قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ

Binasalah manusia! Alangkah kufurnya dia!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُqutila l-insaanu maa akfarahubinasalah manusia, alangkah kufurnya dia

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. قُتِلَqutilabinasalah
  2. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  3. مَاmaaalangkah
  4. أَكْفَرَهُakfarahualangkah ingkarnya

Inti bacaan

Bentuk qutila tercatat di tujuh ayat, dan di 51:10, 74:19-20, serta 85:4 bentuk itu membuka kecaman tanpa pelaku yang disebut. Seruan maa akfarahu bersusunan sama dengan 2:175, dan akar ك-ف-ر kembali di ayat terakhir surah, 80:42.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua bagian, (قُتِلَ الْإِنْسَانُ, qutila l-insaanu) yang berarti "binasalah manusia", dan (مَا أَكْفَرَهُ, maa akfarahu) yang berarti "alangkah kufurnya dia". Bagian pertama berupa kata kerja lampau berbentuk pasif dengan manusia sebagai pokok kalimat, dan bagian kedua berupa seruan tentang kadar kekufurannya. Pelaku kata kerja pasif itu tidak disebut.

Kata (قُتِلَ, qutila) berasal dari akar ق-ت-ل, yang tercatat di 122 ayat dan umumnya dipakai untuk membunuh dan terbunuh. Bentuk qutila tercatat di tujuh ayat. Di dua di antaranya bentuk itu berarti dibunuh secara harfiah, (أَوْ قُتِلَ, aw qutila), "atau dibunuh", di 3:144 tentang kemungkinan seorang rasul wafat atau dibunuh, dan (وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا, wa-man qutila mazhluuman), "dan siapa yang dibunuh secara teraniaya", di 17:33.

Di lima ayat lainnya, 51:10, 74:19, 74:20, 80:17, dan 85:4, bentuk yang sama membuka kalimat tanpa kisah pembunuhan dan tanpa pelaku yang disebut, dan terjemahannya memakai kata seru "binasalah" atau "terkutuklah". Sasarannya berlainan. Di 51:10 sasarannya para penerka, (قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ, qutila l-kharraashuuna). Di 74:19 dan 74:20 sasarannya lelaki yang disebut di 74:18, (إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ, innahu fakkara wa-qaddara), "sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan". Di 85:4 sasarannya (أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ, ash-haabu l-ukhduudi), "orang-orang pemilik parit". Di ayat-ayat itu sasarannya kelompok atau orang dengan perbuatan tertentu, dan di 80:17 sasarannya manusia.

Kata insaan dengan kata sandang tercatat di surah ini di 80:17 dan di 80:24, "maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya". Kata itu belum muncul di 80:1-16. Akhiran -hu pada akfarahu dan pada kata-kata kerja di 80:18-22 merujuk kepada manusia yang disebut di ayat ini. Ayat-ayat itu menguraikan penciptaan dari setetes mani, kematian, dan kubur, yang dialami setiap manusia, sehingga manusia di ayat ini terbaca sebagai manusia pada umumnya, dan tidak sebagai orang yang disebut di bagian awal surah.

Seruan (مَا أَكْفَرَهُ, maa akfarahu) terdiri dari maa, bentuk akfara dari akar ك-ف-ر, dan akhiran -hu. Bentuk akfara tercatat di 80:17 saja. Susunan seruan yang sama tercatat di 2:175, (فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ, fa-maa ashbarahum 'alaa n-naari), "maka alangkah beraninya mereka menghadapi api", tentang orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Di kedua tempat seruan itu menonjolkan kadar suatu sikap yang merugikan pelakunya sendiri.

Akar ك-ف-ر tercatat di 465 ayat, dan di surah ini akar itu dipakai di 80:17 dan di ayat terakhir, (الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ, l-kafaratu l-fajaratu), "orang-orang kafir lagi pendurhaka", di 80:42.

Tafsiran

Ayat ini membalikkan arah pembicaraan. Ayat 80:11-16 menerangkan peringatan dan para pembawanya dengan kata-kata pujian, lalu 80:17 beralih kepada manusia yang menerimanya dengan kalimat kecaman dan seruan. Di antara 80:16 dan 80:17 tidak ada kata penghubung, sehingga peralihan itu terasa mendadak, dari lembaran yang disucikan kepada manusia yang kufur.

