فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

Maka apabila datang suara yang memekakkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُfa-idzaa jaa'ati sh-shaakhkhatumaka apabila datang suara yang memekakkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. جَاءَتِjaa'atidatang
  3. الصَّاخَّةُsh-shaakhkhatusuara memekakkan

Inti bacaan

Akar ص-خ-خ tercatat di 80:33 saja. Pola sh-shaakhkhatu dipakai pula untuk al-haaqqatu, al-qaari'atu, l-waaqi'atu, l-aazifatu, dan th-thaammatu, dan tiga di antaranya berakar dengan huruf terakhir berulang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (فَإِذَا, fa-idzaa) yang berarti "maka apabila", lalu (جَاءَتِ, jaa'ati) yang berarti "datang", dan ditutup (الصَّاخَّةُ, sh-shaakhkhatu) yang berarti "suara yang memekakkan". Kata kerjanya berbentuk perempuan karena mengikuti kata sesudahnya, yang juga berbentuk perempuan.

Akar ص-خ-خ tercatat di 80:33 saja. Arti "memekakkan" yang dipakai terjemahan ini tidak dapat diuji dengan pemakaian lain di Al-Qur'an, keadaan yang sama dengan sayuran di 80:28 dan rerumputan di 80:31.

Bentuk katanya tetap dapat diperiksa. Morfologi mencatat sh-shaakhkhatu sebagai kata benda pelaku berbentuk perempuan dengan al-, pola yang juga dipakai untuk beberapa sebutan hari kiamat di surah lain: (الْحَاقَّةُ, al-haaqqatu) di 69:1-3, (الْقَارِعَةُ, al-qaari'atu) di 101:1-3, (الْوَاقِعَةُ, l-waaqi'atu) di 56:1, (الْآزِفَةُ, l-aazifatu) di 53:57, dan (الطَّامَّةُ, th-thaammatu) di 79:34. Tiga di antaranya, al-haaqqatu, th-thaammatu, dan sh-shaakhkhatu, berasal dari akar yang huruf terakhirnya berulang, ح-ق-ق, ط-م-م, dan ص-خ-خ, sehingga ketiganya berakhir dengan bunyi rangkap sebelum -ah. Di 56:1, 69:1, dan 101:1 nama seperti itu membuka surah, sedangkan di 79:34 dan 80:33 nama itu muncul di tengah surah, sesudah uraian tentang pemberian di bumi. Nama di 79:34 disifati (الْكُبْرَىٰ, l-kubraa) yang berarti "yang terbesar", sedangkan sh-shaakhkhatu di sini berdiri tanpa sifat.

Susunan fa-idzaa jaa'at tercatat di tiga ayat. Di 7:131 yang datang kebaikan kepada kaum Fir'aun, sedangkan di 79:34 dan 80:33 yang datang peristiwa besar itu, dengan nama yang berbeda di kedua surah.

Di surah ini akar kata kerja datang tercatat di tiga ayat, (أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ, an jaa'ahu l-a'maa) yang berarti "karena datang kepadanya orang buta" di 80:2, (وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ, wa-ammaa man jaa'aka yas'aa) yang berarti "dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera" di 80:8, dan 80:33. Pada dua yang pertama kata kerjanya membawa kata ganti orang yang didatangi, -hu dan -ka. Di 80:33 kata kerjanya tidak membawa kata ganti apa pun, sehingga tidak disebut kepada siapa peristiwa itu datang.

Bunyi pada permulaan hari itu disebut di ayat lain dengan kata-kata berbeda, misalnya (زَجْرَةٌ وَاحِدَةٌ, zajratun waahidatun) yang berarti "satu hardikan" di 37:19 dan 79:13, dan tiupan sangkakala di 23:101 dan 69:13. Kata teriakan dari akar ص-ي-ح tercatat di 13 ayat, antara lain 36:49, 36:53, dan 50:42 tentang hari itu, serta 11:67 dan 15:73 tentang azab atas kaum terdahulu. Kata-kata itu berasal dari akar yang dipakai berulang kali, sedangkan sh-shaakhkhatu tidak punya pemakaian lain.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari kesenangan di 80:32 ke hari kiamat, dan huruf fa- di awalnya menyambung keduanya. Daftar pemberian yang panjang di 80:25-32 disusul satu ayat pendek tentang sesuatu yang datang.

