فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ

Di dalam suhuf yang dimuliakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍfii shuhufin mukarramatindi dalam suhuf yang dimuliakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيfiidi
  2. صُحُفٍshuhufinlembaran
  3. مُكَرَّمَةٍmukarramatinyang dimuliakan

Inti bacaan

Bentuk mukarramatin muncul di 80:13 saja, dan kata shuhufin di delapan ayat. Rangkaian fii dengan kitab atau lauh dipakai pula di 56:78 dan 85:22, dua ayat yang juga didahului pujian bagi Al-Qur'an.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari tiga kata, (فِي, fii) yang berarti "di dalam", (صُحُفٍ, shuhufin) yang berarti "suhuf" atau lembaran-lembaran, dan (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) yang berarti "yang dimuliakan". Kata depan (فِي, fii) menyambungkan ayat ini dengan peringatan di 80:11, sehingga ayat ini menyebut tempat peringatan itu berada. Ayat 80:13-16 tidak memuat kata kerja, dan keempatnya terdiri dari kata benda dan kata sifat yang menerangkan lembaran-lembaran itu dan pihak yang memegangnya.

Kata (صُحُفٍ, shuhufin) berbentuk jamak dan tercatat di delapan ayat, 20:133, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 53:36 lembaran-lembaran itu milik Musa, (بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ, bi-maa fii shuhufi muusaa), "apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa", dan di 87:19 milik Ibrahim dan Musa. Di 20:133 dan 87:18 kata itu disifati "yang terdahulu". Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi (صُحُفًا مُنَشَّرَةً, shuhufan munasysyaratan), "lembaran-lembaran yang terbuka", dan di 81:10 lembaran-lembaran dibentangkan, di antara peristiwa-peristiwa yang disusun 81:1-14.

Kata depan fii bersama lembaran-lembaran dipakai juga di 87:18, (لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ, la-fii sh-shuhufi l-uulaa), "benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu", tentang isi yang disebut di ayat-ayat sebelumnya. Di 56:78, (فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ, fii kitaabin maknuunin), "dalam Kitab yang terpelihara", dan di 85:22, (فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, fii lawhin mahfuuzhin), "dalam lauh yang terpelihara", kata depan yang sama menyebut tempat Al-Qur'an. Di kedua ayat itu Al-Qur'an disebut lebih dulu dengan sifatnya, mulia di 56:77 dan luhur di 85:21, lalu tempatnya. Susunan 80:11-13 serupa, peringatan disebut lebih dulu, lalu tempatnya.

Kata (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin) berasal dari akar ك-ر-م, yang tercatat di 46 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:13 saja. Bentuknya menyatakan sesuatu yang dimuliakan, dan pihak yang memuliakan tidak disebut. Bentuk yang dekat, (مُكْرَمُونَ, mukramuuna), dipakai di 21:26 untuk hamba-hamba yang dimuliakan, (بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ, bal 'ibaadun mukramuuna), dan di 37:42 serta 70:35 untuk penghuni taman di akhirat. Di 56:77 akar yang sama menyifati Al-Qur'an, (لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, la-qur'aanun kariimun), Al-Qur'an yang mulia.

Di surah ini akar ك-ر-م muncul di 80:13 dan 80:16. Di 80:16 akar itu menyifati para pemegang lembaran, (كِرَامٍ, kiraamin), "yang mulia". Lembaran-lembaran dan para pemegangnya sama-sama disifati dengan akar ini, sedangkan orang yang merasa serba cukup di 80:5 tidak.

Terjemahan ayat ini mempertahankan kata suhuf, sedangkan di ayat-ayat lain kata yang sama diterjemahkan "lembaran-lembaran", misalnya di 53:36, 74:52, 87:19, dan 98:2, atau "kitab-kitab" di 20:133. Terjemahan juga tidak menambahkan keterangan dalam kurung tentang siapa yang memuliakan, sesuai bunyi ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan peringatan di dalam lembaran-lembaran. Sesudah 80:11-12 menyatakan sifat pesan dan siapa yang mengingatnya, 80:13 menyebut tempatnya, dan tempat itu disifati dimuliakan. Kemuliaan di sini menyangkut lembaran-lembarannya, sedangkan isinya sudah ditunjuk di 80:11 dengan satu kata, peringatan.

