Ayat 80:19
مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ
Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُmin nuthfatin khalaqahu fa-qaddarahudari setetes mani Dia menciptakannya, lalu menentukannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنْmindari
- نُطْفَةٍnuthfatinnutfah
- خَلَقَهُkhalaqahumenciptakannya
- فَقَدَّرَهُfa-qaddarahulalu Dia menentukannya
Inti bacaan
Kata nuthfah tercatat di dua belas ayat, dan tulisan fa-qaddarahu tercatat di 25:2 dan 80:19. Kata kerja qaddara juga dipakai untuk tempat peredaran bulan di 36:39 dan untuk kematian di 56:60.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menjawab pertanyaan 80:18 dengan tiga unsur, (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani", (خَلَقَهُ, khalaqahu) yang berarti "Dia menciptakannya", dan (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) yang berarti "lalu menentukannya". Jawabannya memakai kata min yang sama dengan pertanyaannya, dan kata kerja khalaqahu diulang tanpa perubahan, sehingga jawaban itu mengisi tempat kata tanya ayyi syay'in dengan nuthfatin.
Kata nuthfah tercatat di dua belas ayat, yaitu 16:4, 18:37, 22:5, 23:13, 23:14, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 75:37, 76:2, dan 80:19. Di 75:37 nuthfah diterangkan sebagai setetes dari mani yang ditumpahkan. Di 22:5 dan 23:13-14 nuthfah menjadi satu tahap dalam urutan yang lebih panjang, dan di 23:14 urutan itu berlanjut sampai tulang dibungkus daging. Di 76:2 kata itu disertai tujuan, (مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ, min nuthfatin amsyaajin nabtaliihi), "dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya". Di 80:19 urutan tahap itu tidak diuraikan, dan sesudah nuthfah ayat ini langsung menyebut penentuan.
Di 16:4 dan 36:77 nuthfah disusul (فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ, fa-idzaa huwa khashiimun mubiinun), yang menggambarkan manusia tiba-tiba menjadi pembantah yang nyata. Di kedua ayat itu jarak antara setetes mani dan pembantah ditempuh dengan fa-idzaa, "lalu tiba-tiba".
Kata (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) terdiri dari fa-, "lalu", kata kerja qaddara dari akar ق-د-ر, dan akhiran -hu. Bentuk kata kerja qaddara tercatat di 16 ayat, dan tulisan fa-qaddarahu tercatat di 25:2 dan 80:19. Di 25:2 (وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا, wa-khalaqa kulla syay'in fa-qaddarahu taqdiiran), "dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkannya dengan penetapan yang tepat", urutan menciptakan lalu menentukan berlaku bagi segala sesuatu, dan di 80:19 urutan yang sama berlaku bagi manusia.
Di ayat-ayat lain qaddara mengenai benda yang ditentukan ukurannya. Di 36:39 (وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ, wa-l-qamara qaddarnaahu manaazila), "dan bulan, Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran". Di 41:10 Allah (وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا, wa-qaddara fiihaa aqwaatahaa), "menentukan padanya kadar makanan-makanannya". Di 56:60 (نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ, nahnu qaddarnaa baynakumu l-mawta), "Kami telah menentukan kematian di antara kalian". Tahap bulan, kadar makanan, dan kematian ditentukan, dan di 80:19 yang ditentukan manusia itu sendiri. Apa yang ditentukan pada diri manusia tidak diuraikan dengan kata tersendiri, dan ayat-ayat sesudahnya menyebut jalan, kematian, kubur, dan kebangkitan.
Tafsiran
Ayat ini membuka daftar perbuatan Allah atas manusia yang berlanjut sampai 80:22. Menciptakan, menentukan, memudahkan jalan, mematikan, menguburkan, dan membangkitkan disebut berturut-turut, dan setiap kata kerjanya berakhiran -hu yang merujuk kepada manusia. Dalam rangkaian itu manusia menjadi sasaran setiap perbuatan, sedangkan perbuatan manusia sendiri disebut di kedua ujungnya, kekufuran di 80:17 dan kelalaian menunaikan perintah di 80:23.
