Ayat 80:34
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
Pada hari manusia lari dari saudaranya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِyawma yafirru l-mar'u min akhiihipada hari manusia lari dari saudaranya
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يَفِرُّyafirrulari
- الْمَرْءُl-mar'uorang itu
- مِنْmindari
- أَخِيهِakhiihisaudaranya
Inti bacaan
Akar ف-ر-ر tercatat di sepuluh ayat, dan tulisan yafirru di 80:34 saja. Lema al-mar' tercatat di empat ayat, 2:102, 8:24, 78:40, dan 80:34, dan gabungan min akhiihi di 2:178 dan 80:34.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (يَوْمَ, yawma) yang berarti "pada hari", lalu (يَفِرُّ, yafirru) yang berarti "lari", (الْمَرْءُ, l-mar'u) yang diterjemahkan "manusia", dan (مِنْ أَخِيهِ, min akhiihi) yang berarti "dari saudaranya". Kata yawma menyambungkan ayat ini dengan 80:33, sehingga ayat ini menerangkan apa yang terjadi ketika peristiwa itu datang.
Akar ف-ر-ر tercatat di sepuluh ayat, dan tulisan yafirru di 80:34 saja. Di enam ayat yang dilarikan sesuatu yang menakutkan, yaitu musuh di 26:21, singa di 74:51, kematian di 33:16 dan 62:8, pertempuran di 33:13, dan pemandangan yang menggentarkan di 18:18. Di 26:21 Musa berkata (فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ, fa-farartu minkum lammaa khiftukum) yang berarti "lalu aku lari dari kalian karena takut kepada kalian". Di 80:34 yang dilarikan saudara sendiri. Tiga ayat lain memakai akar itu untuk lari kepada Allah di 51:50, lari dari seruan Nuh di 71:6, dan pertanyaan tentang tempat lari di 75:10. Di ayat terakhir itu akar yang sama membentuk kata tempat, (أَيْنَ الْمَفَرُّ, ayna l-mafarru) yang berarti "ke manakah tempat lari", dan kata itu diucapkan manusia pada hari kiamat.
Susunan yawma yang langsung disusul kata kerja masa kini juga dipakai di 78:38, 78:40, 79:6, dan 79:35, sehingga tiga surah berurutan, 78, 79, dan 80, melukiskan hari itu dengan susunan yang sama.
Kata (الْمَرْءُ, l-mar'u) tercatat di empat ayat, 2:102, 8:24, 78:40, dan 80:34. Terjemahan ini memakai "manusia" untuknya di 8:24, 78:40, dan 80:34, kata yang sama yang dipakai untuk (الْإِنْسَانُ, l-insaanu) di 80:17 dan 80:24, padahal kata Arabnya berbeda. Di 78:40 susunannya sejajar dengan ayat ini, (يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ, yawma yanzhuru l-mar'u) yang berarti "pada hari manusia melihat", disusul apa yang telah dikerjakan tangannya. Dua ayat lainnya, 2:102 dan 8:24, memakai kata itu dalam susunan "di antara al-mar' dan ...".
Tulisan akhiihi tercatat di sembilan ayat, antara lain 5:30 dan 5:31 tentang anak Adam yang membunuh saudaranya, 12:64, 12:70, dan 12:76 tentang Yusuf dan saudaranya, serta 49:12 tentang memakan daging saudara yang sudah mati. Rangkaian min akhiihi tercatat di dua ayat, 2:178 dan 80:34. Kata saudara sebagai lema tercatat di 69 ayat.
Kata kerja yafirru berbentuk tunggal, sama dengan l-mar'u. Hari itu menimpa semua orang, tetapi perbuatannya dituturkan sebagai perbuatan satu orang, dan 80:37 menyambungnya dengan "setiap orang dari mereka". Kata kerja ini juga berlaku bagi 80:35 dan 80:36, karena kedua ayat itu tidak membawa kata kerja baru.
Tafsiran
Ayat ini melukiskan hari kiamat lewat perbuatan seseorang terhadap keluarganya sendiri. Di 80:34-36 disebut lima pihak, saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anak, dan semuanya dilarikan dengan satu kata kerja.
