ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ
Kemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُtsumma idzaa syaa'a ansyarahukemudian, apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- إِذَاidzaaapabila
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- أَنْشَرَهُansyarahuDia membangkitkannya
Inti bacaan
Kata kerja ansyara tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan turunannya munsyariin di 44:35. Pelakunya di 43:11 dan 80:22 ialah Allah, sedangkan 21:21 mempertanyakan tuhan-tuhan dari bumi yang dianggap sanggup melakukannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat kata sambung (ثُمَّ, tsumma), "kemudian", keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a), "apabila Dia menghendaki", dan kata kerja (أَنْشَرَهُ, ansyarahu), "Dia membangkitkannya". Akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk manusia yang sama dengan akhiran pada amaatahu dan fa-aqbarahu di 80:21, dan pelakunya tetap Allah. Ayat ini ayat ketiga berturut-turut yang dibuka dengan tsumma, sesudah 80:20 dan 80:21.
Kata (أَنْشَرَهُ, ansyarahu) berasal dari akar ن-ش-ر, yang tercatat di 20 ayat. Kata kerja ansyara, "membangkitkan" atau "menghidupkan", tercatat di tiga ayat, 21:21, 43:11, dan 80:22, dan bentuk turunannya yang berpola sama, munsyariin, "orang-orang yang dibangkitkan", tercatat di 44:35. Di 21:21 bentuk itu muncul dalam pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, (هُمْ يُنْشِرُونَ, hum yunsyiruuna), "yang dapat menghidupkan". Di 44:35 dikutip perkataan orang-orang yang menolak kebangkitan, (وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ, wa-maa nahnu bi-munsyariina), "dan kita tidak akan dibangkitkan". Di 43:11 kata kerja yang sama dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dengan air dari langit, dan ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Kata benda dari akar yang sama, yang berarti "kebangkitan", tercatat di lima ayat, 25:3, 25:40, 25:47, 35:9, dan 67:15. Di 35:9, sesudah angin, awan, dan negeri mati yang dihidupkan dengan air, ayat itu ditutup dengan (كَذَٰلِكَ النُّشُورُ, ka-dzaalika n-nusyuuru), "demikianlah kebangkitan itu". Di 67:15, sesudah perintah berjalan di penjuru bumi dan makan dari rezeki-Nya, ayat itu ditutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Di 25:47 kata benda itu dipakai untuk siang, (وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا, wa-ja'ala n-nahaara nusyuuran), "dan menjadikan siang untuk bangkit", sesudah malam disebut pakaian dan tidur disebut istirahat, sehingga bangun dari tidur dan bangkit sesudah mati disebut dengan akar yang sama. Di 25:40 orang-orang yang melewati negeri yang dihujani hujan yang buruk disebut (بَلْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ نُشُورًا, bal kaanuu laa yarjuuna nusyuuran), "bahkan, mereka tidak mengharapkan kebangkitan".
Kebangkitan di 2:259 dan 22:7 disebut dengan akar lain, ب-ع-ث, sedangkan 80:22 memakai akar ن-ش-ر, akar yang di 43:11 dipakai untuk negeri mati yang dihidupkan dan di 35:9 dipakai untuk menamai kebangkitan sesudah gambaran bumi yang hidup kembali.
Keterangan (إِذَا شَاءَ, idzaa syaa'a) tercatat di 80:22 saja. Kata kerja syaa'a, "menghendaki", dipakai di surah ini pada 80:12 dan 80:22. Di 80:12 pelakunya manusia, (فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ, fa-man syaa'a dzakarahu), "maka siapa yang menghendaki, tentu mengingatnya", sedangkan di 80:22 pelakunya Allah. Waktu kebangkitan tidak ditentukan di 80:22, dan kata idzaa, "apabila", menyandarkannya kepada kehendak Allah tanpa menyebut kapan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian 80:18-22 dengan kebangkitan. Sesudah kematian dan penguburan di 80:21, rangkaian itu tidak berhenti di kubur, dan deretan kata kerja berakhiran -hu itu ditutup dengan ansyarahu. Di 25:3 tuhan-tuhan selain Allah digambarkan (وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا, wa-laa yamlikuuna mawtan wa-laa hayaatan wa-laa nusyuuran), "dan tidak menguasai kematian, dan tidak kehidupan, dan tidak kebangkitan". Ketiga hal yang disangkal dari tuhan-tuhan itu disebut di 80:18-22 sebagai perbuatan Allah atas manusia, kehidupan sejak setetes mani, kematian, dan kebangkitan.
