وَفَاكِهَةً وَأَبًّا

Dan buah-buahan serta rerumputan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَفَاكِهَةً وَأَبًّاwa-faakihatan wa-abbandan buah-buahan serta rerumputan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَفَاكِهَةًwa-faakihatandan buah
  2. وَأَبًّاwa-abbandan rerumputan

Inti bacaan

Kelengkapan mencakup kebutuhan ternak: 'dan buah-buahan serta rerumputan', perhatian pada kebutuhan pangan yang mencakup baik manusia (buah) maupun hewan (rerumputan).

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَأَبًّا, wa abban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28.

Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20.

Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) disebut di dalam gambaran surga. Jadi akar itu lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.

Di sini (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) berdiri di dalam daftar tanaman biasa. Satu akar yang biasanya menamai nikmat surga dipakai untuk hasil kebun yang ditemui sehari-hari.

Perhatikan pasangan di ayat ini. Yang satu buah yang paling dinikmati manusia, yang lain rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan disandingkan dalam satu ayat pendek.

Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan buah dan rumput, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32.

Kata (وَأَبًّا, wa abban) tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun. Karena akarnya tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.

Keadaan itu jarang. Hampir setiap sebutan di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain, sedangkan (وَأَبًّا, wa abban) tidak punya tempat lain sama sekali.

Kata (وَفَاكِهَةً, wa faakihatan) dan (وَأَبًّا, wa abban) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28.

Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis. Tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya, dan keseragaman itu membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas.

Ayat ini menutup daftar jenis. Sesudahnya, 80:32 tidak menambah jenis baru, melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan.

Perhatikan bahwa daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Namanya disebut, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri.

Perhatikan pula bahwa daftar delapan jenis yang ditutup (وَأَبًّا, wa abban) ini berakhir tanpa satu penutup. Tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi.

Ketiadaan penutup itu membiarkan daftarnya terbuka. Pembacanya bisa menambahkan sendiri apa yang ada di sekitarnya, dan tidak satu ayat pun menghalanginya.

Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24. Yang disuruh dipandang makanan sendiri, dan makanan tiap orang tidak sama. Daftar yang tertutup justru akan mempersempit perintahnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar dengan buah-buahan dan rumput. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain.

Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia.

Pasangan di ayat ini menyandingkan dua ujung yang paling berjauhan: buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Daftar yang dibuka biji-bijian di 80:27 ditutup dengan keduanya, sehingga manusia dan hewan sama-sama terwakili sebelum disebut di 80:32.

Kata terakhirnya tidak diterangkan Al-Qur'an di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain.

Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Daftar delapan jenis ini berakhir tanpa satu kata penutup: tidak ada kalimat yang berkata bahwa itu semua, dan tidak ada yang berkata bahwa masih ada lagi. Keterbukaan itu sesuai dengan perintah di 80:24, karena makanan tiap orang tidak sama dan daftar yang tertutup justru akan mempersempitnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar kedua di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bahwa bagian ini memakai kosakata yang tidak dipakai di mana pun lagi di seluruh Al-Qur'an. Dua akar tunggal dalam empat ayat menandai bagian yang memakai kosakata paling khas di surahnya. Kata yang tidak punya pembanding memaksa pembacanya berhenti menebak dan menerima batasnya.
  • Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 19 ayat, antara lain 2:266, 36:57, 43:73, 55:11, dan 56:20. Di 43:73, 55:11, dan 56:20 akar itu disebut di dalam gambaran surga, sehingga ia lebih sering muncul sebagai janji daripada sebagai kenyataan di dunia. Di sini ia berdiri di dalam daftar tanaman biasa, dan tidak satu ayat pun menandai perpindahan itu. Sebutan yang biasanya menamai janji dipinjamkan kepada kenyataan yang ada di kebun sendiri. Peminjaman dari gambaran surga membuat kebun sendiri terbaca dalam rangka yang lebih luas.
  • Pasangan di ayat ini menyandingkan buah yang paling dinikmati manusia dan rumput yang dimakan ternak. Dua ujung yang paling berjauhan ditaruh Allah dalam satu ayat pendek, tanpa satu kata pembeda. Susunan itu menutup daftarnya dengan seimbang, dan manusia serta hewan sama-sama terwakili sebelum keduanya disebut di 80:32. Yang paling dinikmati dan yang dimakan ternak berdiri berdampingan tanpa satu pembeda. Dua ujung yang berdampingan tanpa pembeda menyatakan kesetaraan tanpa mengucapkannya.
  • Kata terakhirnya tidak diterangkan Allah di mana pun, dan karena akarnya tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang bisa menjelaskan artinya lewat pemakaian lain. Keadaan itu jarang, karena hampir setiap kata di Al-Qur'an bisa diterangi oleh pemakaiannya di tempat lain. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika sebuah kata tidak punya satu pun pembanding di seluruh kitab? Sebuah kata tanpa pembanding memaksa pembacanya menerima keterbatasan pengetahuannya sendiri. Keterbatasan pengetahuan pembacanya sendiri menjadi bagian dari pengalaman membacanya.
  • Kata kedua dan kata terakhirnya sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama dibuka huruf sambung, mengikuti pola yang berjalan sejak 80:28. Lima ayat berturut-turut memakai pola yang sama persis, dan tidak ada satu pun yang keluar dari susunannya. Keseragaman itu membuat daftar Allah terbaca seperti satu tarikan napas. Keseragaman lima ayat membuat daftarnya terbaca seperti satu tarikan napas yang tidak terputus. Satu tarikan napas yang tidak terputus meninggalkan kesan utuh, bukan kesan berpotong.
  • Daftarnya menyebut delapan jenis dalam lima ayat, dan tidak satu pun diberi keterangan. Allah menyebut namanya, dan pembacanya dibiarkan mengenalinya sendiri. Sesudah ayat ini daftarnya berhenti, dan 80:32 tidak menambah jenis baru melainkan menyatakan untuk siapa seluruhnya disediakan. Nama tanpa keterangan menyerahkan pengenalannya kepada pengalaman pembacanya sendiri. Pengenalan yang diserahkan kepada pengalaman membuat ayatnya berlaku di tiap tempat.