فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ

Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِfa-l-yanzhuri l-insaanu ilaa tha'aamihimaka hendaklah manusia memperhatikan makanannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَلْيَنْظُرِfa-l-yanzhurimaka hendaklah memperhatikan
  2. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  3. إِلَىٰilaakepada
  4. طَعَامِهِtha'aamihimakanannya

Inti bacaan

Bentuk fa-l-yanzhur tercatat di empat ayat, yaitu 18:19, 22:15, 80:24, dan 86:5. Di 2:259 orang yang dimatikan seratus tahun lalu dihidupkan kembali disuruh melihat santapan dan minumannya yang tidak berubah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat perintah (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri), "maka hendaklah memperhatikan", dengan subjek (الْإِنْسَانُ, l-insaanu), "manusia", dan sasaran (إِلَىٰ طَعَامِهِ, ilaa tha'aamihi), "kepada makanannya". Perintah itu berbentuk orang ketiga, sehingga manusia tidak disapa dengan "engkau" atau "kalian", dan kata yang menyebutnya sama dengan kata di 80:17. Awalan fa- menyambungkan ayat ini dengan 80:23, dan perintah memperhatikan datang sesudah pernyataan bahwa manusia belum menunaikan perintah.

Bentuk (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri), beserta tulisan fa-l-yanzhur, tercatat di empat ayat, 18:19, 22:15, 80:24, dan 86:5. Susunan (فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ, fa-l-yanzhuri l-insaanu) tercatat di 80:24 dan 86:5. Di 86:5, (فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ, fa-l-yanzhuri l-insaanu mimma khuliqa), "maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan", sasarannya asal kejadian manusia, sedangkan di 80:24 sasarannya makanan. Di 18:19 bentuk itu juga menyangkut makanan, (فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا, fa-l-yanzhur ayyuhaa azkaa tha'aaman), "hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih murni", dalam kisah para penghuni gua yang dibangunkan sesudah tidur yang lama. Di 22:15 bentuk itu dipakai dalam tantangan kepada orang yang menyangka Allah tidak akan menolongnya, (فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ, fa-l-yanzhur hal yudzhibanna kayduhu maa yaghiizhu), agar dia memperhatikan apakah siasatnya dapat melenyapkan kegusarannya. Keempat ayat itu memakai bentuk perintah yang sama dengan sasaran yang berlainan, makanan di 18:19 dan 80:24, akibat siasat di 22:15, dan asal kejadian di 86:5.

Kata kerja nazhara berasal dari akar ن-ظ-ر, yang tercatat di 115 ayat. Susunan kata kerja itu dengan ilaa dan makanan tercatat pula di 2:259, (فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ, fa-nzhur ilaa tha'aamika wa-syaraabika), "maka perhatikanlah makananmu dan minumanmu", perintah kepada orang yang dimatikan seratus tahun lalu dibangkitkan. Di kedua ayat itu kata kerja yang sama dipakai dengan sasaran yang sama, makanan milik orang yang diperintah.

Kata (طَعَامِهِ, tha'aamihi) berasal dari akar ط-ع-م, yang tercatat di 41 ayat, dan kata benda "makanan" dari akar itu tercatat di 23 ayat. Tulisan tha'aamihi dengan akhiran -hi, "-nya", tercatat di 80:24 saja. Akhiran itu menyebut makanan sebagai milik manusia, dan ayat-ayat sesudahnya, 80:25-32, menguraikan asal makanan itu sampai 80:32, (مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ, mataa'an lakum wa-li-an'aamikum), "sebagai kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian". Makanan yang di 80:24 disebut milik seorang manusia, di 80:32 disebut kesenangan bagi manusia dan ternaknya bersama-sama.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian baru sesudah 80:23. Pernyataan bahwa manusia belum menunaikan perintah disusul perintah yang dapat dikerjakan setiap orang, memperhatikan makanannya, dan rangkaian 80:24-32 menguraikan perjalanan makanan itu dari air yang dicurahkan sampai kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Manusia yang di 80:17 dicela dengan kata yang sama tidak ditinggalkan dalam celaan itu, sebab kepadanya diberikan perintah yang dapat dikerjakannya.

