مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ

Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُmin nuthfatin khalaqahu fa-qaddarahudari setetes mani Dia menciptakannya, lalu menentukannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. مِنْmindari
  2. نُطْفَةٍnuthfatinsetetes mani
  3. خَلَقَهُkhalaqahumenciptakannya
  4. فَقَدَّرَهُfa-qaddarahulalu Dia menentukannya

Inti bacaan

Kata nuthfah tercatat di dua belas ayat, dan tulisan fa-qaddarahu tercatat di 25:2 dan 80:19. Kata kerja qaddara juga dipakai untuk tempat peredaran bulan di 36:39 dan untuk kematian di 56:60.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menjawab pertanyaan 80:18 dengan tiga unsur, (مِنْ نُطْفَةٍ, min nuthfatin) yang berarti "dari setetes mani", (خَلَقَهُ, khalaqahu) yang berarti "Dia menciptakannya", dan (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) yang berarti "lalu menentukannya". Jawabannya memakai kata min yang sama dengan pertanyaannya, dan kata kerja khalaqahu diulang tanpa perubahan, sehingga jawaban itu mengisi tempat kata tanya ayyi syay'in dengan nuthfatin.

Kata nuthfah tercatat di dua belas ayat, yaitu 16:4, 18:37, 22:5, 23:13, 23:14, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 75:37, 76:2, dan 80:19. Di 75:37 nuthfah diterangkan sebagai setetes dari mani yang ditumpahkan. Di 22:5 dan 23:13-14 nuthfah menjadi satu tahap dalam urutan yang lebih panjang, dan di 23:14 urutan itu berlanjut sampai tulang dibungkus daging. Di 76:2 kata itu disertai tujuan, (مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ, min nuthfatin amsyaajin nabtaliihi), "dari setetes mani yang bercampur, Kami hendak mengujinya". Di 80:19 urutan tahap itu tidak diuraikan, dan sesudah nuthfah ayat ini langsung menyebut penentuan.

Di 16:4 dan 36:77 nuthfah disusul (فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ, fa-idzaa huwa khashiimun mubiinun), yang menggambarkan manusia tiba-tiba menjadi pembantah yang nyata. Di kedua ayat itu jarak antara setetes mani dan pembantah ditempuh dengan fa-idzaa, "lalu tiba-tiba".

Kata (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) terdiri dari fa-, "lalu", kata kerja qaddara dari akar ق-د-ر, dan akhiran -hu. Bentuk kata kerja qaddara tercatat di 16 ayat, dan tulisan fa-qaddarahu tercatat di 25:2 dan 80:19. Di 25:2 (وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا, wa-khalaqa kulla syay'in fa-qaddarahu taqdiiran), "dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkannya dengan penetapan yang tepat", urutan menciptakan lalu menentukan berlaku bagi segala sesuatu, dan di 80:19 urutan yang sama berlaku bagi manusia.

Di ayat-ayat lain qaddara mengenai benda yang ditentukan ukurannya. Di 36:39 (وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ, wa-l-qamara qaddarnaahu manaazila), "dan bulan, Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran". Di 41:10 Allah (وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا, wa-qaddara fiihaa aqwaatahaa), "menentukan padanya kadar makanan-makanannya". Di 56:60 (نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ, nahnu qaddarnaa baynakumu l-mawta), "Kami telah menentukan kematian di antara kalian". Tahap bulan, kadar makanan, dan kematian ditentukan, dan di 80:19 yang ditentukan manusia itu sendiri. Apa yang ditentukan pada diri manusia tidak diuraikan dengan kata tersendiri, dan ayat-ayat sesudahnya menyebut jalan, kematian, kubur, dan kebangkitan.

Tafsiran

Ayat ini membuka daftar perbuatan Allah atas manusia yang berlanjut sampai 80:22. Menciptakan, menentukan, memudahkan jalan, mematikan, menguburkan, dan membangkitkan disebut berturut-turut, dan setiap kata kerjanya berakhiran -hu yang merujuk kepada manusia. Dalam rangkaian itu manusia menjadi sasaran setiap perbuatan, sedangkan perbuatan manusia sendiri disebut di kedua ujungnya, kekufuran di 80:17 dan kelalaian menunaikan perintah di 80:23.

