فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّاfa-anbatnaa fiihaa habbanlalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَنْبَتْنَاfa-anbatnaamaka Kami menumbuhkan
- فِيهَاfiihaapadanya
- حَبًّاhabbanbiji-bijian
Inti bacaan
Hasil pertama dari proses ini: 'lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian', kelanjutan langsung dari persiapan tanah menuju hasil pangan pokok.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27. Di 27:60 kata itu dipakai untuk menumbuhkan kebun yang indah, dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian.
Kesamaan itu patut dicatat. Tiga dari empat tempat memakai (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air. Susunannya hampir sama, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu.
Akar (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 6:99, 18:45, 26:7, dan 71:17. Jadi penumbuhan salah satu pokok yang berulang, dan hampir selalu ia dikaitkan dengan air.
Kata (حَبًّا, habban) dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 78:15 ia juga disebut sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini.
Akar (حَبًّا, habban) dipakai di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:14, 5:54, 12:8, dan 76:8. Tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta, bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda.
Kata (حَبًّا, habban) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya. Cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu keterangan yang menyebut biji apa.
Kata (فِيهَا, fiihaa) memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 80:26. Jadi dua ayat itu terikat, dan bumi tidak disebut ulang di ayat ini.
Kata (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air.
Perbedaan dua huruf itu melukiskan dua kecepatan yang berbeda di dalam satu rangkaian. Tidak ada satu kata pun yang menyebut lamanya, dan pembacanya merasakan iramanya sendiri.
Kata (حَبًّا, habban) membuka daftar yang berjalan sampai 80:31. Lima ayat berturut-turut menyebut jenis tumbuhan, dan tidak satu kata kerja baru pun muncul di antaranya.
Perhatikan bahwa daftar itu dibuka dengan biji-bijian, bukan dengan buah. Yang disebut lebih dulu makanan pokok, dan yang menyusul kemudian yang manis dan yang menyegarkan.
Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa daftarnya berjalan dari yang paling dibutuhkan ke yang paling dinikmati.
Perhatikan pula bahwa daftar tumbuhan ini disusun tanpa satu kata kerja baru. Lima ayat berjalan cuma dengan kata sambung dan nama-nama, dan semuanya bergantung pada (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) di ayat ini.
Susunan itu membuat daftarnya terbaca cepat. Tidak ada jeda, tidak ada penjelasan di antara jenisnya. Namanya disebut satu per satu, dan pembacanya melintasinya seperti melihat kebun sambil berjalan.
Kecepatan itu punya akibat. Yang tertinggal bukan rincian tiap jenis, melainkan kesan tentang banyaknya. Daftar yang dibacakan cepat justru meninggalkan kesan berlimpah, dan itu yang sesuai dengan pokoknya.
Tafsiran
Ayat ini menyebut hasil pertama dari tanah yang dibelah: biji-bijian. Kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27.
Di 27:60 kata itu dipakai untuk menumbuhkan kebun yang indah dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian, sehingga tiga dari empat tempat memakainya untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air. Akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 6:99, 18:45, 26:7, dan 71:17.
Kata terakhirnya dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun; di 78:15 ia juga disebut sesudah air yang diturunkan. Akarnya dipakai di 85 ayat, tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta dan bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda.
Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air.
Kata terakhirnya membuka daftar yang berjalan sampai 80:31, dan daftar itu dibuka dengan biji-bijian, bukan dengan buah. Daftar tumbuhan yang dibuka di sini disusun tanpa satu kata kerja baru: lima ayat berjalan cuma dengan kata sambung dan nama-nama, semuanya bergantung pada satu kata kerja di ayat ini. Yang tertinggal pada pembacanya bukan rincian tiap jenis, melainkan kesan tentang banyaknya.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27. Di 27:60 Allah memakainya untuk menumbuhkan kebun yang indah dan di 50:9 untuk menumbuhkan kebun dan biji-bijian. Tiga dari empat tempat memakai kata ini untuk penumbuhan yang menyusul turunnya air, dengan susunan yang hampir sama, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Susunan yang berulang di beberapa surah menandai satu pola yang tidak pernah disebutkan sebagai pola. Pola yang berulang tanpa pernah disebut adalah pola yang harus ditemukan sendiri.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 85 ayat, antara lain 2:165, 3:14, 5:54, 12:8, dan 76:8. Sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta, bukan biji, karena satu akar memuat dua arti yang berbeda. Jadi bunyi yang sama dipakai untuk yang menumbuhkan tubuh dan untuk yang menggerakkan hati, dan Al-Qur'an tidak pernah menghubungkan keduanya. Bunyi yang sama untuk yang menumbuhkan tubuh dan yang menggerakkan hati dibiarkan tanpa penjelasan. Dua arti di satu akar dibiarkan berdampingan tanpa satu ayat yang mempertemukannya.
- Kata terakhirnya dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 78:15, dan tidak di tempat lain mana pun. Di 78:15 Allah juga menyebutnya sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini. Dua surah yang berdekatan memakai urutan yang sama, dan tidak satu ayat pun menandai kesejajaran itu. Pembaca yang membaca berurutan bisa melewatinya tanpa sadar. Urutan air lalu biji berulang di dua surah yang berdekatan tanpa satu ayat yang menandainya. Kesejajaran dua surah itu terlewat oleh pembaca yang tidak berhenti pada urutannya.
- Kata pertamanya didahului huruf yang menyatakan urutan rapat, berbeda dari huruf di 80:26 yang menyatakan urutan berjarak. Penumbuhan menyusul pembelahan tanpa jeda, sedangkan pembelahan datang sesudah selang dari curahan air. Allah melukiskan dua kecepatan yang berbeda cuma dengan dua huruf, dan pembacanya merasakan iramanya tanpa satu kata yang menyebut lamanya. Dua huruf cukup untuk melukiskan dua kecepatan di dalam satu rangkaian yang sama. Irama yang berubah di tengah rangkaian adalah keterangan yang tidak berupa kata.
- Kata keduanya memakai kata ganti yang menunjuk bumi di 80:26, sehingga dua ayat itu terikat dan bumi tidak disebut ulang. Allah membiarkan pembacanya membawa sebutan itu dari ayat sebelumnya. Rangkaian yang diikat seperti itu menolak dibaca sepotong, dan justru ikatannya yang membuat delapan ayat tentang makanan terbaca sebagai satu uraian. Ikatan lewat kata ganti membuat delapan ayat tentang makanan terbaca sebagai satu uraian utuh. Uraian yang terikat rapat menolak dipenggal, dan penggalannya kehilangan arti.
- Kata terakhirnya membuka daftar yang berjalan sampai 80:31, dan lima ayat berturut-turut menyebut jenis tumbuhan tanpa satu kata kerja baru pun. Daftar itu dibuka Allah dengan biji-bijian, bukan dengan buah, sehingga yang disebut lebih dulu makanan pokok. Apa yang dinyatakan sebuah daftar yang berjalan dari yang paling dibutuhkan ke yang paling dinikmati? Daftar yang berjalan dari yang dibutuhkan ke yang dinikmati menyusun sendiri urutan kepentingannya. Susunan daftar sudah menyampaikan peringkatnya sebelum satu kata penilaian diucapkan.