Penentuan yang disebut sesudah setetes mani sejalan dengan 77:20-23. Di sana manusia diciptakan dari air yang hina, ditempatkan di tempat yang kukuh (إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ, ilaa qadarin ma'luumin), "sampai waktu yang ditentukan", lalu (فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ, fa-qadarnaa fa-ni'ma l-qaadiruuna), "lalu Kami tentukan, maka Kami adalah sebaik-baik penentu". Akar ق-د-ر di ayat-ayat itu mengenai masa air itu di tempatnya, sehingga penentuan di 80:19 terbaca mencakup masa ketika manusia belum lahir, sebelum jalannya disebut di 80:20.
Urutan menentukan lalu memberi jalan tercatat juga di 87:2-3, (الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ, alladzii khalaqa fa-sawwaa), "yang menciptakan lalu menyempurnakan", dan (وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ, wa-lladzii qaddara fa-hadaa), "yang menentukan kadar dan memberi petunjuk". Di surah 80 penentuan disusul jalan yang dimudahkan di 80:20, sehingga kedua surah memperlihatkan urutan yang sejalan.
Renungan dan Hikmah
- Di 16:4 dan 36:77 manusia yang diciptakan dari setetes mani tiba-tiba menjadi pembantah yang nyata. Allah mengingatkan asal itu ketika manusia berbantah tentang hal-hal yang berada di luar jangkauannya. Ketika kita merasa paling tahu dalam suatu perselisihan, ingatan tentang setetes mani itu menaruh keyakinan kita pada ukuran yang lebih jujur, dan perselisihan dapat dijalani tanpa lupa diri. Asal yang sama berlaku bagi lawan bicara kita, sehingga kedua pihak berdiri di atas asal yang sama.
- Lelaki di 74:18 menetapkan penilaiannya atas firman Tuhan dan dikenai kecaman. Di 80:19 manusia disebut sudah ditentukan oleh Allah sejak awal penciptaannya. Seseorang yang sibuk menakar orang lain dan menakar kebenaran dengan ukurannya sendiri lupa bahwa dirinya lebih dulu ditakar. Kesadaran itu tidak menghapus kewajiban menimbang, tetapi membuat penimbangan dilakukan dengan kesadaran akan batas diri. Siapa yang lebih dulu menakar kita, dan dengan ukuran siapa kita menakar orang lain?
- Allah menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya (25:2), dan bulan pun diberi tempat-tempat peredarannya (36:39). Manusia berada dalam aturan yang sama dengan ciptaan lain. Orang yang merasa hidupnya tidak berukuran bisa menemukan ketenangan dalam kenyataan bahwa setiap ciptaan diberi kadarnya. Batas-batas diri, kekuatan dan umur, termasuk dalam kadar itu, dan menerimanya tidak sama dengan menyerah. Di dalam batas itu manusia tetap berjalan, bekerja, dan memilih.
- Kadar manusia disebut tanpa rincian, dan pembaca tidak diberi daftar tentang apa yang Allah tentukan bagi dirinya. Keadaan itu membebaskan seseorang dari kecemasan menebak-nebak kadarnya, karena bagiannya menempuh jalan yang disebut di ayat berikutnya. Pertanyaan tentang kadar diri berpindah menjadi pertanyaan tentang langkah yang diambil hari ini. Allah menyimpan rinciannya, dan manusia diberi jalan untuk ditempuh, sehingga perhatian dapat diarahkan kepada apa yang berada dalam jangkauannya.
- Di 56:60 Allah menyatakan telah menentukan kematian di antara manusia. Kadar yang disebut di 80:19 mencakup ujung yang disebut di 80:21. Orang yang mengingat kadar hidupnya dengan sendirinya mengingat batasnya. Ingatan itu tidak dimaksudkan untuk menakutkan. Sesuatu yang sudah ditentukan dapat dihadapi dengan tenang, dan waktu yang tersisa dapat dipakai untuk apa yang lebih penting, sebelum tahap berikutnya tiba.
- Adam diciptakan dari tanah (3:59), dan keturunannya dari setetes mani (80:19). Kedua bahan itu bukan bahan yang dibanggakan manusia. Tuhan menciptakan manusia dari bahan yang sederhana, lalu memuliakannya (17:70). Kemuliaan manusia datang sesudah penciptaannya, dari pemberian Allah, dan tidak dari bahannya. Orang yang membanggakan asal-usulnya lupa bahwa asal-usul setiap manusia sama sederhananya, dan bahwa sesudah penciptaan, sikap terhadap pemberian Allah yang membedakan seseorang dari yang lain.