Penentuan yang disebut sesudah setetes mani sejalan dengan 77:20-23. Di sana manusia diciptakan dari air yang hina, ditempatkan di tempat yang kukuh (إِلَىٰ قَدَرٍ مَعْلُومٍ, ilaa qadarin ma'luumin), "sampai waktu yang ditentukan", lalu (فَقَدَرْنَا فَنِعْمَ الْقَادِرُونَ, fa-qadarnaa fa-ni'ma l-qaadiruuna), "lalu Kami tentukan, maka Kami adalah sebaik-baik penentu". Akar ق-د-ر di ayat-ayat itu mengenai masa air itu di tempatnya, sehingga penentuan di 80:19 terbaca mencakup masa ketika manusia belum lahir, sebelum jalannya disebut di 80:20.

Urutan menentukan lalu memberi jalan tercatat juga di 87:2-3, (الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ, alladzii khalaqa fa-sawwaa), "yang menciptakan lalu menyempurnakan", dan (وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ, wa-lladzii qaddara fa-hadaa), "yang menentukan kadar dan memberi petunjuk". Di surah 80 penentuan disusul jalan yang dimudahkan di 80:20, sehingga kedua surah memperlihatkan urutan yang sejalan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 16:4 dan 36:77 manusia yang diciptakan dari setetes mani tiba-tiba menjadi pembantah yang nyata. Allah mengingatkan asal itu ketika manusia berbantah tentang hal-hal yang berada di luar jangkauannya. Ketika kita merasa paling tahu dalam suatu perselisihan, ingatan tentang setetes mani itu menaruh keyakinan kita pada ukuran yang lebih jujur, dan perselisihan dapat dijalani tanpa lupa diri. Asal yang sama berlaku bagi lawan bicara kita, sehingga kedua pihak berdiri di atas asal yang sama.
  • Lelaki di 74:18 menetapkan penilaiannya atas firman Tuhan dan dikenai kecaman. Di 80:19 manusia disebut sudah ditentukan oleh Allah sejak awal penciptaannya. Seseorang yang sibuk menakar orang lain dan menakar kebenaran dengan ukurannya sendiri lupa bahwa dirinya lebih dulu ditakar. Kesadaran itu tidak menghapus kewajiban menimbang, tetapi membuat penimbangan dilakukan dengan kesadaran akan batas diri. Siapa yang lebih dulu menakar kita, dan dengan ukuran siapa kita menakar orang lain?
  • Allah menciptakan segala sesuatu lalu menentukannya (25:2), dan bulan pun diberi tempat-tempat peredarannya (36:39). Manusia berada dalam aturan yang sama dengan ciptaan lain. Orang yang merasa hidupnya tidak berukuran bisa menemukan ketenangan dalam kenyataan bahwa setiap ciptaan diberi kadarnya. Batas-batas diri, kekuatan dan umur, termasuk dalam kadar itu, dan menerimanya tidak sama dengan menyerah. Di dalam batas itu manusia tetap berjalan, bekerja, dan memilih.
  • Kadar manusia disebut tanpa rincian, dan pembaca tidak diberi daftar tentang apa yang Allah tentukan bagi dirinya. Keadaan itu membebaskan seseorang dari kecemasan menebak-nebak kadarnya, karena bagiannya menempuh jalan yang disebut di ayat berikutnya. Pertanyaan tentang kadar diri berpindah menjadi pertanyaan tentang langkah yang diambil hari ini. Allah menyimpan rinciannya, dan manusia diberi jalan untuk ditempuh, sehingga perhatian dapat diarahkan kepada apa yang berada dalam jangkauannya.
  • Di 56:60 Allah menyatakan telah menentukan kematian di antara manusia. Kadar yang disebut di 80:19 mencakup ujung yang disebut di 80:21. Orang yang mengingat kadar hidupnya dengan sendirinya mengingat batasnya. Ingatan itu tidak dimaksudkan untuk menakutkan. Sesuatu yang sudah ditentukan dapat dihadapi dengan tenang, dan waktu yang tersisa dapat dipakai untuk apa yang lebih penting, sebelum tahap berikutnya tiba.
  • Adam diciptakan dari tanah (3:59), dan keturunannya dari setetes mani (80:19). Kedua bahan itu bukan bahan yang dibanggakan manusia. Tuhan menciptakan manusia dari bahan yang sederhana, lalu memuliakannya (17:70). Kemuliaan manusia datang sesudah penciptaannya, dari pemberian Allah, dan tidak dari bahannya. Orang yang membanggakan asal-usulnya lupa bahwa asal-usul setiap manusia sama sederhananya, dan bahwa sesudah penciptaan, sikap terhadap pemberian Allah yang membedakan seseorang dari yang lain.