Ayat 80:25

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا

Bahwa Kami mencurahkan air dengan curahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّاannaa shababnaa l-maa'a shabbanbahwa Kami mencurahkan air dengan curahan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. أَنَّاannaabahwa Kami
  2. صَبَبْنَاshababnaaKami mencurahkan
  3. الْمَاءَl-maa'aair
  4. صَبًّاshabbandengan curahan

Inti bacaan

Akar ص-ب-ب tercatat di empat ayat, dan di 22:19, 44:48, serta 89:13 akar itu dipakai untuk azab. Ungkapan mina s-samaa'i maa'an di 20 ayat memakai kata kerja berakar ن-ز-ل, sedangkan 80:25 memakai shababnaa.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَنَّا, annaa), "bahwa Kami", lalu kata kerja (صَبَبْنَا, shababnaa), "Kami mencurahkan", sasaran (الْمَاءَ, l-maa'a), "air", dan (صَبًّا, shabban), "dengan curahan". Kata annaa menyambungkan ayat ini dengan 80:24, sehingga isi ayat ini terbaca sebagai hal pertama yang diperhatikan ketika manusia memperhatikan makanannya. Pelakunya disebut dengan "Kami", sedangkan di 80:18-22 pelakunya disebut dengan "Dia". Susunan annaa, "bahwa Kami", dipakai pula di 36:77 untuk penciptaan manusia, (أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ, a-wa-lam yara l-insaanu annaa khalaqnaahu min nuthfatin), "tidakkah manusia melihat bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani", pokok yang di surah ini disebut di 80:19. Sebutan "Kami" berlanjut di 80:26, (ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا, tsumma syaqaqnaa l-ardha syaqqan), "kemudian Kami belah bumi dengan belahan", dan di 80:27, (فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا, fa-anbatnaa fiihaa habban), "lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian".

Kata (صَبَبْنَا, shababnaa) berasal dari akar ص-ب-ب, yang tercatat di empat ayat, 22:19, 44:48, 80:25, dan 89:13. Di tiga ayat selain 80:25 akar itu dipakai untuk azab. Di 22:19, (يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ, yushabbu min fawqi ru'uusihimu l-hamiimu), "ke atas kepala mereka disiramkan air yang mendidih", di 44:48 air mendidih dituangkan di atas kepala orang yang banyak berdosa, dan di 89:13, (فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ, fa-shabba 'alayhim rabbuka sawtha 'adzaabin), "maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab". Di 80:25 kata kerja yang sama dipakai untuk air yang menjadi awal makanan manusia. Terjemahan proyek ini mengalihkan akar itu dengan kata yang berlainan menurut sasarannya, "disiramkan" di 22:19, "tuangkanlah" di 44:48, "menimpakan" di 89:13, dan "mencurahkan" di 80:25.

Kata (صَبًّا, shabban) berasal dari akar yang sama dengan kata kerjanya dan diletakkan sesudahnya, sehingga akar ص-ب-ب disebut dua kali dalam ayat yang pendek ini. Susunan kata kerja yang diikuti kata benda seakar berulang di ayat berikutnya, pada syaqaqnaa dan syaqqan. Terjemahan proyek ini mengalihkan kedua kata benda itu dengan "dengan curahan" dan "dengan belahan", sehingga pengulangan akar itu tetap terasa dalam bahasa Indonesia.

Kata (الْمَاءَ, l-maa'a) berasal dari akar م-و-ه, yang tercatat di 60 ayat. Di 23:18 air disebut turun dari langit, (وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ, wa-anzalnaa mina s-samaa'i maa'an bi-qadarin), "Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran". Ungkapan mina s-samaa'i maa'an tercatat di 20 ayat, dan di semuanya kata kerjanya berakar ن-ز-ل, "turun". Di 80:25 langit tidak disebut, dan kata kerjanya shababnaa, yang menggambarkan air dari segi curahannya.