Sebab lari itu tidak diterangkan di ayat ini, tetapi 80:37 menjawabnya, (لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ, li-kulli mri'in minhum yawma'idzin sya'nun yughniihi) yang berarti "setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya". Tujuan lari juga tidak disebut di sini. Surah 75 menjawabnya lewat pertanyaan manusia di 75:10 tentang tempat lari, yang dibalas di 75:11-12 bahwa tidak ada tempat berlindung dan kepada Tuhanmulah tempat menetap pada hari itu. Keadaan pihak yang dilarikan pun tidak disebut, apakah mereka memanggil, mengejar, atau juga lari. Ayat ini melukiskan satu orang, dan 80:37 menyatakan bahwa setiap orang dari mereka sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga pihak yang dilarikan berada dalam keadaan yang sama.
Pembuka surah ini berkisah tentang seseorang yang berpaling dari orang yang datang kepadanya di 80:1-10. Di akhir surah setiap orang lari dari keluarganya sendiri. Al-Qur'an tidak menyandingkan kedua peristiwa itu, tetapi keduanya berada di surah yang sama, dan yang kedua menimpa semua orang tanpa kecuali.
Renungan dan Hikmah
- Satu ayat dari akar ini menyebut tujuan lari, 51:50, (فَفِرُّوا, fa-firruu) yang berarti "maka berlarilah" (إِلَى اللَّهِ, ilaa llaahi) yang berarti "kepada Allah". Di 80:34 lari disebut dari siapa, dan tujuannya tidak disebut, sedangkan 75:12 menyatakan tempat menetap pada hari itu ada pada Tuhan. Lari yang di 51:50 diperintahkan masih dapat diarahkan sekarang. Pada hari kiamat arah itu sudah tidak dipilih lagi, karena semua berakhir di hadapan-Nya. Ke mana lari itu diarahkan selagi arahnya masih dapat dipilih?
- Ayat 62:8 memuat (قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ, qul inna l-mawta lladzii tafirruuna minhu fa-innahu mulaaqiikum) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya pasti akan menemui kalian", lalu manusia dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Di dunia orang lari dari yang mengancamnya, dan yang dilarikannya tetap menemuinya. Di 80:34 orang lari dari yang paling dekat dengannya, dan menurut 75:12 tempat menetapnya pada hari itu ada pada Tuhan yang sama.
- Rangkaian yang sama dipakai di 2:178 dalam hukum kisas, (فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ, fa-man 'ufiya lahu min akhiihi syay'un) yang berarti "maka siapa yang mendapat maaf dari saudaranya". Allah menyebut keluarga orang yang terbunuh sebagai saudara bagi pembunuhnya, dan maaf mengalir dari saudara itu. Di 80:34 rangkaian min akhiihi menunjuk pihak yang dilarikan, dan tidak ada sebutan tentang maaf di antara keduanya. Di dunia saudara dapat menjadi sumber maaf, sedangkan pada hari itu saudara berada di antara pihak yang ditinggalkan.
- Di 8:24 disebut (يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ, yahuulu bayna l-mar'i wa-qalbihi) yang berarti "membatasi antara manusia dengan hatinya", dan pelakunya Allah. Di 2:102 sihir dipakai untuk memisahkan seseorang dari istrinya. Di kedua ayat itu yang memisahkan datang dari luar diri orang itu. Di 80:34 tidak ada pihak yang disebut memisahkan, dan orang itu sendiri yang lari. Ayat 8:24 ditutup dengan pernyataan bahwa kepada-Nya kalian akan dikumpulkan, hari yang sama dengan yang dilukiskan ayat ini.
- Di 74:49 Allah bertanya (فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ, fa-maa lahum 'ani t-tadzkirati mu'ridhiina) yang berarti "maka mengapa mereka berpaling dari peringatan", lalu melukiskan mereka seperti keledai liar yang lari dari singa di 74:50-51. Surah ini menyebut dirinya peringatan di 80:11, (كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ, kallaa innahaa tadzkiratun). Akar yang dipakai untuk keledai itu dipakai lagi di 80:34 untuk manusia pada hari kiamat. Di dunia orang masih dapat memilih berpaling dari peringatan atau menyambutnya, sedangkan lari di 80:34 tidak dituturkan sebagai pilihan.
