فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا

Lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّاfa-anbatnaa fiihaa habbanlalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَأَنْبَتْنَاfa-anbatnaamaka Kami menumbuhkan
  2. فِيهَاfiihaapadanya
  3. حَبًّاhabbanbiji-bijian

Inti bacaan

Tulisan fa-anbatnaa tercatat di empat ayat, 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27, dan di 31:10 serta 80:27 kata itu diikuti fiihaa. Dari 85 ayat berakar ح-ب-ب, sebelas memakainya untuk biji dan 74 untuk cinta dan kesukaan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat kata kerja (فَأَنْبَتْنَا, fa-anbatnaa) yang berarti "lalu Kami tumbuhkan", keterangan (فِيهَا, fiihaa) yang berarti "padanya", dan sasaran (حَبًّا, habban) yang berarti "biji-bijian". Kata ganti pada fiihaa menunjuk bumi yang dibelah di 80:26, sehingga bumi tidak disebut ulang. Pelakunya tetap Kami, sama dengan kata kerja di 80:25 dan 80:26, dan kata kerja ini juga menjadi induk bagi ketujuh jenis tumbuhan yang disebut sesudahnya sampai 80:31.

Kata kerja berakar ن-ب-ت dengan pelaku Kami tercatat di delapan ayat, 15:19, 26:7, 27:60, 31:10, 37:146, 50:7, 50:9, dan 80:27. Dengan huruf fa di depannya, tulisan fa-anbatnaa tercatat di empat ayat, 27:60, 31:10, 50:9, dan 80:27, dan di tiga ayat selain ayat ini kata itu langsung menyusul penyebutan air yang diturunkan dari langit. Di 27:60 dan 50:9 kata itu diikuti (بِهِ, bihi) yang berarti "dengannya", menunjuk air sebagai sarana. Di 31:10 dan 80:27 kata itu diikuti fiihaa, menunjuk bumi sebagai tempat. Di 80:27 air sudah disebut dua ayat sebelumnya, dan di antara keduanya terletak bumi yang dibelah.

Kata habban sebagai biji-bijian tercatat di tujuh ayat, 6:95, 6:99, 36:33, 50:9, 55:12, 78:15, dan 80:27, dan bentuk (حَبَّةٍ, habbatin) yang berarti "sebutir biji" di empat ayat lain, 2:261, 6:59, 21:47, dan 31:16. Pemakaian untuk biji itu mencakup sebelas dari 85 ayat berakar ح-ب-ب. Di 74 ayat lainnya akar itu dipakai untuk cinta dan kesukaan, misalnya (حُبًّا جَمًّا, hubban jamman) di 89:20 yang berarti "dengan kecintaan yang berlebihan". Tulisan hubban di sana dan habban di ayat ini berbeda pada harakat huruf pertamanya saja.

Di tiga ayat biji-bijian diberi keterangan, (وَحَبَّ الْحَصِيدِ, wa-habba l-hashiidi) yang berarti "dan biji-bijian yang dapat dipanen" di 50:9, (حَبًّا مُتَرَاكِبًا, habban mutaraakiban) yang berarti "butir yang bertumpuk" di 6:99, dan (وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ, wa-l-habbu dzuu l-'ashfi) yang berarti "biji-bijian yang berkulit" di 55:12. Di 80:27 biji-bijian disebut tanpa keterangan dan tanpa kata sandang, sejalan dengan jenis-jenis lain dalam daftar ini.

Di 36:33 dan 78:15 biji-bijian dikeluarkan dengan kata kerja berakar خ-ر-ج, (وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا, wa-akhrajnaa minhaa habban) di 36:33 dan (لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا, li-nukhrija bihi habban) di 78:15, sedangkan di 50:9 dan 80:27 biji-bijian menjadi sasaran kata kerja menumbuhkan. Ayat 36:33 menambahkan (فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ, fa-minhu ya'kuluuna) yang berarti "lalu darinya mereka makan", sehingga biji-bijian di sana langsung dihubungkan dengan makan, sejalan dengan daftar di surah ini yang dibuka dengan perintah memperhatikan makanan di 80:24.

Tafsiran

Ayat ini menyebut hasil pertama dari bumi yang dibelah, dan dengan ayat ini rangkaian 80:25-27 lengkap, air dicurahkan, bumi dibelah, lalu biji-bijian ditumbuhkan. Sesudahnya daftar berlanjut tanpa kata kerja baru sampai 80:31, sehingga anggur, sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun, buah-buahan, dan rerumputan semuanya bergantung pada kata kerja di ayat ini.

