مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
Dari apakah Dia menciptakannya?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُmin ayyi syay'in khalaqahudari apakah Dia menciptakannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنْmindari
- أَيِّayyiapakah
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- خَلَقَهُkhalaqahumenciptakannya
Inti bacaan
Susunan ayyu syay'in tercatat pula di 6:19, dan di sana jawabannya datang di ayat yang sama. Di surah ini akar خ-ل-ق dipakai di 80:18 dan 80:19 saja, dengan kata kerja khalaqahu yang sama pada pertanyaan dan jawabannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini berupa pertanyaan, (مِنْ أَيِّ شَيْءٍ, min ayyi syay'in) yang berarti "dari apakah", disusul (خَلَقَهُ, khalaqahu) yang berarti "Dia menciptakannya". Pertanyaan itu terdiri dari empat kata, dan kata tanyanya, ayy, datang sesudah kata min. Kata min menyatakan asal, kata ayy berarti "yang mana", dan kata syay' berarti "sesuatu", sehingga pertanyaan itu secara harfiah berbunyi "dari sesuatu yang mana Dia menciptakannya". Bahan penciptaan ditanyakan di depan, dan kata kerjanya diletakkan di akhir.
Susunan ayyu syay'in tercatat pula di 6:19, (قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً, qul ayyu syay'in akbaru syahaadatan), "katakanlah, apakah yang lebih besar kesaksiannya", dan pertanyaan itu langsung dijawab di ayat yang sama, (قُلِ اللَّهُ, quli llaahu), "katakanlah, Allah". Di 80:18 jawabannya datang di ayat berikutnya. Di kedua tempat pertanyaan diajukan lalu dijawab oleh teks itu sendiri, tanpa menunggu jawaban pendengar.
Kata (خَلَقَهُ, khalaqahu) terdiri dari kata kerja khalaqa, "menciptakan", dan akhiran -hu, "-nya", yang merujuk kepada manusia di 80:17. Pelakunya tidak disebut dengan nama. Dalam rangkaian 80:18-22 pelaku yang sama disebut dengan kata kerja yang berturut-turut, dan 80:22 menyebut "apabila Dia menghendaki", sehingga terjemahan memakai "Dia" dengan huruf besar.
Bentuk khalaqahu sebagai kata kerja tercatat di empat ayat, 3:59, 32:7, 80:18, dan 80:19. Di 3:59 bentuk itu disusul bahan, (خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ, khalaqahu min turaabin), "Dia menciptakannya dari tanah", tentang Adam, dan di 80:19 bentuk itu disusul bahan lain, setetes mani. Di 20:50 dan 36:78 tulisan yang sama dibaca sebagai kata benda, khalqahu, "penciptaannya". Di 36:78 kata benda itu muncul dalam (وَنَسِيَ خَلْقَهُ, wa-nasiya khalqahu), "dan melupakan asal penciptaannya", tentang manusia yang membantah bahwa tulang yang hancur dapat dihidupkan kembali.
Kata syay' dipakai di 32:7 untuk segala sesuatu yang Allah ciptakan, (الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ, alladzii ahsana kulla syay'in khalaqahu), "yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan", dan ayat itu melanjutkan dengan penciptaan manusia dari tanah. Di 80:18 kata yang sama dipakai untuk bahan asal manusia, sehingga pertanyaan itu menanyakan sesuatu yang mana, di antara segala sesuatu yang diciptakan, menjadi asal manusia.
Di surah ini akar خ-ل-ق dipakai di 80:18 dan 80:19 saja, sebagai pertanyaan dan jawabannya. Kedua ayat itu memakai kata kerja yang sama dengan akhiran yang sama, dan berdiri berurutan tanpa ayat lain di antaranya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab seruan di 80:17 dengan pertanyaan. Kekufuran yang diserukan tidak dibantah dengan uraian tentang kesalahan manusia, dan pembaca diajak menoleh kepada bahan asalnya. Pertanyaan di 6:19 didahului perintah katakanlah, sedangkan pertanyaan di 80:18 tidak didahului perintah itu dan tidak ditujukan kepada orang tertentu, sehingga pertanyaan itu terbaca sebagai pertanyaan bagi setiap pembaca.