Kata sifat ini berhadapan dengan teguran di awal surah. Perhatian di 80:6 diberikan kepada orang yang merasa serba cukup, dan 80:13 menaruh kemuliaan pada tempat peringatan itu berada. Orang yang datang dengan bersegera di 80:8 sedang mendekati pesan yang tempatnya dimuliakan, sehingga pengabaian terhadapnya menyentuh jalan orang itu menuju peringatan.

Pihak yang memuliakan tidak disebut, dan hal serupa berlaku bagi dua sifat di 80:14, ditinggikan dan disucikan. Di 74:52 orang-orang yang berpaling dari peringatan ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka untuk diri mereka masing-masing. Di 80:13 lembaran-lembaran itu sudah ada dan dimuliakan, dan menurut 80:12 peringatan di dalamnya terbuka bagi siapa pun yang mau mengingat. Tuntutan di 74:52 berhadapan dengan keterbukaan di 80:12-13, sebab yang satu meminta lembaran khusus bagi tiap orang, sedangkan yang lain menawarkan lembaran yang sama kepada setiap orang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut lembaran tempat peringatan itu dengan kata dimuliakan, dan pembawa pesan baru disebut kemudian di 80:15-16. Dalam keseharian, kemuliaan sering dilekatkan pada orang yang berbicara, pada gelar, jabatan, atau penampilannya. Ayat ini mengarahkan hormat kepada tempat dan isi pesan yang dibawa, sehingga orang yang datang untuk mendengar peringatan itu, siapa pun dia, sedang mendekati sesuatu yang dimuliakan. Hormat kepada pesan dengan demikian menjadi alasan untuk menghormati orang yang datang mencarinya.
  • Bentuk kata dimuliakan menyatakan kemuliaan yang diberikan, dan pemberinya tidak dinamai di sini. Seseorang bisa sibuk mencari pengakuan orang lain agar dianggap mulia, lalu merasa kehilangan ketika pengakuan itu tidak datang. Di 49:13 kemuliaan manusia diukur di sisi Allah dengan takwa, (إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ, inna akramakum 'inda llaahi atqaakum). Ukuran itu tidak bergantung pada pengakuan orang, dan siapa pun bisa menimbang dirinya dengan ukuran yang sama, tanpa menunggu penilaian dari sekitarnya.
  • Lembaran-lembaran Musa dan Ibrahim di 53:36 dan 87:19 disebut untuk menunjuk isi yang sudah sampai kepada manusia sejak dahulu. Tuhan menyampaikan peringatan-Nya dalam bentuk tertulis yang bisa dibaca berulang kali, dan lembaran Musa dan Ibrahim masih disebut di 53:36 dan 87:19, lama sesudah keduanya. Peringatan yang tertulis tetap bisa dibuka oleh orang yang datang kemudian. Tulisan apa yang kita baca ulang ketika perlu diingatkan, dan seberapa sering lembaran-lembaran itu dibuka?
  • Keterangan tentang tempat peringatan memberi pegangan bagi pembacanya. Pesan yang dia terima berada di tempat yang dimuliakan, dan menurut 56:78 dan 85:22 tempat yang disebut untuk Al-Qur'an juga terpelihara. Keraguan tentang asal pesan dijawab dengan keterangan tentang tempatnya, sehingga pembaca bisa memusatkan perhatian pada apa yang diminta pesan itu darinya, mengingat Allah dan kembali kepada-Nya.
  • Lembaran yang dimuliakan tidak disebut untuk golongan tertentu, dan 80:12 menyerahkannya kepada siapa pun yang mau mengingat. Kemuliaan pesan tidak menjauhkannya dari orang biasa. Orang yang merasa dirinya jauh dari hal-hal yang mulia, karena pendidikan, kemiskinan, atau keterbatasan tubuh, tetap berada di dalam jangkauan peringatan ini, sebagaimana orang buta di 80:2 datang mendekat dengan bersegera. Keterbatasan tubuhnya tidak disebut sebagai penghalang, dan Allah menyebut kemungkinan dia menyucitumbuhkan diri di 80:3.
  • Penjelasan ayat ini mencatat bahwa akar yang berarti mulia di surah ini menyifati lembaran dan para pemegangnya, dan orang yang merasa serba cukup tidak ikut disifati dengannya. Di 89:15-17 manusia mengira kenikmatan menandakan dirinya dimuliakan Tuhan, dan anggapan itu ditolak. Ukuran kemuliaan di kedua surah itu tidak mengikuti kekayaan atau kedudukan. Siapa yang selama ini kita anggap mulia, dan dari mana ukuran itu kita ambil?