كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ
Sekali-kali tidak! Dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُkallaa lammaa yaqdhi maa amarahusekali-kali tidak, Dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya
Terjemahan per kata (5 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- لَمَّاlammaaketika
- يَقْضِyaqdhimenyelesaikan
- مَاmaaapa yang
- أَمَرَهُamarahumemerintahkannya
Inti bacaan
Diagnosis kegagalan yang belum tuntas: 'sekali-kali jangan (begitu)! Dia belum menunaikan apa yang diperintahkan-Nya kepadanya', pengakuan jujur bahwa manusia sering belum memenuhi kewajiban yang dibebankan, kritik yang mendorong introspeksi berkelanjutan.
Penjelasan pilihan kata
'Kallaa' distandarkan 'Sekali-kali tidak!', konsisten dengan 80:11.
Kata (أَمَرَهُ, amarahu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 12:68, 66:6, dan 80:23. Di 66:6 kata itu dipakai untuk malaikat yang tidak mendurhakai apa yang diperintahkan kepada mereka.
Bandingkan dua tempat itu. Di 66:6 yang diperintah menaati sepenuhnya. Di sini yang diperintah belum menunaikan. Satu kata dipakai untuk kepatuhan penuh dan untuk kelalaian penuh.
Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyandingkannya cuma kata yang sama, dan kata itu cuma hidup di tiga tempat.
Akar (أَمَرَهُ, amarahu) dipakai di 226 ayat, antara lain 2:27, 4:58, 7:28, 16:90, dan 24:53. Jadi perintah salah satu pokok yang paling sering muncul, sedangkan bentuk yang di ayat ini cuma tiga kali.
Kata (لَمَّا, lammaa) menyatakan belum, bukan tidak. Perbedaan itu menentukan seluruh bacaan ayatnya. Yang belum masih mungkin ditunaikan; yang tidak sudah tertutup.
Susunan itu meninggalkan pintu terbuka di tengah kutukan. Ayat ini datang sesudah kutukan di 80:17 dan sesudah lima nikmat yang diurai, dan tetap saja ia tidak menutup kemungkinan.
Kata (يَقْضِ, yaqdhi) muncul di 8 ayat: 8:42, 8:44, 10:93, 27:78, 40:20, 43:77, 45:17, dan 80:23. Akarnya dipakai di 59 ayat, antara lain 2:117, 6:2, 17:4, 33:36, dan 39:42.
Di 40:20 dan 27:78 kata (يَقْضِ, yaqdhi) dipakai untuk keputusan Allah yang memutus perkara dengan benar. Jadi kata yang biasanya menyebut keputusan-Nya di sini dipakai untuk penunaian yang belum dikerjakan manusia.
Kata (كَلَّا, kallaa) membuka ayat ini, sama seperti di 80:11. Dua kali di dalam satu surah, dan keduanya memutar arah pembicaraan secara mendadak.
Perhatikan perbandingan dua tempat itu. Di 80:11 penolakan itu membuka pernyataan tentang wahyu. Di sini ia membuka penilaian atas manusia. Satu kata dipakai untuk dua putaran yang berbeda arah.
Ayat ini menutup rangkaian tentang perjalanan manusia. Sesudahnya, 80:24 memulai rangkaian baru tentang makanan, dan peralihan itu tidak diberi kalimat pengantar.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut perintah apa yang belum ditunaikan. Kekosongan itu tidak diisi di ayat mana pun di surah ini, sehingga cakupannya tetap terbuka.
Perhatikan pula bahwa ayat ini pendek sekali dibandingkan rangkaian yang dinilainya. Enam ayat dipakai untuk mengurai perjalanan manusia, dan satu ayat memutus seluruhnya.
Ketidakseimbangan itu bekerja seperti ketukan. Pembacanya baru saja dibawa melintasi hidup, mati, dan bangkit, lalu dihentikan oleh satu kalimat yang tidak sampai sepuluh kata.
Susunan itu juga menyisakan satu hal yang mudah terlewat. Yang dinilai bukan lima tahap tadi, melainkan sikap manusia terhadapnya. Tahapnya diberikan, dan yang dipersoalkan tanggapannya.
Tafsiran
Ayat ini menegur manusia yang belum menunaikan kewajibannya meski telah diberi segala kemudahan. Ayat ini menilai seluruh perjalanan tadi: manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 12:68, 66:6, dan 80:23.
Di 66:6 kata itu dipakai untuk malaikat yang tidak mendurhakai apa yang diperintahkan kepada mereka. Jadi satu kata dipakai untuk kepatuhan penuh dan untuk kelalaian penuh, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Akarnya dipakai di 226 ayat, antara lain 2:27, 4:58, 7:28, 16:90, dan 24:53.
