فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

Maka apabila datang suara yang memekakkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُfa-idzaa jaa'ati sh-shaakhkhatumaka apabila datang suara yang memekakkan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. جَاءَتِjaa'atidatang
  3. الصَّاخَّةُsh-shaakhkhatusuara memekakkan

Inti bacaan

Transisi dramatis menuju peristiwa besar: 'maka apabila datang suara memekakkan itu', perubahan mendadak dari perenungan tentang alam menuju peringatan tentang momen krisis besar.

Penjelasan pilihan kata

Kata 'itu' tidak dipakai: tidak ada dzaalika/haadzaa pada posisi ini menurut morfologi, konsisten perlakuan 'at-taammatu l-kubraa' di 79:34 yang juga tanpa penambahan 'itu'. Yang tertulis (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) tanpa satu penunjuk pun.

Kata (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar ketiga di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28 dan 80:31.

Tiga akar tunggal seperti (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) di satu surah pendek adalah hal yang jarang. Dua di antaranya menamai tumbuhan, dan yang ketiga menamai hari kiamat.

Kata (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) menyebut suara yang memekakkan telinga. Namanya sendiri sebuah bunyi, dan bunyinya keras ketika diucapkan.

Perhatikan pilihan itu. Hari kiamat disebut di banyak surah dengan berbagai nama. Di sini ia dinamai dengan kata yang tidak pernah dipakai lagi, dan yang dipilih justru sisi bunyinya.

Kata (جَاءَتِ, jaa-ati) berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta, dan yang ketiga tentang kedatangan hari ini.

Jadi akar (جَاءَتِ, jaa-ati) mengikat kedatangan yang paling mudah diabaikan dan kedatangan yang tidak bisa diabaikan siapa pun. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu di mana pun.

Perbandingan itu menutup lingkaran surahnya. Yang dibuka dengan seseorang yang datang dan diabaikan ditutup dengan sesuatu yang datang dan tidak bisa diabaikan.

Kata (جَاءَتِ, jaa-ati) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bentuk kata sesudahnya. Bentuknya ditentukan bendanya, bukan letaknya di dalam kalimat.

Kata (فَإِذَا, fa-idzaa) menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti kata di 80:22. Dua kali di surah ini peristiwa besar dilukiskan sebagai yang tinggal menunggu waktu.

Kata (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) memakai kata sandang, sehingga yang disebut sesuatu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi karena kata ini tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang memperkenalkannya lebih dulu.

Susunan itu ganjil dan patut dicatat. Sebutan (الصَّاخَّةُ, ash-shaakhkhah) yang cuma sekali dipakai diperkenalkan seolah pembacanya sudah tahu. Yang dianggap dikenali bukan katanya, melainkan harinya.

Ayat ini membuka bagian terakhir surahnya, yang berjalan sampai 80:42. Sepuluh ayat terakhir itu seluruhnya tentang hari kiamat, dan tidak satu pun kembali kepada perjumpaan di awal.

Perhatikan pula bahwa peralihan ke hari kiamat di surah ini terjadi lewat sebuah suara, bukan lewat gambaran yang terlihat. Yang pertama disebut apa yang terdengar.

Pilihan itu sejalan dengan pembuka surahnya. Yang ditegur di 80:1 bermuka masam dan berpaling, yaitu dua hal yang terlihat. Yang menutup surahnya justru sesuatu yang tidak bisa dihindari dengan memalingkan wajah.

Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa wajah bisa dipalingkan dari orang yang datang, dan telinga tidak bisa dipalingkan dari suara yang memekakkan.

Tafsiran

Ayat ini berpindah kepada hari kiamat lewat suara yang memekakkan. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar ketiga di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain sesudah akar di 80:28 dan 80:31.

Kata itu menyebut suara yang memekakkan telinga, dan namanya sendiri sebuah bunyi yang keras ketika diucapkan. Hari kiamat disebut di banyak surah dengan berbagai nama, dan di sini ia dinamai dengan kata yang tidak pernah dipakai lagi.

Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta, dan yang ketiga tentang kedatangan hari ini, sehingga satu akar mengikat kedatangan yang paling mudah diabaikan dan yang tidak bisa diabaikan siapa pun.

