كِرَامٍ بَرَرَةٍ
Yang mulia lagi berbudi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كِرَامٍ بَرَرَةٍkiraamin bararatinyang mulia lagi berbudi
Terjemahan per kata (2 kata)
- كِرَامٍkiraaminyang mulia
- بَرَرَةٍbararatinyang berbakti
Inti bacaan
Karakter mulia para pencatat: 'yang mulia lagi berbudi', kualifikasi tinggi bagi mereka yang bertanggung jawab menjaga integritas teks, standar kepercayaan yang menegaskan keandalan proses penyampaian wahyu.
Penjelasan pilihan kata
Bentuk (كِرَامٍ, kiraamin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an; sebagai kata ia muncul 3 kali. Akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15.
Di 49:13 akar (كِرَامٍ, kiraamin) dipakai untuk pernyataan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Jadi kemuliaan di sana dinyatakan bergantung pada takwa, bukan pada keturunan atau kedudukan.
Bacaan itu penting untuk surah ini. Sepuluh ayat pertamanya menegur pemilihan orang berdasarkan kedudukan. Di sini kemuliaan justru dinamai dengan akar yang di tempat lain sengaja dilepaskan dari kedudukan.
Kata (بَرَرَةٍ, bararah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 30 ayat, antara lain 2:44, 2:177, 3:92, 19:14, dan 82:13.
Di 82:13 akar (بَرَرَةٍ, bararah) dipakai untuk orang-orang yang berbakti yang berada di dalam kenikmatan. Jadi satu akar dipakai untuk manusia yang berbakti dan untuk pemegang lembaran wahyu.
Kata (كِرَامٍ, kiraamin) dan (بَرَرَةٍ, bararah) sama-sama berbentuk jamak dan sama-sama berbaris akhir yang sama. Keduanya menyifati kata di 80:15, dan ikatan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun.
Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat. Tidak ada benda yang disebut, tidak ada kata kerja, dan tidak ada penghubung. Ia sepenuhnya bergantung pada ayat sebelumnya.
Ketergantungan itu berlaku juga bagi 80:14 terhadap 80:13. Dua kali dalam empat ayat, sebuah ayat penuh berdiri cuma sebagai lanjutan sifat dari ayat sebelumnya.
Perhatikan bahwa empat ayat tentang lembaran ini, yaitu 80:13 sampai 80:16, memakai enam sifat dan tidak satu kata kerja pun. Enam sifat untuk satu benda, dan tidak satu pun menyebut isinya.
Kata (بَرَرَةٍ, bararah) menutup bagian tentang wahyu. Sesudahnya pembicaraan berpindah kepada manusia, dan peralihan itu terjadi tanpa satu kalimat pengantar.
Perpindahan sekasar itu punya akibat pada bacaannya. Pembaca yang baru saja melihat lembaran yang dimuliakan langsung dihadapkan pada manusia yang dikutuk di 80:17.
Dua gambaran yang bersebelahan itu tidak dibandingkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang membandingkannya cuma letak keduanya, yang dipisahkan sebatas pergantian ayat.
Perhatikan pula bahwa empat ayat tentang lembaran ini berjalan dari benda ke pemegangnya, lalu berhenti. Tidak ada satu kalimat pun yang menyimpulkan atau menutupnya.
Ketiadaan penutup itu membuat perpindahan ke 80:17 terasa mendadak. Pembacanya belum selesai dengan gambaran yang mulia ketika ia sudah dihadapkan pada kutukan.
Kalau dibaca berturut-turut, susunannya jadi terasa sengaja. Empat ayat dipakai untuk melukiskan yang terjaga dan terhormat, lalu satu ayat memutar seluruhnya kepada yang paling tidak tahu berterima kasih.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dua sifat bagi para pemegang lembaran: mulia dan berbakti. Bentuk kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan sebagai kata ia muncul 3 kali, dan akarnya dipakai di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15.
Di 49:13 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, sehingga kemuliaan di sana dilepaskan dari keturunan dan kedudukan. Bacaan itu penting untuk surah yang sepuluh ayat pertamanya menegur pemilihan orang berdasarkan kedudukan.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 30 ayat, antara lain 2:44, 2:177, 3:92, 19:14, dan 82:13. Di 82:13 akar itu dipakai untuk orang-orang yang berbakti yang berada di dalam kenikmatan.
Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat: tidak ada benda yang disebut, tidak ada kata kerja, dan tidak ada penghubung. Ia sepenuhnya bergantung pada 80:15.
Empat ayat tentang lembaran ini memakai enam sifat tanpa satu kata kerja pun, dan tidak satu pun menyebut isinya. Empat ayat tentang lembaran ini berjalan dari benda ke pemegangnya lalu berhenti tanpa satu kalimat penutup, sehingga perpindahan ke 80:17 terasa mendadak. Pembacanya belum selesai dengan gambaran yang mulia ketika ia sudah dihadapkan pada kutukan.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata pertamanya dipakai Allah di 46 ayat, antara lain 17:70, 27:29, 49:13, dan 89:15. Di 49:13 akar itu dipakai untuk pernyataan bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa, sehingga kemuliaan di sana dilepaskan dari keturunan dan kedudukan. Surah ini sendiri dibuka dengan teguran atas pemilihan orang berdasarkan kedudukan, dan Al-Qur'an tidak menyambungkan dua tempat itu. Kemuliaan yang dilepaskan dari kedudukan justru menjadi bantahan bagi sikap yang ditegur di pembuka surahnya. Pembacanya menerima kesimpulan itu tanpa pernah diberi kalimat yang menyimpulkannya.
- Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 30 ayat, antara lain 2:44, 2:177, 3:92, 19:14, dan 82:13. Di 82:13 akar itu dipakai untuk orang-orang berbakti yang berada di dalam kenikmatan. Jadi satu akar memikul manusia yang berbakti dan pemegang lembaran wahyu sekaligus, tanpa satu ayat pun yang menghubungkan keduanya. Satu akar yang memikul manusia berbakti dan pemegang wahyu menyamakan keduanya di titik yang paling menentukan. Kesamaan akar bekerja sebagai penghubung yang tidak pernah diucapkan.
- Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat: tidak ada benda yang disebut, tidak ada kata kerja, dan tidak ada penghubung. Ia sepenuhnya bergantung pada ayat sebelumnya. Allah menyusun dua ayat berurutan yang sama-sama tidak bisa berdiri sendiri, yaitu ayat ini terhadap 80:15 dan 80:14 terhadap 80:13. Rangkaian seperti itu memaksa keempatnya dibaca sekaligus. Dua ayat berurutan yang sama-sama tidak bisa berdiri sendiri memaksa keempatnya dibaca sebagai satu kesatuan. Empat ayat itu jadi satu tarikan yang tidak bisa dipenggal di tengahnya.
- Empat ayat tentang lembaran ini, yaitu 80:13 sampai 80:16, memakai enam sifat dan tidak satu kata kerja pun. Enam sifat diberikan Allah untuk satu benda, dan tidak satu pun menyebut isinya. Yang diperinci sepanjang empat ayat justru kedudukan dan penjagaannya, sedangkan isinya sudah selesai disebut dalam satu kata di 80:11. Yang diperinci panjang lebar justru penjagaannya, sedangkan isinya sudah selesai disebut dalam satu kata. Isinya cukup satu kata, dan kedudukannya butuh empat ayat.
- Kata keduanya menutup bagian tentang wahyu, dan sesudahnya pembicaraan Allah berpindah kepada manusia tanpa satu kalimat pengantar. Pembaca yang baru saja melihat lembaran yang dimuliakan langsung dihadapkan pada manusia yang dikutuk di 80:17. Perpindahan sekasar itu tidak diberi jeda, dan jarak antara kedua gambaran cuma sebatas pergantian ayat. Perpindahan tanpa jeda membuat dua gambaran yang berlawanan bertumbukan langsung di mata pembacanya. Tumbukan itu terjadi persis di batas antara dua ayat.
- Dua gambaran yang bersebelahan itu tidak dibandingkan Allah dengan satu kalimat pun. Yang membandingkannya cuma letak keduanya. Di satu sisi lembaran yang dimuliakan, ditinggikan, disucikan, dan dipegang tangan yang mulia; di sisi lain manusia yang dikutuk karena kekufurannya. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika ia menaruh yang paling terhormat tepat di sebelah yang paling tercela, tanpa satu kata pembanding? Letak dua hal yang bersebelahan bisa membandingkan keduanya lebih tajam daripada kalimat pembanding mana pun.