Kata keduanya menyatakan belum, bukan tidak. Yang belum masih mungkin ditunaikan, sedangkan yang tidak sudah tertutup, sehingga susunan ini meninggalkan pintu terbuka di tengah kutukan.
Kata ketiganya muncul di 8 ayat: 8:42, 8:44, 10:93, 27:78, 40:20, 43:77, 45:17, dan 80:23, dan akarnya dipakai di 59 ayat. Di 40:20 dan 27:78 kata itu dipakai untuk keputusan Allah yang memutus perkara dengan benar.
Kata pertamanya membuka ayat ini, sama seperti di 80:11, dan keduanya memutar arah pembicaraan secara mendadak. Ayat ini pendek sekali dibandingkan rangkaian yang dinilainya: enam ayat dipakai untuk mengurai perjalanan manusia, dan satu ayat memutus seluruhnya. Yang dinilai pun bukan lima tahap tadi, melainkan sikap manusia terhadapnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 12:68, 66:6, dan 80:23. Di 66:6 Allah memakainya untuk malaikat yang tidak mendurhakai apa yang diperintahkan kepada mereka. Di sini yang diperintah justru belum menunaikan. Satu kata yang cuma hidup di tiga tempat dipakai untuk kepatuhan penuh dan untuk kelalaian penuh, dan tidak satu kalimat pun menyandingkan keduanya. Bunyi yang sama memikul dua keadaan yang paling berjauhan, dan tidak satu ayat pun mempertemukannya. Jarak antara keduanya dibiarkan terbuka, dan pembacanya sendiri yang menakarnya.
- Kata keduanya menyatakan belum, bukan tidak, dan perbedaan itu menentukan seluruh bacaan ayatnya. Yang belum masih mungkin ditunaikan; yang tidak sudah tertutup. Allah meninggalkan pintu terbuka di tengah kutukan, sesudah celaan di 80:17 dan sesudah lima nikmat diurai. Satu kata itu saja yang menahan seluruh rangkaiannya dari menjadi penghakiman terakhir. Satu kata menahan seluruh rangkaiannya dari menjadi penghakiman yang sudah tertutup. Pintu yang masih terbuka mengubah nada seluruh surah yang membacanya sampai di sini.
- Kata ketiganya muncul di 8 ayat: 8:42, 8:44, 10:93, 27:78, 40:20, 43:77, 45:17, dan 80:23, dan akarnya dipakai Allah di 59 ayat. Di 40:20 dan 27:78 kata itu dipakai untuk keputusan-Nya yang memutus perkara dengan benar. Jadi kata yang biasanya menyebut keputusan Allah di sini dipakai untuk penunaian yang belum dikerjakan manusia. Sebutan yang biasanya dipakai untuk keputusan tertinggi di sini dipinjamkan kepada penunaian manusia. Peminjaman itu tidak diterangkan, dan pembacanya menerima beratnya tanpa diberi tahu.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 226 ayat, antara lain 2:27, 4:58, 7:28, 16:90, dan 24:53, sehingga perintah salah satu pokok yang paling sering muncul. Bentuk yang di ayat ini justru cuma tiga kali. Sesuatu yang disebut ratusan kali di seluruh Al-Qur'an dinyatakan di sini dengan bentuk yang hampir tidak pernah dipakai. Bentuk yang hampir tidak pernah dipakai menandai bahwa yang dinyatakan bukan hal yang biasa. Kelangkaan bentuk sudah menjadi tanda sebelum artinya sempat ditimbang.
- Kata pertamanya membuka ayat ini, sama seperti di 80:11, dan dua kali di dalam satu surah keduanya memutar arah pembicaraan secara mendadak. Di 80:11 penolakan itu membuka pernyataan Allah tentang wahyu, dan di sini ia membuka penilaian atas manusia. Satu kata dipakai untuk dua putaran yang berbeda arah, dan tidak satu penghubung pun menandai keduanya. Dua putaran mendadak di satu surah menunjukkan bahwa arah pembicaraannya memang dirancang berbelok. Belokan yang berulang menandai bahwa arah pembicaraannya memang tidak lurus.
- Ayat ini tidak menyebut perintah apa yang belum ditunaikan, dan Allah tidak mengisi kekosongan itu di ayat mana pun di surah ini. Cakupannya karena itu tetap terbuka, dan tidak seorang pun bisa berkata bahwa perintah yang dimaksud kebetulan bukan bagiannya. Apa yang bertambah pada sebuah teguran ketika yang dilalaikan justru sengaja tidak disebutkan? Sesuatu yang tidak disebut namanya tidak bisa dikecualikan oleh siapa pun yang membacanya. Cakupan yang dibiarkan kosong justru mengunci setiap pembacanya di dalamnya.