Susunan yang mirip ada di 36:33-35. Bumi yang mati dihidupkan, biji-bijian dikeluarkan darinya dan dimakan, lalu 36:34 menyebut kebun-kebun kurma dan anggur, sama seperti daftar di surah ini yang bergerak dari biji-bijian ke anggur dan pohon kurma. Rangkaian di surah 36 ditutup dengan pertanyaan (أَفَلَا يَشْكُرُونَ, a-fa-laa yasykuruuna) yang berarti "maka, tidakkah mereka bersyukur?". Di surah ini rangkaian serupa datang sesudah 80:17 menyebut betapa manusia kufur, dan 76:3 menyandingkan kedua sikap itu, (إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا, immaa syaakiran wa-immaa kafuuran), "ada yang bersyukur dan ada pula yang sangat kufur".

Susunan di 78:14-16 juga serupa. Air yang tercurah deras diturunkan dari awan, lalu biji-bijian, tanam-tanaman, dan kebun-kebun yang rindang ditumbuhkan dengannya. Dalam surah itu daftar tersebut disusul hari keputusan di 78:17, dan di surah ini daftar makanan disusul suara yang memekakkan di 80:33.

Renungan dan Hikmah

  • Penumbuhan di 27:60 dan 50:9 dinyatakan "dengannya", yaitu dengan air, dan di 31:10 serta 80:27 dinyatakan "padanya", yaitu di bumi. Sarana dan tempat tumbuhnya biji sama-sama disebut Allah sebagai pemberian-Nya, air yang Dia curahkan di 80:25 dan bumi yang Dia belah di 80:26. Petani mengolah tanah dan menunggu hujan, dan kedua bagian itu disebut di ayat-ayat ini sebagai perbuatan Allah sebelum biji apa pun muncul. Orang yang makan dari hasilnya menerima sesuatu yang sarana dan tempatnya sudah disiapkan sebelum dia menanam.
  • Di 56:63-64 Allah bertanya, "Maka, apakah kalian memperhatikan apa yang kalian tanam? Apakah kalian yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?" Pertanyaan itu tidak menyangkal bahwa manusia menanam, sebab kata kerja menanam di 56:63 dipakai untuk mereka. Pertanyaannya menyangkut siapa yang menumbuhkan, dan 56:65 menambahkan bahwa jika Allah menghendaki, tanaman itu dapat dijadikan hancur. Di 80:27 jawabannya diberikan dalam bentuk pernyataan, "lalu Kami tumbuhkan padanya biji-bijian". Orang yang menanam padi atau jagung bekerja dengan tangannya, dan ayat ini menyebut siapa yang menumbuhkan hasil kerjanya.
  • Menurut 6:59 biji yang berada dalam kegelapan bumi tercatat dalam Kitab yang nyata, sama seperti daun yang gugur yang diketahui Allah. Sebelum bumi dibelah di 80:26 dan sebelum biji itu tumbuh di 80:27, biji itu sudah berada di dalam tanah, tertutup dari pandangan orang yang berjalan di atasnya. Ayat 6:59 menyatakan bahwa Allah mengetahuinya pada saat itu. Pembaca yang sedang menunggu hasil dari sesuatu yang sudah ditanamnya, dalam arti harfiah maupun kiasan, dapat melihat keadaannya pada biji yang belum tampak itu.
  • Timbangan yang tepat pada hari kiamat di 21:47 diukur sampai seberat biji sawi, (مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ, mitsqaala habbatin min khardalin), dan ayat itu menyatakan bahwa tidak ada jiwa yang dirugikan walaupun sedikit. Kata biji di sana berakar sama dengan biji-bijian di 80:27. Biji yang di 80:27 ditumbuhkan untuk dimakan dipakai di 21:47 sebagai ukuran bagi perbuatan yang sangat kecil, dan Allah menyatakan akan mendatangkannya ke timbangan. Pembaca yang menganggap perbuatannya terlalu kecil untuk dihitung menemukan bahwa ukuran yang dipakai Allah dalam perhitungan-Nya diambil dari jenis yang sama dengan makanan di ayat ini.
  • Perumpamaan di 2:261 memakai sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, dengan seratus biji di setiap tangkai, untuk orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Kata kerja menumbuhkan di sana berakar sama dengan kata kerja di 80:27. Di 80:27 Allah menumbuhkan biji dari bumi, dan di 2:261 biji dijadikan perumpamaan bagi pelipatgandaan yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Biji-bijian yang diterima manusia sebagai makanan muncul di 2:261 sebagai gambaran harta yang dinafkahkan. Bagi orang yang memberi dari apa yang dimilikinya, perumpamaan itu memakai bahan yang sama dengan daftar di surah ini.
  • Teguran di 89:17-20 ditujukan kepada manusia yang tidak memuliakan anak yatim, tidak saling mendorong memberi makan orang miskin, memakan harta warisan dengan melahap habis, dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Kata kecintaan di 89:20 ditulis dengan huruf yang sama dengan biji-bijian di 80:27, dan harakat huruf pertamanya membedakan keduanya. Biji yang ditumbuhkan Allah dapat menjadi makanan yang dibagikan, dan dapat pula menjadi harta yang dicintai berlebihan lalu ditahan. Kedua kemungkinan itu berawal dari biji yang ditumbuhkan Allah di 80:27.