قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ

Binasalah manusia! Alangkah kufurnya dia!

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُqutila l-insaanu maa akfarahubinasalah manusia, alangkah kufurnya dia

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. قُتِلَqutilabinasalah
  2. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  3. مَاmaaalangkah
  4. أَكْفَرَهُakfarahualangkah ingkarnya

Inti bacaan

Kutukan retoris atas ketidaktahuan diri: 'binasalah manusia! Alangkah kufurnya dia!', ekspresi keheranan yang tajam terhadap penolakan manusia meski bukti-bukti penciptaan begitu jelas, transisi dari kisah personal (80:1-16) menuju refleksi universal.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَكْفَرَهُ, akfarahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 465 ayat, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul, sedangkan bentuk yang di ayat ini cuma sekali.

Bentuk (قُتِلَ, qutila) di awal ayat juga dipakai di 51:10, 74:19, 74:20, dan 85:4. Di tiga tempat pertama ia berupa kutukan atas orang yang berdusta atau yang menaksir-naksir, dan di 85:4 atas para pembuat parit.

Akar (قُتِلَ, qutila) dipakai di 122 ayat, antara lain 2:61, 3:146, 4:92, 9:111, dan 17:31. Jadi akar itu biasanya menyebut pembunuhan yang sebenarnya, sedangkan di sini bentuknya dipakai sebagai kutukan.

Bentuk (قُتِلَ, qutila) tidak menyebut siapa pelakunya. Susunan seperti itu membiarkan kutukannya jatuh tanpa menyebut siapa yang menjatuhkannya, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di ayat ini.

Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan seorang tertentu. Akarnya dipakai di 93 ayat, antara lain 4:28, 17:11, 70:19, 96:2, dan 103:2.

Perhatikan pergeserannya. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang. Ayat ini melebar kepada seluruh jenis manusia. Yang tadinya perkara satu perjumpaan sekarang menjadi perkara semua orang.

Kata (مَا, maa) di sini bukan pengingkaran, melainkan pembuka ungkapan keheranan. Susunannya menyatakan bahwa kadar kekufuran itu di luar dugaan, bukan sekadar menyebut adanya.

Kata (أَكْفَرَهُ, akfarahu) memakai kata ganti objek yang menunjuk manusia di ayat yang sama. Jadi keheranan itu diikat kepada jenis yang baru disebut, bukan kepada golongan tertentu di dalamnya.

Ayat ini membuka rangkaian tentang asal usul manusia yang berjalan sampai 80:23. Kutukan disebut lebih dulu, dan alasannya menyusul di tujuh ayat berikutnya.

Urutan itu kebalikan dari cara berdalil yang biasa. Biasanya bukti disebut dulu, kesimpulan menyusul. Di sini kesimpulannya dijatuhkan lebih dulu, lalu buktinya diurai.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut satu perbuatan pun. Tidak disebut apa yang dilakukan manusia sehingga dikutuk. Yang disebut cuma kadar kekufurannya.

Kekosongan itu diisi bukan oleh daftar dosa, melainkan oleh daftar nikmat di 80:18 sampai 80:22. Yang dijadikan bukti bukan kejahatannya, melainkan pemberian yang diterimanya.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut satu golongan pun. Bukan orang kafir, bukan orang zalim, bukan satu kaum tertentu. Yang disebut manusia sebagai jenis, tanpa pengecualian.

Cakupan seluas itu jarang dipakai untuk celaan. Sebuah celaan biasanya diarahkan kepada sebagian, supaya sebagian yang lain merasa aman. Di sini tidak ada yang disisihkan.

Susunan itu juga menyambung dengan pokok surahnya. Sepuluh ayat pertamanya menegur pemilihan orang; ayat ini menolak memilih-milih bahkan ketika yang dijatuhkan sebuah celaan.

Tafsiran

Ayat ini berpindah kepada manusia dengan kutukan atas kadar kekufurannya. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 465 ayat.

Bentuk kata pertamanya juga dipakai di 51:10, 74:19, 74:20, dan 85:4. Di tiga tempat pertama ia berupa kutukan atas orang yang berdusta atau yang menaksir-naksir, dan di 85:4 atas para pembuat parit. Akarnya sendiri dipakai di 122 ayat, antara lain 2:61, 3:146, 4:92, 9:111, dan 17:31.

Bentuk kata pertamanya tidak menyebut siapa pelakunya, sehingga kutukannya jatuh tanpa menyebut siapa yang menjatuhkannya.

