Ayat 80:26
ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا
Kemudian Kami belah bumi dengan belahan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّاtsumma syaqaqnaa l-ardha syaqqankemudian Kami belah bumi dengan belahan
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- شَقَقْنَاsyaqaqnaaKami membelah
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- شَقًّاsyaqqandengan belahan
Inti bacaan
Tulisan syaqaqnaa dan syaqqan tercatat di 80:26 saja. Kata kerja dasar dari akar ش-ق-ق dipakai di dua ayat, 28:27 untuk memberatkan dan 80:26 untuk membelah, dan kata tsumma di surah ini tercatat di 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat satu kata kerja, (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) yang berarti "Kami belah", dengan sasaran (الْأَرْضَ, l-ardha) yang berarti "bumi", lalu ditutup dengan (شَقًّا, syaqqan) yang berarti "dengan belahan". Kata penutup itu kata benda dari akar yang sama dengan kata kerjanya, susunan yang juga menutup ayat sebelumnya, (صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا, shababnaa l-maa'a shabban) yang berarti "Kami mencurahkan air dengan curahan". Dua ayat berurutan memakai susunan itu, dan pelaku keduanya Kami. Tulisan syaqaqnaa dan syaqqan tidak tercatat di ayat lain.
Ayat ini dibuka dengan (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian". Di surah ini kata itu tercatat di empat ayat, 80:20, 80:21, 80:22, dan 80:26. Tiga yang pertama menghubungkan tahap-tahap hidup manusia, dari jalan yang dimudahkan sampai kebangkitan, sedangkan yang keempat menghubungkan air yang dicurahkan di 80:25 dengan bumi yang dibelah. Pada ketiga ayat pertama lamanya jarak antartahap tidak disebut, dan di ayat ini jarak antara curahan air dan belahan bumi pun tidak disebut.
Akar ش-ق-ق tercatat di 25 ayat. Pembelahan dituturkan di sembilan ayat, dan delapan di antaranya memakai bentuk "terbelah" tanpa menyebut pelaku, yaitu untuk batu di 2:74, bulan di 54:1, langit di 25:25, 55:37, 69:16, dan 84:1, serta bumi di 19:90 dan 50:44. Ayat kesembilan, 80:26, memakai bentuk yang pelakunya disebut. Bentuk kata kerja dasar yang sama dipakai sekali lagi di 28:27, (أَشُقَّ, asyuqqa), dalam ucapan "aku tidak hendak memberatkanmu", sehingga bentuk itu tercatat di dua ayat dengan dua arti, membelah dan memberatkan.
Akar ini juga menamai perselisihan dan kepayahan. Kata (شِقَاقَ, syiqaaqa) yang berarti "persengketaan" dipakai di 4:35 untuk sengketa antara suami dan istri, dan kata benda itu tercatat di tujuh ayat. Kata kerja menentang dari akar yang sama tercatat di lima ayat, antara lain 4:115 dan 59:4. Di 16:7 ada (بِشِقِّ الْأَنْفُسِ, bi-syiqqi l-anfusi) yang berarti "dengan susah payah", tentang negeri yang tidak sanggup dicapai manusia kecuali dengan kepayahan, lalu ternak mengangkut beban mereka ke sana.
Bumi di ayat ini bersandang al-. Pembelahan bumi juga dituturkan di 50:44, (تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ, tasyaqqaqu l-ardhu 'anhum) yang berarti "bumi terbelah dari mereka", pada hari manusia dikumpulkan. Di sana manusia keluar dari bumi yang terbelah itu, sedangkan di 80:26 pembelahan bumi disusul tumbuhan di 80:27.
Batu yang terbelah di 2:74 disebut bersama air, (يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ, yasysyaqqaqu fa-yakhruju minhu l-maa'u) yang berarti "terbelah lalu keluar air darinya". Di 2:74 air keluar dari batu yang terbelah, sedangkan di 80:25-26 air dicurahkan lebih dulu, lalu bumi dibelah. Rekahan bumi dipakai pula dalam sumpah di 86:12, (وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ, wa-l-ardhi dzaati sh-shad'i) yang berarti "dan demi bumi yang memiliki rekahan", tetapi kata rekahan di sana berakar ص-د-ع.
Tafsiran
Ayat ini tahap kedua dari rangkaian yang menjawab perintah di 80:24 agar manusia memperhatikan makanannya. Air dicurahkan di 80:25, bumi dibelah di sini, lalu 80:27 menyebut biji-bijian yang ditumbuhkan padanya. Ketiga kata kerja itu berpelaku Kami, dan di sepanjang ketiga ayat itu manusia tidak disebut mengerjakan apa pun. Air dan belahan bumi dihubungkan dengan tsumma, sedangkan belahan bumi dan penumbuhan di 80:27 dihubungkan dengan huruf fa.
Lima pembelahan lain dari akar ini, 25:25, 50:44, 55:37, 69:16, dan 84:1, termasuk gambaran hari kiamat, ketika langit dan bumi terbelah dalam peristiwa yang menimpa semua orang. Pembelahan di 80:26 terjadi setiap kali tanah menumbuhkan makanan, peristiwa yang berulang dan karena itu mudah terlewat. Dengan menyebut Kami sebagai pelakunya, ayat ini menempatkan peristiwa yang berulang setiap musim itu sejajar dengan air di 80:25 dan kebangkitan di 80:22, semuanya perbuatan Allah yang harus diperhatikan oleh manusia yang belum menunaikan perintah-Nya di 80:23.
Surah 50 memuat kedua jenis pembelahan bumi itu. Di 50:9-11 air yang diberkahi menumbuhkan kebun, biji-bijian, dan pohon kurma, lalu negeri yang mati dihidupkan dengannya, dan ayat itu ditutup dengan (كَذَٰلِكَ الْخُرُوجُ, ka-dzaalika l-khuruuju) yang berarti "demikianlah kebangkitan". Di 50:44 bumi terbelah dari manusia pada hari mereka dikumpulkan. Surah ini menyebut kebangkitan di 80:22 dan bumi yang dibelah untuk tumbuhan di 80:26, empat ayat sesudahnya, dan 50:11 menyatakan hubungan kedua hal itu dengan kata "demikianlah".
Renungan dan Hikmah
- Tanah yang retak dan tunas yang menembusnya dapat dipandang sebagai kejadian yang berlangsung sendiri. Di 80:26 pembukaan tanah itu dituturkan dengan kata kerja yang pelakunya disebut, Kami, sedangkan pembelahan langit dan bulan di ayat-ayat lain dituturkan dengan bentuk "terbelah". Tanah yang merekah di halaman rumah atau di sawah termasuk perbuatan yang disebut Allah sebagai perbuatan-Nya, sama seperti air yang dicurahkan di 80:25 dan biji yang ditumbuhkan di 80:27. Orang yang memperhatikan makanannya, seperti diperintahkan 80:24, menemukan perbuatan Allah itu di antara air dan biji, pada tahap yang mudah terlewat.
- Di 2:74 hati yang mengeras diserupakan dengan batu, bahkan lebih keras, lalu ayat itu menyebut batu yang terbelah sehingga air keluar darinya dan batu yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Kata kerja terbelah di sana berakar sama dengan kata kerja di 80:26. Di antara batu yang keras ada yang terbelah, dan bumi di 80:26 dibelah Allah sehingga biji dapat tumbuh. Kalau batu masih ada yang terbelah, pertanyaan yang tersisa bagi pembaca menyangkut hatinya sendiri, adakah bagian yang masih terbuka ketika ayat-ayat tentang makanan ini dibaca?