- Kata al-mar'u di 78:40 disusul (مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ, maa qaddamat yadaahu) yang berarti "apa yang didahulukan oleh kedua tangannya". Pada hari yang sama, orang yang lari dari saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anaknya menghadapi perbuatannya sendiri. Keluarga dapat ditinggalkan, sedangkan apa yang didahulukan tangannya tetap berada di depan matanya. Allah memperlihatkan keduanya di dua surah yang berdekatan, 78:40 dan 80:34, dengan kata yang sama untuk orang itu.
Ayat 80:35
وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ
Dan dari ibunya dan bapaknya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأُمِّهِ وَأَبِيهِwa-ummihi wa-abiihidan dari ibunya dan bapaknya
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَأُمِّهِwa-ummihidan ibunya
- وَأَبِيهِwa-abiihidan bapaknya
Inti bacaan
Tulisan wa-abiihi tercatat di 80:35 saja. Kata ibu dan kata bapak dalam bentuk tunggal atau berdua disebut bersama di tiga ayat, 4:11, 19:28, dan 80:35, dan ibu disebut lebih dulu di 80:35 saja.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas dua kata, (وَأُمِّهِ, wa-ummihi) yang berarti "dan ibunya" dan (وَأَبِيهِ, wa-abiihi) yang berarti "dan bapaknya". Keduanya berakhiran -i dan disambung dengan wa- kepada (مِنْ أَخِيهِ, min akhiihi) di 80:34, sehingga kata "dari" di terjemahan ini diambil dari min di ayat sebelumnya. Ayat ini tidak membawa kata kerja, dan perbuatan yang berlaku bagi ibu dan bapak masih yafirru di 80:34.
Tulisan wa-abiihi tercatat di 80:35 saja. Tulisan yang sama dengan wa-ummihi, tanpa memperhitungkan harakat, tercatat di tiga ayat lain, 5:17, 5:75, dan 23:50, dan ketiganya menyebut Isa bersama ibunya. Tulisan (لِأَبِيهِ, li-abiihi) yang berarti "kepada bapaknya" tercatat di sembilan ayat, delapan di antaranya tentang Ibrahim dan bapaknya, antara lain 6:74, 19:42, dan 43:26, dan satu tentang Yusuf di 12:4.
Kata ibu sebagai lema tercatat di 31 ayat, tetapi tidak semuanya tentang ibu kandung. Al-Qur'an memakainya untuk induk kitab di 3:7, 13:39, dan 43:4, induk negeri di 6:92, 28:59, dan 42:7, istri-istri Nabi yang disebut ibu orang beriman di 33:6, dan tempat berpulang di 101:9, (فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ, fa-ummuhu haawiyatun) yang berarti "maka tempat berpulangnya jurang". Akar أ-م-م tercatat di 108 ayat, dan 57 di antaranya memakai kata umat.
Kata bapak dalam bentuk tunggal tercatat di 40 ayat. Bentuk jamaknya, yang sering berarti nenek moyang, tercatat di 60 ayat, dan bentuk berdua yang berarti kedua orang tua di enam ayat.
Kata ibu dan kata bapak dalam bentuk tunggal atau berdua disebut bersama di tiga ayat, 4:11, 19:28, dan 80:35. Di 4:11, tentang warisan, kedua orang tua disebut dengan bentuk berdua lalu bagian ibu disebut tersendiri. Masing-masing orang tua mendapat seperenam bila yang wafat meninggalkan anak, dan ibu mendapat sepertiga bila yang wafat tidak beranak dan diwarisi kedua orang tuanya. Di 19:28 kaum Maryam menyebut bapaknya lebih dulu, lalu ibunya. Di 80:35 ibu disebut lebih dulu, dan alasan urutan itu tidak disebut.
Di 31:14 dan 46:15 kedua orang tua disebut dengan kata lain, (بِوَالِدَيْهِ, bi-waalidayhi) yang berarti "kepada kedua orang tuanya", dari akar و-ل-د, lalu ibu disebut tersendiri sebagai yang mengandung. Di 80:35 kedua orang tua tidak dirangkum dengan satu kata, dan masing-masing disebut dengan namanya sendiri.