Ayat 80:20
ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ
Kemudian jalan Dia mudahkan baginya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُtsumma s-sabiila yassarahukemudian jalan Dia mudahkan baginya
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- السَّبِيلَs-sabiilajalan
- يَسَّرَهُyassarahumemudahkannya
Inti bacaan
Bentuk kata kerja yassara tercatat di 11 ayat, empat di antaranya di surah 54 untuk Al-Qur'an yang dimudahkan. Di 76:3 dan 90:10 jalan disebut bersama kata kerja hadaa, sedangkan di 80:20 bersama yassara.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari (ثُمَّ السَّبِيلَ, tsumma s-sabiila) yang berarti "kemudian jalan itu", dan (يَسَّرَهُ, yassarahu) yang berarti "Dia memudahkannya". Kalimatnya pendek, tiga kata, dan tidak memuat pelaku yang disebut dengan nama. Kata sabiil diletakkan di depan kata kerjanya, sehingga jalan itu disebut lebih dulu sebelum perbuatan atasnya.
Kata (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", di surah ini membuka 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26. Di rangkaian 80:19-22 dua kata kerja di dalam satu ayat dihubungkan dengan fa-, "lalu", seperti khalaqahu fa-qaddarahu di 80:19 dan amaatahu fa-aqbarahu di 80:21, sedangkan tsumma membuka ayat baru. Dengan susunan itu setiap ayat berisi satu tahap, dan tsumma menandai perpindahan dari tahap ke tahap.
Kata sabiil tercatat di 164 ayat. Bentuk yang sama, dengan kata sandang dan sebagai sasaran kata kerja, dipakai di 76:3, (إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ, innaa hadaynaahu s-sabiila), "sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan". Di 90:10 jalan disebut dalam bentuk dua, (وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ, wa-hadaynaahu n-najdayni), "dan Kami menunjukinya dua jalan". Di kedua ayat itu kata kerjanya hadaa, menunjukkan, sedangkan di 80:20 kata kerjanya yassara, memudahkan. Jalan mana yang dimaksud tidak diuraikan dengan kata tersendiri. Kata sabiil di tempat lain dipakai untuk jalan dalam arti harfiah, seperti ibnu sabiil, orang dalam perjalanan, di 2:177, dan untuk jalan Allah dalam susunan fii sabiili llaahi, sehingga maknanya ditentukan oleh susunan tempat kata itu dipakai.
Kata (يَسَّرَهُ, yassarahu) berasal dari akar ي-س-ر, yang tercatat di 40 ayat. Bentuk kata kerja yassara tercatat di 11 ayat, dan bentuk yassarahu tercatat di 80:20 saja. Di 54:17, 54:22, 54:32, dan 54:40 kata kerja yang sama dipakai untuk Al-Qur'an, (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri), "dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran". Di 20:26 Musa memohon (وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي, wa-yassir lii amrii), "dan mudahkanlah untukku urusanku". Di 87:8 kata itu dipakai untuk orang yang disapa, (وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ, wa-nuyassiruka li-l-yusraa), "dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan".
Akhiran -hu pada yassarahu sejalan dengan akhiran -hu pada khalaqahu, qaddarahu, amaatahu, aqbarahu, dan ansyarahu di 80:19-22, yang semuanya merujuk kepada manusia. Terjemahan menampung rujukan itu dengan kata "baginya", sehingga jalan itu dimudahkan bagi manusia yang disebut di 80:17. Di 92:7 dan 92:10 kata kerja yang sama memakai akhiran yang sama, (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu), "maka Kami akan memudahkannya", dan arahnya disebut dengan kata tersendiri, menuju kemudahan di 92:7 dan menuju kesukaran di 92:10.
Tafsiran
Ayat ini terletak di antara penentuan di 80:19 dan kematian di 80:21. Jalan yang dimudahkan menempati rentang hidup manusia, sesudah dia diciptakan dan ditentukan, dan sebelum dia dimatikan. Dalam rangkaian tahap-tahap itu, 80:20 berbeda dari tahap lainnya karena di dalamnya manusia berjalan, sedangkan penciptaan, kematian, dan kebangkitan terjadi atas dirinya tanpa dia pilih.
Urutan yang sejalan tercatat di 76:2-3. Manusia diciptakan dari setetes mani yang bercampur untuk diuji, dijadikan mendengar dan melihat, lalu ditunjukkan jalan, dan sesudahnya ada yang bersyukur dan ada yang sangat kufur. Di surah 80 kekufuran disebut lebih dulu, di 80:17, lalu penciptaan dan jalan menyusul. Dengan susunan itu kekufuran di 80:17 terbaca sebagai sikap terhadap jalan yang sudah dimudahkan.