- Tunas yang keluar dari tanah dan manusia yang keluar dari bumi pada hari dikumpulkan dituturkan dengan akar yang sama di 80:26 dan 50:44, dan 50:11 menyebut hidupnya negeri yang mati sebagai gambaran kebangkitan. Orang yang melihat benih tumbuh sesudah hujan sedang melihat sesuatu yang dipakai Al-Qur'an untuk menggambarkan kebangkitannya sendiri. Surah ini menyebut kebangkitan di 80:22, sebelum daftar makanan, sehingga pembaca yang sampai di 80:26 sudah membawa kabar dari Allah itu ketika memandang tanah yang dibelah.
- Akar yang di 80:26 menamai belahan tanah juga menamai persengketaan antara suami dan istri di 4:35. Untuk sengketa itu 4:35 menyuruh mengutus seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang dari keluarga perempuan, lalu menyatakan bahwa Allah memberi taufik kepada keduanya jika mereka bermaksud berdamai. Belahan tanah di 80:26 dikerjakan Allah dan membawa hasil, sedangkan retaknya hubungan dua orang di 4:35 diserahkan kepada upaya manusia untuk mendamaikan, dengan taufik dari Allah. Pembaca yang sedang berada di tengah sengketa keluarga menemukan kedua pemakaian itu di bawah satu akar.
- Kata dari akar yang sama dipakai di 16:7 untuk kepayahan, perjalanan ke negeri yang tidak sanggup dicapai manusia kecuali dengan susah payah, lalu ayat itu menyebut ternak yang mengangkut beban mereka dan menutupnya dengan pernyataan bahwa Tuhan mereka penuh iba lagi pengasih. Ternak itu muncul lagi di 80:32, sebagai pihak yang ikut menerima kesenangan dari tumbuhan yang tumbuh di bumi yang dibelah. Kepayahan manusia diringankan dengan ternak, dan ternak diberi makan dari bumi yang dibelah Allah. Ternak yang di 16:5 disebut diciptakan Allah untuk manusia, dan makanan ternak itu di 80:32, sama-sama disebut sebagai pemberian-Nya.
- Allah bersumpah di 86:11-12 demi langit yang memiliki pengembalian dan demi bumi yang memiliki rekahan, lalu 86:13-14 menyatakan untuk apa sumpah itu, yaitu bahwa firman ini perkataan pemutus dan bukan senda gurau. Rekahan tanah, yang biasa terlihat di tepi jalan dan di pematang, dipakai sebagai saksi atas kesungguhan firman Allah. Di 80:26 tanah yang dibelah menjadi bagian dari bahan yang diperintahkan untuk diperhatikan, dan di 86:12 tanah yang merekah menjadi bagian dari sumpah yang menegaskan firman itu. Orang yang menganggap tanah retak sebagai hal remeh berhadapan dengan dua ayat yang memakainya untuk urusan yang tidak remeh.
Ayat 80:27
فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّاfa-anbatnaa fiihaa habbanlalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْبَتْنَاfa-anbatnaamaka Kami menumbuhkan
- فِيهَاfiihaapadanya
- حَبًّاhabbanbiji-bijian
Inti bacaan
Tulisan fa-anbatnaa tercatat di empat ayat, 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27, dan di 31:10 serta 80:27 kata itu diikuti fiihaa. Dari 85 ayat berakar ح-ب-ب, sebelas memakainya untuk biji dan 74 untuk cinta dan kesukaan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat kata kerja (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) yang berarti "lalu Kami tumbuhkan", keterangan (فِيهَا, fiihaa) yang berarti "padanya", dan sasaran (حَبًّا, habban) yang berarti "biji-bijian". Kata ganti pada fiihaa menunjuk bumi yang dibelah di 80:26, sehingga bumi tidak disebut ulang. Pelakunya tetap Kami, sama dengan kata kerja di 80:25 dan 80:26, dan kata kerja ini juga menjadi induk bagi ketujuh jenis tumbuhan yang disebut sesudahnya sampai 80:31.
Kata kerja berakar ن-ب-ت dengan pelaku Kami tercatat di delapan ayat, 15:19, 26:7, 27:60, 31:10, 37:146, 50:7, 50:9, dan 80:27. Dengan huruf fa di depannya, tulisan fa-anbatnaa tercatat di empat ayat, 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27, dan di tiga ayat selain ayat ini kata itu langsung menyusul penyebutan air yang diturunkan dari langit. Di 27:60 dan 50:9 kata itu diikuti (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya", menunjuk air sebagai sarana. Di 31:10 dan 80:27 kata itu diikuti fiihaa, menunjuk bumi sebagai tempat. Di 80:27 air sudah disebut dua ayat sebelumnya, dan di antara keduanya terletak bumi yang dibelah.
Kata habban sebagai biji-bijian tercatat di tujuh ayat, 6:95, 6:99, 36:33, 50:9, 55:12, 78:15, dan 80:27, dan bentuk (حَبَّةٍ, habbatin) yang berarti "sebutir biji" di empat ayat lain, 2:261, 6:59, 21:47, dan 31:16. Pemakaian untuk biji itu mencakup sebelas dari 85 ayat berakar ح-ب-ب. Di 74 ayat lainnya akar itu dipakai untuk cinta dan kesukaan, misalnya (حُبًّا جَمًّا, hubban jamman) di 89:20 yang berarti "dengan kecintaan yang berlebihan". Tulisan hubban di sana dan habban di ayat ini berbeda pada harakat huruf pertamanya saja.
Di tiga ayat biji-bijian diberi keterangan, (وَحَبَّ الْحَصِيدِ, wa-habba l-hashiidi) yang berarti "dan biji-bijian yang dapat dipanen" di 50:9, (حَبًّا مُتَرَاكِبًا, habban mutaraakiban) yang berarti "butir yang bertumpuk" di 6:99, dan (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ, wa-l-habbu dzuu l-'ashfi) yang berarti "biji-bijian yang berkulit" di 55:12. Di 80:27 biji-bijian disebut tanpa keterangan dan tanpa kata sandang, sejalan dengan jenis-jenis lain dalam daftar ini.
Di 36:33 dan 78:15 biji-bijian dikeluarkan dengan kata kerja berakar خ-ر-ج, (وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا, wa-akhrajnaa minhaa habban) di 36:33 dan (لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا, li-nukhrija bihi habban) di 78:15, sedangkan di 50:9 dan 80:27 biji-bijian menjadi sasaran kata kerja menumbuhkan. Ayat 36:33 menambahkan (فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ, fa-minhu ya'kuluuna) yang berarti "lalu darinya mereka makan", sehingga biji-bijian di sana langsung dihubungkan dengan makan, sejalan dengan daftar di surah ini yang dibuka dengan perintah memperhatikan makanan di 80:24.
Tafsiran
Ayat ini menyebut hasil pertama dari bumi yang dibelah, dan dengan ayat ini rangkaian 80:25-27 lengkap, air dicurahkan, bumi dibelah, lalu biji-bijian ditumbuhkan. Sesudahnya daftar berlanjut tanpa kata kerja baru sampai 80:31, sehingga anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun, buah-buahan, dan rerumputan semuanya bergantung pada kata kerja di ayat ini.
Susunan yang mirip ada di 36:33-35. Bumi yang mati dihidupkan, biji-bijian dikeluarkan darinya dan dimakan, lalu 36:34 menyebut kebun-kebun kurma dan anggur, sama seperti daftar di surah ini yang bergerak dari biji-bijian ke anggur dan pohon kurma. Rangkaian di surah 36 ditutup dengan pertanyaan (أَفَلَا يَشْكُرُونَ, a-fa-laa yasykuruuna) yang berarti "maka, tidakkah mereka bersyukur?". Di surah ini rangkaian serupa datang sesudah 80:17 menyebut betapa manusia kufur, dan 76:3 menyandingkan kedua sikap itu, (إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا, immaa syaakiran wa-immaa kafuuran), "ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur".
