مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ
Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُmin nuthfatin khalaqahu fa-qaddarahudari setetes mani Dia menciptakannya, lalu menentukannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنْmindari
- نُطْفَةٍnuthfatinnutfah
- خَلَقَهُkhalaqahumenciptakannya
- فَقَدَّرَهُfa-qaddarahulalu Dia menentukannya
Inti bacaan
Jawaban dengan detail proses: 'Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya', penekanan pada kesederhanaan materi awal dikombinasikan dengan perencanaan detail yang mengikutinya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(takdir)' tidak dipakai.
Kata (نُطْفَةٍ, nuthfah) muncul 9 kali di 9 surah: 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Jadi tiap surah yang memakainya cuma memakainya sekali.
Di 36:77 kata (نُطْفَةٍ, nuthfah) dipakai di dalam susunan yang mirip: manusia diingatkan bahwa ia diciptakan dari setetes, lalu tiba-tiba menjadi penentang yang nyata.
Kesamaan itu patut dicatat. Dua surah memakai (نُطْفَةٍ, nuthfah) untuk satu bantahan yang sama, yaitu bahwa asal yang sekecil itu tidak sepadan dengan kesombongan yang muncul kemudian.
Akar (نُطْفَةٍ, nuthfah) dipakai di 12 ayat saja, sehingga kata ini termasuk jarang. Hampir setiap pemakaiannya berhubungan dengan penciptaan manusia.
Kata (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:2 dan 80:19. Di 25:2 kata itu dipakai untuk penciptaan segala sesuatu yang ditentukan ukurannya dengan tepat.
Jadi (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) dipakai untuk ukuran seluruh ciptaan dan untuk ukuran satu manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan yang menyambungkannya cuma bentuk kata yang sama persis di dua tempat.
Akar (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 13:8, 41:10, 65:3, dan 87:3. Jadi penentuan ukuran salah satu pokok yang berulang di seluruh Al-Qur'an.
Kata (فَقَدَّرَهُ, fa-qaddarahu) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Penentuan ukurannya menyusul penciptaannya tanpa jeda, sehingga keduanya dilukiskan sebagai satu rangkaian.
Kata (نُطْفَةٍ, nuthfah) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya. Cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu keterangan pun yang mempersempitnya.
Perhatikan perbandingan antara pertanyaan di 80:18 dan jawaban di sini. Pertanyaannya membuka kemungkinan seluas apa pun, dan jawabannya menyebut sesuatu yang sekecil mungkin.
Jarak antara keduanya itulah yang membawa bantahannya. Yang berasal dari sekecil itu tidak punya dasar untuk sombong, dan Al-Qur'an tidak perlu menyatakannya dengan satu kalimat.
Ayat ini menyebut dua perbuatan sekaligus: menciptakan dan menentukan ukuran. Dua perbuatan itu berbeda sifatnya, yang pertama mengadakan dan yang kedua menata.
Perhatikan pula bahwa jawaban ini tidak menyebut tahap-tahap sesudahnya. Di surah lain penciptaan manusia diurai bertingkat, dari setetes menjadi segumpal darah dan seterusnya. Di sini uraiannya berhenti di satu kata.
Kependekan itu punya alasan yang bisa dibaca dari susunannya. Yang dipersoalkan surah ini bukan rincian penciptaan, melainkan jarak antara asal yang kecil dan sikap yang besar.
Rincian yang panjang justru akan mengalihkan perhatian. Satu sebutan sudah cukup untuk menutup jarak itu, dan surah ini memilih yang paling ringkas.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan sebelumnya: dari setetes air mani, lalu ditentukan ukurannya. Kata keduanya muncul 9 kali di 9 surah: 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19.
Di 36:77 kata itu dipakai di dalam susunan yang mirip: manusia diingatkan bahwa ia diciptakan dari setetes, lalu tiba-tiba menjadi penentang yang nyata. Jadi dua surah memakai satu kata untuk bantahan yang sama. Akarnya dipakai di 12 ayat saja, sehingga kata ini termasuk jarang.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:2 dan 80:19. Di 25:2 kata itu dipakai untuk penciptaan segala sesuatu yang ditentukan ukurannya dengan tepat, sehingga satu kata memuat ukuran seluruh ciptaan dan ukuran satu manusia. Akarnya dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 13:8, 41:10, 65:3, dan 87:3.