Urutan penentuan lalu jalan, yang juga tercatat di 87:2-3, sampai pada tahap jalan di ayat ini. Jalan yang disebut bersama petunjuk di 76:3 dan 90:10 berujung pada pilihan, antara syukur dan kufur atau antara dua jalan, sehingga jalan di 80:20 terbaca sebagai jalan hidup yang di dalamnya manusia memilih arah. Arah yang dipilih tidak diuraikan di 80:20, dan 80:23 menyebut keadaan manusia yang belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut jalan manusia sebagai jalan yang sudah dimudahkan, dengan kata kerja lampau. Hidup sering terasa berat, dan beban yang dirasakan itu nyata. Ayat ini tidak meniadakan beban itu, tetapi menaruh di bawahnya kenyataan bahwa jalan sudah dibuka sejak awal. Ketika langkah terasa sulit, ingatan bahwa jalan itu sudah dimudahkan dapat menggeser pertanyaan dari mengapa jalan ini begitu berat menjadi langkah mana yang sekarang dapat diambil, dengan bekal yang sudah Allah sediakan.
- Kata kerja yang sama dipakai di 54:17 untuk Al-Qur'an, yang Allah mudahkan untuk pelajaran, disusul pertanyaan, adakah yang mengambil pelajaran? Jalan manusia dan peringatan untuknya sama-sama dimudahkan. Di 80:11-12 peringatan itu terbuka bagi siapa yang menghendaki untuk mengingatnya. Orang yang merasa firman Tuhan terlalu sulit untuk didekati dapat memulai dari kenyataan bahwa kemudahannya sudah dinyatakan, dan dari satu ayat yang dibaca dengan sungguh-sungguh.
- Di 20:26 Musa memohon kepada Tuhannya agar urusannya dimudahkan. Kemudahan yang di 80:20 dinyatakan bagi setiap manusia dapat dimohon untuk urusan tertentu. Musa memohon ketika dia hendak menghadap Fir'aun, urusan yang berat baginya. Doa itu memperlihatkan bahwa mengakui kemudahan dari Allah tidak menghalangi seseorang untuk memintanya lagi pada saat dia merasa sempit. Kemudahan yang sudah diberikan dan kemudahan yang dimohon sama-sama bersumber dari Allah.
- Di 92:5-10 Allah memudahkan orang yang memberi dan bertakwa menuju kemudahan, dan memudahkan orang yang kikir dan merasa dirinya cukup menuju kesukaran. Sikap merasa cukup itu disebut dengan kata kerja yang sama dengan sikap orang di 80:5. Kemudahan berjalan ke arah yang dipilih seseorang. Jalan yang dimudahkan bagi manusia tidak menjamin ke mana kakinya melangkah, dan pertanyaannya bergeser menjadi ke arah mana kita sedang dimudahkan?
- Jalan itu dimudahkan bagi manusia yang di 80:17 disebut kufur. Allah memberikan kemudahan sebelum manusia bersyukur, dan di rangkaian ini pemberian itu disebut tanpa syarat bahwa manusia harus lebih dulu berterima kasih. Pembaca yang pernah merasa berhak menahan kebaikan dari orang yang tidak tahu berterima kasih dapat menimbang kembali sikapnya di hadapan Tuhan yang tetap memudahkan jalan bagi hamba yang kufur. Kemurahan itu mendahului balasan, dan manusia yang menerimanya dapat meneladani kemurahan itu terhadap sesamanya.
- Allah menunjukkan jalan di 76:3 dan 90:10, dan di 80:20 Dia memudahkannya. Mengetahui jalan dan sanggup menempuhnya merupakan dua pemberian yang berbeda. Seseorang bisa mengetahui jalan yang benar tanpa merasa sanggup menempuhnya. Rangkaian ayat-ayat itu memperlihatkan bahwa keduanya datang dari Tuhan yang sama, sehingga orang yang sudah diberi pengetahuan tentang jalan dapat pula berharap diberi kesanggupan untuk menempuhnya, dan memohonnya kepada Dia.