Susunan di 78:14-16 juga serupa. Air yang tercurah deras diturunkan dari awan, lalu biji-bijian, tanam-tanaman, dan kebun-kebun yang rindang ditumbuhkan dengannya. Dalam surah itu daftar tersebut disusul hari keputusan di 78:17, dan di surah ini daftar makanan disusul suara yang memekakkan di 80:33.
Renungan dan Hikmah
- Penumbuhan di 27:60 dan 50:9 dinyatakan "dengannya", yaitu dengan air, dan di 31:10 serta 80:27 dinyatakan "padanya", yaitu di bumi. Sarana dan tempat tumbuhnya biji sama-sama disebut Allah sebagai pemberian-Nya, air yang Dia curahkan di 80:25 dan bumi yang Dia belah di 80:26. Petani mengolah tanah dan menunggu hujan, dan kedua bagian itu disebut di ayat-ayat ini sebagai perbuatan Allah sebelum biji apa pun muncul. Orang yang makan dari hasilnya menerima sesuatu yang sarana dan tempatnya sudah disiapkan sebelum dia menanam.
- Di 56:63-64 Allah bertanya, "Maka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian tanam? Apakah kalian yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?" Pertanyaan itu tidak menyangkal bahwa manusia menanam, sebab kata kerja menanam di 56:63 dipakai untuk mereka. Pertanyaannya menyangkut siapa yang menumbuhkan, dan 56:65 menambahkan bahwa jika Allah menghendaki, tanaman itu dapat dijadikan hancur. Di 80:27 jawabannya diberikan dalam bentuk pernyataan, "lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian". Orang yang menanam padi atau jagung bekerja dengan tangannya, dan ayat ini menyebut siapa yang menumbuhkan hasil kerjanya.
- Menurut 6:59 biji yang berada dalam kegelapan bumi tercatat dalam Kitab yang nyata, sama seperti daun yang gugur yang diketahui Allah. Sebelum bumi dibelah di 80:26 dan sebelum biji itu tumbuh di 80:27, biji itu sudah berada di dalam tanah, tertutup dari pandangan orang yang berjalan di atasnya. Ayat 6:59 menyatakan bahwa Allah mengetahuinya pada saat itu. Pembaca yang sedang menunggu hasil dari sesuatu yang sudah ditanamnya, dalam arti harfiah maupun kiasan, dapat melihat keadaannya pada biji yang belum tampak itu.
- Timbangan yang tepat pada hari kiamat di 21:47 diukur sampai seberat biji sawi, (مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ, mitsqaala habbatin min khardalin), dan ayat itu menyatakan bahwa tidak ada jiwa yang dirugikan walaupun sedikit. Kata biji di sana berakar sama dengan biji-bijian di 80:27. Biji yang di 80:27 ditumbuhkan untuk dimakan dipakai di 21:47 sebagai ukuran bagi perbuatan yang sangat kecil, dan Allah menyatakan akan mendatangkannya ke timbangan. Pembaca yang menganggap perbuatannya terlalu kecil untuk dihitung menemukan bahwa ukuran yang dipakai Allah dalam perhitungan-Nya diambil dari jenis yang sama dengan makanan di ayat ini.
- Perumpamaan di 2:261 memakai sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dengan seratus biji di setiap tangkai, untuk orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Kata kerja menumbuhkan di sana berakar sama dengan kata kerja di 80:27. Di 80:27 Allah menumbuhkan biji dari bumi, dan di 2:261 biji dijadikan perumpamaan bagi pelipatgandaan yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Biji-bijian yang diterima manusia sebagai makanan muncul di 2:261 sebagai gambaran harta yang dinafkahkan. Bagi orang yang memberi dari apa yang dimilikinya, perumpamaan itu memakai bahan yang sama dengan daftar di surah ini.
- Teguran di 89:17-20 ditujukan kepada manusia yang tidak memuliakan anak yatim, tidak saling mendorong memberi makan orang miskin, memakan harta warisan dengan melahap habis, dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Kata kecintaan di 89:20 ditulis dengan huruf yang sama dengan biji-bijian di 80:27, dan harakat huruf pertamanya membedakan keduanya. Biji yang ditumbuhkan Allah dapat menjadi makanan yang dibagikan, dan dapat pula menjadi harta yang dicintai berlebihan lalu ditahan. Kedua kemungkinan itu berawal dari biji yang ditumbuhkan Allah di 80:27.
Ayat 80:28
وَعِنَبًا وَقَضْبًا
Anggur dan sayuran,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَعِنَبًا وَقَضْبًاwa-'inaban wa-qadhbananggur dan sayuran
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَعِنَبًاwa-'inabandan anggur
- وَقَضْبًاwa-qadhbandan sayuran
Inti bacaan
Akar ق-ض-ب tercatat di 80:28 saja, dan surah ini memuat dua akar lain yang juga tercatat di satu ayat, أ-ب-ب di 80:31 dan ص-خ-خ di 80:33. Bentuk tunggal anggur tercatat di 17:91 dan 80:28, sedangkan sembilan ayat lain memakai bentuk jamak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata benda, (وَعِنَبًا, wa-'inaban) yang berarti "dan anggur" dan (وَقَضْبًا, wa-qadhban) yang berarti "dan sayuran". Keduanya tidak punya kata kerja sendiri dan menjadi sasaran (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) di 80:27, sama seperti biji-bijian di 80:27 dan zaitun serta pohon kurma di 80:29. Keduanya disebut tanpa kata sandang dan tanpa keterangan sifat, dan huruf sambung wa di depan masing-masing meneruskan daftar yang dibuka biji-bijian.
Akar ع-ن-ب tercatat di sebelas ayat. Sembilan di antaranya memakai bentuk jamak, misalnya (وَأَعْنَابٍ, wa-a'naabin) di 2:266, dan bentuk tunggal seperti di ayat ini tercatat di dua ayat, 17:91 dan 80:28. Tulisan wa-'inaban tercatat di 80:28 saja. Tujuh dari sebelas ayat berakar ini menyebut anggur sebagai isi kebun, seperti (جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ, jannaatin min nakhiilin wa-a'naabin) di 23:19 yang berarti "kebun-kebun kurma dan anggur", dan 78:32 menyebutnya di samping kebun-kebun. Di 80:28 anggur tidak disebut sebagai isi kebun, dan kebun-kebun disebut tersendiri di 80:30 sebagai jenis lain dalam daftar.
Pasangan anggur dan pohon kurma sudah diuraikan di 80:29, termasuk sembilan ayat yang menyebut keduanya bersama. Di luar susunan kebun, buah anggur disebut di 16:67 sebagai bahan (سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا, sakaran wa-rizqan hasanan) yang berarti "minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik", dan di 16:11 anggur termasuk yang ditumbuhkan dengan air hujan bersama tanaman, zaitun, dan pohon kurma. Kedua ayat di surah 16 itu memakai bentuk jamak dengan kata sandang, sedangkan 80:28 memakai bentuk tunggal tanpa kata sandang.
Akar ق-ض-ب tercatat di 80:28 saja. Karena itu arti kata sayuran di ayat ini tidak dapat diperiksa lewat pemakaian lain di Al-Qur'an, dan terjemahan proyek ini memakai "sayuran". Kedudukannya dalam daftar tetap dapat dibaca, sesudah anggur dan sebelum zaitun, sebagai salah satu tumbuhan yang ditumbuhkan dari bumi yang dibelah, bergantung pada kata kerja yang sama. Surah ini memuat dua akar lain yang juga tercatat di satu ayat saja, أ-ب-ب di 80:31 dan ص-خ-خ di 80:33, sehingga tiga akar semacam itu berkumpul dalam enam ayat berurutan.
