فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِfa-l-yanzhuri l-insaanu ilaa tha'aamihimaka hendaklah manusia memperhatikan makanannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَلْيَنْظُرِfa-l-yanzhurimaka hendaklah memperhatikan
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- إِلَىٰilaakepada
- طَعَامِهِtha'aamihimakanannya
Inti bacaan
Ajakan observasi sederhana namun mendalam: 'maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya', undangan merenungkan hal yang dianggap biasa (makanan sehari-hari) sebagai pintu masuk memahami kompleksitas desain alam.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhur) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:24 dan 86:5. Di 86:5 kata itu dipakai untuk perintah memperhatikan dari apa manusia diciptakan.
Bandingkan dua tempat itu. Di 86:5 yang diperintahkan dilihat asal penciptaan; di sini yang diperintahkan dilihat makanan sehari-hari. Satu bentuk perintah dipakai untuk yang paling jauh dan yang paling dekat.
Akar (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhur) dipakai di 115 ayat, antara lain 2:259, 7:185, 10:101, 47:10, dan 88:17. Jadi perintah memandang berulang di banyak tempat, dan hampir selalu ia menyuruh memandang sesuatu yang sudah ada di hadapan.
Kata (طَعَامِهِ, tha'aamihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, dan 89:18.
Di 76:8 dan 89:18 akar (طَعَامِهِ, tha'aamihi) dipakai untuk memberi makan orang miskin dan untuk anjuran memberi makan. Jadi akar itu sering muncul di dalam pembicaraan tentang berbagi, bukan tentang menikmati.
Kata (طَعَامِهِ, tha'aamihi) memakai kata ganti kepemilikan. Makanan itu disebut sebagai miliknya sendiri, bukan makanan pada umumnya. Yang disuruh diperhatikan bukan gagasan, melainkan yang ada di piringnya.
Perhatikan pilihan itu. Sesudah rangkaian besar tentang penciptaan, kematian, dan kebangkitan, yang disodorkan justru hal sekecil makanan. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu.
Yang bisa dibaca cuma akibatnya. Bukti yang paling dekat lebih sulit dibantah daripada bukti yang jauh. Tidak seorang pun bisa berkata bahwa ia tidak pernah melihat makanannya sendiri.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) diulang dari 80:17. Dua kali di dalam delapan ayat, dan keduanya menyebut manusia sebagai jenis, bukan sebagai orang tertentu.
Kata (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhur) berbentuk perintah, dan ini perintah pertama di surah ini. Dua puluh tiga ayat sebelumnya berjalan tanpa satu suruhan pun.
Perhatikan letak perintah itu. Ia datang sesudah kutukan, sesudah daftar nikmat, dan sesudah penilaian bahwa manusia belum menunaikan. Yang diperintahkan bukan menunaikan, melainkan memandang.
Ayat ini membuka rangkaian delapan ayat tentang makanan, yaitu 80:24 sampai 80:32. Delapan ayat itu bagian terpanjang di surahnya, lebih panjang daripada bagian tentang perjumpaan di awal.
Perhatikan pula bahwa perintah ini tidak menyuruh memikirkan, melainkan memandang. Yang diminta bukan renungan yang rumit, melainkan perhatian yang paling sederhana.
Pilihan itu sejalan dengan seluruh susunan bagian ini. Bukti yang disodorkan bukan dalil yang berat, melainkan hal yang ditemui setiap hari oleh siapa pun, tanpa kecuali.
Susunannya juga menutup satu alasan yang mudah dipakai. Tidak seorang pun bisa berkata bahwa ia tidak punya waktu atau tidak punya alat untuk memeriksanya. Yang diminta sudah ada di hadapannya.
Tafsiran
Ayat ini mengajak manusia merenungkan proses penyediaan makanannya sebagai bukti kekuasaan Allah. Ayat ini memerintahkan manusia memandang makanannya sendiri. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:24 dan 86:5, dan di 86:5 ia dipakai untuk perintah memperhatikan dari apa manusia diciptakan.
Jadi satu bentuk perintah dipakai untuk yang paling jauh dan yang paling dekat. Akarnya dipakai di 115 ayat, antara lain 2:259, 7:185, 10:101, 47:10, dan 88:17, dan hampir selalu ia menyuruh memandang sesuatu yang sudah ada di hadapan.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, dan 89:18. Di 76:8 dan 89:18 akar itu dipakai untuk memberi makan orang miskin, sehingga ia sering muncul di dalam pembicaraan tentang berbagi.