Ayat 80:21
ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ
Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُtsumma amaatahu fa-aqbarahukemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- أَمَاتَهُamaatahumematikannya
- فَأَقْبَرَهُfa-aqbarahulalu Dia menguburkannya
Inti bacaan
Tulisan amaatahu tercatat di 2:259 dan 80:21, dan di kedua ayat kematian disusul kebangkitan. Bentuk kata kerja aqbara tercatat di 80:21 saja, sedangkan tujuh ayat lain dari akar ق-ب-ر memakai kata benda untuk kubur, antara lain 22:7 dan 82:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat dua kata kerja dengan pelaku yang sama, (أَمَاتَهُ, amaatahu) yang berarti "Dia mematikannya", dan (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) yang berarti "lalu Dia menguburkannya". Keduanya berbentuk lampau dan berakhiran -hu, "-nya", yang menunjuk manusia yang disebut di 80:17. Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", kata sambung yang juga membuka 80:20 dan 80:22, dan kedua kata kerjanya disambung dengan fa-, "lalu".
Kata (أَمَاتَهُ, amaatahu) berasal dari akar م-و-ت. Bentuk kata kerja amaata, "mematikan", tercatat di 20 ayat, sedangkan bentuk dasarnya, (مَاتَ, maata), berarti "mati" dan dipakai untuk orang yang mengalami kematian, misalnya di 9:84. Di 53:44 bentuk amaata berpasangan dengan lawannya, (وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا, wa-annahu huwa amaata wa-ahyaa), "dan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan". Tulisan amaatahu dengan akhiran -hu tercatat di dua ayat, 2:259 dan 80:21. Di 2:259 Allah mematikan seseorang yang bertanya bagaimana Allah menghidupkan negeri yang roboh sesudah matinya, (فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ, fa-amaatahu llaahu mi'ata 'aamin tsumma ba'atsahu), "maka Allah mematikannya seratus tahun, kemudian membangkitkannya". Di kedua ayat kematian itu disusul kebangkitan, dan penyambungnya kata tsumma.
Kata (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) berasal dari akar ق-ب-ر, yang tercatat di delapan ayat, dan bentuk kata kerja aqbara tercatat di 80:21 saja. Tujuh ayat lainnya memakai kata benda untuk kubur. Di 22:7, (وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ, wa-anna llaaha yab'atsu man fii l-qubuuri), "dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa yang di dalam kubur", dan di 82:4, (وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ, wa-idzaa l-qubuuru bu'tsirat), "dan apabila kuburan-kuburan dibongkar-balik". Di kedua ayat itu kubur disebut bersama kebangkitan, dengan urutan yang serupa dengan 80:21-22.
Kedua kata kerja di ayat ini berpola sama, amaata dan aqbara, dengan awalan a- yang juga terdapat pada ansyara di 80:22, dan pelaku ketiganya Allah. Penguburan di 80:21 disebut sebagai perbuatan-Nya, sedangkan di 5:31 penguburan dikerjakan oleh manusia. Di ayat itu Allah mengutus seekor burung gagak untuk memperlihatkan kepadanya (كَيْفَ يُوَارِي, kayfa yuwaarii), "bagaimana dia menutupi" jasad saudaranya. Kata kerja di 5:31 berasal dari akar lain, و-ر-ي, dan pelakunya anak Adam yang menutupi jasad saudaranya. Kedua ayat itu dapat dibaca bersama, tangan manusia yang menutupi jasad di 5:31 dan penguburan yang di 80:21 disandarkan kepada Allah.
Tafsiran
Ayat ini meringkas akhir hidup manusia dalam dua kata kerja. Rangkaian 80:18-22 menyebut asal manusia dari setetes mani, penentuan dirinya, jalan yang dimudahkan baginya, kematian dan penguburannya, lalu kebangkitannya, dan di setiap tahap Allah menjadi pelaku sedangkan manusia disebut lewat akhiran -hu. Awal hidup di 80:19, (خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ, khalaqahu fa-qaddarahu), "Dia menciptakannya, lalu menentukannya", dan akhir hidup di 80:21 disusun dengan pola yang sama, dua kata kerja yang disambung fa-, sehingga kelahiran dan kematian manusia disebut dengan bentuk yang serupa sebagai perbuatan Allah.
Susunan ini sejalan dengan 2:28, yang bertanya (كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ, kayfa takfuruuna bi-llaahi), "bagaimana kalian menjadi kufur kepada Allah", lalu menyebut urutan hidup dan mati manusia, (ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ, tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum), "kemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian lagi". Di surah ini kecaman atas kekufuran manusia di 80:17 juga disusul urutan hidup dan mati di 80:18-22. Di kedua tempat itu kekufuran manusia dihadapkan pada perjalanan hidupnya sendiri, dari awal sampai kebangkitan.
