بِأَيْدِي سَفَرَةٍ
Di tangan para penulis,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِأَيْدِي سَفَرَةٍbi-aydii safaratindi tangan para penulis
Terjemahan per kata (2 kata)
- بِأَيْدِيbi-aydiidi tangan
- سَفَرَةٍsafaratinpara penulis
Inti bacaan
Bentuk bi-aydii tanpa akhiran dan kata safaratin sama-sama tercatat di 80:15 saja. Akar س-ف-ر dipakai untuk perjalanan di delapan ayat, untuk kitab-kitab di 62:5, dan untuk subuh yang mulai terang di 74:34.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata, (بِأَيْدِي, bi-aydii) yang berarti "di tangan", dan (سَفَرَةٍ, safaratin) yang berarti "para penulis". Kata (بِأَيْدِي, bi-aydii) tersusun dari kata depan bi- dan bentuk jamak kata tangan, tanpa akhiran kata ganti, sehingga pemilik tangan itu disebut dengan kata sesudahnya. Ayat ini masih menerangkan lembaran-lembaran di 80:13-14, dengan menyebut pihak yang memegangnya.
Bentuk bi-aydii tanpa akhiran tercatat di 80:15 saja. Dengan akhiran kata ganti, kata depan bi- dan kata tangan muncul di enam ayat lain, 2:79, 2:195, 6:7, 9:14, 9:52, dan 59:2. Di dua di antaranya tangan berurusan dengan kitab. Di 2:79, (يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ, yaktubuuna l-kitaaba bi-aydiihim), "menulis Kitab dengan tangan mereka", tentang orang-orang yang lalu mengatakan tulisan itu dari sisi Allah untuk menukarnya dengan harga murah. Di 6:7, (فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ, fa-lamasuuhu bi-aydiihim), "lalu mereka menyentuhnya dengan tangan mereka", tentang kitab di atas kertas yang tetap disebut sihir oleh orang-orang yang kufur.
Di empat ayat lainnya tangan berurusan dengan perbuatan. Di 59:2 orang-orang menghancurkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin, di 2:195 manusia dilarang menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan, dan di 9:14 serta 9:52 azab Allah disebut datang lewat tangan orang-orang beriman. Di 80:15 tangan tidak disertai perbuatan, dan kata itu menyatakan tempat lembaran-lembaran berada.
Kata (سَفَرَةٍ, safaratin) tercatat di 80:15 saja. Akarnya, س-ف-ر, tercatat di 12 ayat dengan tiga arah makna. Delapan ayat memakainya untuk perjalanan, misalnya 2:184, 4:43, dan 34:19. Di 62:5 akar itu dipakai untuk kitab-kitab dalam perumpamaan keledai, (يَحْمِلُ أَسْفَارًا, yahmilu asfaaran), "yang membawa kitab-kitab". Di 74:34, (إِذَا أَسْفَرَ, idzaa asfara), akar itu dipakai untuk subuh yang mulai terang, dan di 80:38, (مُسْفِرَةٌ, musfiratun), untuk wajah-wajah yang berseri-seri.
Terjemahan "para penulis" sejalan dengan pertalian akar ini dengan kitab-kitab di 62:5. Pertalian dengan perjalanan dan dengan terang juga terbuka menurut pemakaian akarnya di tempat lain, dan kata safaratin sendiri tidak dipakai di ayat lain yang bisa menjadi pembanding. Siapa para penulis itu tidak disebut dengan nama. Keterangan tentang mereka datang di 80:16, (كِرَامٍ بَرَرَةٍ, kiraamin bararatin), "yang mulia lagi berbudi", dan terjemahan tidak menambahkan keterangan dalam kurung tentang siapa mereka.
Kata (سَفَرَةٍ, safaratin) berbentuk jamak, seperti (صُحُفٍ, shuhufin) di 80:13, dan kata tangan pun berbentuk jamak. Lembaran-lembaran itu dengan demikian digambarkan berada di tangan banyak pemegang, dan bilangan mereka tidak disebut.
Tafsiran
Ayat ini menyebut pihak yang memegang lembaran-lembaran peringatan. Sesudah tiga sifat lembaran di 80:13-14, 80:15 berpindah kepada tangan-tangan yang memegangnya, dan 80:16 menyifati pemegang itu mulia lagi berbudi. Rangkaian dari 80:11 sampai 80:16 bergerak dari pesan, ke tempatnya, lalu ke pemegangnya.