Urutan jenis dalam daftar tumbuhan berbeda dari satu ayat ke ayat lain. Di 6:99, sesudah tumbuhan segala sesuatu dan yang hijau, urutannya butir yang bertumpuk, pohon kurma, anggur, zaitun, dan delima, dan di 16:11 tanaman, zaitun, pohon kurma, lalu anggur. Di 80:27-29 urutannya biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, lalu pohon kurma. Di ketiga daftar itu biji-bijian atau tanaman disebut sebelum jenis-jenis lain, sedangkan urutan jenis-jenis sesudahnya tidak tetap.
Tafsiran
Ayat ini meneruskan daftar tanpa kata kerja baru, sehingga anggur, buah yang dikenal di banyak ayat, dan sayuran, yang namanya disebut sekali, berdiri sejajar sebagai hasil perbuatan Allah di 80:25-27. Untuk siapa semuanya ditumbuhkan baru dinyatakan di 80:32, yang menyebut manusia dan hewan ternak mereka.
Ayat 23:19 memakai urutan yang mirip dengan rangkaian ini. Air diturunkan dengan ukuran di 23:18, lalu (فَأَنْشَأْنَا لَكُمْ بِهِ, fa-ansya'naa lakum bihi) yang berarti "lalu dengan itu Kami tumbuhkan untuk kalian", kebun-kebun kurma dan anggur, dan ayat itu ditutup dengan "dari sebagiannya kalian makan". Kata lakum di 23:19 muncul di awal, sedangkan di surah ini kata yang sama baru muncul di 80:32, sesudah seluruh daftar disebut.
Di 13:4 anggur, tanaman, dan pohon kurma disirami air yang sama tetapi berbeda rasanya, dan ayat itu menyebut perbedaan itu sebagai tanda bagi kaum yang berakal. Perbedaan rasa tidak disebut di surah ini. Anggur dan sayuran ditempatkan dalam satu daftar yang seluruhnya bergantung pada curahan air di 80:25, sehingga daftar di surah ini menonjolkan asal yang sama, sedangkan 13:4 menonjolkan hasil yang berbeda. Kedua ayat bertolak dari air, 13:4 dari air yang menyirami bagian-bagian bumi dan 80:25 dari air yang dicurahkan Allah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 23:19 menyebut kebun-kebun kurma dan anggur yang ditumbuhkan Allah, lalu berkata, "bagi kalian di dalamnya buah-buahan yang banyak, dan dari sebagiannya kalian makan". Kalimat itu membedakan buah yang banyak dari bagian yang dimakan, sehingga hasil kebun disebut lebih banyak daripada yang dimakan pemiliknya. Daftar yang memuat anggur di 80:28 ditutup di 80:32 dengan kesenangan bagi manusia dan bagi hewan ternak mereka. Orang yang menerima hasil kebun melebihi kebutuhannya menemukan di kedua ayat itu bahwa pemberian Allah tidak diukur dari apa yang habis dimakan seorang pemilik.
- Menurut 13:4 anggur, tanaman, dan pohon kurma di bagian-bagian bumi yang berdampingan disirami dengan air yang sama, lalu Allah melebihkan sebagiannya atas sebagian lain dalam rasanya. Dua petak yang bersebelahan dapat menghasilkan buah yang berbeda walaupun air dan tanahnya sama. Ayat itu menyebut perbedaan tersebut sebagai perbuatan Allah dan sebagai tanda bagi kaum yang berakal. Orang yang membandingkan hasil kebunnya dengan hasil kebun tetangga, atau hasil kerjanya dengan hasil kerja orang lain, dapat membaca perbedaan itu melalui 13:4 sebagai bagian dari ketentuan Allah.
- Di 16:67 buah kurma dan anggur disebut sebagai bahan yang dapat dijadikan minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik, dan ayat itu menutupnya dengan tanda bagi kaum yang mengerti. Anggur yang ditumbuhkan Allah di 80:28 sampai ke tangan manusia sebagai bahan, dan apa yang dibuat darinya ditentukan oleh orang yang mengolahnya. Ayat 16:67 menyebut kedua kemungkinan itu berdampingan tanpa memisahkan buahnya. Pilihan olahan itu diserahkan kepada manusia, sedangkan buahnya tetap disebut sebagai pemberian Allah.
- Tanaman apa persisnya yang dinamai sayuran di ayat ini? Kata itu berasal dari akar yang tidak dipakai di ayat lain, sehingga pembaca yang ingin tahu tidak menemukan ayat lain untuk memastikannya. Dari teks dapat dipastikan kedudukannya di antara pemberian Allah, sesudah anggur dan sebelum zaitun, ditumbuhkan dengan kata kerja yang sama. Daftar di 80:27-31 memuat tumbuhan yang dikenal luas dan tumbuhan yang namanya disebut satu kali. Keduanya diperintahkan untuk diperhatikan dengan perintah yang sama di 80:24, dan kekurangan pengetahuan pembaca tentang namanya tidak mengurangi kedudukannya sebagai pemberian.
- Perumpamaan di 2:266 bertanya apakah seseorang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang dialiri sungai, dengan segala macam buah, lalu dia menjadi tua sementara keturunannya masih lemah, dan kebun itu ditimpa angin puting beliung yang berapi hingga terbakar. Anggur yang di 80:28 ditumbuhkan Allah muncul di 2:266 dalam kebun yang menjadi sandaran di hari tua. Ayat itu ditutup dengan penjelasan bahwa Allah menerangkan tanda-tanda supaya manusia berpikir. Orang yang menyiapkan hari tuanya dari hasil kebun atau hasil kerja lain dapat membaca perumpamaan itu sebagai pengingat tentang siapa yang memegang kebun tersebut.
- Anggur disebut pula di 78:31-32, (حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا, hadaa'iqa wa-a'naaban), "kebun-kebun dan anggur", sebagai bagian dari kemenangan bagi orang-orang yang bertakwa. Di 80:28 anggur disebut dalam daftar makanan di dunia, yang ditumbuhkan Allah dari bumi yang dibelah. Buah yang sama disebut di dua tempat dengan dua kedudukan, sebagai makanan yang dapat dirasakan sekarang dan sebagai bagian dari balasan. Orang yang memakan anggur di dunia sedang merasakan jenis buah yang juga disebut Allah dalam janji-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.
Ayat 80:29
وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا
Zaitun dan pohon kurma,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَزَيْتُونًا وَنَخْلًاwa-zaytuunan wa-nakhlanzaitun dan pohon kurma
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَزَيْتُونًاwa-zaytuunandan zaitun
- وَنَخْلًاwa-nakhlandan pohon kurma
Inti bacaan
Zaitun muncul di lima ayat dan hanya di sini tanpa kata sandang, mengikuti kedelapan jenis di 80:27-31. Akar ن-خ-ل tercatat di dua puluh ayat, sembilan di antaranya bersama akar ع-ن-ب; zaitun dan pohon kurma bersanding di 6:99, 6:141, 16:11, dan 80:29.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari dua kata benda, (وَزَيْتُونًا, wa-zaytuunan) yang berarti "dan zaitun" dan (وَنَخْلًا, wa-nakhlan) yang berarti "dan pohon kurma". Keduanya tidak punya kata kerja sendiri. Kata kerja yang mengatur keduanya berada di 80:27, (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) yang berarti "lalu Kami tumbuhkan", sehingga zaitun dan pohon kurma berkedudukan sebagai sasaran perbuatan menumbuhkan itu, menyusul biji-bijian di 80:27 serta anggur dan sayuran di 80:28.