Ayat ini juga menyiapkan 80:23. Kematian dan penguburan disebut lebih dahulu, kebangkitan menyusul di 80:22, dan sesudah itu datang pernyataan bahwa manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dengan urutan itu, penilaian di 80:23 terbaca sesudah seluruh rentang hidup manusia disebut, dari setetes mani sampai kubur.
Renungan dan Hikmah
- Kematian di ayat ini disebut sebagai perbuatan Allah, "Dia mematikannya", dengan kata kerja yang di 53:44 berpasangan dengan menghidupkan. Manusia yang di 80:17 dicela karena kekufurannya tidak ikut menentukan kapan hidupnya berakhir. Rencana yang disusun seseorang untuk tahun depan disusun di dalam waktu yang batasnya dipegang Allah. Kesadaran itu tidak menghapus rencana, tetapi menempatkannya sebagai rencana yang dapat terputus sewaktu-waktu, sehingga pekerjaan yang penting tidak ditunda dengan anggapan bahwa waktunya pasti masih tersedia.
- Di 5:31 anak Adam belajar dari seekor burung gagak cara menutupi jasad saudaranya, lalu dia menyesal. Di 80:21 penguburan disebut sebagai perbuatan Allah. Orang yang menguburkan jenazah mengerjakan dengan tangannya apa yang di ayat ini disandarkan kepada Allah, dan jasad yang tidak lagi dapat mengurus dirinya diberi tempat. Penguburan dengan demikian terbaca sebagai bagian dari perlakuan Allah atas manusia sampai akhir hidupnya, dan orang yang mengerjakannya ikut serta dalam perlakuan itu.
- Pada 80:5 surah ini menyebut orang yang merasa serba cukup, dan perhatian orang yang disapa di awal surah tertuju kepadanya. Di 80:21 manusia dikuburkan tanpa kecukupan itu disebut lagi. Di 102:1-2 perlombaan memperbanyak disebut melalaikan manusia (حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ, hattaa zurtumu l-maqaabira), "hingga kalian menziarahi kubur". Harta, kedudukan, dan jumlah pengikut tidak disebut dalam ayat tentang penguburan, dan manusia di sana disebut dengan akhiran -hu saja, tanpa keterangan tentang apa yang dahulu dimilikinya.
- Perumpamaan di 35:22 menyatakan bahwa orang yang hidup tidak sama dengan orang yang mati, lalu (وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ, wa-maa anta bi-musmi'in man fi l-qubuuri), "dan engkau tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar". Orang yang di dalam kubur di ayat itu dijadikan perumpamaan bagi orang yang tidak lagi dapat dibuat mendengar. Selama seseorang belum sampai ke tahap yang disebut di 80:21, telinganya masih dapat menerima peringatan yang di 80:11-12 disebut dapat diingat oleh siapa yang menghendaki, dan 35:22 menyebut bahwa Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki.
- Perintah di 63:10 menyuruh berinfak dari rezeki yang diberikan Allah sebelum kematian datang, lalu menggambarkan orang yang didatangi kematian berkata (رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ, rabbi lawlaa akhkhartanii ilaa ajalin qariibin), "Tuhanku, sekiranya Engkau menunda aku sampai waktu yang dekat". Di 80:21 kematian dan penguburan disebut berurutan dalam satu ayat, tanpa kalimat tentang penundaan. Kebaikan yang hendak dikerjakan pada waktu yang dekat itu dapat dikerjakan hari ini, selagi permintaan semacam itu belum perlu diucapkan.
- Ayat tentang penguburan ini disusul 80:22, ayat tentang kebangkitan, dan 22:7 menyatakan bahwa Allah akan membangkitkan siapa yang di dalam kubur. Apa yang dibaca oleh orang yang baru menguburkan keluarganya ketika ayat tentang penguburan disusul ayat tentang kebangkitan? Duka atas kematian tidak dihapus oleh urutan itu, dan kubur yang baru ditinggalkan disebut dalam Al-Qur'an sebagai tempat yang kelak dibongkar pada hari kebangkitan (82:4), sehingga kubur terbaca sebagai tahap dalam perjalanan orang yang dikuburkan, dan perjalanan itu berlanjut sampai hari kebangkitan.
