كِرَامٍ بَرَرَةٍ
Yang mulia lagi berbudi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كِرَامٍ بَرَرَةٍkiraamin bararatinyang mulia lagi berbudi
Terjemahan per kata (2 kata)
- كِرَامٍkiraaminyang mulia
- بَرَرَةٍbararatinyang berbakti
Inti bacaan
Bentuk jamak kiraam tercatat di 25:72, 80:16, dan 82:11, sedangkan bararatin tercatat di 80:16 saja. Di 82:11-13 kedua akar ayat ini hadir berdekatan, kiraam untuk para pencatat dan abraar untuk orang-orang yang berbakti.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata, (كِرَامٍ, kiraamin) yang berarti "yang mulia", dan (بَرَرَةٍ, bararatin) yang berarti "berbudi". Keduanya kata sifat berbentuk jamak dan berakhiran -in, sama dengan (سَفَرَةٍ, safaratin) di 80:15, sehingga keduanya menerangkan para penulis yang disebut di ayat sebelumnya. Kalimatnya tidak memuat kata kerja, dan ayat ini menutup rangkaian kata sifat yang dimulai di 80:13.
Kata (كِرَامٍ, kiraamin) berasal dari akar ك-ر-م. Bentuk tunggalnya, kariim, bersama bentuk jamak ini tercatat di 30 ayat, dan bentuk jamak kiraam tercatat di tiga ayat, 25:72, 80:16, dan 82:11. Di 25:72 kata itu menerangkan manusia, hamba-hamba Ar-Rahman yang disebut sejak 25:63, yang (مَرُّوا كِرَامًا, marruu kiraaman), "berlalu dengan menjaga kehormatan", ketika berpapasan dengan perbuatan sia-sia. Di 82:11 kata itu menerangkan para penjaga yang disebut di 82:10, (كِرَامًا كَاتِبِينَ, kiraaman kaatibiina), "yang mulia dan mencatat", dan 82:12 menambahkan bahwa mereka mengetahui apa yang dikerjakan manusia.
Di surah ini akar ك-ر-م dipakai di 80:13 dan 80:16. Di 80:13 lembaran-lembaran itu disebut (مُكَرَّمَةٍ, mukarramatin), "yang dimuliakan", bentuk yang menyatakan kemuliaan yang diterima dari pihak lain, sedangkan di 80:16 para pembawanya disebut kiraam, bentuk yang menyatakan sifat pada diri mereka. Kata kerja dari akar yang sama dipakai di 17:70, (وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ, wa-la-qad karramnaa banii aadama), "dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam".
Kata (بَرَرَةٍ, bararatin) berasal dari akar ب-ر-ر, yang tercatat di 30 ayat, dan bentuk ini tercatat di 80:16 saja. Akar itu dipakai dengan dua makna. Di dua belas ayat akar itu menunjuk daratan, misalnya (فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ, fii l-barri wa-l-bahri), "di darat dan di laut", di 17:70. Di ayat-ayat lain akar itu menunjuk kebaikan. Di 19:14 Yahya disebut (وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ, wa-barran bi-waalidayhi), "dan berbakti kepada kedua orang tuanya", dan di 52:28 Allah disebut (الْبَرُّ الرَّحِيمُ, l-barru r-rahiimu), "Sang Baik lagi Sang Pengasih", dalam ucapan orang-orang yang dahulu cemas di tengah keluarga mereka (52:26).
Bentuk jamak lain dari akar itu, abraar, tercatat di enam ayat, 3:193, 3:198, 76:5, 82:13, 83:18, dan 83:22. Di 82:13 bentuk itu muncul dua ayat sesudah kiraam, (إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ, inna l-abraara la-fii na'iimin), "sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar dalam kenikmatan". Dalam tiga ayat di surah 82 kedua akar 80:16 hadir berdekatan, kiraam untuk para pencatat dan abraar untuk manusia yang berbakti, sedangkan di 80:16 kedua sifat itu menerangkan pihak yang sama.
Siapa para penulis itu tidak dijelaskan dengan nama di 80:15-16. Kedua kata sifat di ayat ini menerangkan watak mereka, mulia dan berbudi, dan tidak menerangkan jenis mereka. Sebutan kiraam dipakai untuk pihak yang menulis di 80:15-16 dan untuk pihak yang mencatat di 82:11, dan tidak dinyatakan bahwa kedua pihak itu sama.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran tentang peringatan yang dibuka di 80:11. Rangkaian 80:13-16 mengikuti peringatan itu dari lembarannya sampai ke tangan yang memegangnya, lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan, lalu para penulis yang mulia dan berbudi. Akar kemuliaan dipakai pada kata sifat pertama rangkaian itu, untuk lembaran, dan pada ayat penutupnya, untuk para pembawa lembaran, sehingga rangkaian itu dibuka dan ditutup dengan kemuliaan, sekali pada benda yang dibawa dan sekali pada pembawanya.
