua kata kerja itu sejajar waktunya, sehingga kemauan dan pengingatan dilukiskan sebagai satu gerak, bukan dua tahap.

Kata (ذَكَرَهُ, dzakarahu) memakai kata ganti objek yang menunjuk peringatan di 80:11. Jadi tiga ayat, yaitu 80:11 sampai 80:13, terikat kepada satu benda yang disebut sekali.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut ganjaran maupun ancaman. Tidak ada janji bagi yang mengingat, tidak ada peringatan bagi yang tidak. Yang disebut cuma bahwa pintunya terbuka.

Susunan tanpa janji dan tanpa ancaman itu membuat pilihannya berdiri sendiri. Yang memilih tidak sedang ditawar; ia sedang diberi tahu bahwa jalannya ada, dan bahwa masuknya bergantung padanya.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menutup dua ayat yang membalik seluruh pokok surahnya. Sepuluh ayat pertama tentang siapa yang dipilih; dua ayat ini tentang siapa yang boleh datang.

Pergeseran itu memindahkan letak keputusannya. Di bagian pertama keputusan ada pada yang menyampaikan; di sini ia ada pada yang menerima. Yang berpindah bukan isinya, melainkan tangannya.

Perpindahan itu juga menjelaskan mengapa teguran di bagian pertama tidak disusul perintah. Kalau pintunya memang terbuka bagi siapa saja, maka menutupnya bagi seseorang adalah kekeliruan yang tidak perlu diperintahkan untuk dihindari.

Tafsiran

Ayat ini membuka pintu bagi siapa saja yang mau mengingat peringatan tersebut. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:55 dan 80:12.

Di 74:55 kata itu juga didahului kalimat tentang siapa yang mau, sehingga dua tempat itu memakai susunan yang hampir sama untuk menyatakan hal yang sama. Surah 74 juga memuat kata bermuka masam di 74:22 dan lembaran di 74:52, sehingga ada tiga kaitan dengan surah ini yang tidak disebut Al-Qur'an satu pun.

Kata pertamanya tersusun dari huruf penyambung dan kata sambung, dan penyambung itu mengikat ayat ini kepada sifat wahyu di 80:11. Keterbukaannya bukan pernyataan baru, melainkan akibat dari sifat yang baru disebut.

Kata keduanya menaruh kehendak sebagai satu-satunya syarat. Tidak ada syarat kedudukan, kekayaan, maupun penglihatan; yang diminta cuma kemauan. Bandingkan dengan sepuluh ayat sebelumnya, tempat seseorang dipilih berdasarkan sesuatu yang bukan kemauannya.

Ayat ini juga tidak menyebut ganjaran maupun ancaman. Yang disebut cuma bahwa pintunya terbuka. Ayat ini menutup dua ayat yang membalik pokok surahnya: sepuluh ayat pertama tentang siapa yang dipilih, dan dua ayat ini tentang siapa yang boleh datang. Letak keputusannya berpindah dari tangan yang menyampaikan ke tangan yang menerima.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 74:55 dan 80:12. Di 74:55 Allah juga mendahuluinya dengan kalimat tentang siapa yang mau, sehingga dua tempat itu memakai susunan yang hampir sama untuk menyatakan hal yang sama. Surah 74 juga memuat kata bermuka masam di 74:22 dan lembaran di 74:52. Tiga kaitan dengan surah ini, dan tidak satu pun disebutkan Al-Qur'an. Tidak satu ayat pun menyuruh mencari hubungan itu, dan yang menemukannya cuma pembaca yang teliti.
  • Kata pertamanya tersusun dari huruf penyambung dan kata sambung, dan penyambung itu mengikat ayat ini kepada sifat wahyu di 80:11. Jadi keterbukaannya bukan pernyataan baru dari Allah, melainkan akibat dari sifat yang baru disebut. Karena wahyu itu peringatan, maka siapa pun yang mau bisa mengingatnya. Sebab dan akibatnya dirangkai cuma dengan satu huruf. Keterbukaan itu bukan tambahan, melainkan akibat yang sudah terkandung di dalam sifat yang baru disebut.
  • Kata keduanya menaruh kehendak sebagai satu-satunya syarat. Allah tidak menyebut syarat kedudukan, tidak menyebut syarat kekayaan, dan tidak menyebut syarat penglihatan. Bandingkan dengan sepuluh ayat sebelumnya, tempat seseorang dipilih berdasarkan sesuatu yang sama sekali bukan kemauannya. Pertentangan itu tidak dinyatakan dengan satu kalimat pun, dan yang menyatakannya cuma letak kedua bagian yang berdekatan. Satu-satunya syarat yang diminta justru satu-satunya hal yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.
  • Kata terakhirnya berbentuk lampau, sama seperti kata kerja sebelumnya di ayat ini, sehingga keduanya sejajar waktunya. Kemauan dan pengingatan dilukiskan Allah sebagai satu gerak, bukan sebagai dua tahap yang terpisah. Jadi tidak ada jeda yang tersedia antara mau dan mengingat, dan tidak ada ruang untuk berkata bahwa kemauannya sudah ada tetapi langkahnya belum. Kemauan dan langkah dilukiskan sebagai satu gerak, sehingga tidak tersedia jeda untuk menunda di antara keduanya.
  • Kata terakhirnya memakai kata ganti objek yang menunjuk peringatan di 80:11, sehingga tiga ayat, yaitu 80:11 sampai 80:13, terikat kepada satu benda yang disebut Allah sekali saja. Pembacanya harus membawa sebutan itu dari satu ayat ke ayat berikutnya. Rangkaian yang diikat dengan kata ganti memaksa ayatnya dibaca berurutan, bukan dipetik satu-satu. Rangkaian yang diikat kata ganti menolak dibaca sepotong-sepotong, dan pembacanya harus membawa satu sebutan melewati tiga ayat.
  • Ayat ini tidak menyebut ganjaran maupun ancaman. Tidak ada janji dari Allah bagi yang mengingat, dan tidak ada peringatan bagi yang tidak. Yang disebut cuma bahwa pintunya terbuka. Apa yang berubah pada sebuah pilihan ketika ia disodorkan tanpa iming-iming dan tanpa ancaman, sehingga yang memilih tidak sedang ditawar melainkan cuma diberi tahu bahwa jalannya ada? Pilihan yang disodorkan tanpa iming-iming meninggalkan orangnya berhadapan dengan dirinya sendiri, bukan dengan tawaran.