Susunan kecaman yang disusul pertanyaan tercatat juga di 74:19-20, (فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ, fa-qutila kayfa qaddara), "maka binasalah dia, bagaimanakah dia menetapkan". Di surah 74 pertanyaan sesudah kecaman menyoal cara lelaki itu menetapkan penilaiannya, dan di surah ini pertanyaan sesudah kecaman menyoal asal manusia. Pertanyaan pertama mengarahkan pembaca kepada kesimpulan yang dibuat manusia, dan pertanyaan kedua mengarahkan pembaca kepada perbuatan Allah atas manusia.
Di 36:77-78 manusia yang diciptakan dari setetes mani disebut melupakan asal penciptaannya ketika membantah kebangkitan. Pertanyaan di 80:18 menyentuh hal yang dilupakan itu, dan beberapa ayat kemudian 80:22 menyebut kebangkitan. Rangkaian surah ini menaruh asal-usul manusia di depan, sebelum kematian dan kebangkitannya disebut, sehingga ingatan tentang asal itu menjadi bahan untuk menimbang kebangkitan.
Renungan dan Hikmah
- Allah bertanya lebih dulu, lalu menjawab di ayat berikutnya. Di antara pertanyaan dan jawaban itu, pembaca berhadapan dengan pertanyaan tentang dirinya sendiri, dari apa aku diciptakan? Jawabannya sudah diketahui kebanyakan orang, tetapi pertanyaan yang diajukan kembali memaksa pengetahuan itu hadir di dalam kesadaran. Pengetahuan tentang asal diri yang tersimpan tanpa pernah dipikirkan tidak banyak mengubah sikap, dan pertanyaan ini menghidupkannya kembali.
- Di 36:78 manusia disebut melupakan asal penciptaannya ketika membantah Tuhan tentang kebangkitan. Lupa semacam itu tidak berarti tidak tahu. Seseorang bisa mengetahui dengan baik bagaimana manusia lahir, lalu hidup seakan-akan dirinya ada dengan sendirinya dan tidak berutang apa-apa kepada Allah. Pertanyaan di 80:18 mengembalikan ingatan itu ke tempatnya, dan ingatan itu mengubah cara seseorang menimbang kemampuan dirinya, termasuk ketika dia meragukan kuasa Tuhan untuk membangkitkan.
- Pertanyaan ini berlaku bagi setiap manusia. Orang yang merasa serba cukup di 80:5 dan orang buta di 80:2, yang datang dengan takut (80:8-9), menjawabnya dengan jawaban yang sama. Perbedaan yang di awal surah menentukan siapa yang didahulukan tidak berbekas pada bahan asal mereka. Ketika kita tergoda membagi perhatian menurut kedudukan orang, pertanyaan tentang asal ini menyamakan kembali semua orang di hadapan Tuhan yang menciptakan mereka, dan membuat perhatian dapat dibagi menurut kesediaan orang untuk mengingat.
- Di 32:7 Allah memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan, dan di 80:18 manusia ditanya dari sesuatu yang mana dia diciptakan. Manusia berasal dari salah satu ciptaan, dan tidak berdiri di luar ciptaan yang lain. Kesadaran bahwa bahan asal kita termasuk ciptaan biasa dapat mengikis rasa lebih tinggi terhadap makhluk lain, yang juga Allah ciptakan dan perindah. Hewan, tumbuhan, dan tanah yang kita pijak berasal dari Pencipta yang sama, dan kesadaran itu dapat mengubah cara kita memperlakukan semuanya.
- Seperti di 6:19, Allah mengajukan pertanyaan lalu menjawabnya sendiri. Pembaca tidak dibiarkan meraba-raba jawaban yang menentukan. Cara ini memperlihatkan bahwa pertanyaan dalam firman-Nya tidak dimaksudkan untuk membingungkan. Ketika seseorang membaca pertanyaan di dalam Al-Qur'an, jawabannya dapat terletak dekat, di ayat yang sama seperti di 6:19 atau di ayat berikutnya seperti di 80:19, dan membaca terus menjadi cara untuk menemukannya. Pertanyaan yang sulit dalam hidup pun dapat dibawa kepada firman-Nya dengan harapan yang sama.
- Setiap manusia menerima bahan asalnya tanpa memilihnya. Allah menciptakan manusia dari bahan yang Dia tentukan, dan pertanyaan di ayat ini mengingatkan bahwa asal itu diterima, tidak diusahakan. Seseorang tidak dapat membanggakan sesuatu yang tidak dia pilih, dan tidak perlu merasa rendah karena sesuatu yang juga tidak dia pilih. Tanggung jawabnya terletak pada apa yang dia kerjakan sesudah diciptakan, dengan bekal yang Tuhan berikan kepadanya.