Ayat 80:22
ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ
Kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُtsumma idzaa syaa'a ansyarahukemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- إِذَاidzaaapabila
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- أَنْشَرَهُansyarahuDia membangkitkannya
Inti bacaan
Kata kerja ansyara tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan turunannya munsyariin di 44:35. Pelakunya di 43:11 dan 80:22 ialah Allah, sedangkan 21:21 mempertanyakan tuhan-tuhan dari bumi yang dianggap sanggup melakukannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat kata sambung (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a), "apabila Dia menghendaki", dan kata kerja (أَنْشَرَهُ, ansyarahu), "Dia membangkitkannya". Akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk manusia yang sama dengan akhiran pada amaatahu dan fa-aqbarahu di 80:21, dan pelakunya tetap Allah. Ayat ini ayat ketiga berturut-turut yang dibuka dengan tsumma, sesudah 80:20 dan 80:21.
Kata (أَنْشَرَهُ, ansyarahu) berasal dari akar ن-ش-ر, yang tercatat di 20 ayat. Kata kerja ansyara, "membangkitkan" atau "menghidupkan", tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan bentuk turunannya yang berpola sama, munsyariin, "orang-orang yang dibangkitkan", tercatat di 44:35. Di 21:21 bentuk itu muncul dalam pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, (هُمْ يُنْشِرُونَ, hum yunsyiruuna), "yang dapat menghidupkan". Di 44:35 dikutip perkataan orang-orang yang menolak kebangkitan, (وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ, wa-maa nahnu bi-munsyariina), "dan kita tidak akan dibangkitkan". Di 43:11 kata kerja yang sama dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dengan air dari langit, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Kata benda dari akar yang sama, yang berarti "kebangkitan", tercatat di lima ayat, 25:3, 25:40, 25:47, 35:9, dan 67:15. Di 35:9, sesudah angin, awan, dan negeri mati yang dihidupkan dengan air, ayat itu ditutup dengan (كَذَٰلِكَ النُّشُورُ, ka-dzaalika n-nusyuuru), "demikianlah kebangkitan itu". Di 67:15, sesudah perintah berjalan di penjuru bumi dan makan dari rezeki-Nya, ayat itu ditutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Di 25:47 kata benda itu dipakai untuk siang, (وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا, wa-ja'ala n-nahaara nusyuuran), "dan menjadikan siang untuk bangkit", sesudah malam disebut pakaian dan tidur disebut istirahat, sehingga bangun dari tidur dan bangkit sesudah mati disebut dengan akar yang sama. Di 25:40 orang-orang yang melewati negeri yang dihujani hujan yang buruk disebut (بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا, bal kaanuu laa yarjuuna nusyuuran), "bahkan, mereka tidak mengharapkan kebangkitan".
Kebangkitan di 2:259 dan 22:7 disebut dengan akar lain, ب-ع-ث, sedangkan 80:22 memakai akar ن-ش-ر, akar yang di 43:11 dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dan di 35:9 dipakai untuk menamai kebangkitan sesudah gambaran bumi yang hidup kembali.
Keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a) tercatat di 80:22 saja. Kata kerja syaa'a, "menghendaki", dipakai di surah ini pada 80:12 dan 80:22. Di 80:12 pelakunya manusia, (فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ, fa-man syaa'a dzakarahu), "maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya", sedangkan di 80:22 pelakunya Allah. Waktu kebangkitan tidak ditentukan di 80:22, dan kata idzaa, "apabila", menyandarkannya kepada kehendak Allah tanpa menyebut kapan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian 80:18-22 dengan kebangkitan. Sesudah kematian dan penguburan di 80:21, rangkaian itu tidak berhenti di kubur, dan deretan kata kerja berakhiran -hu itu ditutup dengan ansyarahu. Di 25:3 tuhan-tuhan selain Allah digambarkan (وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا, wa-laa yamlikuuna mawtan wa-laa hayaatan wa-laa nusyuuran), "dan tidak menguasai kematian, dan tidak kehidupan, dan tidak kebangkitan". Ketiga hal yang disangkal dari tuhan-tuhan itu disebut di 80:18-22 sebagai perbuatan Allah atas manusia, kehidupan sejak setetes mani, kematian, dan kebangkitan.
