ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ

Kemudian jalan Dia mudahkan baginya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُtsumma s-sabiila yassarahukemudian jalan Dia mudahkan baginya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. السَّبِيلَs-sabiilajalan
  3. يَسَّرَهُyassarahumemudahkannya

Inti bacaan

Anugerah kemudahan jalan hidup: 'kemudian jalan itu Dia mudahkan baginya', pengakuan bahwa petunjuk untuk menjalani hidup (baik secara fisik maupun spiritual) disediakan dengan aksesibilitas yang wajar, bukan tersembunyi tanpa arah.

Penjelasan pilihan kata

Kata 'itu' setelah 'jalan' tidak dipakai: tidak ada dzaalika/haadzaa pada posisi ini menurut morfologi. Yang tertulis (السَّبِيلَ, as-sabiil) tanpa satu kata penunjuk pun.

Kata (يَسَّرَهُ, yassarahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:185, 44:58, 54:17, 87:8, dan 92:7.

Di 54:17 akar (يَسَّرَهُ, yassarahu) dipakai untuk Al-Qur'an yang dimudahkan untuk peringatan, dan kalimat itu diulang empat kali di surah yang sama. Di 87:8 dan 92:7 ia dipakai untuk kemudahan yang diberikan kepada seseorang.

Jadi akar (يَسَّرَهُ, yassarahu) biasanya menamai kemudahan menerima wahyu atau menempuh kebaikan. Di sini ia dipakai untuk kemudahan jalan yang diberikan kepada manusia sejak awal hidupnya.

Kata (السَّبِيلَ, as-sabiil) berasal dari akar yang dipakai di 164 ayat, antara lain 2:154, 4:76, 16:125, 29:69, dan 90:12. Jadi jalan salah satu lambang yang paling sering dipakai.

Kata (السَّبِيلَ, as-sabiil) memakai kata sandang, sehingga yang disebut jalan yang dianggap sudah dikenali. Tetapi jalan mana tidak diterangkan di ayat ini maupun di ayat mana pun di surah ini.

Ketiadaan keterangan itu membuat cakupannya terbuka. Yang dimudahkan bisa jalan hidup, bisa jalan lahir, bisa jalan kebaikan. Al-Qur'an tidak memilih satu pun di antaranya.

Kata (السَّبِيلَ, as-sabiil) didahulukan dari kata kerjanya. Susunan seperti itu menonjolkan yang dikenai perbuatan sebelum perbuatannya sendiri disebut.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf di 80:19 yang menyatakan urutan rapat. Jadi dua tahap di 80:19 dilukiskan berdempetan, sedangkan tahap ini datang sesudah selang.

Perbedaan dua huruf itu melukiskan waktu tanpa menyebut satu satuan waktu pun. Pembacanya merasakan jaraknya, walau tidak ada satu kata pun yang menyebut lamanya.

Ayat ini menyebut nikmat ketiga di dalam rangkaiannya, sesudah penciptaan dan penentuan ukuran. Tiga nikmat itu berjalan dari yang paling awal ke yang paling luas.

Perhatikan bahwa seluruh perbuatan di rangkaian ini dikerjakan pihak yang tidak disebut namanya. Menciptakan, menentukan, memudahkan: ketiganya memakai bentuk yang menunjuk satu pelaku, dan pelakunya tidak dinamai.

Ketiadaan nama itu berlaku sampai 80:23. Baru sesudah rangkaian nikmatnya selesai, pembicaraannya berpindah kepada perintah yang belum ditunaikan manusia.

Perhatikan pula bahwa tiga nikmat pertama di rangkaian ini seluruhnya diberikan sebelum manusia bisa memilih apa pun. Diciptakan, ditentukan ukurannya, dimudahkan jalannya: tidak satu pun diminta olehnya.

Susunan itu memperkuat bantahan di 80:17. Sesuatu yang seluruhnya diterima tanpa diminta sulit dijadikan alasan untuk merasa berjasa.

Yang menarik, daftar itu tidak berhenti pada nikmat yang menyenangkan. Dua tahap berikutnya justru kematian dan penguburan, dan keduanya disebut dengan susunan yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menyebut nikmat berikutnya: jalan yang dimudahkan. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:185, 44:58, 54:17, 87:8, dan 92:7.

Di 54:17 akar itu dipakai untuk Al-Qur'an yang dimudahkan untuk peringatan, dan kalimat itu diulang empat kali di surah yang sama. Di 87:8 dan 92:7 ia dipakai untuk kemudahan yang diberikan kepada seseorang. Jadi akar itu biasanya menamai kemudahan menerima wahyu atau menempuh kebaikan.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 164 ayat, antara lain 2:154, 4:76, 16:125, 29:69, dan 90:12. Ia memakai kata sandang, sehingga yang disebut jalan yang dianggap sudah dikenali, tetapi jalan mana tidak diterangkan di ayat mana pun di surah ini.

Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf di 80:19 yang menyatakan urutan rapat. Jadi dua tahap di 80:19 dilukiskan berdempetan, sedangkan tahap ini datang sesudah selang.

Seluruh perbuatan di rangkaian ini dikerjakan pihak yang tidak disebut namanya, dan ketiadaan nama itu berlaku sampai 80:23. Tiga nikmat pertama di rangkaian ini seluruhnya diberikan sebelum manusia bisa memilih apa pun, dan tidak satu pun diminta olehnya. Susunan itu memperkuat bantahan di 80:17, karena sesuatu yang seluruhnya diterima tanpa diminta sulit dijadikan alasan untuk merasa berjasa.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 2:185, 44:58, 54:17, 87:8, dan 92:7. Di 54:17 akar itu dipakai untuk Al-Qur'an yang dimudahkan untuk peringatan, dan kalimat itu diulang empat kali di surah yang sama. Jadi akar yang biasanya menamai kemudahan menerima wahyu di sini dipakai untuk kemudahan jalan sejak awal hidup manusia. Akar yang biasanya menamai kemudahan menerima wahyu di sini menamai kemudahan yang diberikan sejak awal hidup. Tidak ada satu keterangan tambahan pun yang menuntun pembacanya ke kesimpulan itu.
  • Kata keduanya memakai kata sandang, sehingga yang disebut jalan yang dianggap sudah dikenali. Tetapi Allah tidak menerangkan jalan mana, tidak di ayat ini dan tidak di ayat mana pun di surah ini. Ketiadaan keterangan itu membuat cakupannya terbuka: bisa jalan hidup, bisa jalan lahir, bisa jalan kebaikan. Al-Qur'an tidak memilih satu pun di antaranya, dan pembacanya tidak diberi alat untuk memilihkannya. Sesuatu yang dianggap dikenali tetapi tidak pernah diterangkan membiarkan cakupannya tetap terbuka. Cakupan yang dibiarkan terbuka menampung lebih banyak daripada yang dibatasi.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 164 ayat, antara lain 2:154, 4:76, 16:125, 29:69, dan 90:12, sehingga jalan salah satu lambang yang paling sering dipakai. Sebuah lambang yang sesering itu sudah membawa muatannya sendiri sebelum ayatnya selesai dibaca. Ketika ia muncul tanpa keterangan, pembacanya mengisinya dengan seluruh pemakaian yang pernah ditemuinya. Lambang yang dipakai ratusan kali sudah membawa muatannya sendiri sebelum ayatnya selesai dibaca. Lambang yang sering dipakai membawa seluruh pemakaian sebelumnya ke dalam ayat ini.
  • Kata keduanya didahulukan dari kata kerjanya, dan susunan seperti itu menonjolkan yang dikenai perbuatan sebelum perbuatannya sendiri disebut. Jadi yang lebih dulu terbaca bukan kemudahannya, melainkan jalan yang dimudahkan. Allah menaruh pemberiannya di depan kalimat, di tempat yang paling awal ditangkap mata pembacanya. Pemberian ditaruh di depan kalimat, di tempat yang paling awal ditangkap mata pembacanya. Letak sebuah kata di dalam kalimat menentukan apa yang lebih dulu terbaca.
  • Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf di 80:19 yang menyatakan urutan rapat. Jadi dua tahap di 80:19 dilukiskan berdempetan, sedangkan tahap ini datang sesudah selang. Allah melukiskan waktu lewat dua huruf tanpa menyebut satu satuan waktu pun, dan pembacanya merasakan jaraknya walau tidak ada satu kata yang menyebut lamanya. Dua huruf cukup untuk melukiskan dua kecepatan waktu tanpa menyebut satu satuan waktu pun. Pembacanya merasakan jarak waktu itu tanpa pernah diberi satu ukuran pun.
  • Seluruh perbuatan di rangkaian ini dikerjakan pihak yang tidak disebut namanya. Menciptakan, menentukan, dan memudahkan sama-sama memakai bentuk yang menunjuk satu pelaku, dan pelakunya tidak dinamai sampai 80:23. Apa yang dinyatakan sebuah daftar pemberian ketika pemberinya sengaja tidak disebut, sehingga yang terbaca cuma bahwa semuanya datang dan tidak satu pun diusahakan sendiri? Sebuah daftar tanpa nama pemberinya tetap menuntut, dan tuntutan tanpa nama sulit ditawar.