Kata terakhirnya juga didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga penentuan ukurannya menyusul penciptaannya tanpa jeda. Pertanyaan di 80:18 membuka kemungkinan seluas apa pun, dan jawaban di sini menyebut sesuatu yang sekecil mungkin. Jawaban ini juga tidak menyebut tahap-tahap sesudahnya, padahal di surah lain penciptaan manusia diurai bertingkat. Yang dipersoalkan surah ini bukan rincian penciptaan, melainkan jarak antara asal yang kecil dan sikap yang besar, dan satu kata sudah cukup untuk menutup jarak itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 9 kali di 9 surah: 16:4, 18:37, 22:5, 35:11, 36:77, 40:67, 53:46, 76:2, dan 80:19. Di 36:77 Allah memakainya di dalam susunan yang mirip, yaitu manusia diingatkan bahwa ia diciptakan dari setetes lalu tiba-tiba menjadi penentang yang nyata. Dua surah memakai satu kata untuk bantahan yang sama: asal sekecil itu tidak sepadan dengan kesombongan yang muncul kemudian. Dua surah yang tidak saling menyebut ternyata membawa bantahan yang sama lewat satu kata yang sama. Yang tersisa bagi pembacanya cuma menimbang jarak itu sendiri, tanpa alat bantu.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:2 dan 80:19. Di 25:2 Allah memakainya untuk penciptaan segala sesuatu yang ditentukan ukurannya dengan tepat. Jadi satu kata dipakai untuk ukuran seluruh ciptaan dan untuk ukuran satu manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan yang menyambungkannya cuma bentuk kata yang sama persis di dua tempat. Ukuran yang sama dipakai untuk seluruh ciptaan dan untuk satu orang, tanpa satu kalimat yang menghubungkannya. Dua ukuran yang berjauhan dinamai dengan satu bentuk yang sama persis.
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 12 ayat saja, sehingga kata ini termasuk jarang, dan hampir setiap pemakaiannya berhubungan dengan penciptaan manusia. Sebuah kata yang hampir tidak dipakai untuk hal lain membawa keterangannya sendiri. Ketika ia muncul, pembacanya sudah tahu pokok apa yang sedang dibicarakan sebelum kalimatnya selesai. Sebuah kata yang hampir tidak dipakai untuk hal lain sudah membawa pokoknya sebelum kalimatnya selesai. Pembacanya sudah tahu pokoknya sebelum ayatnya selesai, dan itu menghemat satu keterangan.
- Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga penentuan ukurannya menyusul penciptaannya tanpa jeda. Dua perbuatan itu berbeda sifatnya: yang pertama mengadakan, yang kedua menata. Allah tidak berhenti pada mengadakan saja, dan penataan itu dilukiskan sebagai bagian dari satu rangkaian, bukan sebagai perbuatan yang terpisah. Mengadakan dan menata disebut berdempetan, sehingga keduanya terbaca sebagai satu rangkaian, bukan dua perbuatan. Mengadakan tanpa menata akan meninggalkan sesuatu yang belum utuh.
- Kata keduanya tidak bertakrif, sehingga cakupannya dibiarkan seluas mungkin tanpa satu keterangan yang mempersempitnya. Pertanyaan di 80:18 membuka kemungkinan seluas apa pun, dan jawaban Allah di sini menyebut sesuatu yang sekecil mungkin. Jarak antara keduanya itulah yang membawa bantahannya, dan Al-Qur'an tidak perlu menyatakannya dengan satu kalimat. Jarak antara pertanyaan yang seluas mungkin dan jawaban yang sekecil mungkin itulah yang membawa bantahannya. Jarak itu tidak pernah dinyatakan, dan justru karena itu ia terasa.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 121 ayat, antara lain 6:96, 13:8, 41:10, 65:3, dan 87:3, sehingga penentuan ukuran salah satu pokok yang berulang. Yang berasal dari setetes dan ditentukan ukurannya oleh pihak lain tidak memegang apa pun yang bisa dijadikan dasar untuk sombong. Apa yang tersisa untuk dibanggakan seseorang ketika asalnya maupun ukurannya sama-sama bukan pilihannya sendiri? Asal dan ukuran sama-sama bukan pilihan sendiri, dan tidak ada yang tersisa dari keduanya untuk dibanggakan.