Tafsiran

Ayat ini memberi jawaban pertama atas perintah di 80:24. Ketika manusia memperhatikan makanannya, air yang dicurahkan Allah ditunjukkan kepadanya lebih dahulu, sesuatu yang tidak dibuat manusia. Rangkaian 80:25-32 kemudian bergerak dari air ke bumi yang dibelah, biji-bijian, anggur dan sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun yang rimbun, buah-buahan dan rerumputan, lalu ditutup dengan kesenangan bagi manusia dan hewan ternaknya.

Pergantian dari "Dia" ke "Kami" di ayat ini berlangsung bersamaan dengan pergantian pokok bahasan, dari diri manusia ke air dan bumi. Rangkaian 80:18-22 menyebut Allah sebagai "Dia" yang berbuat atas diri manusia, sedangkan 80:25-27 memakai "Kami" untuk perbuatan atas air dan bumi. Urutan air lalu tumbuhan dengan kata kerja fa-anbatnaa dipakai juga di 31:10, (وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا, wa-anzalnaa mina s-samaa'i maa'an fa-anbatnaa), "Kami menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami menumbuhkan", dan di 27:60.

Rangkaian makanan ini datang sesudah kebangkitan di 80:22, dan 35:9 menyandingkan bumi yang dihidupkan dengan air dengan kebangkitan manusia. Dibaca bersama ayat itu, air yang dicurahkan di 80:25 lalu menumbuhkan biji di 80:27 menjadi gambaran tentang kebangkitan yang baru disebut tiga ayat sebelumnya, dan bahan renungan yang diminta di 80:24 menyangkut kuasa yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 56:68-69 bertanya tentang air yang diminum manusia, (أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ, a-antum anzaltumuuhu mina l-muzni), "apakah kalian yang menurunkannya dari awan", (أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ, am nahnu l-munziluuna), "atau Kami yang menurunkan". Air yang sampai ke rumah melewati pipa, pompa, dan instalasi pengolahan yang dibangun manusia, dan semua itu mengolah air yang tidak dibuat manusia. Siapa yang menurunkan air yang mengalir dari keran pagi ini? Pertanyaan di 56:69 tetap berlaku bagi pengelola air yang paling modern, dan 80:25 menjawabnya dengan kata Kami.
  • Kata kerja di ayat ini dipakai di 22:19, 44:48, dan 89:13 untuk azab, dan di 80:25 untuk air yang menjadi awal makanan. Di 54:11 air yang tercurah dari langit, (بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ, bi-maa'in munhamirin), "dengan air yang tercurah", menjadi azab bagi kaum Nuh. Air dapat datang sebagai rezeki atau sebagai azab, dan keduanya disebut sebagai perbuatan Allah. Orang yang menerima hujan sebagai rezeki menerimanya dari Tuhan yang di 89:13 disebut menimpakan azab kepada kaum yang melampaui batas, sehingga rasa aman di bawah hujan disertai kesadaran akan kuasa-Nya.
  • Di 23:18 air yang diturunkan dengan suatu ukuran ditutup dengan pernyataan bahwa Allah kuasa melenyapkannya, dan 67:30 bertanya tentang keadaan (إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا, in ashbaha maa'ukum ghawran), "jika air kalian menjadi surut ke dalam tanah", lalu siapa yang akan mendatangkan air yang mengalir? Sumur yang mengering pada kemarau panjang memperlihatkan kemungkinan itu dalam ukuran kecil. Air yang dicurahkan di 80:25 dapat pula ditahan, dan kedua kemungkinan itu berada pada kehendak Allah.
  • Pengetahuan tentang penguapan, awan, dan hujan menjelaskan bagaimana air turun, sedangkan 80:25 menyebut siapa yang mencurahkannya. Kedua keterangan itu tidak saling meniadakan. Semakin rinci seseorang memahami perjalanan air dari laut ke awan lalu ke tanah, semakin banyak tahap yang dia lihat berlangsung di luar kendali manusia, dan setiap tahap itu termasuk dalam kata Kami mencurahkan. Pengamatan ilmiah dapat menjadi jalan menuju pengakuan kepada Allah, selama pengamatnya tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana saja.
  • Air di ayat ini dicurahkan untuk makanan manusia yang di 80:17 dicela karena kekufurannya dan di 80:23 disebut belum menunaikan perintah. Pemberian Allah tidak menunggu manusia menunaikan perintah lebih dahulu, dan rangkaian makanan di 80:24-32 diberikan kepada manusia yang sama. Kemurahan itu dapat dibaca sebagai kesempatan yang terus diperpanjang. Orang yang menahan kebaikannya dari orang lain sampai orang itu memenuhi kewajibannya dapat bercermin pada cara Allah memperlakukan manusia di ayat ini.
  • Urutan 80:25-27 dimulai dari air, lalu bumi yang dibelah, lalu biji yang tumbuh. Makanan dari tumbuhan di piring bermula jauh sebelum dihidangkan, sejak hujan turun di ladang yang jauh dari meja makan. Allah menyebut tahap pertamanya dengan kata Kami mencurahkan, tahap yang tidak disaksikan oleh kebanyakan orang yang memakan hasilnya. Syukur atas makanan dapat menjangkau sampai ke tahap itu, kepada hujan yang turun jauh sebelum makanan itu terhidang.

