ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ

Kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُtsumma amaatahu fa-aqbarahukemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَمَاتَهُamaatahumematikannya
  3. فَأَقْبَرَهُfa-aqbarahulalu Dia menguburkannya

Inti bacaan

Tahap akhir kehidupan yang terhormat: 'kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya', pengakuan bahwa bahkan kematian disertai proses yang bermartabat (penguburan), bukan pembuangan tanpa penghormatan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (أَمَاتَهُ, amaatahu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:259 dan 80:21. Di 2:259 kata itu dipakai untuk orang yang dimatikan seratus tahun lalu dibangkitkan kembali.

Kesamaan itu patut dicatat. Dua tempat memakai (أَمَاتَهُ, amaatahu) untuk mematikan yang disusul kebangkitan. Di 2:259 kebangkitannya diceritakan sebagai peristiwa, dan di sini ia disebut sebagai kemungkinan di 80:22.

Kata (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 8 ayat saja: 9:84, 22:7, 35:22, 36:51, 54:7, 60:13, 80:21, dan 100:9.

Jadi akar (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) termasuk jarang, dan tujuh pemakaian lainnya menyebut kubur sebagai tempat orang mati berada atau tempat mereka keluar. Cuma di sini ia berupa perbuatan menguburkan.

Bentuk (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) menyatakan membuat sesuatu berkubur, bukan menguburkan dengan tangan sendiri. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Allah memasukkan manusia ke liang, melainkan bahwa Ia menjadikan manusia punya kubur.

Perbedaan itu berakibat. Dikubur adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada semua makhluk. Yang dinyatakan bukan cuma kematian, melainkan penghormatan sesudah kematian.

Kata (أَمَاتَهُ, amaatahu) berasal dari akar yang dipakai di 143 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 6:122, 39:42, dan 67:2. Jadi kematian salah satu pokok yang paling sering disebut.

Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menyatakan urutan yang berjarak, sama seperti di 80:20. Dua kali berturut-turut huruf yang sama dipakai, sehingga tiga tahap terakhir dilukiskan berselang-seling.

Kata (فَأَقْبَرَهُ, fa-aqbarahu) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi di dalam satu ayat ini terdapat dua macam urutan: berjarak dari ayat sebelumnya, dan rapat di antara dua perbuatannya sendiri.

Perhatikan bahwa kematian disebut di dalam daftar nikmat. Ia berdiri di antara jalan yang dimudahkan dan kebangkitan, dan tidak dibedakan dari keduanya dengan satu kata pun.

Susunan itu ganjil kalau dibaca dengan ukuran biasa. Kematian jarang dihitung sebagai pemberian. Di sini ia disebut dengan susunan yang sama persis dengan pemberian yang lain.

Ayat ini menyebut dua perbuatan yang dikenakan kepada manusia setelah ia tidak lagi berdaya. Tidak ada satu kata pun yang menyebut peran manusia di dalam keduanya.

Perhatikan pula bahwa rangkaian ini menyebut lima tahap tanpa satu kali pun menyebut usaha manusia. Diciptakan, ditentukan, dimudahkan, dimatikan, dikuburkan: seluruhnya dikenakan kepadanya.

Ketiadaan usaha itu bukan berarti manusia dianggap tidak berbuat apa-apa. Yang dilukiskan cuma kerangka hidupnya, dan kerangka itu memang bukan buatannya.

Perbedaan antara kerangka dan isinya tidak dinyatakan Al-Qur'an di ayat ini. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang paling menentukan di dalam hidup seseorang ternyata bagian yang paling tidak dipilihnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan perjalanan manusia: dimatikan lalu dijadikan berkubur. Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:259 dan 80:21, dan di 2:259 kata itu dipakai untuk orang yang dimatikan seratus tahun lalu dibangkitkan kembali.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 8 ayat saja: 9:84, 22:7, 35:22, 36:51, 54:7, 60:13, 80:21, dan 100:9. Tujuh pemakaian lainnya menyebut kubur sebagai tempat orang mati berada atau tempat mereka keluar, dan cuma di sini ia berupa perbuatan menguburkan.