Kata zaitun sendiri, tanpa menghitung bentuk turunannya, muncul di lima ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, 80:29, dan 95:1. Di empat ayat selain ayat ini kata itu bersandang al-, yaitu (وَالزَّيْتُونَ, wa-z-zaytuuna) di 6:99, 6:141, dan 16:11 serta (وَالزَّيْتُونِ, wa-z-zaytuuni) di 95:1. Bentuk tanpa kata sandang hanya dipakai di 80:29. Di sini bentuk itu sejalan dengan daftar tempatnya berada, sebab kedelapan jenis di 80:27-31 semuanya disebut tanpa kata sandang, dari (حَبًّا, habban) yang berarti "biji-bijian" di 80:27 sampai rerumputan di 80:31. Teksnya tidak memberi keterangan lain tentang perbedaan bentuk itu.
Akar ز-ي-ت menambah satu ayat lagi, 24:35, dengan dua bentuk lain. Di sana (زَيْتُونَةٍ, zaytuunatin) dipakai untuk pohon yang diberkahi, sumber nyala pelita, dan (زَيْتُهَا, zaytuhaa) yang berarti "minyaknya" disebut hampir menyala meskipun api tidak menyentuhnya. Dari keenam ayat berakar ini, 95:1 memakai zaitun dalam sumpah pembuka surah, 24:35 memakainya dalam perumpamaan cahaya, dan empat ayat lainnya menyebutnya dalam daftar tumbuhan. Satu jenis pohon dipakai untuk sumpah, perumpamaan, dan daftar makanan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiga pemakaian itu dalam satu ayat.
Kata (وَنَخْلًا, wa-nakhlan) berasal dari akar ن-خ-ل, yang dipakai di dua puluh ayat dalam tiga bentuk. Bentuk yang dipakai di ayat ini muncul di sebelas ayat, bentuk (وَالنَّخِيلَ, wa-n-nakhiila) di tujuh ayat, misalnya 16:11, dan bentuk (النَّخْلَةِ, n-nakhlati) di dua ayat, 19:23 dan 19:25. Bentuk terakhir itu dipakai untuk sebatang pohon tertentu, pangkal pohon kurma yang didatangi Maryam ketika sakit melahirkan, sedangkan bentuk di ayat ini dipakai untuk pohon kurma sebagai jenis, tanpa menunjuk jumlahnya. Terjemahan "pohon kurma" dipakai untuk bentuk ini juga di 55:11, tempat pohon kurma disebut mempunyai kelopak mayang.
Pemakaian akar ini tidak terbatas pada daftar tumbuhan. Di 19:25 Maryam disuruh menggoyang pangkal pohon kurma itu, dan yang jatuh kepadanya disebut (رُطَبًا, ruthaban), kurma yang masak. Batang-batang pohon kurma muncul di 20:71 dalam ancaman Fir'aun untuk menyalib para penyihir yang beriman. Kaum yang dibinasakan angin di 54:20 dan 69:7 diserupakan dengan (أَعْجَازُ نَخْلٍ, a'jaazu nakhlin), pangkal-pangkal pohon kurma, yang tumbang di ayat pertama dan lapuk di ayat kedua.
Di antara tumbuhan lain, anggur paling sering disebut bersama pohon kurma. Akar ن-خ-ل dan akar ع-ن-ب muncul bersama di sembilan ayat, yaitu 2:266, 6:99, 13:4, 16:11, 16:67, 17:91, 18:32, 23:19, dan 36:34, dan di surah ini keduanya terbagi ke dua ayat berurutan, anggur di 80:28 dan pohon kurma di 80:29. Zaitun dan pohon kurma bersanding di empat ayat, yaitu 6:99, 6:141, 16:11, dan ayat ini. Di 6:99 dan 6:141 pohon kurma disebut lebih dulu, sedangkan di 16:11 dan 80:29 zaitun mendahuluinya.
Daftar ini dibuka di 80:24 dengan perintah agar manusia memperhatikan (طَعَامِهِ, tha'aamihi), "makanannya". Kata pohon kurma di ayat ini menamai pohonnya, sebab bentuk yang sama dipakai untuk batang di 20:71 dan pangkal di 54:20, sedangkan buahnya punya sebutan sendiri, seperti kurma yang masak di 19:25 dan (ثَمَرِهِ, tsamarihi), "buahnya", dalam perintah makan di 6:141. Karena itu perintah di 80:24 menyangkut makanan, sedangkan ayat ini menyebut tanaman asalnya.
Tafsiran
Ayat ini berada di tengah daftar yang dibuka 80:24 dengan (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri), "maka hendaklah memperhatikan". Sebelum daftar itu, 80:17-23 berbicara tentang manusia yang kufur, asal kejadiannya dari setetes mani, kematian dan kebangkitannya, lalu 80:23 menyatakan bahwa manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Perintah memperhatikan makanan datang sesudah pernyataan itu, dan zaitun serta pohon kurma termasuk dalam apa yang diminta untuk diperhatikan.
Rangkaian 80:25-31 dituturkan dengan kata kerja yang pelakunya Allah, dalam bentuk Kami, yaitu Kami mencurahkan air (80:25), Kami belah bumi (80:26), dan Kami tumbuhkan (80:27), lalu diikuti delapan jenis tumbuhan. Rangkaian itu ditutup di 80:32 dengan (مَتَاعًا, mataa'an), "sebagai kesenangan", bagi manusia dan hewan ternak mereka. Dengan urutan itu makanan sehari-hari diapit oleh pembicaraan tentang kematian dan kebangkitan di 80:21-22 dan tentang suara yang memekakkan di 80:33.
Susunan yang mirip ada di 6:99. Di sana air diturunkan dari langit, lalu disebut butir yang bertumpuk, pohon kurma, kebun anggur, zaitun, dan delima, kemudian datang perintah (انْظُرُوا, unzhuruu), "perhatikanlah", kepada buahnya ketika berbuah dan matang. Kedua tempat memakai kata kerja memperhatikan dari akar yang sama, ن-ظ-ر, dan sama-sama memuat zaitun dan pohon kurma. Di 6:99 beberapa jenis diberi keterangan, seperti tangkai buah kurma yang menjuntai rendah serta zaitun dan delima yang serupa dan tidak serupa, sedangkan di 80:27-31 sifat diberikan kepada kebun-kebun saja, yaitu rimbun (80:30), dan ketujuh jenis lainnya disebut namanya. Bedanya, di 6:99 perintah itu datang sesudah daftar dan ditutup dengan tanda bagi kaum yang beriman, sedangkan di surah ini perintah datang lebih dulu dan daftarnya ditutup dengan kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Di 6:99 daftar itu menjadi tanda untuk direnungkan, sedangkan di surah ini daftar itu diletakkan tepat sebelum hari ketika manusia lari dari saudara, orang tua, istri, dan anak-anaknya (80:33-37).
Renungan dan Hikmah
- Ketika kurma atau zaitun sampai ke tangan, yang terlihat biasanya buahnya saja. Ayat ini menyebut kurma dengan nama pohonnya, dan kata kerja di 80:27 menyatakan bahwa Allah yang menumbuhkannya. Perintah di 80:24 meminta manusia memperhatikan makanannya, lalu ayat-ayat berikutnya menguraikan asal makanan itu, mulai dari air yang dicurahkan (80:25), bumi yang dibelah (80:26), sampai tanaman yang ditumbuhkan (80:27-31). Berapa banyak dari rangkaian itu yang sempat kita ingat ketika sedang makan?