Ayat 80:26

ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا

Kemudian Kami belah bumi dengan belahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّاtsumma syaqaqnaa l-ardha syaqqankemudian Kami belah bumi dengan belahan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. شَقَقْنَاsyaqaqnaaKami membelah
  3. الْأَرْضَl-ardhabumi
  4. شَقًّاsyaqqandengan belahan

Inti bacaan

Tulisan syaqaqnaa dan syaqqan tercatat di 80:26 saja. Kata kerja dasar dari akar ش-ق-ق dipakai di dua ayat, 28:27 untuk memberatkan dan 80:26 untuk membelah, dan kata tsumma di surah ini tercatat di 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat satu kata kerja, (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) yang berarti "Kami belah", dengan sasaran (الْأَرْضَ, l-ardha) yang berarti "bumi", lalu ditutup dengan (شَقًّا, syaqqan) yang berarti "dengan belahan". Kata penutup itu kata benda dari akar yang sama dengan kata kerjanya, susunan yang juga menutup ayat sebelumnya, (صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا, shababnaa l-maa'a shabban) yang berarti "Kami mencurahkan air dengan curahan". Dua ayat berurutan memakai susunan itu, dan pelaku keduanya Kami. Tulisan syaqaqnaa dan syaqqan tidak tercatat di ayat lain.

Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Di surah ini kata itu tercatat di empat ayat, 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26. Tiga yang pertama menghubungkan tahap-tahap hidup manusia, dari jalan yang dimudahkan sampai kebangkitan, sedangkan yang keempat menghubungkan air yang dicurahkan di 80:25 dengan bumi yang dibelah. Pada ketiga ayat pertama lamanya jarak antartahap tidak disebut, dan di ayat ini jarak antara curahan air dan belahan bumi pun tidak disebut.

Akar ش-ق-ق tercatat di 25 ayat. Pembelahan dituturkan di sembilan ayat, dan delapan di antaranya memakai bentuk "terbelah" tanpa menyebut pelaku, yaitu untuk batu di 2:74, bulan di 54:1, langit di 25:25, 55:37, 69:16, dan 84:1, serta bumi di 19:90 dan 50:44. Ayat kesembilan, 80:26, memakai bentuk yang pelakunya disebut. Bentuk kata kerja dasar yang sama dipakai sekali lagi di 28:27, (أَشُقَّ, asyuqqa), dalam ucapan "aku tidak hendak memberatkanmu", sehingga bentuk itu tercatat di dua ayat dengan dua arti, membelah dan memberatkan.

