ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

Kemudian jalan Dia mudahkan baginya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُtsumma s-sabiila yassarahukemudian jalan Dia mudahkan baginya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. السَّبِيلَs-sabiilajalan
  3. يَسَّرَهُyassarahumemudahkannya

Inti bacaan

Bentuk kata kerja yassara tercatat di 11 ayat, empat di antaranya di surah 54 untuk Al-Qur'an yang dimudahkan. Di 76:3 dan 90:10 jalan disebut bersama kata kerja hadaa, sedangkan di 80:20 bersama yassara.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari (ثُمَّ السَّبِيلَ, tsumma s-sabiila) yang berarti "kemudian jalan itu", dan (يَسَّرَهُ, yassarahu) yang berarti "Dia memudahkannya". Kalimatnya pendek, tiga kata, dan tidak memuat pelaku yang disebut dengan nama. Kata sabiil diletakkan di depan kata kerjanya, sehingga jalan itu disebut lebih dulu sebelum perbuatan atasnya.

Kata (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", di surah ini membuka 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26. Di rangkaian 80:19-22 dua kata kerja di dalam satu ayat dihubungkan dengan fa-, "lalu", seperti khalaqahu fa-qaddarahu di 80:19 dan amaatahu fa-aqbarahu di 80:21, sedangkan tsumma membuka ayat baru. Dengan susunan itu setiap ayat berisi satu tahap, dan tsumma menandai perpindahan dari tahap ke tahap.

Kata sabiil tercatat di 164 ayat. Bentuk yang sama, dengan kata sandang dan sebagai sasaran kata kerja, dipakai di 76:3, (إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ, innaa hadaynaahu s-sabiila), "sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan". Di 90:10 jalan disebut dalam bentuk dua, (وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ, wa-hadaynaahu n-najdayni), "dan Kami menunjukinya dua jalan". Di kedua ayat itu kata kerjanya hadaa, menunjukkan, sedangkan di 80:20 kata kerjanya yassara, memudahkan. Jalan mana yang dimaksud tidak diuraikan dengan kata tersendiri. Kata sabiil di tempat lain dipakai untuk jalan dalam arti harfiah, seperti ibnu sabiil, orang dalam perjalanan, di 2:177, dan untuk jalan Allah dalam susunan fii sabiili llaahi, sehingga maknanya ditentukan oleh susunan tempat kata itu dipakai.

Kata (يَسَّرَهُ, yassarahu) berasal dari akar ي-س-ر, yang tercatat di 40 ayat. Bentuk kata kerja yassara tercatat di 11 ayat, dan bentuk yassarahu tercatat di 80:20 saja. Di 54:17, 54:22, 54:32, dan 54:40 kata kerja yang sama dipakai untuk Al-Qur'an, (وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ, wa-la-qad yassarnaa l-qur'aana li-dz-dzikri), "dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran". Di 20:26 Musa memohon (وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي, wa-yassir lii amrii), "dan mudahkanlah untukku urusanku". Di 87:8 kata itu dipakai untuk orang yang disapa, (وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَىٰ, wa-nuyassiruka li-l-yusraa), "dan Kami akan memudahkanmu menuju kemudahan".

Akhiran -hu pada yassarahu sejalan dengan akhiran -hu pada khalaqahu, qaddarahu, amaatahu, aqbarahu, dan ansyarahu di 80:19-22, yang semuanya merujuk kepada manusia. Terjemahan menampung rujukan itu dengan kata "baginya", sehingga jalan itu dimudahkan bagi manusia yang disebut di 80:17. Di 92:7 dan 92:10 kata kerja yang sama memakai akhiran yang sama, (فَسَنُيَسِّرُهُ, fa-sa-nuyassiruhu), "maka Kami akan memudahkannya", dan arahnya disebut dengan kata tersendiri, menuju kemudahan di 92:7 dan menuju kesukaran di 92:10.

Tafsiran

Ayat ini terletak di antara penentuan di 80:19 dan kematian di 80:21. Jalan yang dimudahkan menempati rentang hidup manusia, sesudah dia diciptakan dan ditentukan, dan sebelum dia dimatikan. Dalam rangkaian tahap-tahap itu, 80:20 berbeda dari tahap lainnya karena di dalamnya manusia berjalan, sedangkan penciptaan, kematian, dan kebangkitan terjadi atas dirinya tanpa dia pilih.