Kedua kata di ayat ini membawa kata ganti -hi, "nya", yang kembali kepada orang yang lari. Ibu dan bapak disebut sebagai ibunya dan bapaknya, sama dengan saudaranya di 80:34 dan istri serta anak-anaknya di 80:36. Kelima sebutan di 80:34-36 membawa kata ganti yang sama, tanpa kecuali.
Tafsiran
Ayat ini memperluas lari di 80:34 dari saudara kepada kedua orang tua tanpa kata kerja baru. Urutan kelima pihak di 80:34-36 bergerak dari saudara, ke ibu dan bapak, lalu ke istri dan anak-anak, dan alasan urutan itu tidak disebut.
Daftar keluarga pada hari kiamat juga muncul di 70:11-14, tetapi dengan susunan lain. Di sana orang yang berdosa ingin menebus dirinya dari azab dengan anak-anaknya, istrinya, saudaranya, keluarga yang melindunginya, dan seluruh orang di bumi. Ibu dan bapak tidak disebut di daftar itu, dan urutannya dimulai dari anak. Di 70:11-14 keluarga hendak dijadikan tebusan, sedangkan di 80:34-36 keluarga ditinggalkan, dan 80:35 memasukkan kedua orang tua ke dalamnya.
Di bagian lain Al-Qur'an, kedua orang tua disebut dalam perintah berbuat baik di sejumlah ayat, misalnya 2:83, 17:23, 29:8, dan 46:15. Ayat ini menyebut keduanya di tempat yang berlawanan, sebagai pihak yang dilarikan, dan sebabnya diberikan di 80:37, yaitu urusan yang menyibukkan setiap orang pada hari itu. Keadaan kedua orang tua itu tidak disebut, baik iman maupun perbuatan mereka, dan ayat ini menuturkan perbuatan anaknya saja. Lari itu tidak dikaitkan dengan baik atau buruknya orang tua, dan 80:37 menyatakannya berlaku bagi setiap orang.
Renungan dan Hikmah
- Allah berfirman di 28:13, (فَرَدَدْنَاهُ إِلَىٰ أُمِّهِ, fa-radadnaahu ilaa ummihi) yang berarti "lalu Kami mengembalikannya kepada ibunya", disusul (كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ, kay taqarra 'aynuhaa wa-laa tahzana) yang berarti "agar senang hatinya dan tidak bersedih". Pertemuan anak dengan ibunya di dunia dituturkan sebagai pemberian Allah. Di 80:35 setiap orang lari dari ibunya. Pertemuan yang di dunia dapat menjadi penghibur hati tidak disebut menghibur siapa pun pada hari itu.
- Harun menahan kemarahan saudaranya di 20:94 dengan seruan (يَا ابْنَ أُمَّ, yaa bna umma) yang berarti "wahai putra ibuku". Ikatan saudara di sana dirujukkan kepada ibu yang sama, dan seruan itu dipakai untuk meredakan. Di 80:34-35 saudara dan ibu disebut berurutan sebagai pihak yang dilarikan. Ikatan yang di dunia dapat dipakai untuk memohon kelembutan tidak disebut dipakai oleh siapa pun pada hari itu.
- Di 31:15 Allah memerintahkan anak yang dipaksa orang tuanya untuk menyekutukan-Nya agar tidak menaati keduanya, disusul (وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا, wa-shaahibhumaa fii d-dunyaa ma'ruufan) yang berarti "pergaulilah keduanya di dunia dengan baik". Kata "di dunia" menandai tempat perintah itu berlaku, dan pergaulan yang baik tetap diperintahkan walau keduanya menentang. Al-Qur'an tidak menyandingkan 31:15 dengan 80:35, tetapi kedua ayat itu menyebut orang tua di dua tempat yang berbeda, dunia tempat bergaul dan hari kiamat tempat berpisah.
- Ibrahim memohonkan ampunan bagi bapaknya di 9:114 karena janji yang pernah diucapkannya, lalu (تَبَرَّأَ مِنْهُ, tabarra'a minhu) yang berarti "dia berlepas diri darinya" ketika jelas baginya bahwa bapaknya musuh Allah. Perpisahan anak dengan bapaknya di sana punya sebab yang dinyatakan, dan terjadi di dunia sesudah permohonan itu diajukan. Di 80:35 perpisahan itu terjadi pada setiap orang, dan sebab yang disebut di 80:37 berupa urusan yang menyibukkan setiap orang, tanpa menyebut permusuhan kepada Allah.
