كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
Sekali-kali tidak! Dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُkallaa lammaa yaqdhi maa amarahusekali-kali tidak, dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَمَّاlammaabelum
- يَقْضِyaqdhimenunaikan
- مَاmaaapa yang
- أَمَرَهُamarahumemerintahkannya
Inti bacaan
Susunan lammaa dengan kata kerja seperti di ayat ini tercatat di enam ayat, dan di semuanya terjemahan proyek ini memakai kata belum. Ungkapan maa amarahum tercatat di 66:6, tentang malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap perintah-Nya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari empat bagian, (كَلَّا, kallaa) yang berarti "sekali-kali tidak", (لَمَّا, lammaa) yang berarti "belum", kata kerja (يَقْضِ, yaqdhi) yang berarti "menunaikan", dan (مَا أَمَرَهُ, maa amarahu) yang berarti "apa yang diperintahkan-Nya kepadanya". Pelaku yaqdhi ialah manusia yang disebut sejak 80:17, sedangkan pelaku kata kerja amara ialah Allah, dan akhiran -hu pada kata kerja itu menunjuk manusia tadi. Ayat yang pendek ini memuat dua pelaku, Allah yang memerintah dan manusia yang belum menunaikan perintah itu.
Di surah ini kata (كَلَّا, kallaa) dipakai di 80:11 dan 80:23. Di 80:11 kata itu datang sesudah teguran kepada orang yang disapa di 80:1-10, lalu disusul (إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ, innahaa tadzkiratun), "sesungguhnya itu adalah peringatan". Di 80:23 kata itu datang sesudah rangkaian penciptaan, kematian, dan kebangkitan di 80:18-22. Apa yang ditolak dengan kallaa di 80:23 tidak dirumuskan dalam kalimat tersendiri, dan kalimat yang menyusulnya menyatakan keadaan manusia, bahwa dia belum menunaikan perintah.
Kata (لَمَّا, lammaa) yang diikuti kata kerja seperti di ayat ini tercatat di enam ayat, 2:214, 9:16, 10:39, 49:14, 62:3, dan 80:23, dan di keenamnya terjemahan proyek ini memakai kata "belum". Di 49:14 kata itu dipakai untuk orang-orang yang mengaku telah beriman, (وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ, wa-lammaa yadkhuli l-iimaanu fii quluubikum), "karena iman belum masuk ke dalam hati kalian", dan di 62:3 untuk orang-orang (لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ, lammaa yalhaquu bihim), "yang belum menyusul mereka". Kata lammaa juga dipakai dengan kata kerja lampau dan berarti "ketika", misalnya di 28:29, sehingga makna "belum" di keenam ayat itu terbaca dari susunannya.
Kata (يَقْضِ, yaqdhi) berasal dari akar ق-ض-ي, yang tercatat di 59 ayat, dan tulisan ini tercatat di 80:23 saja. Di 28:29, (فَلَمَّا قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ, fa-lammaa qadhaa muusaa l-ajala), "maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu", dan di 33:23, (فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ, fa-minhum man qadhaa nahbahu), "maka di antara mereka ada yang memenuhi nazarnya". Di kedua ayat itu sasaran kata kerja qadhaa berupa sesuatu yang harus dituntaskan, masa kerja yang disepakati di 28:27 dan nazar yang diucapkan, sedangkan di 80:23 sasarannya perintah Allah.
Kata (أَمَرَهُ, amarahu) berasal dari akar أ-م-ر, yang tercatat di 226 ayat. Ungkapan yang serupa, dengan akhiran yang menunjuk penerima perintah, tercatat di 66:6 tentang malaikat penjaga api, (لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ, laa ya'shuuna llaaha maa amarahum), "yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka". Isi perintah itu tidak dirinci di 80:23. Di surah ini perintah yang disebut sesudahnya terdapat di 80:24, hendaklah manusia memperhatikan makanannya, dan sebelumnya 80:11-12 menyebut peringatan yang dapat diingat oleh siapa yang menghendaki.
Tafsiran
Ayat ini membalik arah rangkaian sebelumnya. Dari 80:18 sampai 80:22 setiap kata kerja berpelaku Allah, dan manusia disebut lewat akhiran -hu sebagai pihak yang diciptakan, ditentukan, dimudahkan jalannya, dimatikan, dikuburkan, dan dibangkitkan. Di 80:23 manusia menjadi pelaku kata kerja untuk pertama kali dalam rangkaian itu, dan kata kerja itu didahului lammaa, "belum". Sesudah semua yang dikerjakan Allah untuknya, dari manusia tercatat perintah yang belum ditunaikan.
