مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ
Yang ditinggikan lagi disucikan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍmarfuu'atin muthahharatinyang ditinggikan lagi disucikan
Terjemahan per kata (2 kata)
- مَرْفُوعَةٍmarfuu'atinyang ditinggikan
- مُطَهَّرَةٍmuthahharatinlagi disucikan
Inti bacaan
Kualitas ganda kesucian teks: 'yang ditinggikan lagi disucikan', atribut kemurnian dan keluhuran yang melekat pada wahyu itu sendiri, terlepas dari bagaimana ia diperlakukan oleh manusia.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'ah) dipakai juga di 56:34 dan 88:13, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 56:34 ia menyifati tempat duduk di dalam surga yang ditinggikan.
Jadi (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'ah) dipakai untuk dua hal yang berjauhan: lembaran wahyu dan tempat duduk penghuni surga. Yang menyatukan keduanya cuma sifat ditinggikan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua tempat itu.
Akar (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'ah) dipakai di 29 ayat, antara lain 2:63, 4:158, 12:100, 19:57, dan 94:4. Di 94:4 akar yang sama dipakai untuk sebutan yang ditinggikan bagi orang yang disapa.
Kata (مُطَهَّرَةٍ, muthahharah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:222, 5:6, 9:108, 33:33, dan 56:79.
Di 56:79 akar (مُطَهَّرَةٍ, muthahharah) dipakai untuk syarat menyentuh kitab yang terpelihara: tidak menyentuhnya kecuali yang disucikan. Jadi sifat suci di sana dikenakan kepada yang menyentuh, dan di sini kepada yang disentuh.
Bentuk (مُطَهَّرَةٍ, muthahharah) menyatakan sesuatu yang disucikan oleh pihak lain, bukan yang suci dengan sendirinya. Sama seperti sifat di 80:13, pelakunya tidak disebut.
Empat sifat diberikan kepada lembaran itu di dua ayat: dimuliakan, ditinggikan, disucikan, dan berada di tangan para penulis di 80:15. Tiga yang pertama sama-sama menyatakan perbuatan pihak lain atasnya.
Perhatikan bahwa keempat sifat itu tidak menyebut isi lembarannya. Tidak ada satu kata pun tentang apa yang tertulis di sana. Yang dilukiskan cuma kedudukannya, bukan kandungannya.
Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca sebagai keterangan. Sebuah lembaran biasanya diperkenalkan lewat isinya. Di sini isinya sudah disebut di 80:11, dan yang ditambahkan cuma kedudukannya.
Kata (مَرْفُوعَةٍ, marfuu'ah) dan (مُطَهَّرَةٍ, muthahharah) sama-sama berbaris akhir yang sama, mengikuti kata yang disifatinya di 80:13. Tiga sifat itu terikat kepada satu kata di ayat sebelumnya.
Rangkaian (مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ, marfuu'ah muthahharah) juga tidak memuat satu kata kerja pun, sama seperti tiga ayat lain di rangkaiannya. Empat ayat berturut-turut berjalan tanpa gerak sama sekali.
Ketiadaan gerak itu melukiskan sesuatu yang tetap. Perbuatan manusia berubah dari ayat ke ayat di bagian pertama surah ini; kedudukan wahyu tidak berubah sama sekali di bagian ini.
Perhatikan pula bahwa dua ayat ini melukiskan lembaran dengan cara yang biasanya dipakai untuk melukiskan orang. Dimuliakan, ditinggikan, disucikan: ketiganya sifat kehormatan.
Pemakaian sifat kehormatan bagi benda itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma akibatnya: kehormatan wahyu tidak bergantung pada kehormatan orang yang menerimanya.
Kalau itu dibaca berdampingan dengan sepuluh ayat pertama, susunannya terhubung. Di sana seseorang dinilai dari kedudukannya; di sini yang berkedudukan tinggi justru lembaran yang isinya terbuka bagi siapa saja.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dua sifat lagi bagi lembaran tersebut: ditinggikan dan disucikan. Kata pertamanya dipakai juga di 56:34 dan 88:13, dan di 56:34 ia menyifati tempat duduk di dalam surga yang ditinggikan.