Perpindahan itu berjalan sejajar dengan surah sebelumnya. Sesudah kalimat penutup yang sama di 79:33, surah 79 menyebut kedatangan peristiwa besar di 79:34, lalu (يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ مَا سَعَىٰ, yawma yatadzakkaru l-insaanu maa sa'aa) yang berarti "pada hari manusia mengingat apa yang telah dia usahakan" di 79:35. Di surah ini hari itu dilukiskan lewat larinya manusia dari keluarganya di 80:34-36. Kedua surah kemudian membagi manusia menjadi dua golongan, surah 79 di 79:37-41 lewat "adapun ... dan adapun ...", surah ini di 80:38-42 lewat wajah-wajah yang berseri dan wajah-wajah yang berdebu.

Kebangkitan sudah disebut di 80:22, (ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, tsumma idzaa syaa'a ansyarahu) yang berarti "kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya". Di sana kebangkitan disebut bergantung pada kehendak-Nya, dan di sini hari itu dilukiskan sebagai sesuatu yang datang. Kedua ayat memakai kata apabila, dan keduanya tidak menyebut waktunya. Sesudah ayat ini surah tidak kembali lagi kepada tumbuhan atau makanan, dan sepuluh ayat terakhirnya seluruhnya tentang hari itu.

Renungan dan Hikmah

  • Orang buta di 80:2 datang kepada seseorang, dan kedatangannya dapat disambut atau diabaikan, sebagaimana diperlihatkan 80:10, (فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ, fa-anta 'anhu talahhaa) yang berarti "maka engkau mengabaikannya". Peristiwa di 80:33 datang tanpa disebut kepada siapa, dan 80:34-37 memperlihatkan bahwa setiap orang terkena olehnya. Kedatangan yang pertama masih menyisakan pilihan untuk menyambut atau berpaling, sedangkan kedatangan yang kedua ditetapkan Allah tanpa menunggu sambutan siapa pun.
  • Permulaan hari itu disebut satu teriakan di 36:53, lalu disusul (فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ, fa-idzaa hum jamii'un ladaynaa muhdharuuna) yang berarti "maka seketika itu mereka semua dihadirkan kepada Kami". Satu bunyi cukup untuk menghadirkan semua orang di hadapan Allah. Orang-orang yang di 80:34-36 dilarikan oleh seseorang, saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anak, hadir pula di sana, di hadapan yang sama.
  • Manusia mendengar teriakan itu dengan sebenarnya di 50:42, lalu disebut (ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ, dzaalika yawmu l-khuruuji) yang berarti "itulah hari keluar". Di 50:9-11 tumbuhnya tanaman dari tanah yang mati disebut sebagai perumpamaan bagi keluar itu. Surah ini baru saja melukiskan tumbuhan yang keluar dari bumi yang dibelah di 80:26-31, lalu langsung menyebut bunyi yang membuka hari kiamat. Allah yang menumbuhkan tanaman dari bumi juga yang mengeluarkan manusia darinya.
  • Susunan yang sama dipakai di 7:131 untuk kebaikan, (فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ, fa-idzaa jaa'at-humu l-hasanatu qaaluu lanaa haadzihi) yang berarti "maka apabila kebaikan datang kepada mereka, mereka berkata, 'Ini milik kami.'" Kaum Fir'aun mengaku kebaikan yang datang sebagai milik mereka, dan ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa nasib mereka ada di sisi Allah. Kesenangan di 80:32 dapat diaku seperti itu. Kedatangan di 80:33 tidak dapat diaku milik siapa pun.
  • Di 69:3 Allah bertanya (وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ, wa-maa adraaka maa l-haaqqatu) yang berarti "dan tahukah engkau apakah al-haaqqah itu?", dan pertanyaan yang sama dipakai untuk al-qaari'ah di 101:3. Nama-nama itu bersandang al- seakan sudah dikenal, tetapi pertanyaan itu menandai bahwa pendengarnya belum mengetahui apa hari itu walau namanya sudah disebut. Di 80:33 pertanyaan seperti itu tidak diajukan, dan ayat-ayat sesudahnya langsung melukiskan apa yang terjadi pada hari itu.
  • Tiupan sangkakala di 23:101 dituturkan dengan pembuka yang serupa, (فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ, fa-idzaa nufikha fii sh-shuuri) yang berarti "maka apabila sangkakala ditiup", lalu disusul (فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ, fa-laa ansaaba baynahum yawma'idzin) yang berarti "maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu". Surah ini menempuh urutan yang sama, dari bunyi di 80:33 ke keluarga yang ditinggalkan di 80:34-36. Pertalian keluarga, yang di dunia dipakai Allah sebagai dasar pembagian warisan di 4:11, tidak lagi menjadi pegangan ketika hari itu datang.