Akar ini juga menamai perselisihan dan kepayahan. Kata (شِقَاقَ, syiqaaqa) yang berarti "persengketaan" dipakai di 4:35 untuk sengketa antara suami dan istri, dan kata benda itu tercatat di tujuh ayat. Kata kerja menentang dari akar yang sama tercatat di lima ayat, antara lain 4:115 dan 59:4. Di 16:7 ada (بِشِقِّ الْأَنْفُسِ, bi-syiqqi l-anfusi) yang berarti "dengan susah payah", tentang negeri yang tidak sanggup dicapai manusia kecuali dengan kepayahan, lalu ternak mengangkut beban mereka ke sana.

Bumi di ayat ini bersandang al-. Pembelahan bumi juga dituturkan di 50:44, (تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ, tasyaqqaqu l-ardhu 'anhum) yang berarti "bumi terbelah dari mereka", pada hari manusia dikumpulkan. Di sana manusia keluar dari bumi yang terbelah itu, sedangkan di 80:26 pembelahan bumi disusul tumbuhan di 80:27.

Batu yang terbelah di 2:74 disebut bersama air, (يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ, yasysyaqqaqu fa-yakhruju minhu l-maa'u) yang berarti "terbelah lalu keluar air darinya". Di 2:74 air keluar dari batu yang terbelah, sedangkan di 80:25-26 air dicurahkan lebih dulu, lalu bumi dibelah. Rekahan bumi dipakai pula dalam sumpah di 86:12, (وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ, wa-l-ardhi dzaati sh-shad'i) yang berarti "dan demi bumi yang memiliki rekahan", tetapi kata rekahan di sana berakar ص-د-ع.

Tafsiran

Ayat ini tahap kedua dari rangkaian yang menjawab perintah di 80:24 agar manusia memperhatikan makanannya. Air dicurahkan di 80:25, bumi dibelah di sini, lalu 80:27 menyebut biji-bijian yang ditumbuhkan padanya. Ketiga kata kerja itu berpelaku Kami, dan di sepanjang ketiga ayat itu manusia tidak disebut mengerjakan apa pun. Air dan belahan bumi dihubungkan dengan tsumma, sedangkan belahan bumi dan penumbuhan di 80:27 dihubungkan dengan huruf fa.

Lima pembelahan lain dari akar ini, 25:25, 50:44, 55:37, 69:16, dan 84:1, termasuk gambaran hari kiamat, ketika langit dan bumi terbelah dalam peristiwa yang menimpa semua orang. Pembelahan di 80:26 terjadi setiap kali tanah menumbuhkan makanan, peristiwa yang berulang dan karena itu mudah terlewat. Dengan menyebut Kami sebagai pelakunya, ayat ini menempatkan peristiwa yang berulang setiap musim itu sejajar dengan air di 80:25 dan kebangkitan di 80:22, semuanya perbuatan Allah yang harus diperhatikan oleh manusia yang belum menunaikan perintah-Nya di 80:23.

Surah 50 memuat kedua jenis pembelahan bumi itu. Di 50:9-11 air yang diberkahi menumbuhkan kebun, biji-bijian, dan pohon kurma, lalu negeri yang mati dihidupkan dengannya, dan ayat itu ditutup dengan (كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ, ka-dzaalika l-khuruuju) yang berarti "demikianlah kebangkitan". Di 50:44 bumi terbelah dari manusia pada hari mereka dikumpulkan. Surah ini menyebut kebangkitan di 80:22 dan bumi yang dibelah untuk tumbuhan di 80:26, empat ayat sesudahnya, dan 50:11 menyatakan hubungan kedua hal itu dengan kata "demikianlah".