Kata kallaa di ayat ini dipakai juga di 23:100, sesudah orang yang didatangi kematian meminta dikembalikan, (لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ, la'allii a'malu shaalihan fiimaa taraktu), "agar aku beramal saleh pada apa yang telah aku tinggalkan". Permintaan itu dijawab dengan kallaa, lalu ayat itu menyebut barzakh, sekat di belakang mereka sampai hari mereka dibangkitkan. Di 80:21-23 urutannya serupa, kematian, kebangkitan, lalu kallaa dan pernyataan bahwa perintah belum ditunaikan. Kedua tempat itu menempatkan penunaian perintah pada masa hidup, sebelum kematian yang disebut di 80:21.
Pernyataan di ayat ini menyangkut manusia yang di 80:17 dicela karena kekufurannya, dan surah ini tidak menyamaratakan semua manusia. Di 80:38-41 disebut dua kelompok wajah pada hari itu, wajah-wajah yang berseri-seri dan wajah-wajah yang tertutup debu. Pernyataan belum menunaikan terbaca sebagai keadaan manusia yang kufur itu, sedangkan wajah-wajah yang berseri di 80:38 memperlihatkan bahwa ada manusia yang sampai kepada keadaan lain.
Renungan dan Hikmah
- Kata belum menyatakan sesuatu yang sampai saat itu tidak terjadi, tanpa menutup kemungkinan terjadinya kemudian. Selama seseorang masih hidup, perintah yang belum ditunaikan masih dapat ditunaikan, dan pembaca yang membaca 80:23 hari ini membacanya sebelum kematian yang disebut di 80:21 datang kepadanya. Perintah Allah mana yang sampai hari ini masih berstatus belum dalam hidup seseorang? Pertanyaan itu dapat diajukan setiap hari selama waktunya masih ada, dan jawabannya dapat berubah esok hari.
- Sesudah pernyataan bahwa manusia belum menunaikan perintah, 80:24 memberi perintah yang ringan, memperhatikan makanan. Perintah pertama yang disebut sesudah 80:23 tidak berupa tuntutan yang berat, dan isinya perhatian kepada apa yang dimakan setiap hari. Dari perhatian itu 80:25-32 menuntun pembaca kepada air yang dicurahkan Allah, bumi yang dibelah, dan tumbuhan yang ditumbuhkan-Nya. Orang yang merasa jauh dari menunaikan perintah dapat memulai dari tempat yang ditunjuk ayat berikutnya, piring di hadapannya.
- Ungkapan yang serupa dipakai di 66:6 untuk malaikat yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan di 80:23 untuk manusia yang belum menunaikannya. Malaikat di 66:6 disebut mengerjakan apa yang diperintahkan, sedangkan manusia diberi kehendak, dan 80:12 menyebut bahwa siapa yang menghendaki akan mengingat peringatan. Jarak antara perintah dan penunaiannya pada manusia menjadi ruang pilihannya, dan di ruang itu pula pujian dan celaan diletakkan, bersama kesediaannya menunaikan perintah dengan pilihannya sendiri.
- Di 33:23 orang-orang beriman terbagi dua, ada yang telah memenuhi nazarnya, dengan kata kerja dari akar yang sama dengan yaqdhi, dan (وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ, wa-minhum man yantazhiru), "dan di antara mereka ada yang menunggu". Ayat itu ditutup dengan (وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا, wa-maa baddaluu tabdiilan), "dan mereka tidak mengubahnya sedikit pun". Keadaan belum tuntas di 33:23 disebut bersama keteguhan orang-orangnya. Orang yang belum menuntaskan kewajibannya tetapi tetap menuju ke sana berada dalam keadaan yang disebut Allah di ayat itu, dan keadaan itu berbeda dari belum yang disertai kekufuran di 80:17-23.
- Kata kallaa dipakai di 80:11, sesudah teguran kepada orang yang disapa di awal surah, dan di 80:23, untuk manusia yang belum menunaikan perintah. Orang yang menyampaikan peringatan dan orang yang menerimanya sama-sama ditegur dalam surah yang sama, dan teguran kepada penyampai datang lebih dahulu, di sepuluh ayat pertama. Kedudukan sebagai penyampai tidak membebaskan seseorang dari teguran Allah, dan teguran yang diterimanya lebih dahulu itu menjadi bekal ketika dia menyampaikan peringatan kepada orang lain.
- Di 49:14 orang-orang yang berkata "kami telah beriman" diberi tahu bahwa iman belum masuk ke dalam hati mereka. Pengakuan mereka mendahului keadaan hati mereka, dan kata belum dipakai untuk jarak itu. Ayat itu berlanjut dengan (لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا, laa yalitkum min a'maalikum syay'an), "Dia tidak akan mengurangi sedikit pun amal perbuatan kalian", jika mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Keadaan belum tidak menghapus amal yang dikerjakan, dan ketaatan yang dijalani selama belum itu tetap dihitung oleh Allah.