فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ

Di dalam suhuf yang dimuliakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍfii shuhufin mukarramatindi dalam suhuf yang dimuliakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيfiidi
  2. صُحُفٍshuhufinlembaran
  3. مُكَرَّمَةٍmukarramatinyang dimuliakan

Inti bacaan

Status luhur dari sumber wahyu: 'di dalam suhuf yang dimuliakan', penegasan bahwa pesan ini berasal dari sumber yang sangat dihormati, kontras dengan perlakuan yang mungkin tidak konsisten oleh penerimanya di dunia.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(di sisi Allah)' tidak dipakai.

Kata (صُحُفٍ, shuhuf) sebagai kata muncul 5 kali: 53:36, 74:52, 80:13, 87:19, dan 98:2. Bentuk persis yang di ayat ini cuma satu, sedangkan empat sisanya kata yang sama dengan akhiran berbeda.

Di 53:36 dan 87:19 kata (صُحُفٍ, shuhuf) dipakai untuk lembaran Musa dan Ibrahim. Di 98:2 ia dipakai untuk lembaran yang disucikan yang dibacakan seorang utusan. Di 74:52 ia dipakai untuk lembaran yang dituntut orang-orang yang menolak.

Empat tempat itu menaruh lembaran sebagai sesuatu yang diberikan atau dituntut. Di sini ia disebut sebagai tempat peringatan itu berada, tanpa satu pun disebut menerimanya.

Akar (صُحُفٍ, shuhuf) dipakai di 9 ayat saja di seluruh Al-Qur'an. Jadi kata untuk lembaran ini jarang, dan hampir setiap pemakaiannya berhubungan dengan wahyu yang tertulis.

Kata (صُحُفٍ, shuhuf) berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak lembaran, bukan satu. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, tanpa satu kata bilangan pun.

Kata (مُكَرَّمَةٍ, mukarramah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15.

Bentuk (مُكَرَّمَةٍ, mukarramah) menyatakan sesuatu yang dimuliakan oleh pihak lain, bukan yang memuliakan dirinya. Siapa yang memuliakannya tidak disebut di ayat ini.

Ketiadaan penyebutan itu berulang di seluruh rangkaiannya. Empat sifat diberikan kepada lembaran itu di 80:13 dan 80:14, dan tidak satu pun menyebut siapa pelakunya.

Kata (فِي, fii) menyatakan tempat berada. Jadi peringatan di 80:11 dinyatakan berada di dalam lembaran, bukan sama dengan lembarannya. Yang tertulis dan tulisannya dibedakan.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Kalau peringatan itu sama dengan lembarannya, ia terikat pada bendanya. Karena ia berada di dalamnya, ia bisa berpindah tanpa kehilangan dirinya.

Ayat ini membuka empat ayat, yaitu 80:13 sampai 80:16, yang seluruhnya melukiskan tempat wahyu itu berada. Empat ayat dipakai untuk satu benda, dan tidak satu kata kerja pun muncul di antaranya.

Perbandingannya dengan sepuluh ayat pertama menarik. Bagian yang menegur manusia dipenuhi kata kerja; bagian yang melukiskan wahyu tidak memakai satu pun.

Perhatikan pula bahwa rangkaian ini tidak menyebut satu nama pun, tidak nama penulisnya dan tidak nama pemiliknya. Yang disebut cuma sifat dan kedudukan.

Cara itu sejalan dengan seluruh surahnya. Orang yang ditegur tidak dinamai, orang yang datang tidak dinamai, dan sekarang pemilik lembaran itu pun tidak dinamai.

Ketiadaan nama di seluruh bagiannya membuat surah ini terbaca sebagai timbangan, bukan sebagai laporan. Sebuah laporan butuh nama supaya bisa diperiksa; sebuah timbangan justru kehilangan dayanya kalau diikat pada nama.

Tafsiran

Ayat ini melukiskan tempat peringatan itu berada: lembaran-lembaran yang dimuliakan. Kata keduanya sebagai kata muncul 5 kali: 53:36, 74:52, 80:13, 87:19, dan 98:2.