Renungan dan Hikmah

  • Tanah yang retak dan tunas yang menembusnya dapat dipandang sebagai kejadian yang berlangsung sendiri. Di 80:26 pembukaan tanah itu dituturkan dengan kata kerja yang pelakunya disebut, Kami, sedangkan pembelahan langit dan bulan di ayat-ayat lain dituturkan dengan bentuk "terbelah". Tanah yang merekah di halaman rumah atau di sawah termasuk perbuatan yang disebut Allah sebagai perbuatan-Nya, sama seperti air yang dicurahkan di 80:25 dan biji yang ditumbuhkan di 80:27. Orang yang memperhatikan makanannya, seperti diperintahkan 80:24, menemukan perbuatan Allah itu di antara air dan biji, pada tahap yang mudah terlewat.
  • Di 2:74 hati yang mengeras diserupakan dengan batu, bahkan lebih keras, lalu ayat itu menyebut batu yang terbelah sehingga air keluar darinya dan batu yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Kata kerja terbelah di sana berakar sama dengan kata kerja di 80:26. Di antara batu yang keras ada yang terbelah, dan bumi di 80:26 dibelah Allah sehingga biji dapat tumbuh. Kalau batu masih ada yang terbelah, pertanyaan yang tersisa bagi pembaca menyangkut hatinya sendiri, adakah bagian yang masih terbuka ketika ayat-ayat tentang makanan ini dibaca?
  • Tunas yang keluar dari tanah dan manusia yang keluar dari bumi pada hari dikumpulkan dituturkan dengan akar yang sama di 80:26 dan 50:44, dan 50:11 menyebut hidupnya negeri yang mati sebagai gambaran kebangkitan. Orang yang melihat benih tumbuh sesudah hujan sedang melihat sesuatu yang dipakai Al-Qur'an untuk menggambarkan kebangkitannya sendiri. Surah ini menyebut kebangkitan di 80:22, sebelum daftar makanan, sehingga pembaca yang sampai di 80:26 sudah membawa kabar dari Allah itu ketika memandang tanah yang dibelah.
  • Akar yang di 80:26 menamai belahan tanah juga menamai persengketaan antara suami dan istri di 4:35. Untuk sengketa itu 4:35 menyuruh mengutus seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang dari keluarga perempuan, lalu menyatakan bahwa Allah memberi taufik kepada keduanya jika mereka bermaksud berdamai. Belahan tanah di 80:26 dikerjakan Allah dan membawa hasil, sedangkan retaknya hubungan dua orang di 4:35 diserahkan kepada upaya manusia untuk mendamaikan, dengan taufik dari Allah. Pembaca yang sedang berada di tengah sengketa keluarga menemukan kedua pemakaian itu di bawah satu akar.
  • Kata dari akar yang sama dipakai di 16:7 untuk kepayahan, perjalanan ke negeri yang tidak sanggup dicapai manusia kecuali dengan susah payah, lalu ayat itu menyebut ternak yang mengangkut beban mereka dan menutupnya dengan pernyataan bahwa Tuhan mereka penuh iba lagi pengasih. Ternak itu muncul lagi di 80:32, sebagai pihak yang ikut menerima kesenangan dari tumbuhan yang tumbuh di bumi yang dibelah. Kepayahan manusia diringankan dengan ternak, dan ternak diberi makan dari bumi yang dibelah Allah. Ternak yang di 16:5 disebut diciptakan Allah untuk manusia, dan makanan ternak itu di 80:32, sama-sama disebut sebagai pemberian-Nya.
  • Allah bersumpah di 86:11-12 demi langit yang memiliki pengembalian dan demi bumi yang memiliki rekahan, lalu 86:13-14 menyatakan untuk apa sumpah itu, yaitu bahwa firman ini perkataan pemutus dan bukan senda gurau. Rekahan tanah, yang biasa terlihat di tepi jalan dan di pematang, dipakai sebagai saksi atas kesungguhan firman Allah. Di 80:26 tanah yang dibelah menjadi bagian dari bahan yang diperintahkan untuk diperhatikan, dan di 86:12 tanah yang merekah menjadi bagian dari sumpah yang menegaskan firman itu. Orang yang menganggap tanah retak sebagai hal remeh berhadapan dengan dua ayat yang memakainya untuk urusan yang tidak remeh.