بِأَيْدِي سَفَرَةٍ

Di tangan para penulis,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. بِأَيْدِي سَفَرَةٍbi-aydii safaratindi tangan para penulis

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. بِأَيْدِيbi-aydiidi tangan
  2. سَفَرَةٍsafaratinpara penulis

Inti bacaan

Perantara yang terpercaya: 'di tangan para penulis', pengakuan proses transmisi yang melibatkan pencatat yang dapat diandalkan, sistem penyampaian yang terstruktur.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِأَيْدِي, bi-aidii) muncul 7 kali, tetapi cuma di 5 surah: 2:79, 2:195, 6:7, 9:14, 9:52, 59:2, dan 80:15. Dua angka itu berbeda karena surah 2 dan surah 9 masing-masing memakainya dua kali.

Di 2:79 kata (بِأَيْدِي, bi-aidii) dipakai untuk orang yang menulis kitab dengan tangan mereka lalu mengatakan itu dari Allah. Jadi di sana tangan yang menulis justru tangan yang memalsukan.

Bandingkan dengan ayat ini. Di sini tangan yang memegang lembaran adalah tangan yang dimuliakan. Dua tempat memakai kata yang sama untuk dua tangan yang berlawanan sifatnya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Di 6:7 kata (بِأَيْدِي, bi-aidii) dipakai untuk orang yang menyentuh kitab dengan tangan mereka dan tetap menolak. Jadi tiga tempat memakai satu kata untuk tiga hubungan yang berbeda antara tangan manusia dan kitab: memalsukan, menyentuh tanpa percaya, dan membawa dengan mulia.

Kata (سَفَرَةٍ, safarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 12 ayat saja, antara lain 2:184, 4:43, 12:10, dan 62:5.

Di 62:5 akar (سَفَرَةٍ, safarah) dipakai untuk keledai yang memikul kitab tanpa memahaminya. Di sini akar yang sama dipakai untuk pihak yang memegang lembaran dengan mulia. Satu akar, dua cara memikul kitab.

Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang menghubungkan keduanya cuma akarnya, dan akar itu cuma hidup di dua belas ayat.

Kata (سَفَرَةٍ, safarah) berbentuk jamak, sama seperti kata sebelumnya di ayat ini. Dua kata yang berdampingan itu sejajar bentuknya, sehingga banyak tangan dan banyak pemegang disebut bersama.

Kata (بِأَيْدِي, bi-aidii) berasal dari akar yang dipakai di 110 ayat, antara lain 3:73, 5:64, 36:71, 48:10, dan 111:1. Jadi tangan salah satu kata yang sering muncul, dan hampir selalu ia melambangkan kuasa atau perbuatan.

Ayat ini menyebut siapa yang memegang lembaran itu, tetapi tidak menyebut siapa mereka. Nama mereka tidak diberikan, jenis mereka tidak diterangkan, dan jumlah pastinya tidak disebut.

Perhatikan bahwa (بِأَيْدِي سَفَرَةٍ, bi-aidii safarah) melanjutkan rangkaian tanpa kata kerja yang dimulai di 80:13. Tiga ayat berturut-turut melukiskan satu benda dan lingkungannya tanpa satu gerak pun.

Susunan tanpa gerak itu membuat lukisannya terasa tetap. Yang dilukiskan bukan peristiwa yang sedang terjadi, melainkan keadaan yang memang begitu adanya.

Perhatikan pula bahwa lembaran itu tidak dilukiskan berdiri sendiri. Ia disebut berada di dalam pegangan, dan pegangan itu disebut mulia. Penjagaannya masuk ke dalam gambarannya sendiri.

Susunan itu menutup satu pertanyaan sebelum diajukan. Sebuah tulisan yang dimuliakan bisa saja rusak atau berubah kalau tidak ada yang memegangnya. Di sini pemegangnya disebut, walau tidak dinamai.

Yang menarik, penjagaan itu disebut sesudah kemuliaan, bukan sebelumnya. Urutannya berjalan dari sifat benda ke pihak yang menjaganya, bukan sebaliknya.

Tafsiran

Ayat ini menyebut tangan-tangan yang memegang lembaran tersebut. Kata pertamanya muncul 7 kali, tetapi cuma di 5 surah: 2:79, 2:195, 6:7, 9:14, 9:52, 59:2, dan 80:15, karena surah 2 dan surah 9 masing-masing memakainya dua kali.

Di 2:79 kata itu dipakai untuk orang yang menulis kitab dengan tangan mereka lalu mengatakan itu dari Allah, sehingga tangan yang menulis justru tangan yang memalsukan. Di 6:7 ia dipakai untuk orang yang menyentuh kitab dengan tangan mereka dan tetap menolak.