Urutan yang sejalan tercatat di 76:2-3. Manusia diciptakan dari setetes mani yang bercampur untuk diuji, dijadikan mendengar dan melihat, lalu ditunjukkan jalan, dan sesudahnya ada yang bersyukur dan ada yang sangat kufur. Di surah 80 kekufuran disebut lebih dulu, di 80:17, lalu penciptaan dan jalan menyusul. Dengan susunan itu kekufuran di 80:17 terbaca sebagai sikap terhadap jalan yang sudah dimudahkan.

Urutan penentuan lalu jalan, yang juga tercatat di 87:2-3, sampai pada tahap jalan di ayat ini. Jalan yang disebut bersama petunjuk di 76:3 dan 90:10 berujung pada pilihan, antara syukur dan kufur atau antara dua jalan, sehingga jalan di 80:20 terbaca sebagai jalan hidup yang di dalamnya manusia memilih arah. Arah yang dipilih tidak diuraikan di 80:20, dan 80:23 menyebut keadaan manusia yang belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut jalan manusia sebagai jalan yang sudah dimudahkan, dengan kata kerja lampau. Hidup sering terasa berat, dan beban yang dirasakan itu nyata. Ayat ini tidak meniadakan beban itu, tetapi menaruh di bawahnya kenyataan bahwa jalan sudah dibuka sejak awal. Ketika langkah terasa sulit, ingatan bahwa jalan itu sudah dimudahkan dapat menggeser pertanyaan dari mengapa jalan ini begitu berat menjadi langkah mana yang sekarang dapat diambil, dengan bekal yang sudah Allah sediakan.
  • Kata kerja yang sama dipakai di 54:17 untuk Al-Qur'an, yang Allah mudahkan untuk pelajaran, disusul pertanyaan, adakah yang mengambil pelajaran? Jalan manusia dan peringatan untuknya sama-sama dimudahkan. Di 80:11-12 peringatan itu terbuka bagi siapa yang menghendaki untuk mengingatnya. Orang yang merasa firman Tuhan terlalu sulit untuk didekati dapat memulai dari kenyataan bahwa kemudahannya sudah dinyatakan, dan dari satu ayat yang dibaca dengan sungguh-sungguh.
  • Di 20:26 Musa memohon kepada Tuhannya agar urusannya dimudahkan. Kemudahan yang di 80:20 dinyatakan bagi setiap manusia dapat dimohon untuk urusan tertentu. Musa memohon ketika dia hendak menghadap Fir'aun, urusan yang berat baginya. Doa itu memperlihatkan bahwa mengakui kemudahan dari Allah tidak menghalangi seseorang untuk memintanya lagi pada saat dia merasa sempit. Kemudahan yang sudah diberikan dan kemudahan yang dimohon sama-sama bersumber dari Allah.
  • Di 92:5-10 Allah memudahkan orang yang memberi dan bertakwa menuju kemudahan, dan memudahkan orang yang kikir dan merasa dirinya cukup menuju kesukaran. Sikap merasa cukup itu disebut dengan kata kerja yang sama dengan sikap orang di 80:5. Kemudahan berjalan ke arah yang dipilih seseorang. Jalan yang dimudahkan bagi manusia tidak menjamin ke mana kakinya melangkah, dan pertanyaannya bergeser menjadi ke arah mana kita sedang dimudahkan?
  • Jalan itu dimudahkan bagi manusia yang di 80:17 disebut kufur. Allah memberikan kemudahan sebelum manusia bersyukur, dan di rangkaian ini pemberian itu disebut tanpa syarat bahwa manusia harus lebih dulu berterima kasih. Pembaca yang pernah merasa berhak menahan kebaikan dari orang yang tidak tahu berterima kasih dapat menimbang kembali sikapnya di hadapan Tuhan yang tetap memudahkan jalan bagi hamba yang kufur. Kemurahan itu mendahului balasan, dan manusia yang menerimanya dapat meneladani kemurahan itu terhadap sesamanya.
  • Allah menunjukkan jalan di 76:3 dan 90:10, dan di 80:20 Dia memudahkannya. Mengetahui jalan dan sanggup menempuhnya merupakan dua pemberian yang berbeda. Seseorang bisa mengetahui jalan yang benar tanpa merasa sanggup menempuhnya. Rangkaian ayat-ayat itu memperlihatkan bahwa keduanya datang dari Tuhan yang sama, sehingga orang yang sudah diberi pengetahuan tentang jalan dapat pula berharap diberi kesanggupan untuk menempuhnya, dan memohonnya kepada Dia.