Seruan "alangkah kufurnya dia" tidak disusul keterangan tentang bentuk kekufuran itu. Ayat-ayat sesudahnya menjawab dengan cara lain. Ayat 80:18-32 menguraikan apa yang Allah kerjakan bagi manusia, penciptaan dari setetes mani, jalan yang dimudahkan, kematian dan kubur, kebangkitan, lalu makanan yang tumbuh dari hujan dan tanah. Uraian itu membuat kekufuran di ayat ini terbaca sebagai sikap terhadap semua pemberian itu.

Pelaku kecaman di ayat ini tidak disebut, dan seluruh surah berupa firman Allah, sehingga kecaman itu terbaca sebagai putusan-Nya atas sikap manusia. Akar yang sama kembali di ayat terakhir surah, ketika orang-orang yang wajahnya berdebu disebut kafir lagi pendurhaka (80:40-42). Seruan di tengah surah dan sebutan di akhir surah memakai akar yang sama, dan di antara keduanya manusia diberi uraian panjang tentang apa yang diterimanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata manusia di ayat ini tidak menunjuk orang tertentu, dan uraian sesudahnya berlaku bagi setiap manusia. Pembaca yang membaca "alangkah kufurnya dia" mudah menaruh dirinya di luar kalimat itu dan membayangkan orang lain. Allah memakai kata yang mencakup pembaca juga, dan uraian 80:18-32 tentang penciptaan, kematian, dan makanan berlaku bagi pembaca itu sendiri. Setiap orang dapat bertanya kepada dirinya, seberapa jauh kekufuran itu ada pada dirinya, dalam cara dia menerima pemberian Tuhan setiap hari?
  • Di 76:3 manusia yang telah ditunjukkan jalan disebut ada yang bersyukur dan ada yang sangat kufur, sehingga di ayat itu kufur berhadapan dengan syukur. Kekufuran dalam pengertian ini bisa hadir tanpa penolakan yang diucapkan, cukup dengan menerima pemberian Allah tanpa pernah menyadari asalnya. Seseorang bisa merasa jauh dari kekufuran karena tidak pernah menyangkal Tuhan, padahal hari-harinya berlalu tanpa rasa terima kasih. Allah menyebut kedua kemungkinan itu sesudah menyebut jalan yang ditunjukkan, sehingga syukur dan kufur sama-sama berupa jawaban atas pemberian-Nya.
  • Kecaman di 80:17 tidak disusul hukuman yang diceritakan. Allah menyusulnya dengan pertanyaan dan uraian, dari asal-usul manusia sampai makanannya, dan di 80:24 manusia yang sama diajak memperhatikan makanannya. Kecaman itu membuka jalan untuk melihat kembali, karena manusia yang dikecam masih diberi bahan untuk dilihat. Orang yang merasa ditegur keras dapat membaca rangkaian ini sebagai tanda bahwa teguran Tuhan datang bersama bahan untuk berbenah.
  • Di 51:10, 74:19-20, dan 85:4 kata yang sama mengenai para penerka, lelaki yang menetapkan penilaian yang keliru, dan para pemilik parit, masing-masing dengan perbuatannya. Di 80:17 kecaman itu mengenai manusia dengan kekufurannya. Di 17:70 Allah menyatakan telah memuliakan anak cucu Adam, sehingga kecaman di surah ini melekat pada sikap, dan tidak pada kemanusiaannya. Pembaca yang merasa terkena kecaman itu tetap memegang kemuliaan yang diberikan kepadanya, dan dapat mengubah sikapnya.
  • Seruan dengan susunan yang sama dipakai di 2:175 untuk orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, alangkah beraninya mereka menghadapi api. Orang yang sedang menempuh jalan yang merugikan dirinya bisa tidak melihat kadar kerugian itu dari dalam. Allah menyebut kadar itu dari luar, dengan seruan yang membuat pembaca berhenti. Sikap apa dalam hidup kita yang tampak biasa dari dalam, padahal kadarnya mengherankan bila ditimbang dengan firman-Nya?
  • Ayat ini datang sesudah 80:11-12, yang menyatakan bahwa peringatan itu terbuka bagi siapa yang menghendaki untuk mengingatnya. Kekufuran di 80:17 terbaca sebagai jawaban manusia atas peringatan yang ditawarkan tanpa paksaan. Allah tidak memaksakan peringatan-Nya, dan manusia yang menolak pun tetap disebut dengan kadar penolakannya. Bagi pembaca, kebebasan untuk menghendaki di 80:12 datang bersama tanggung jawab atas apa yang dipilih, dan ayat ini memperlihatkan bahwa penolakan pun ditimbang kadarnya.