Rangkaian ini terletak sesudah sepuluh ayat tentang orang yang disapa di awal surah, yang perhatiannya tertuju kepada orang yang merasa serba cukup sementara orang buta yang datang kepadanya diabaikan. Dua gambaran itu berdampingan dalam satu surah, orang yang disapa dengan sikapnya di 80:1-10 dan para pembawa lembaran dengan watak mereka di 80:15-16. Kedua kata sifat di ayat ini terbaca sebagai ukuran bagi siapa pun yang menyampaikan peringatan itu kepada orang lain.
Sesudah ayat ini surah berbalik arah. Ayat 80:17 menyebut manusia yang kufur, tanpa kata penghubung dengan 80:16. Di 17:70 Allah menyatakan telah memuliakan anak cucu Adam, tetapi di surah ini akar kemuliaan tidak dipakai lagi sesudah 80:16, dan manusia di 80:17 disebut dengan kekufurannya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menerangkan para pembawa lembaran dengan watak mereka, mulia dan berbudi, dan tidak dengan kedudukan atau jumlah mereka. Siapa pun yang menyampaikan peringatan kepada orang lain membawa sesuatu yang di 80:13 disebut dimuliakan. Teguran di 80:1-10 memperlihatkan bahwa orang yang disapa di awal surah, yang menyampaikan pesan itu, bisa keliru menimbang siapa yang didahulukan. Kedua kata sifat di 80:16 memberi ukuran untuk menguji diri, apakah cara kita menyampaikan sesuatu yang baik sepadan dengan kemuliaan pesan yang kita bawa?
- Di 25:72 kata kiraam dipakai untuk manusia, hamba-hamba Ar-Rahman yang berpapasan dengan perbuatan sia-sia lalu berlalu dengan menjaga kehormatan. Kemuliaan di ayat itu tampak dalam cara mereka berlalu, dan tidak tampak dalam kemenangan berdebat. Allah memakai sebutan yang sama untuk para pembawa lembaran dan untuk hamba-Nya yang berjalan di bumi tanpa keangkuhan, sehingga sifat itu terbuka bagi manusia. Ketika kita berpapasan dengan pembicaraan yang sia-sia, pilihan untuk berlalu dengan terhormat tetap tersedia.
- Akar kata berbudi dipakai untuk Yahya, yang berbakti kepada kedua orang tuanya (19:14). Kebaikan yang disebut dengan akar itu tampak dalam hubungan yang paling dekat. Para pembawa lembaran berbudi ketika memegang lembaran peringatan, dan Yahya berbudi di rumahnya sendiri, dan Allah memakai satu akar untuk keduanya. Seseorang bisa bersungguh-sungguh dalam urusan yang terlihat luas dan lalai terhadap orang tuanya. Pemakaian akar yang sama untuk kedua keadaan itu menaruh keduanya dalam satu ukuran.
- Di 52:28 Allah disebut al-barr, Sang Baik, oleh orang-orang yang dahulu cemas di tengah keluarga mereka (52:26) lalu dijaga dari azab (52:27). Akar yang sama menerangkan para pembawa lembaran di 80:16. Kebaikan makhluk disebut dengan akar yang juga dipakai untuk menyebut Tuhan. Orang yang ingin berbuat baik dapat mengenal ukurannya dari kebaikan Allah, kebaikan yang diakui oleh mereka yang pernah merasa cemas lalu dijaga.
- Sebutan kiraam di 82:11 dipakai untuk para penjaga yang mencatat, dan 82:12 menyatakan bahwa mereka mengetahui apa yang dikerjakan manusia. Di 80:15-16 sebutan itu dipakai untuk para penulis yang memegang lembaran peringatan. Tulisan hadir di kedua tempat, yang satu berisi peringatan untuk manusia dan yang lain berisi perbuatan manusia. Allah menyebut pihak yang memegang kedua tulisan itu dengan sebutan yang sama. Apa yang kita kerjakan sesudah membaca tulisan yang pertama akan masuk ke tulisan yang kedua.
- Sesudah 80:16, ayat berikutnya menyebut manusia yang kufur. Pembaca berpindah dari para pembawa peringatan yang mulia kepada penerima yang menolaknya, dalam jarak satu ayat. Di 17:70 Allah menyatakan telah memuliakan anak cucu Adam, sehingga kemuliaan manusia berasal dari pemberian-Nya. Rangkaian 80:16-17 memperlihatkan dua kemungkinan bagi penerima pemberian itu, hidup dengan watak yang mulia atau dengan kekufuran. Di sisi mana kita berdiri ketika peringatan itu sampai kepada kita?