Kata terakhirnya juga memakai kata ganti kepemilikan, sehingga yang disuruh diperhatikan bukan gagasan melainkan yang ada di piringnya sendiri.
Kata pertamanya berbentuk perintah, dan ini perintah pertama di surah ini, sedangkan dua puluh tiga ayat sebelumnya berjalan tanpa satu suruhan pun. Perintah ini tidak menyuruh memikirkan, melainkan memandang, sehingga yang diminta bukan renungan yang rumit melainkan perhatian yang paling sederhana. Susunannya menutup satu alasan yang mudah dipakai, karena yang diminta sudah ada di hadapan setiap orang.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 80:24 dan 86:5. Di 86:5 Allah memakainya untuk perintah memperhatikan dari apa manusia diciptakan, dan di sini untuk memperhatikan makanan sehari-hari. Satu bentuk perintah dipakai untuk yang paling jauh dan yang paling dekat, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua tempat itu dengan satu kalimat pun. Perintah yang sama dipakai untuk asal penciptaan dan untuk isi piring, dan keduanya sama-sama menuntut dipandang. Yang jauh dan yang dekat ternyata sama-sama bisa jadi jalan masuk, dan pembacanya bebas memilih salah satunya.
- Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan, sehingga makanan itu disebut Allah sebagai miliknya sendiri dan bukan makanan pada umumnya. Yang disuruh diperhatikan bukan gagasan, melainkan yang ada di piringnya. Bukti yang paling dekat lebih sulit dibantah daripada bukti yang jauh, karena tidak seorang pun bisa berkata bahwa ia tidak pernah melihat makanannya sendiri. Bukti yang paling dekat menutup lebih banyak alasan daripada bukti yang paling megah. Alasan yang tersisa habis ketika buktinya ada di tangan sendiri setiap hari.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 76:8, dan 89:18. Di 76:8 dan 89:18 akar itu dipakai untuk memberi makan orang miskin dan untuk anjuran memberi makan, sehingga ia sering muncul di dalam pembicaraan tentang berbagi. Di sini ia dipakai untuk makanan yang dimiliki sendiri. Sebutan yang sering muncul di pembicaraan tentang berbagi di sini menunjuk milik sendiri. Peminjaman sebutan itu membuat makanan sendiri terbaca dalam rangka yang lebih luas.
- Kata pertamanya berbentuk perintah, dan ini perintah pertama di surah ini, sedangkan dua puluh tiga ayat sebelumnya berjalan tanpa satu suruhan pun. Perintah itu datang sesudah kutukan, sesudah daftar nikmat, dan sesudah penilaian bahwa manusia belum menunaikan. Yang diperintahkan Allah bukan menunaikan, melainkan memandang. Suruhan pertama di surah ini bukan mengerjakan sesuatu, melainkan memperhatikan sesuatu. Memandang lebih dulu daripada mengerjakan menyusun urutan yang jarang dipakai orang.
- Kata keduanya diulang dari 80:17, dua kali di dalam delapan ayat, dan keduanya menyebut manusia sebagai jenis dan bukan sebagai orang tertentu. Akar kata pertamanya dipakai Allah di 115 ayat, antara lain 2:259, 7:185, 10:101, 47:10, dan 88:17. Perintah yang dialamatkan kepada seluruh jenis tidak menyediakan satu pun pengecualian bagi yang membacanya. Alamat yang mencakup seluruh jenis tidak menyediakan satu pengecualian pun. Alamat yang seluas jenis manusia tidak menyisakan tempat untuk berdiri di luarnya.
- Ayat ini membuka rangkaian delapan ayat tentang makanan, yaitu 80:24 sampai 80:32, dan itu bagian terpanjang di surahnya, lebih panjang daripada bagian tentang perjumpaan di awal. Apa yang dinyatakan Allah dengan memberi makanan sehari-hari ruang lebih besar daripada peristiwa yang membuka seluruh surahnya? Ruang terpanjang di sebuah surah menandai bagian mana yang paling ingin ditinggalkan pada pembacanya. Ukuran sebuah bagian berbicara tentang maksudnya, bahkan sebelum isinya dibaca.