Kata keduanya memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis dan bukan seorang tertentu. Akarnya dipakai di 93 ayat, antara lain 4:28, 17:11, 70:19, 96:2, dan 103:2. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang, dan ayat ini melebar kepada seluruh jenis manusia.

Ayat ini membuka rangkaian tentang asal usul manusia yang berjalan sampai 80:23, dan ia tidak menyebut satu perbuatan pun sebagai sebab kutukannya. Ayat ini juga tidak menyebut satu golongan pun: bukan orang kafir, bukan orang zalim, bukan satu kaum tertentu. Cakupan seluas itu jarang dipakai untuk celaan, karena celaan biasanya diarahkan kepada sebagian supaya sebagian lain merasa aman.

Renungan dan Hikmah

  • Bentuk kata pertamanya juga dipakai di 51:10, 74:19, 74:20, dan 85:4, dan di sana ia berupa kutukan atas orang yang berdusta, yang menaksir-naksir, dan para pembuat parit. Bentuk itu tidak menyebut siapa pelakunya, sehingga kutukannya jatuh tanpa menyebut siapa yang menjatuhkannya. Allah tidak melengkapinya di ayat ini, dan yang tertinggal cuma kutukan yang sudah terlanjur jatuh. Kutukan yang tidak menyebut penjatuhnya tetap jatuh, dan tidak ada pihak yang bisa diajak berunding tentangnya. Tidak ada satu kata pun di ayatnya yang memberi jalan keluar dari kesimpulan itu.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 465 ayat. Jadi akar itu salah satu yang paling sering muncul, dan bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali. Sesuatu yang disebut ratusan kali dinyatakan di sini dengan bentuk yang tidak pernah diulang, seolah kadarnya di ayat ini tidak tertampung oleh bentuk yang biasa. Bentuk yang tidak pernah diulang dipakai untuk kadar yang tidak tertampung oleh bentuk yang biasa. Kelangkaan bentuknya sendiri sudah menjadi bagian dari penyataannya.
  • Kata keduanya memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis dan bukan seorang tertentu. Akarnya dipakai Allah di 93 ayat, antara lain 4:28, 17:11, 70:19, 96:2, dan 103:2. Sepuluh ayat pertama surah ini menyapa satu orang, dan ayat ini melebar kepada seluruh jenis manusia. Yang tadinya perkara satu perjumpaan sekarang menjadi perkara semua orang. Perkara satu perjumpaan melebar menjadi perkara semua orang tanpa satu kalimat peralihan pun. Perluasan itu terjadi persis di batas antara dua ayat.
  • Kata ketiganya bukan pengingkaran, melainkan pembuka ungkapan keheranan. Susunannya menyatakan bahwa kadar kekufuran itu di luar dugaan, bukan sekadar menyebut adanya. Allah tidak memakai kalimat berita untuk hal ini, melainkan bentuk yang menyisakan rasa ganjil. Kadar yang dinyatakan lewat keheranan terasa lebih besar daripada kadar yang dinyatakan lewat angka. Keheranan menyatakan kadar lebih kuat daripada angka, karena ia menolak diukur dengan alat apa pun. Yang tidak terukur justru terasa lebih besar daripada yang terhitung.
  • Ayat ini membuka rangkaian tentang asal usul manusia yang berjalan sampai 80:23. Kutukan disebut Allah lebih dulu, dan alasannya menyusul di tujuh ayat berikutnya. Urutan itu kebalikan dari cara berdalil yang biasa, yang menyebut bukti dulu lalu menarik kesimpulan. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika ia dijatuhkan lebih dulu, lalu buktinya diurai perlahan sesudahnya? Tuduhan yang dijatuhkan sebelum buktinya membuat pembacanya membaca sisa rangkaiannya sambil menimbang. Sisa rangkaiannya jadi terbaca sebagai pembuktian, bukan sebagai keterangan.
  • Ayat ini tidak menyebut satu perbuatan pun sebagai sebab kutukannya. Allah tidak menyebut apa yang dilakukan manusia sehingga dikutuk; yang disebut cuma kadar kekufurannya. Kekosongan itu diisi bukan oleh daftar dosa, melainkan oleh daftar nikmat di 80:18 sampai 80:22. Jadi yang dijadikan bukti bukan kejahatannya, melainkan pemberian yang diterimanya. Daftar pemberian ternyata lebih memberatkan daripada daftar kesalahan, karena yang satu tidak bisa dibantah.