Ayat ini juga menjawab perkataan yang dikutip di 44:35 dengan akar dan pola yang sama. Orang-orang itu berkata bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, dan 80:22 menyatakan bahwa Allah membangkitkan manusia, tanpa perdebatan di dalam ayatnya. Bahan renungannya datang sesudahnya, di 80:24-32, ketika manusia diminta memperhatikan makanannya yang tumbuh dari bumi yang dibelah, gambaran yang di 43:11 disandingkan dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Waktu kebangkitan disandarkan kepada kehendak Allah. Menjelang akhir surah sebelumnya, orang-orang bertanya tentang Saat itu, (أَيَّانَ مُرْسَاهَا, ayyaana mursaahaa), "kapan tibanya" (79:42), dan jawabannya (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa), "kepada Tuhanmulah kesudahannya" (79:44). Di 80:22 kebangkitan manusia disebut dengan cara yang sama, waktunya diserahkan kepada kehendak Allah sementara kepastiannya dinyatakan.
Renungan dan Hikmah
- Kapan kebangkitan terjadi tidak diberitahukan di 80:22, dan di 79:44 kesudahannya diserahkan kepada Tuhan. Banyak urusan hidup ditata dengan tenggat, dan pekerjaan yang tenggatnya jauh mudah tertunda sampai tenggat itu dekat. Kebangkitan disebut tanpa tanggal, sehingga persiapan untuknya tidak dapat diatur dengan cara itu. Orang yang menunggu tanda-tanda waktunya sebelum bersiap akan terus menunda, sebab tanda itu tidak diberikan kepadanya, dan kepastian yang dinyatakan Allah di ayat ini cukup menjadi alasan untuk bersiap sejak sekarang.
- Kata kerja menghendaki dipakai di surah ini untuk dua pelaku. Di 80:12 manusia yang menghendaki akan mengingat peringatan, dan di 80:22 Allah membangkitkan manusia apabila Dia menghendaki. Kesediaan mengingat peringatan diletakkan dalam kehendak manusia, sedangkan waktu kebangkitan tidak. Ke mana perhatian seseorang lebih banyak tercurah, kepada hal yang diletakkan Allah dalam kehendaknya atau kepada hal yang tidak? Kegelisahan tentang kapan akhir datang tidak mengubah waktunya, sedangkan kesediaan mengingat masih dapat dipilih hari ini.
- Di 21:21 diajukan pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, apakah mereka dapat menghidupkan, dan 21:22 menyatakan bahwa langit dan bumi akan binasa sekiranya ada tuhan-tuhan selain Allah. Kata kerja yang dipakai dalam pertanyaan itu dipakai di 80:22 untuk Allah. Harta, jabatan, dan orang yang berpengaruh dapat menolong seseorang dalam banyak urusan hidup, dan 80:5 menyebut orang yang merasa serba cukup dengan semua itu. Pada tahap yang disebut di 80:22, sandaran-sandaran itu tidak berperan, dan kebangkitan manusia berada pada kehendak Allah.
- Di 43:11 negeri yang mati dihidupkan dengan air dari langit, dengan kata kerja yang sama dengan ansyarahu, lalu ayat itu menyatakan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan. Tanah yang retak pada musim kemarau lalu menghijau sesudah hujan pertama dapat disaksikan di banyak tempat, dan pemandangan itu disandingkan Allah dengan kebangkitan manusia. Orang yang meragukan kebangkitan dapat melihat perumpamaannya berulang setiap tahun, tanpa harus menunggu hari itu tiba.
- Akhiran -hu di ayat ini tunggal, dan 80:37 menyatakan (لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ, li-kulli mri'in minhum yawma'idzin sya'nun yughniihi), "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya". Selama hidup manusia dihitung dalam kelompok, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Pada kebangkitan Allah membangkitkan setiap orang, dan tiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri, sehingga keanggotaan dalam kelompok tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban pribadi.
- Ayat 67:15 menyebut bumi yang dijadikan Allah mudah bagi manusia, memerintahkan berjalan di penjuru-penjurunya dan makan dari rezeki-Nya, lalu menutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Kegiatan sehari-hari, berangkat bekerja, mencari nafkah, dan makan, disebut dalam satu ayat bersama kebangkitan. Perjalanan ke tempat kerja dan makan siang berlangsung dalam hidup yang sedang menuju hari yang disebut di 80:22, dan kesadaran itu dapat menyertai kegiatan yang paling biasa.