Susunan 80:21-24 serupa dengan 2:259. Di ayat itu seseorang bertanya bagaimana Allah menghidupkan negeri yang telah mati, lalu Allah mematikannya seratus tahun, membangkitkannya, dan menyuruhnya memperhatikan makanan dan minumannya yang belum berubah, keledainya, serta tulang-belulang yang disusun kembali. Ayat itu berakhir dengan pengakuannya, (أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, a'lamu anna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirun), "aku mengetahui bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu". Di surah ini urutannya serupa, mematikan di 80:21, membangkitkan di 80:22, lalu perintah memperhatikan makanan di 80:24, sehingga makanan ditempatkan sebagai bahan renungan tentang kuasa yang membangkitkan.

Pengakuan seperti di akhir 2:259 belum tercatat dari manusia di surah ini. Ayat 80:23 menyatakan bahwa dia belum menunaikan perintah, dan 80:24-32 memberinya bahan yang serupa dengan yang diberikan kepada penanya di 2:259, sehingga pengakuan itu dapat tumbuh dari pengamatannya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah di ayat ini menyangkut sesuatu yang dijumpai manusia setiap hari. Makanan disiapkan, dibeli, dan disantap berulang kali, dan sesuatu yang dijumpai sesering itu mudah luput dari perhatian. Bahan renungan yang ditunjuk Allah di ayat ini berada di meja makan, dan tidak perlu dicari di tempat yang jauh atau langka. Orang yang ingin merenungkan kuasa Allah tidak harus menunggu peristiwa besar, sebab bahannya hadir setiap kali dia makan.
  • Makanan di 80:24 disebut dengan akhiran -hi, makanannya, seakan-akan milik manusia sepenuhnya. Ayat berikutnya dibuka dengan "bahwa Kami mencurahkan air", dan rangkaian itu ditutup dengan kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Sejauh mana makanan di piring seseorang benar-benar hasil tangannya sendiri? Uang yang membelinya dan tenaga yang mengolahnya berasal dari manusia, sedangkan air, tanah yang terbelah, dan biji yang tumbuh disebut di 80:25-27 sebagai perbuatan Allah.
  • Di 18:19 penghuni gua yang baru dibangunkan mengutus salah seorang dari mereka ke kota untuk memperhatikan makanan mana yang lebih murni, lalu membawakan rezeki darinya. Memperhatikan makanan di ayat itu mencakup menimbang mutunya sebelum dibeli. Makanan yang dimakan seseorang dapat diperhatikan dari asal-usulnya di alam, seperti 80:25-32, dan dari cara memperolehnya, seperti 18:19. Kedua perhatian itu disebut dengan kata kerja yang sama, dan keduanya berujung pada rezeki yang diterima dari Allah.
  • Susunan fa-l-yanzhuri l-insaanu dipakai di 86:5 untuk asal kejadian manusia dan di 80:24 untuk makanannya. Di surah ini asal kejadian itu sudah disebut di 80:19, setetes mani, sehingga manusia diminta memperhatikan dua hal yang tidak dibuatnya sendiri, bahan asal tubuhnya dan makanan yang menopang tubuh itu. Keduanya berasal dari Allah. Orang yang di 80:5 merasa serba cukup berdiri di atas tubuh yang berasal dari setetes air dan bertahan dengan biji-bijian, dan kedua hal itu tidak pernah dia hasilkan sendiri.
  • Makan dapat berlangsung tanpa memperhatikan apa yang dimakan, sambil bekerja, berbincang, atau menatap layar. Perintah di ayat ini memakai kata kerja memperhatikan, dan perhatian itu diarahkan kepada makanan sebelum atau ketika makanan itu disantap. Suapan yang diperhatikan dapat membawa pikiran kepada hujan, tanah, dan orang-orang yang menanam serta mengolahnya, lalu kepada Allah yang di 80:25-27 disebut sebagai pelaku di balik semuanya.
  • Akar ط-ع-م dipakai juga untuk memberi makan. Di 90:14 disebut (أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ, aw ith'aamun fii yawmin dzii masghabatin), "atau memberi makan pada hari kelaparan", dan 76:8 menyebut orang-orang yang memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan. Orang yang memperhatikan makanannya dapat melihat pula siapa yang tidak memilikinya. Surah ini dibuka dengan teguran karena orang buta yang datang diabaikan (80:1-10), dan perhatian kepada makanan sendiri dapat membuka mata kepada orang yang kekurangan di dekatnya.