Jadi satu kata dipakai untuk dua hal yang berjauhan: lembaran wahyu dan tempat duduk penghuni surga. Akarnya dipakai di 29 ayat, antara lain 2:63, 4:158, 12:100, 19:57, dan 94:4.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:222, 5:6, 9:108, 33:33, dan 56:79. Di 56:79 akar itu dipakai untuk syarat menyentuh kitab yang terpelihara, sehingga sifat suci di sana dikenakan kepada yang menyentuh dan di sini kepada yang disentuh.
Bentuk kata keduanya menyatakan sesuatu yang disucikan oleh pihak lain, bukan yang suci dengan sendirinya, dan pelakunya tidak disebut.
Empat sifat diberikan kepada lembaran itu tanpa menyebut isinya sama sekali. Ayat ini juga tidak memuat satu kata kerja pun, sama seperti tiga ayat lain di rangkaiannya. Dua ayat ini melukiskan lembaran dengan sifat yang biasanya dipakai untuk melukiskan orang: dimuliakan, ditinggikan, disucikan. Akibatnya bisa dibaca berdampingan dengan sepuluh ayat pertama: kehormatan wahyu tidak bergantung pada kehormatan orang yang menerimanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai juga di 56:34 dan 88:13, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 56:34 Allah memakainya untuk tempat duduk di dalam surga yang ditinggikan. Jadi satu kata dipakai untuk dua hal yang berjauhan: lembaran wahyu dan tempat duduk penghuni surga. Yang menyatukan keduanya cuma sifat ditinggikan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua tempat itu dengan satu kalimat pun. Satu sifat yang menghubungkan lembaran wahyu dengan tempat duduk di surga dibiarkan berdiri tanpa penjelasan.
- Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 26 ayat, antara lain 2:222, 5:6, 9:108, 33:33, dan 56:79. Di 56:79 akar itu dipakai untuk syarat menyentuh kitab yang terpelihara, sehingga sifat suci di sana dikenakan kepada yang menyentuh. Di sini ia dikenakan kepada yang disentuh, dan arahnya berbalik tanpa satu kata penanda pun. Sifat suci berpindah dari yang menyentuh ke yang disentuh, dan perpindahan itu berjalan tanpa satu penanda pun.
- Bentuk kata keduanya menyatakan sesuatu yang disucikan oleh pihak lain, bukan yang suci dengan sendirinya, dan sama seperti sifat di 80:13 pelakunya tidak disebut Allah. Tiga sifat berturut-turut sama-sama menyatakan perbuatan pihak lain atas lembaran itu, dan ketiganya membiarkan pelakunya kosong. Yang dilukiskan bukan apa yang dikerjakan lembaran itu, melainkan apa yang dikerjakan atasnya. Kehormatan yang seluruhnya datang dari luar tidak bisa hilang karena kelalaian pemegangnya.
- Empat sifat diberikan kepada lembaran itu di dua ayat, dan tidak satu pun menyebut apa yang tertulis di sana. Yang dilukiskan Allah cuma kedudukannya, bukan kandungannya. Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca sebagai keterangan, karena sebuah lembaran biasanya diperkenalkan lewat isinya. Isinya memang sudah disebut di 80:11, dan yang ditambahkan di sini cuma kedudukannya. Sebuah benda tulis biasanya diperkenalkan lewat isinya, dan di sini justru kedudukannya yang diperinci.
- Kata pertama dan kata keduanya sama-sama berbaris akhir yang sama, mengikuti kata yang disifatinya di 80:13. Tiga sifat itu terikat kepada satu kata di ayat sebelumnya, dan Allah tidak mengulang penyebutan bendanya. Pembacanya harus membawa satu kata dari ayat sebelumnya melewati dua ayat berikutnya, dan ikatan itu cuma ditandai oleh kesamaan bunyi akhir. Bunyi akhir yang seragam bekerja seperti benang yang tidak terlihat di antara tiga ayat.
- Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun, sama seperti tiga ayat lain di rangkaiannya, sehingga empat ayat berturut-turut berjalan tanpa gerak sama sekali. Perbuatan manusia berubah dari ayat ke ayat di bagian pertama surah ini, sedangkan kedudukan wahyu tidak berubah sedikit pun di bagian ini. Apa yang dinyatakan Allah dengan menaruh yang berubah-ubah dan yang tidak berubah bersebelahan seperti itu? Yang berubah-ubah dan yang tidak berubah ditaruh bersebelahan, dan susunannya membiarkan pembacanya menimbang sendiri.