Di 53:36 dan 87:19 kata itu dipakai untuk lembaran Musa dan Ibrahim, di 98:2 untuk lembaran yang disucikan yang dibacakan seorang utusan, dan di 74:52 untuk lembaran yang dituntut orang-orang yang menolak. Empat tempat itu menaruh lembaran sebagai sesuatu yang diberikan atau dituntut, sedangkan di sini ia disebut sebagai tempat peringatan itu berada.

Akarnya dipakai di 9 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, sehingga kata untuk lembaran ini jarang. Bentuknya juga jamak, sehingga yang disebut banyak lembaran tanpa satu kata bilangan pun.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dimuliakan oleh pihak lain, dan siapa yang memuliakannya tidak disebut.

Kata pertamanya menyatakan tempat berada, sehingga peringatan di 80:11 dinyatakan berada di dalam lembaran, bukan sama dengan lembarannya. Rangkaian ini juga tidak menyebut satu nama pun, tidak nama penulisnya dan tidak nama pemiliknya, sejalan dengan seluruh surahnya yang tidak menamai siapa pun. Ketiadaan nama itu membuat surah ini terbaca sebagai timbangan, bukan sebagai laporan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya sebagai kata muncul 5 kali: 53:36, 74:52, 80:13, 87:19, dan 98:2. Di 53:36 dan 87:19 Allah memakainya untuk lembaran Musa dan Ibrahim, di 98:2 untuk lembaran yang disucikan, dan di 74:52 untuk lembaran yang dituntut orang-orang yang menolak. Empat tempat itu menaruh lembaran sebagai sesuatu yang diberikan atau dituntut, sedangkan di sini ia cuma disebut sebagai tempat peringatan itu berada. Menuntut bukti dan menerima wadahnya adalah dua sikap yang berbeda jauh terhadap satu benda.
  • Akar kata keduanya dipakai di 9 ayat saja di seluruh Al-Qur'an, sehingga sebutan untuk lembaran ini jarang, dan hampir setiap pemakaiannya berhubungan dengan wahyu yang tertulis. Allah tidak memakai kata umum untuk benda tulis, melainkan kata yang hampir selalu terikat pada wahyu. Pilihan sesempit itu membuat sebutannya sendiri sudah membawa keterangan. Sebuah sebutan yang hampir selalu terikat pada wahyu sudah membawa keterangannya sendiri sebelum sifatnya ditambahkan.
  • Kata keduanya berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak lembaran dan bukan satu. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan Allah tidak memakai satu kata bilangan pun. Jadi keterangan tentang jumlah masuk lewat bentuk, bukan lewat angka, dan pembacanya menerimanya tanpa merasa sedang diberi tahu. Sebuah angka akan membuat pembacanya menghitung; sebuah bentuk cuma membuatnya membayangkan.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dimuliakan oleh pihak lain, bukan yang memuliakan dirinya, dan siapa yang memuliakannya tidak disebut Allah di ayat ini. Ketiadaan penyebutan itu berulang pada keempat sifat di 80:13 dan 80:14. Empat sifat diberikan dan tidak satu pun menyebut pelakunya, sehingga seluruh kehormatannya datang dari arah yang tidak dinamai.
  • Kata pertamanya menyatakan tempat berada, sehingga peringatan di 80:11 dinyatakan Allah berada di dalam lembaran, bukan sama dengan lembarannya. Yang tertulis dan tulisannya dibedakan. Kalau peringatan itu sama dengan lembarannya, ia akan terikat pada bendanya; karena ia berada di dalamnya, ia bisa berpindah tanpa kehilangan dirinya. Yang tertulis dibedakan dari tulisannya, dan pembedaan itu membuat isinya tidak terikat pada bendanya, sehingga ia bisa berpindah tempat tanpa berkurang sedikit pun.
  • Ayat ini membuka empat ayat, yaitu 80:13 sampai 80:16, yang seluruhnya melukiskan tempat wahyu itu berada. Empat ayat dipakai Allah untuk satu benda, dan tidak satu kata kerja pun muncul di antaranya. Bandingkan dengan sepuluh ayat pertama yang dipenuhi kata kerja. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika perbuatan manusia diceritakan dengan gerak, dan wahyu dilukiskan tanpa gerak sama sekali? Bagian yang bergerak dan bagian yang diam ditaruh bersebelahan, dan pembacanya merasakan perbedaannya sebelum sempat menamainya dengan istilah apa pun.