- Zaitun di ayat ini disebut di tengah daftar makanan, sementara di 95:1 Allah memakainya dalam sumpah dan di 24:35 pohonnya menjadi sumber nyala pelita dalam perumpamaan cahaya-Nya. Pembaca baru melihat ketiga pemakaian itu setelah mengumpulkannya sendiri dari tiga surah yang berbeda. Zaitun di meja makan mudah dianggap perkara kecil karena begitu sering kita temui. Di dalam Al-Qur'an benda yang sama dipakai untuk bersumpah dan untuk menerangkan cahaya Allah, dan zaitun yang disebut di kedua ayat itu sejenis dengan zaitun yang kita makan.
- Di 19:23 rasa sakit melahirkan membawa Maryam ke pangkal pohon kurma, di tempat yang jauh (19:22), dan di sana Maryam berkata ingin mati sebelum itu dan menjadi orang yang dilupakan. Sesudah itu dia diberi tahu bahwa Tuhannya telah menjadikan anak sungai di bawahnya (19:24), lalu disuruh menggoyang pangkal pohon itu sehingga kurma yang masak jatuh kepadanya (19:25), dan disuruh makan dan minum (19:26). Pohon yang di ayat ini disebut dalam daftar makanan pernah menjadi sumber makanan bagi seseorang yang baru saja berharap mati.
- Kaum yang dibinasakan angin di 54:20 dan 69:7 diserupakan dengan pangkal-pangkal pohon kurma yang tumbang dan lapuk, dan di 20:71 batang-batang pohon kurma disebut dalam ancaman penyaliban. Pohon yang di 80:29 ditumbuhkan Allah sebagai makanan dipakai juga untuk menggambarkan kaum yang roboh. Kelimpahan dalam daftar ini tidak disertai janji bahwa kelimpahan itu akan bertahan. Di 18:32-35 pemilik dua kebun anggur yang dikelilingi pohon kurma mengira kebunnya tidak akan binasa selama-lamanya, dan di 18:42 buahnya dibinasakan dan kebun itu roboh di atas penyangganya. Ayat ini menyebut zaitun dan kurma sebagai pemberian, dan kisah dalam surah Al-Kahf itu memperlihatkan bahwa pemberian yang sama bisa diambil kembali.
- Orang-orang yang menolak di 17:90-91 berkata tidak akan percaya sebelum Rasul memiliki kebun kurma dan anggur dengan sungai-sungai yang dialirkan di celah-celahnya. Pasangan yang sama, anggur di 80:28 dan pohon kurma di ayat ini, disebut di surah ini sebagai tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, dan 80:32 menyatakan semuanya sebagai kesenangan bagi manusia dan hewan ternaknya. Jenis tanaman yang mereka jadikan syarat untuk percaya disebut di surah ini sebagai tumbuhan yang keluar dari bumi yang dibelah (80:26). Kaitan itu tidak disebut di kedua surah dan baru terlihat bila 17:91 dibaca di samping 80:28-29.
- Ayat 6:141 menyebut zaitun dan pohon kurma di antara tanaman yang buahnya boleh dimakan, lalu menambahkan perintah memberikan haknya pada waktu memetik hasilnya dan larangan berlebih-lebihan, karena Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan. Surah ini menutup daftarnya dengan kesenangan bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian (80:32), sehingga hasil tanaman itu disebut untuk lebih dari satu penerima. Di 6:141 penerima hak itu tidak dirinci, tetapi perintahnya menyatakan bahwa ada bagian hasil panen zaitun dan kurma yang harus diberikan pada hari dipetik.
Ayat 80:30
وَحَدَائِقَ غُلْبًا
Dan kebun-kebun yang rimbun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَحَدَائِقَ غُلْبًاwa-hadaa'iqa ghulbandan kebun-kebun yang rimbun
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَحَدَائِقَwa-hadaa'iqadan kebun-kebun
- غُلْبًاghulbanyang rimbun
Inti bacaan
Akar ح-د-ق tercatat di tiga ayat, 27:60, 78:32, dan 80:30, semuanya dalam bentuk jamak. Kata ghulban tercatat di 80:30 saja, sedangkan 27 ayat lain berakar غ-ل-ب memakai akar itu untuk mengalahkan, menang, dan menguasai.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari (وَحَدَائِقَ, wa-hadaa'iqa) yang berarti "dan kebun-kebun" dan (غُلْبًا, ghulban) yang berarti "yang rimbun". Kebun-kebun menjadi sasaran (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) di 80:27, dan ghulban menjadi sifatnya. Di antara delapan jenis dalam daftar 80:27-31, jenis di ayat ini diberi sifat, sedangkan ketujuh jenis lainnya disebut namanya saja. Kedua kata berbentuk jamak, dan sifat rimbun melekat pada kebun-kebun itu.
Akar ح-د-ق tercatat di tiga ayat, 27:60, 78:32, dan 80:30, dan di ketiganya kata itu berbentuk jamak. Bentuk tunggal dari kata itu tidak tercatat di Al-Qur'an. Di 27:60 kebun-kebun diberi sifat (ذَاتَ بَهْجَةٍ, dzaata bahjatin) yang berarti "yang indah", di 78:32 disebut tanpa sifat bersama anggur, (حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا, hadaa'iqa wa-a'naaban), dan di 80:30 diberi sifat rimbun. Di 27:60 dan 80:30 kebun-kebun itu ditumbuhkan Allah di bumi, sedangkan 78:32 menyebut kebun yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
Kebun-kebun juga disebut dengan kata dari akar lain, ج-ن-ن, misalnya (وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا, wa-jannaatin alfaafan) di 78:16 yang berarti "dan kebun-kebun yang rindang". Terjemahan proyek ini memakai "kebun-kebun" untuk kedua kata itu, sehingga perbedaan akarnya tidak terlihat dalam terjemahan. Di 78:16 kata dari akar ج-ن-ن dipakai untuk kebun di dunia yang tumbuh karena hujan, di 78:32 kata dari akar ح-د-ق dipakai untuk kebun balasan, dan di 27:60 serta 80:30 kata dari akar ح-د-ق dipakai untuk kebun di dunia. Dengan demikian pemakaian kedua akar itu tidak terbagi menurut dunia dan balasan.
Kata ghulban tercatat di 80:30 saja, sedangkan akarnya, غ-ل-ب, tercatat di 28 ayat. Di 27 ayat lainnya akar itu dipakai untuk mengalahkan, menang, dan menguasai, misalnya (غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً, ghalabat fi'atan katsiiratan) di 2:249 yang berarti "mengalahkan kelompok besar" dan (سَيَغْلِبُونَ, sa-yaghlibuuna) di 30:3 yang berarti "akan menang". Terjemahan proyek ini memakai "yang rimbun" untuk kata di ayat ini. Hubungan antara rimbun dan mengalahkan tidak diterangkan di ayat mana pun, sehingga penjelasan ini tidak menarik kesimpulan dari kesamaan akar itu.
Di 27:60 akar ن-ب-ت dipakai dua kali, (فَأَنْبَتْنَا بِهِ, fa-anbatnaa bihi) untuk Allah yang menumbuhkan kebun-kebun, dan (أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا, an tunbituu syajarahaa) dalam kalimat "kalian tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya". Kata kerja yang di 80:27 menjadi induk bagi kebun-kebun di ayat ini dipakai di 27:60 untuk Allah, lalu disangkal untuk manusia dalam ayat yang sama.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan daftar dari jenis tanaman ke tempat tumbuhnya. Sebelum ayat ini daftar menyebut biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, dan pohon kurma, masing-masing sebagai jenis, lalu di 80:30 disebut kebun-kebun yang rimbun, kumpulan pohon di satu tempat. Sesudahnya 80:31 kembali menyebut jenis, buah-buahan dan rerumputan, dan 80:32 menutup daftar dengan kesenangan bagi manusia dan ternaknya.