Ayat ini juga menjawab perkataan yang dikutip di 44:35 dengan akar dan pola yang sama. Orang-orang itu berkata bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, dan 80:22 menyatakan bahwa Allah membangkitkan manusia, tanpa perdebatan di dalam ayatnya. Bahan renungannya datang sesudahnya, di 80:24-32, ketika manusia diminta memperhatikan makanannya yang tumbuh dari bumi yang dibelah, gambaran yang di 43:11 disandingkan dengan pernyataan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan.
Waktu kebangkitan disandarkan kepada kehendak Allah. Menjelang akhir surah sebelumnya, orang-orang bertanya tentang Saat itu, (أَيَّانَ مُرْسَاهَا, ayyaana mursaahaa), "kapan tibanya" (79:42), dan jawabannya (إِلَىٰ رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا, ilaa rabbika muntahaahaa), "kepada Tuhanmulah kesudahannya" (79:44). Di 80:22 kebangkitan manusia disebut dengan cara yang sama, waktunya diserahkan kepada kehendak Allah sementara kepastiannya dinyatakan.
Renungan dan Hikmah
- Kapan kebangkitan terjadi tidak diberitahukan di 80:22, dan di 79:44 kesudahannya diserahkan kepada Tuhan. Banyak urusan hidup ditata dengan tenggat, dan pekerjaan yang tenggatnya jauh mudah tertunda sampai tenggat itu dekat. Kebangkitan disebut tanpa tanggal, sehingga persiapan untuknya tidak dapat diatur dengan cara itu. Orang yang menunggu tanda-tanda waktunya sebelum bersiap akan terus menunda, sebab tanda itu tidak diberikan kepadanya, dan kepastian yang dinyatakan Allah di ayat ini cukup menjadi alasan untuk bersiap sejak sekarang.
- Kata kerja menghendaki dipakai di surah ini untuk dua pelaku. Di 80:12 manusia yang menghendaki akan mengingat peringatan, dan di 80:22 Allah membangkitkan manusia apabila Dia menghendaki. Kesediaan mengingat peringatan diletakkan dalam kehendak manusia, sedangkan waktu kebangkitan tidak. Ke mana perhatian seseorang lebih banyak tercurah, kepada hal yang diletakkan Allah dalam kehendaknya atau kepada hal yang tidak? Kegelisahan tentang kapan akhir datang tidak mengubah waktunya, sedangkan kesediaan mengingat masih dapat dipilih hari ini.
- Di 21:21 diajukan pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang diambil dari bumi, apakah mereka dapat menghidupkan, dan 21:22 menyatakan bahwa langit dan bumi akan binasa sekiranya ada tuhan-tuhan selain Allah. Kata kerja yang dipakai dalam pertanyaan itu dipakai di 80:22 untuk Allah. Harta, jabatan, dan orang yang berpengaruh dapat menolong seseorang dalam banyak urusan hidup, dan 80:5 menyebut orang yang merasa serba cukup dengan semua itu. Pada tahap yang disebut di 80:22, sandaran-sandaran itu tidak berperan, dan kebangkitan manusia berada pada kehendak Allah.
- Di 43:11 negeri yang mati dihidupkan dengan air dari langit, dengan kata kerja yang sama dengan ansyarahu, lalu ayat itu menyatakan bahwa demikianlah manusia akan dikeluarkan. Tanah yang retak pada musim kemarau lalu menghijau sesudah hujan pertama dapat disaksikan di banyak tempat, dan pemandangan itu disandingkan Allah dengan kebangkitan manusia. Orang yang meragukan kebangkitan dapat melihat perumpamaannya berulang setiap tahun, tanpa harus menunggu hari itu tiba.
- Akhiran -hu di ayat ini tunggal, dan 80:37 menyatakan (لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ, li-kulli mri'in minhum yawma'idzin sya'nun yughniihi), "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya". Selama hidup manusia dihitung dalam kelompok, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. Pada kebangkitan Allah membangkitkan setiap orang, dan tiap orang disibukkan oleh urusannya sendiri, sehingga keanggotaan dalam kelompok tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban pribadi.
- Ayat 67:15 menyebut bumi yang dijadikan Allah mudah bagi manusia, memerintahkan berjalan di penjuru-penjurunya dan makan dari rezeki-Nya, lalu menutup dengan (وَإِلَيْهِ النُّشُورُ, wa-ilayhi n-nusyuuru), "dan kepada-Nyalah kebangkitan". Kegiatan sehari-hari, berangkat bekerja, mencari nafkah, dan makan, disebut dalam satu ayat bersama kebangkitan. Perjalanan ke tempat kerja dan makan siang berlangsung dalam hidup yang sedang menuju hari yang disebut di 80:22, dan kesadaran itu dapat menyertai kegiatan yang paling biasa.