Di 2:79 tangan menulis kitab lalu mengaku tulisan itu dari sisi Allah, dan di 6:7 tangan menyentuh kitab lalu menyebutnya sihir. Di 80:15 tangan-tangan yang memegang lembaran disusul sifat mulia dan berbudi. Ketiga ayat itu memperlihatkan bahwa kitab yang sama-sama berada di tangan bisa disikapi dengan cara yang berlawanan, dan 80:15-16 menempatkan lembaran peringatan pada tangan yang disifati dengan kebaikan.
Pihak yang memegang lembaran itu tidak dinamai, dan terjemahan membiarkannya demikian tanpa keterangan tambahan. Keterangan yang tersedia di surah ini berupa dua sifat di 80:16, sehingga pembacaan ini berhenti pada sifat-sifat itu tanpa menambahkan nama dari luar teks. Di awal surah orang yang bermuka masam pun disebut tanpa nama, lewat perbuatannya, dan di 80:15-16 para pemegang lembaran disebut dengan cara yang sama, lewat tempat dan sifat mereka. Surah ini memperkenalkan orang-orangnya lewat apa yang mereka lakukan dan bagaimana keadaan mereka, dan nama tidak menjadi bagian dari keterangan itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tangan-tangan yang memegang lembaran peringatan, dan 80:16 menyifatinya mulia lagi berbudi. Pesan yang dimuliakan dipegang oleh tangan yang disifati mulia pula. Siapa pun yang dipercaya menyampaikan kebaikan, mengajar, menasihati, atau meneruskan ayat kepada orang lain sedang memegang sesuatu dengan tangannya. Rangkaian ini mengajak pemegang pesan bertanya apakah sifatnya sepadan dengan pesan yang dia pegang, dan apakah tangannya terbuka bagi orang yang datang untuk mendengar, seperti orang di 80:8-9.
- Di 2:79 tangan menulis kitab, lalu tulisan itu diakui berasal dari sisi Allah demi harga murah. Kecenderungan menyandarkan pendapat sendiri kepada Tuhan bisa muncul dalam bentuk yang halus, misalnya ketika tafsiran pribadi disampaikan seolah-olah bunyi firman. Lembaran di 80:13-15 disifati dengan sifat-sifat yang tinggi, dan 2:79 memperlihatkan celaan bagi tangan yang menambahkan tulisannya sendiri. Bagaimana kita menjaga batas antara bunyi firman dan pendapat kita tentangnya?
- Di 6:7 kitab di atas kertas disentuh dengan tangan, lalu tetap ditolak. Menyentuh, memegang, bahkan memiliki kitab tidak menjamin pesan di dalamnya diterima. Mushaf bisa tersimpan rapi di rumah dan sering dipegang, sementara isinya jarang diingat atau dipikirkan. Allah menyerahkan ingatan kepada kehendak di 80:12, dan kehendak itu yang membedakan tangan yang memegang saja dari hati yang menerima.
- Akar yang dipakai untuk para penulis di 80:15 juga dipakai untuk kitab-kitab yang dibawa keledai di 62:5, perumpamaan bagi orang-orang yang dibebani Taurat lalu tidak mengamalkannya. Membawa kitab dan mengamalkannya dipisahkan dengan tegas dalam perumpamaan itu. Allah memakai perumpamaan yang keras untuk jarak antara membawa dan mengamalkan, dan jarak itu bisa diperiksa pada diri siapa pun yang membaca kitab-Nya setiap hari, menghafalnya, atau mengajarkannya kepada orang lain.
- Para pemegang lembaran disebut dengan tempat dan sifat, tanpa nama. Rasa ingin tahu tentang siapa mereka bisa besar, dan jawabannya tidak diberikan di sini. Tuhan memberi pembaca sifat-sifat mereka, mulia lagi berbudi, sehingga perhatian diarahkan kepada sifat yang bisa ditimbang oleh siapa pun. Cara itu sejalan dengan cara surah ini menyebut orang-orang lain di dalamnya, tanpa nama. Bila seseorang kelak dikenal lewat sifatnya saja, sifat apa yang akan tercatat tentang dirinya?
- Rangkaian 80:11-16 menggambarkan pesan yang dimuliakan, disimpan di tempat yang ditinggikan dan disucikan, dan dipegang tangan yang mulia. Pesan dengan kedudukan seperti itu sampai kepada manusia, dan di awal surah seorang yang datang dengan takut diabaikan ketika mendekatinya. Kedudukan pesan yang tinggi berhadapan dengan perlakuan yang diterima orang itu. Ketika peringatan Tuhan sampai kepada kita dengan kedudukan seperti itu, bagaimana kita memperlakukan orang yang datang untuk mendengarnya?