Ayat 27:60 memakai kebun-kebun dalam pertanyaan. Allah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit menumbuhkan kebun-kebun yang indah, yang pohon-pohonnya tidak mampu ditumbuhkan manusia, lalu ayat itu bertanya, (أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ, a-ilaahun ma'a llaahi), "apakah ada tuhan bersama Allah?". Pertanyaan serupa tidak diajukan di surah ini, tetapi rangkaian yang sama, air, bumi, dan kebun, diletakkan di bawah perintah memperhatikan makanan di 80:24, sesudah pernyataan di 80:23 bahwa manusia belum menunaikan apa yang diperintahkan kepadanya.
Surah 78 menyebut kebun dua kali, kebun-kebun yang rindang di 78:16 sesudah air dan biji-bijian, lalu kebun-kebun dan anggur di 78:32 sebagai kemenangan bagi orang-orang yang bertakwa, dan di antara keduanya ada hari keputusan di 78:17. Surah ini menyebut kebun-kebun di 80:30, lalu hari suara yang memekakkan di 80:33, dan wajah-wajah yang berseri-seri di 80:38. Kedua surah menempatkan kebun di dunia sebelum hari itu disebut.
Renungan dan Hikmah
- Orang yang berkebun menanam bibit, menyiram, dan memangkas, dan 27:60 tidak menyangkal kerja itu. Ayat itu menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohon di kebun yang ditumbuhkan Allah dengan air dari langit. Kebun-kebun rimbun di 80:30 berada di bawah kata kerja yang sama, "lalu Kami tumbuhkan" di 80:27. Kerimbunan yang dilihat pemilik kebun sesudah bertahun-tahun merawatnya berasal dari pertumbuhan yang tidak dia kerjakan, dan 27:60 menutup keterangan itu dengan pertanyaan apakah ada tuhan bersama Allah.
- Kebun-kebun di 27:60 diberi sifat indah, dan di 50:7 tumbuhan yang ditumbuhkan Allah di bumi disebut berpasang-pasangan dan indah. Sifat rimbun di 80:30 menambahkan kelebatan pada daftar makanan itu. Kebun tidak disebut sebagai sumber makanan saja, sebab keindahan dan kelebatannya ikut disebut di ayat-ayat tersebut. Orang yang merasa lega memandang pepohonan rimbun sedang menerima bagian dari pemberian Allah yang disebut di ayat-ayat itu, di samping buah yang kelak dipetiknya.
- Di 68:17-20 para pemilik kebun bersumpah akan memetik hasilnya pada pagi hari tanpa mengucapkan pengecualian, lalu kebun itu ditimpa bencana dari Tuhan ketika mereka tidur dan menjadi seperti yang telah dipetik habis. Kebun yang rimbun pada malam hari dapat lenyap sebelum pagi. Kebun-kebun di 80:30 disebut sebagai tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, dan 68:17-20 memperlihatkan bahwa rencana panen yang diucapkan dengan sumpah tanpa pengecualian dapat gugur sebelum dijalankan. Orang yang sudah menghitung hasil sebelum memetiknya berada dalam keadaan yang dilukiskan ayat-ayat itu.
- Pemilik dua kebun di 18:35 memasuki kebunnya sambil berkata, "Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya". Di 18:42 buahnya dibinasakan, kebunnya roboh di atas penyangganya, dan dia menyesal telah mempersekutukan Tuhannya. Kebun yang rimbun mudah dikira akan terus ada, sebab kerimbunannya terlihat setiap hari. Kebun-kebun di 80:30 disebut di tengah daftar pemberian yang disusul hari suara yang memekakkan di 80:33, dan 18:42 memperlihatkan bahwa kebun dapat binasa jauh sebelum hari itu.
- Menurut 71:10-12 seruan untuk memohon ampun kepada Tuhan disusul janji bahwa Dia akan mencurahkan hujan yang lebat, memperbanyak harta dan anak-anak, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai. Kebun di sana diletakkan sesudah permohonan ampun dan sesudah hujan, urutan yang dekat dengan 80:25-30, tempat air dicurahkan sebelum kebun-kebun yang rimbun disebut. Di 80:23 manusia dinyatakan belum menunaikan perintah Allah, dan 71:10-12 memperlihatkan jalan yang dibuka bagi orang yang berada dalam keadaan itu. Kebun yang rimbun disebut di sana sebagai bagian dari jawaban Allah atas permohonan ampun.
- Buah dari kebun kurma dan anggur di 36:35 disebut dimakan bersama "hasil yang dikerjakan tangan mereka", lalu ayat itu bertanya, "Maka, tidakkah mereka bersyukur?" Kerja manusia di kebun disebut di sana dan tidak dihapus. Di 80:30 kebun-kebun rimbun disebut sebagai tumbuhan yang ditumbuhkan Allah, dan 36:35 menambahkan bahwa tangan manusia ikut mengerjakan hasilnya. Orang yang bekerja di kebun menerima pengakuan atas kerjanya di ayat itu, dan pertanyaan tentang syukur tetap tertuju kepadanya.
Ayat 80:31
وَفَاكِهَةً وَأَبًّا
Dan buah-buahan serta rerumputan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَفَاكِهَةً وَأَبًّاwa-faakihatan wa-abbandan buah-buahan serta rerumputan
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَفَاكِهَةًwa-faakihatandan buah
- وَأَبًّاwa-abbandan rerumputan
Inti bacaan
Tulisan wa-abban dan akar أ-ب-ب tercatat di 80:31 saja. Buah-buahan, kurma, dan biji-bijian dari 80:27-31 muncul juga di 55:11-12 dengan susunan lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas dua kata, (وَفَاكِهَةً, wa-faakihatan) yang berarti "dan buah-buahan" dan (وَأَبًّا, wa-abban) yang berarti "serta rerumputan". Keduanya tidak bersandang al-, dibuka huruf sambung wa-, dan berakhiran -an, sama dengan (حَبًّا, habban) yang berarti "biji-bijian" di 80:27. Akhiran itu menyambungkan keduanya dengan kata kerja (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) yang berarti "lalu Kami tumbuhkan" di ayat itu, sehingga buah-buahan dan rerumputan masih termasuk yang ditumbuhkan. Dengan dua kata ini daftar di 80:27-31 genap delapan jenis, yaitu biji-bijian, anggur, sayuran, zaitun, kurma, kebun yang lebat, buah-buahan, dan rerumputan.
Akar ف-ك-ه tercatat di 19 ayat. Di 14 ayat akar itu menamai buah, sebelas dengan bentuk tunggal seperti di ayat ini dan tiga dengan bentuk jamak (فَوَاكِهُ, fawaakihu), misalnya di 23:19. Dari 14 ayat itu, sebelas melukiskan taman yang dijanjikan, antara lain 36:57, 43:73, 55:52, dan 56:20, sedangkan tiga menyebut buah di bumi, yaitu 23:19, 55:11, dan 80:31. Kata yang sama dengan huruf sambung wa- tercatat di tiga ayat, dan dua di antaranya, 56:20 dan 56:32, berada di tengah gambaran taman itu.
