وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا

Zaitun dan kurma,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَزَيْتُونًا وَنَخْلًاwa-zaytuunan wa-nakhlanzaitun dan kurma

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَزَيْتُونًاwa-zaytuunandan zaitun
  2. وَنَخْلًاwa-nakhlandan pohon kurma

Inti bacaan

Keragaman hasil ketiga: 'zaitun dan kurma', penambahan komoditas penting lain, menegaskan kelimpahan jenis tanaman yang tersedia.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَزَيْتُونًا, wa zaituunan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 6 ayat saja, antara lain 6:99, 16:11, 24:35, dan 95:1.

Di 95:1 akar (وَزَيْتُونًا, wa zaituunan) dipakai di dalam sumpah pembuka surah, dan di 24:35 ia dipakai di dalam perumpamaan cahaya. Jadi satu jenis pohon dipakai untuk sumpah, perumpamaan, dan daftar makanan.

Tiga kedudukan itu berjauhan. Sumpah menandai sesuatu yang mulia, perumpamaan menerangkan yang tidak terlihat, dan daftar menyebut yang dimakan. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Kata (وَنَخْلًا, wa nakhlan) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 20 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 19:23, 50:10, dan 55:11.

Di 19:23 akar (وَنَخْلًا, wa nakhlan) dipakai untuk pohon yang menjadi tempat bersandar dan sumber makanan ketika seorang perempuan melahirkan sendirian. Jadi akar itu pernah dipakai untuk pertolongan di saat paling sulit.

Kata (وَزَيْتُونًا, wa zaituunan) dan (وَنَخْلًا, wa nakhlan) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung. Susunannya sejajar dengan dua kata di 80:28, sehingga empat jenis berjalan dengan pola yang sama.

Perhatikan bahwa keduanya pohon yang berumur panjang, berbeda dari biji dan tanaman potong di dua ayat sebelumnya. Daftarnya bergerak dari yang tumbuh semusim ke yang tumbuh bertahun-tahun.

Gerak itu tidak ditandai apa pun. Yang bisa dibaca cuma urutannya sampai (وَنَخْلًا, wa nakhlan), dan urutan itu berjalan dari yang paling cepat ke yang paling lama.

Kata (وَنَخْلًا, wa nakhlan) menyebut pohon yang di 6:99 disebut bersama biji-bijian dan anggur, sama seperti di surah ini. Dua tempat memakai kumpulan jenis yang hampir sama.

Kesamaan itu patut dicatat karena 6:99 juga berbicara tentang air yang diturunkan lalu menumbuhkan. Susunan lengkapnya mirip, dan Al-Qur'an tidak menandai kemiripan itu.

Perhatikan bahwa daftar di surah ini lebih pendek keterangannya daripada di 6:99. Di sana tiap jenis diberi penjelasan; di sini namanya disebut dan daftarnya berjalan terus.

Perbedaan itu sesuai dengan maksud masing-masing. Yang satu mengurai tanda, yang lain menumpuk bukti. Menumpuk bukti tidak butuh keterangan panjang, cuma butuh banyak.

Perhatikan pula bahwa dua pohon di ayat ini termasuk yang paling lama dikenal manusia sebagai sumber makanan yang tahan disimpan. Buahnya bisa bertahan jauh melewati musimnya.

Sifat itu tidak disebut Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa daftarnya memuat yang habis sekali makan dan yang bisa disimpan, tanpa satu kata yang membedakan keduanya.

Susunan seperti itu membuat daftarnya lengkap tanpa terlihat sengaja dilengkapkan. Pembacanya menerima gambaran yang utuh tanpa merasa sedang diberi daftar yang disusun rapi.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rincian hasil tumbuhan. Ayat ini menambahkan zaitun dan kurma ke dalam daftar. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 6 ayat saja, antara lain 6:99, 16:11, 24:35, dan 95:1.

Di 95:1 akar itu dipakai di dalam sumpah pembuka surah, dan di 24:35 di dalam perumpamaan cahaya. Jadi satu jenis pohon dipakai untuk sumpah, perumpamaan, dan daftar makanan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya.

Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 20 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 19:23, 50:10, dan 55:11. Di 19:23 akar itu dipakai untuk pohon yang menjadi tempat bersandar dan sumber makanan ketika seorang perempuan melahirkan sendirian.

