ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا

Kemudian Kami belah bumi dengan belahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّاtsumma syaqaqnaa l-ardha syaqqankemudian Kami belah bumi dengan belahan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. شَقَقْنَاsyaqaqnaaKami membelah
  3. الْأَرْضَl-ardhabumi
  4. شَقًّاsyaqqansebelah-belahnya

Inti bacaan

Persiapan tanah untuk pertumbuhan: 'kemudian Kami belah bumi dengan belahan', proses geologis yang memungkinkan tanaman menembus permukaan, tahap penting sebelum vegetasi bisa tumbuh.

Penjelasan pilihan kata

Kata (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 6:95, 19:90, 50:44, 54:1, dan 84:1.

Di 54:1 dan 84:1 akar (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) dipakai untuk bulan yang terbelah dan langit yang terbelah pada hari kiamat. Di 50:44 ia dipakai untuk bumi yang terbelah mengeluarkan manusia.

Jadi akar (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) biasanya menamai pembelahan yang menandai peristiwa besar. Di sini ia dipakai untuk pembelahan tanah yang menumbuhkan makanan sehari-hari.

Bandingkan dengan 50:44. Di sana bumi terbelah mengeluarkan manusia pada hari kiamat; di sini bumi dibelah mengeluarkan tumbuhan. Dua pembelahan bumi dinamai dengan satu akar, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya.

Kata (شَقًّا, syaqqan) mengulang akar kata kerjanya, sama seperti susunan di 80:25. Dua ayat berurutan memakai cara penegasan yang sama persis.

Kata (الْأَرْضَ, al-ardh) memakai kata sandang. Bumi disebut sebagai yang dianggap sudah dikenali, dan bagian mana yang dibelah tidak diterangkan di ayat ini.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak. Jadi pembelahan tanah tidak dilukiskan langsung menyusul curahan air, melainkan datang sesudah selang.

Perhatikan bahwa huruf yang sama dipakai di 80:20, 80:21, dan 80:22. Empat kali di dalam satu surah, dan tiap kali ia memisahkan dua tahap dengan jarak yang tidak disebut lamanya.

Kata (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) memakai bentuk berorang pertama jamak, sama seperti kata kerja di 80:25 dan 80:27. Tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama.

Rangkaian itu membuat tiga perbuatan terbaca sebagai satu pekerjaan yang dikerjakan satu pihak. Tidak ada satu kata penghubung pun yang menyatakan kesatuannya.

Ayat ini menyebut tahap kedua dari asal makanan. Urutan tiga tahapnya berjalan dari air, tanah, lalu tumbuhan, dan tiap tahap dipakaikan satu ayat penuh.

Perhatikan bahwa pembelahan tanah disebut sebagai perbuatan, bukan sebagai kejadian alam. Yang tertulis bukan bahwa tanah merekah, melainkan bahwa ia dibelah.

Perhatikan pula bahwa tiga ayat ini melukiskan sesuatu yang berlangsung setiap musim, tetapi memakai kata-kata yang biasanya dipakai untuk peristiwa besar. Curahan, pembelahan, penumbuhan.

Pemilihan seperti (شَقَقْنَا, syaqaqnaa) mengangkat kejadian sehari-hari ke tingkat yang lain. Yang dilihat orang sebagai musim tanam dilukiskan dengan bahasa yang di tempat lain dipakai untuk hari kiamat.

Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan itu. Yang bisa dibaca cuma akibatnya pada pembacanya: hal yang terlalu biasa untuk diperhatikan dikembalikan menjadi hal yang layak dipandang.

Tafsiran

Ayat ini menyebut tahap kedua: bumi yang dibelah. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 6:95, 19:90, 50:44, 54:1, dan 84:1.

Di 54:1 dan 84:1 akar itu dipakai untuk bulan yang terbelah dan langit yang terbelah pada hari kiamat, dan di 50:44 untuk bumi yang terbelah mengeluarkan manusia. Jadi akar itu biasanya menamai pembelahan yang menandai peristiwa besar, sedangkan di sini ia dipakai untuk pembelahan tanah yang menumbuhkan makanan sehari-hari.

Kata terakhirnya mengulang akar kata kerjanya, sama seperti susunan di 80:25, sehingga dua ayat berurutan memakai cara penegasan yang sama persis.

Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga pembelahan tanah tidak dilukiskan langsung menyusul curahan air. Huruf yang sama dipakai di 80:20, 80:21, dan 80:22.

Pembelahan tanah di sini disebut sebagai perbuatan, bukan sebagai kejadian alam. Yang tertulis bukan bahwa tanah merekah, melainkan bahwa ia dibelah. Tiga ayat ini melukiskan sesuatu yang berlangsung setiap musim, tetapi memakai kata yang biasanya dipakai untuk peristiwa besar. Yang dilihat orang sebagai musim tanam dilukiskan dengan bahasa yang di tempat lain dipakai untuk hari kiamat.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 25 ayat, antara lain 6:95, 19:90, 50:44, 54:1, dan 84:1. Di 54:1 dan 84:1 akar itu dipakai untuk bulan dan langit yang terbelah pada hari kiamat. Jadi akar yang biasanya menandai peristiwa besar di sini dipakai untuk pembelahan tanah yang menumbuhkan makanan sehari-hari. Bahasa yang dipakai untuk hari kiamat dipinjamkan kepada musim tanam, dan pinjaman itu tidak diterangkan. Peminjaman bahasa sebesar itu tidak pernah ditandai dengan satu kalimat pun.
  • Di 50:44 akar yang sama dipakai Allah untuk bumi yang terbelah mengeluarkan manusia pada hari kiamat, sedangkan di sini bumi dibelah mengeluarkan tumbuhan. Dua pembelahan bumi dinamai dengan satu akar, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang keluar dari tanah setiap musim dan yang akan keluar sekali saja dinamai dengan cara yang sama. Yang keluar dari tanah setiap musim dan yang akan keluar sekali saja dinamai dengan cara yang sama. Kesamaan penamaan menaruh yang berulang dan yang sekali saja di dalam satu rangka.
  • Kata terakhirnya mengulang akar kata kerjanya, sama seperti susunan di 80:25, sehingga dua ayat berurutan memakai cara penegasan yang sama persis. Allah tidak membiarkan satu pun dari tiga perbuatan itu disebut biasa. Kadar masing-masing masuk lewat pengulangan bunyi, dan pembacanya merasakannya sebelum sempat menamainya. Tiga penegasan berturut-turut menolak membiarkan satu pun perbuatan itu terbaca sebagai hal biasa. Tiga penegasan berturut-turut menutup jalan bagi bacaan yang menganggapnya biasa.
  • Kata keduanya memakai bentuk berorang pertama jamak, sama seperti kata kerja di 80:25 dan 80:27, sehingga tiga ayat berturut-turut memakai bentuk yang sama. Rangkaian itu membuat tiga perbuatan terbaca sebagai satu pekerjaan yang dikerjakan Allah sendiri. Tidak ada satu kata penghubung pun yang menyatakan kesatuannya. Kesatuan pelaku dinyatakan lewat bentuk yang berulang, bukan lewat satu kata penghubung. Bentuk yang berulang mengikat ketiganya lebih kuat daripada kata penghubung mana pun.
  • Kata ketiganya memakai kata sandang, sehingga bumi disebut sebagai yang dianggap sudah dikenali, dan bagian mana yang dibelah tidak diterangkan Allah di ayat ini. Ketiadaan batas itu membuat pernyataannya berlaku di mana saja pembacanya berada. Tidak ada satu tempat pun yang bisa dikecualikan dari gambarannya. Pernyataan tanpa batas tempat berlaku di mana pun pembacanya berdiri ketika membacanya. Ketiadaan batas tempat membuat gambarannya tidak bisa dijauhkan oleh siapa pun.
  • Pembelahan tanah disebut sebagai perbuatan, bukan sebagai kejadian alam. Yang tertulis bukan bahwa tanah merekah dengan sendirinya, melainkan bahwa Allah membelahnya. Apa yang berubah pada cara seseorang memandang tanah di sekitarnya ketika yang terbaca bukan peristiwa yang terjadi, melainkan pekerjaan yang dikerjakan? Perbedaan antara terjadi dan dikerjakan mengubah seluruh cara memandang tanah di sekitar. Perbedaan itu tidak menuntut ilmu baru, cuma cara memandang yang berbeda.