Lima ayat lain dari akar ini tidak menyebut buah. Di 36:55, 44:27, 52:18, dan 83:31 akar itu dipakai untuk orang yang bersenang-senang atau bergembira, dan di 56:65 untuk orang yang tercengang seandainya Allah menghendaki tanamannya hancur. Buah dan bersenang-senang tercatat di bawah satu akar, dan hubungan keduanya tidak diterangkan Al-Qur'an.
Buah di 80:31 disebut tanpa sifat. Di 23:19 buah di bumi disifati (فَوَاكِهُ كَثِيرَةٌ, fawaakihu katsiiratun) yang berarti "buah-buahan yang banyak", dan di taman yang dijanjikan buah disifati "yang banyak" di 38:51, 43:73, dan 56:32, serta "segala macam" di 44:55. Di daftar ini sifat diberikan kepada kebun di 80:30 saja, sehingga buah-buahan berdiri sejajar dengan biji-bijian, anggur, dan sayuran.
Kata (وَأَبًّا, wa-abban) tercatat di 80:31 saja, dan akarnya, أ-ب-ب, tidak dipakai di ayat lain. Surah ini memuat tiga akar yang tercatat di satu ayat saja, ق-ض-ب di 80:28, أ-ب-ب di sini, dan ص-خ-خ di 80:33. Karena kata ini tidak punya pemakaian lain, artinya tidak dapat diperiksa lewat korpus. Terjemahan ini memakai "rerumputan", dan tidak ada ayat lain yang dapat menguji pilihan itu.
Pasangan buah dan biji-bijian juga muncul di 55:11-12. Di sana (فِيهَا فَاكِهَةٌ, fiihaa faakihatun) yang berarti "padanya ada buah-buahan" disusul kurma yang berkelopak mayang, biji-bijian yang berkulit, dan bunga-bunga yang harum, semuanya tentang bumi yang dibentangkan untuk makhluk di 55:10. Tiga sebutan di sana, buah-buahan, kurma, dan biji-bijian, juga ada di daftar 80:27-31, walau urutannya berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menutup daftar tumbuhan yang menjawab perintah di 80:24, (فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ, fa-l-yanzhuri l-insaanu ilaa tha'aamihi) yang berarti "maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya". Perintah itu menyebut makanan manusia, tetapi daftar yang menjawabnya ditutup 80:32 dengan menyebut hewan ternak sebagai penerima juga. Makanan yang diminta untuk diperhatikan ternyata mencakup makanan hewan yang hidup bersama manusia.
Surah sebelumnya menempuh jalan yang serupa. Di 79:31 dari bumi dikeluarkan airnya dan (وَمَرْعَاهَا, wa-mar'aahaa) yang berarti "dan padang gembalanya", lalu 79:33 menutup uraian itu dengan kalimat yang sama dengan 80:32. Akar ر-ع-ي pada padang gembala itu dipakai di 20:54 untuk menggembalakan ternak. Rangkaian di surah 79 menyebut padang gembala sebelum kalimat penutup yang sama, dan kesejajaran itu sejalan dengan terjemahan "rerumputan" tanpa membuktikannya, karena kata di 80:31 tidak tercatat di tempat lain.
Daftar serupa di 55:10-12 disusul pertanyaan di 55:13 tentang nikmat Tuhan yang mana yang didustakan, sedangkan daftar di sini disusul pernyataan tentang untuk siapa semuanya disediakan. Surah 55 menagih pengakuan lewat pertanyaan, surah ini lewat perintah memperhatikan di 80:24 dan penyebutan penerimanya di 80:32. Buah yang di sebelas ayat lain dijanjikan di taman disebut di sini di antara hasil bumi yang sudah ditumbuhkan.
Renungan dan Hikmah
- Di 2:25 penghuni taman yang dijanjikan diberi buah, lalu berkata (هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ, haadzaa lladzii ruziqnaa min qablu) yang berarti "inilah yang dahulu diberikan kepada kami". Kata buah di sana berakar ث-م-ر, berbeda dengan akar di 80:31, dan ayat itu tidak menyebut di mana pemberian sebelumnya diterima. Ucapan itu memperlihatkan bahwa penghuni taman mengenali buah yang diberikan kepada mereka. Allah memakai kata yang sama di sebelas ayat untuk taman itu dan di 80:31 untuk hasil bumi yang ditumbuhkan-Nya sekarang. Apakah buah yang dimakan hari ini dikenali sebagai pemberian, sebagaimana penghuni taman mengenali buah mereka?
- Arti wa-abban tidak dapat dipastikan dari Al-Qur'an, karena akarnya tidak dipakai di ayat lain, dan di daftar delapan jenis ini dua nama bernasib sama, sayuran di 80:28 dan rerumputan di sini. Maksud daftarnya tidak goyah karena itu. Apa pun tumbuhan yang dinamai kata itu, 80:27 menyatakan Allah yang menumbuhkannya, dan 80:32 menyatakan seluruh daftar disediakan sebagai kesenangan bagi manusia dan ternaknya. Pembaca yang tidak tahu persis tumbuhan apa itu tetap tahu siapa yang menumbuhkannya dan untuk siapa tumbuhan itu ditumbuhkan, dan ketidakpastian satu nama tidak mengubah pokok yang dibawa ayat-ayat di sekitarnya.
- Di 20:54 perintah makan dan menggembalakan ternak disusul (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ, inna fii dzaalika la-aayaatin li-ulii n-nuhaa) yang berarti "sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal". Allah menghitung makanan ternak sebagai tanda, sejajar dengan makanan manusia sendiri. Perintah di 80:24 menyebut makanan manusia, dan daftar yang menjawabnya sampai pada tumbuhan yang disediakan juga bagi ternak. Orang yang memperhatikan makanannya diajak memperhatikan pula makanan hewan yang hidup bersamanya, dan menurut 20:54 keduanya sama-sama tanda bagi yang berakal.
- Akar faakihah dipakai di 44:27, (وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ, wa-na'matin kaanuu fiihaa faakihiina) yang berarti "dan kesenangan yang dahulu mereka nikmati di dalamnya", tentang kaum Fir'aun. Dua ayat sebelumnya menyebut taman, mata air, kebun, dan tempat kediaman yang mereka tinggalkan, lalu 44:28 menyatakan Allah mewariskannya kepada kaum yang lain. Kebun dan kesenangan yang sejenis dengan daftar di 80:27-31 dapat berpindah tangan. Daftar di surah ini menyebut semuanya sebagai yang ditumbuhkan Kami, dan kisah di surah 44 memperlihatkan bahwa yang ditumbuhkan itu tidak terikat pada satu pemilik.
- Dua ayat memakai akar yang sama untuk dua kegembiraan yang berlawanan arah. Di 83:31 orang yang berbuat dosa pulang kepada keluarganya (فَكِهِينَ, fakihiina) yang berarti "bergembira ria", sesudah menertawakan orang beriman di 83:29. Di 52:18 penghuni taman (فَاكِهِينَ, faakihiina) "bersuka ria dengan apa yang Tuhan mereka anugerahkan kepada mereka". Pembeda keduanya terletak pada sumbernya, ejekan di satu pihak dan anugerah Tuhan di pihak lain, dan buah di 80:31 dinamai dengan akar yang sama.
- Buah di taman yang dijanjikan di 56:20 disusul (مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ, mimmaa yatakhayyaruuna) yang berarti "yang mereka pilih". Di 80:27-31 manusia tidak disebut memilih apa pun, dan seluruh daftar berpelaku Kami. Kesempatan memilih di antara buah digambarkan di 56:20 sebagai bagian dari balasan. Orang yang hari ini dapat memilih buah yang dimakannya memegang sesuatu yang di ayat itu termasuk kenikmatan penghuni taman. Apakah pilihan sehari-hari itu disadari sebagai pemberian Allah?