Jadi tiga tempat memakai satu kata untuk tiga hubungan yang berbeda antara tangan manusia dan kitab: memalsukan, menyentuh tanpa percaya, dan membawa dengan mulia.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 12 ayat saja, antara lain 2:184, 4:43, 12:10, dan 62:5. Di 62:5 akar itu dipakai untuk keledai yang memikul kitab tanpa memahaminya, sehingga satu akar memuat dua cara memikul kitab.

Ayat ini menyebut siapa yang memegang lembaran itu tanpa menyebut siapa mereka, dan ia melanjutkan rangkaian tanpa kata kerja yang dimulai di 80:13. Lembaran itu juga tidak dilukiskan berdiri sendiri, melainkan disebut berada di dalam pegangan yang mulia, sehingga penjagaannya masuk ke dalam gambarannya sendiri. Susunan itu menutup satu pertanyaan sebelum diajukan, yaitu apa yang menjaga tulisan yang dimuliakan itu tetap utuh.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 7 kali di 2:79, 2:195, 6:7, 9:14, 9:52, 59:2, dan 80:15, tetapi cuma di 5 surah, karena surah 2 dan surah 9 masing-masing memakainya dua kali. Di 2:79 Allah memakainya untuk orang yang menulis kitab dengan tangan mereka lalu mengatakan itu dari-Nya, dan di 6:7 untuk orang yang menyentuh kitab dan tetap menolak. Jadi satu kata memuat tiga hubungan antara tangan manusia dan kitab: memalsukan, menyentuh tanpa percaya, dan membawa dengan mulia. Satu kata yang memuat tiga hubungan sekaligus menunjukkan bahwa menyentuh kitab dan menghormatinya bukan hal yang sama. Susunannya membiarkan hal itu terbaca tanpa satu kalimat penjelas pun.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 12 ayat saja, antara lain 2:184, 4:43, 12:10, dan 62:5. Di 62:5 akar itu dipakai untuk keledai yang memikul kitab tanpa memahaminya. Di sini akar yang sama dipakai untuk pihak yang memegang lembaran dengan mulia. Satu akar yang cuma hidup di dua belas ayat memuat dua cara memikul kitab yang paling berjauhan. Memikul dan memahami ternyata dua hal berbeda, dan satu akar yang langka cukup untuk menandai keduanya. Perbedaannya tidak diterangkan, dan pembacanya harus menakarnya sendiri.
  • Kata terakhirnya berbentuk jamak, sama seperti kata sebelumnya di ayat ini, sehingga dua kata yang berdampingan itu sejajar bentuknya. Banyak tangan dan banyak pemegang disebut Allah bersama-sama. Wahyu yang isinya terbuka bagi siapa saja ternyata juga tidak dipegang oleh satu tangan saja, dan kesejajaran itu terbawa cuma di dalam bentuk kedua katanya. Sesuatu yang tidak dipegang satu tangan saja lebih sulit dihilangkan daripada yang bergantung pada satu orang. Wahyu yang tersebar tidak bergantung pada nasib satu orang mana pun.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 110 ayat, antara lain 3:73, 5:64, 36:71, 48:10, dan 111:1. Jadi tangan salah satu kata yang sering muncul, dan hampir selalu ia melambangkan kuasa atau perbuatan. Ketika kata sesering itu dipakai untuk memegang lembaran, yang dinyatakan bukan sekadar tempat benda itu berada, melainkan siapa yang berkuasa atasnya. Sebutan yang biasanya melambangkan kuasa membawa muatannya sendiri ketika ia dipakai untuk memegang lembaran. Muatan itu masuk lebih dulu daripada arti harfiahnya.
  • Ayat ini menyebut siapa yang memegang lembaran itu, tetapi tidak menyebut siapa mereka. Allah tidak memberikan nama mereka, tidak menerangkan jenis mereka, dan tidak menyebut jumlah pastinya. Apa yang bertambah pada sebuah gambaran ketika pemegangnya disebut ada tetapi dibiarkan tidak dikenali, sehingga pembacanya tahu lembaran itu terjaga tanpa tahu oleh siapa? Mengetahui bahwa sesuatu terjaga tanpa mengetahui penjaganya sudah cukup untuk menutup kekhawatiran tentang keutuhannya. Kepastian tentang keutuhannya datang tanpa kepastian tentang penjaganya.
  • Ayat ini melanjutkan rangkaian tanpa kata kerja yang dimulai di 80:13, sehingga tiga ayat berturut-turut melukiskan satu benda dan lingkungannya tanpa satu gerak pun. Susunan tanpa gerak itu membuat lukisannya terasa tetap. Yang dilukiskan Allah bukan peristiwa yang sedang terjadi, melainkan keadaan yang memang begitu adanya. Susunan yang diam melukiskan keadaan, dan keadaan tidak menuntut waktu tertentu untuk berlaku.