Keduanya pohon yang berumur panjang, berbeda dari biji dan tanaman potong di dua ayat sebelumnya, sehingga daftarnya bergerak dari yang tumbuh semusim ke yang tumbuh bertahun-tahun.

Di 6:99 kumpulan jenis yang hampir sama disebut bersama air yang diturunkan lalu menumbuhkan, tetapi di sana tiap jenis diberi penjelasan, sedangkan di sini namanya disebut dan daftarnya berjalan terus. Dua pohon di ayat ini termasuk yang buahnya bisa bertahan jauh melewati musimnya, walau sifat itu tidak disebut Al-Qur'an. Daftarnya memuat yang habis sekali makan dan yang bisa disimpan, tanpa satu kata yang membedakan keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 6 ayat saja, antara lain 6:99, 16:11, 24:35, dan 95:1. Di 95:1 akar itu dipakai di dalam sumpah pembuka surah, dan di 24:35 di dalam perumpamaan cahaya. Jadi satu jenis pohon menempati tiga kedudukan yang berjauhan: menandai yang mulia, menerangkan yang tidak terlihat, dan menyebut yang dimakan. Satu jenis yang menempati tiga kedudukan sekaligus jarang, dan Al-Qur'an tidak pernah mempertemukan ketiganya. Tiga kedudukan itu cuma bisa dilihat oleh pembaca yang mengumpulkannya sendiri.
  • Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 20 ayat, antara lain 2:266, 6:99, 19:23, 50:10, dan 55:11. Di 19:23 akar itu dipakai untuk pohon yang menjadi tempat bersandar dan sumber makanan ketika seorang perempuan melahirkan sendirian. Jadi akar itu pernah menandai pertolongan di saat paling sulit, dan di sini ia berdiri di dalam daftar biasa. Sesuatu yang pernah menjadi pertolongan di saat tersulit di sini berdiri tanpa satu keterangan pun. Sebuah sebutan bisa membawa ingatan tentang tempat lain tanpa menyebutkannya.
  • Dua jenis di ayat ini pohon yang berumur panjang, berbeda dari biji dan tanaman potong di dua ayat sebelumnya. Jadi daftar Allah bergerak dari yang tumbuh semusim ke yang tumbuh bertahun-tahun, dan gerak itu tidak ditandai satu kata pun. Yang bisa dibaca cuma urutannya, dan urutan itu berjalan dari yang paling cepat ke yang paling lama. Urutan dari yang cepat ke yang lama menyusun sendiri gambaran tentang waktu tanpa menyebut waktu. Waktu masuk ke dalam gambaran lewat urutan, bukan lewat satuan.
  • Kata pertama dan kata keduanya sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, sejajar dengan dua kata di 80:28. Jadi empat jenis berjalan dengan pola yang sama persis, tanpa satu pembeda pun di antaranya. Allah tidak melebihkan satu jenis atas yang lain, dan kesetaraan itu terbawa cuma di dalam bentuk katanya. Kesetaraan bentuk membuat delapan jenis berdiri sederajat, dan tidak satu pun dilebihkan. Kesederajatan yang dinyatakan lewat bentuk lebih sulit dibantah daripada yang dinyatakan lewat kata.
  • Kata keduanya menyebut pohon yang di 6:99 disebut bersama biji-bijian dan anggur, sama seperti di surah ini. Dua tempat memakai kumpulan jenis yang hampir sama, dan 6:99 juga berbicara tentang air yang diturunkan Allah lalu menumbuhkan. Susunan lengkapnya mirip, dan Al-Qur'an tidak menandai kemiripan itu dengan satu kalimat pun. Kemiripan susunan di dua surah cuma terlihat oleh pembaca yang berhenti membandingkannya. Pembaca yang berhenti menemukan lebih banyak daripada pembaca yang menyelesaikan.
  • Daftar di surah ini lebih pendek keterangannya daripada di 6:99. Di sana tiap jenis diberi penjelasan; di sini namanya disebut dan daftarnya berjalan terus. Perbedaan itu sesuai dengan maksud masing-masing, karena yang satu mengurai tanda dan yang lain menumpuk bukti. Apa yang lebih meyakinkan bagi seseorang, satu bukti yang diterangkan panjang atau tujuh bukti yang disebut berturut-turut? Menumpuk bukti dan mengurai tanda menuntut cara bertutur yang berbeda, dan surah ini memilih yang pertama. Cara bertutur adalah bagian dari isinya, bukan hiasan di luarnya.