Bentuk kata terakhirnya menyatakan membuat sesuatu berkubur, bukan menguburkan dengan tangan sendiri. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Allah memasukkan manusia ke liang, melainkan bahwa Ia menjadikan manusia punya kubur, dan dikubur adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada semua makhluk.

Akar kata keduanya dipakai di 143 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 6:122, 39:42, dan 67:2. Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sama seperti di 80:20.

Kematian di sini disebut di dalam daftar nikmat, berdiri di antara jalan yang dimudahkan dan kebangkitan. Rangkaian ini menyebut lima tahap tanpa satu kali pun menyebut usaha manusia, sehingga yang dilukiskan cuma kerangka hidupnya. Yang paling menentukan di dalam hidup seseorang ternyata justru bagian yang paling tidak dipilihnya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:259 dan 80:21. Di 2:259 Allah memakainya untuk orang yang dimatikan seratus tahun lalu dibangkitkan kembali. Jadi dua tempat memakai satu kata untuk mematikan yang disusul kebangkitan. Di 2:259 kebangkitannya diceritakan sebagai peristiwa yang sudah terjadi, dan di sini ia disebut sebagai kemungkinan di 80:22. Satu kata yang cuma dipakai dua kali menaruh kematian dan kebangkitan di dalam satu tarikan yang sama. Susunan ayatnya membiarkan hal itu berdiri sendiri, tanpa satu kalimat penegas.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 8 ayat saja: 9:84, 22:7, 35:22, 36:51, 54:7, 60:13, 80:21, dan 100:9. Tujuh pemakaian lainnya menyebut kubur sebagai tempat orang mati berada atau tempat mereka keluar. Cuma di sini ia berupa perbuatan menguburkan, dan perbedaan itu membuat ayat ini berdiri sendiri di antara delapan tempat. Tujuh tempat lain menyebut kubur sebagai tempat, dan cuma di sini ia berupa perbuatan yang dikerjakan. Satu tempat yang berbeda dari tujuh lainnya patut diperiksa, bukan dilewati.
  • Bentuk kata terakhirnya menyatakan membuat sesuatu berkubur, bukan menguburkan dengan tangan sendiri. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa Allah memasukkan manusia ke liang, melainkan bahwa Ia menjadikan manusia punya kubur. Dikubur adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada semua makhluk, sehingga yang disebut di sini bukan cuma kematian, melainkan penghormatan sesudah kematian. Yang disebut bukan sekadar kematian, melainkan penghormatan sesudahnya yang tidak diberikan kepada semua makhluk. Yang diberikan sesudah seseorang tidak berdaya tetap dihitung sebagai pemberian.
  • Kematian disebut Allah di dalam daftar nikmat, berdiri di antara jalan yang dimudahkan dan kebangkitan, dan tidak dibedakan dari keduanya dengan satu kata pun. Susunan itu ganjil kalau dibaca dengan ukuran biasa, karena kematian jarang dihitung sebagai pemberian. Apa yang berubah pada gambaran seseorang tentang kematian ketika ia disebut dengan susunan yang sama persis dengan pemberian yang lain? Sesuatu yang jarang dihitung sebagai pemberian di sini disebut dengan susunan yang sama persis dengan pemberian lain. Kesamaan susunan itu menaruh kematian di deretan yang sama dengan jalan yang dimudahkan.
  • Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sama seperti di 80:20, sedangkan kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi di dalam satu ayat ini terdapat dua macam urutan: berjarak dari ayat sebelumnya, dan rapat di antara dua perbuatannya sendiri. Allah melukiskan dua kecepatan yang berbeda cuma dengan dua huruf. Dua kecepatan yang berbeda dilukiskan di dalam satu ayat cuma dengan dua huruf yang berbeda. Dua huruf memikul perbedaan yang tidak dinyatakan satu kata pun.
  • Ayat ini menyebut dua perbuatan yang dikenakan kepada manusia setelah ia tidak lagi berdaya, dan tidak ada satu kata pun yang menyebut perannya di dalam keduanya. Akar kata keduanya dipakai Allah di 143 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 6:122, 39:42, dan 67:2, sehingga kematian salah satu pokok yang paling sering disebut. Yang paling sering disebut itu justru yang paling tidak bisa diatur manusia. Yang paling sering diperingatkan ternyata juga yang paling sedikit bisa disiapkan.