Kata pertamanya menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti kata di 80:22.

Ayat ini membuka bagian terakhir surahnya, yang berjalan sampai 80:42 dan seluruhnya tentang hari kiamat. Peralihan ke hari kiamat di surah ini terjadi lewat sebuah suara, bukan lewat gambaran yang terlihat. Yang ditegur di 80:1 bermuka masam dan berpaling, yaitu dua hal yang terlihat, sedangkan wajah tidak bisa dipalingkan dari suara yang memekakkan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar ketiga di surah ini yang tidak pernah muncul di tempat lain, sesudah akar di 80:28 dan 80:31. Tiga akar tunggal di satu surah pendek adalah hal yang jarang, dan dua di antaranya menamai tumbuhan sedangkan yang ketiga menamai hari kiamat. Tiga akar tunggal di satu surah pendek menandai bahwa kosakatanya memang tidak dipakai di tempat lain. Kosakata yang tidak dipakai di tempat lain menandai bahwa yang dinamai juga tidak ada bandingnya.
  • Kata terakhirnya menyebut suara yang memekakkan telinga, dan namanya sendiri sebuah bunyi yang keras ketika diucapkan. Hari kiamat disebut Allah di banyak surah dengan berbagai nama, dan di sini yang dipilih justru sisi bunyinya. Sebuah nama yang meniru bunyinya sendiri bekerja pada pendengarnya sebelum artinya sempat dipikirkan. Sebuah nama yang meniru bunyinya sendiri bekerja pada pendengarnya sebelum artinya dipikirkan. Bunyi yang menirukan dirinya sendiri tidak perlu diterjemahkan untuk terasa.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang muncul di tiga ayat di surah ini: 80:2, 80:8, dan 80:33. Dua yang pertama tentang kedatangan orang buta, dan yang ketiga tentang kedatangan hari ini. Jadi Allah mengikat kedatangan yang paling mudah diabaikan dan kedatangan yang tidak bisa diabaikan siapa pun. Yang dibuka dengan seseorang yang datang dan diabaikan ditutup dengan sesuatu yang datang dan tidak bisa diabaikan. Yang dibuka dengan kedatangan yang diabaikan ditutup dengan kedatangan yang tidak bisa diabaikan. Lingkaran yang tertutup di ujung surah menandai bahwa pembukanya memang dirancang untuk dijawab.
  • Kata pertamanya menyatakan syarat yang diperkirakan terjadi, sama seperti kata di 80:22. Dua kali di surah ini Allah melukiskan peristiwa besar sebagai yang tinggal menunggu waktu, bukan sebagai kemungkinan yang masih ditimbang. Kepastian itu masuk lewat satu kata saja, dan tidak satu keterangan pun ditambahkan untuk menguatkannya. Kepastian yang masuk lewat satu kata tidak menyediakan celah untuk ditawar. Kepastian yang tidak bisa ditawar mengubah bacaan menjadi persiapan.
  • Kata terakhirnya memakai kata sandang, sehingga yang disebut sesuatu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi karena kata ini tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang memperkenalkannya lebih dulu. Apa yang dianggap sudah dikenali oleh Allah ketika kata yang dipakai justru tidak pernah muncul di mana pun, kecuali harinya sendiri dan bukan sebutannya? Sesuatu yang dianggap dikenali tanpa pernah diperkenalkan menaruh pembacanya di tempat yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu bagian dari maksudnya, bukan akibat yang tidak disengaja.
  • Ayat ini membuka bagian terakhir surahnya, yang berjalan sampai 80:42. Sepuluh ayat terakhir itu seluruhnya tentang hari kiamat, dan tidak satu pun kembali kepada perjumpaan di awal. Allah tidak menutup surahnya dengan menyelesaikan kisah yang membukanya, melainkan dengan gambaran yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali. Sepuluh ayat penutup yang tidak kembali ke pembukanya menandai bahwa yang dipersoalkan bukan kisahnya. Yang dipersoalkan bukan satu kisah, melainkan keadaan yang berlaku bagi semua.