- Ayat 31:33 memerintahkan manusia takut kepada Tuhan dan kepada hari ketika (لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ, laa yajzii waalidun 'an waladihi) yang berarti "seorang ayah tidak dapat menolong anaknya", dan seorang anak pun tidak dapat menolong ayahnya sedikit pun. Ayat itu menyatakan pertolongan yang tidak sanggup diberikan orang tua dan anak satu sama lain, dan 80:35 memperlihatkan perbuatan orang pada hari itu, yaitu lari. Kedua ayat itu sama-sama meniadakan tolong-menolong antara anak dan orang tua pada hari kiamat.
- Di 46:15 ibu disebut tersendiri, (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا, hamalat-hu ummuhu kurhan wa-wadha'at-hu kurhan) yang berarti "ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah". Allah menyebut kepayahan itu dalam perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Di 80:35 ibu yang sama disebut lebih dulu daripada bapak di antara pihak yang dilarikan. Apa yang sanggup menjauhkan seseorang dari ibu yang pernah mengandungnya dengan susah payah? Ayat 80:37 menjawabnya, urusan yang menyibukkan setiap orang pada hari itu.
Ayat 80:36
وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ
Dan dari istrinya dan anak-anaknya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِwa-shaahibatihi wa-baniihidan dari istrinya dan anak-anaknya
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَصَاحِبَتِهِwa-shaahibatihidan istrinya
- وَبَنِيهِwa-baniihidan anak-anaknya
Inti bacaan
Rangkaian lima orang yang ditinggalkan berakhir pada istri dan anak-anak, dan anak-anak muncul dalam bentuk jamak. Istri dengan kata ini tercatat di empat ayat, selalu berdampingan dengan anak.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri atas dua kata, (وَصَاحِبَتِهِ, wa-shaahibatihi) yang berarti "dan istrinya" dan (وَبَنِيهِ, wa-baniihi) yang berarti "dan anak-anaknya". Keduanya dibuka huruf sambung wa- dan ditutup akhiran -hi yang berarti "-nya", dan ayat ini tidak memuat kata kerja. Kedua kata itu melanjutkan rangkaian yang dimulai di 80:34, ketika orang itu lari (مِنْ أَخِيهِ, min akhiihi) yang berarti "dari saudaranya", lalu dari ibu dan bapaknya di 80:35. Kata depan "dari" di 80:34 berlaku sampai ujung rangkaian, sehingga terjemahan ini membubuhkan "dari" di awal ayat, walaupun kata itu tidak tertulis lagi di 80:36. Dengan ayat ini daftarnya genap lima sebutan, yaitu saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anak. Kelimanya berakhiran -hi dan merujuk kepada (الْمَرْءُ, l-mar'u) yang berarti "orang itu" di 80:34.
Kata istri di ayat ini, dalam bentuk dasarnya, tercatat di empat ayat, yaitu 6:101, 70:12, 72:3, dan 80:36, dan di keempatnya kata itu berdekatan dengan anak. Di 6:101 dan 72:3 istri dan anak disebut untuk ditiadakan dari Allah, misalnya (وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ, wa-lam takun lahu shaahibatun) yang berarti "padahal Dia tidak pernah mempunyai istri", yang di ayat itu menjadi alasan mengapa Dia tidak mungkin mempunyai anak. Di 70:12 kata itu muncul sesudah (بِبَنِيهِ, bi-baniihi) yang berarti "dengan anak-anaknya" di 70:11, dan di 80:36 anak-anak disebut tepat sesudahnya.
Akar kata itu, ص-ح-ب, tercatat di 89 ayat, dan pemakaiannya berkisar pada menyertai. Bentuk tunggal laki-lakinya tercatat di 10 ayat untuk teman atau penyerta, misalnya di 18:34 dan 53:2, dan bentuk jamaknya di 70 ayat menamai golongan atau penghuni, seperti penghuni taman dan penghuni api. Dengan latar itu, istri disebut lewat kata yang menandai kebersamaan, sedangkan saudara, ibu, dan bapak di 80:34-35 disebut lewat kata pertalian darah.
Kata (وَبَنِيهِ, wa-baniihi) berbentuk jamak, sedangkan empat sebutan lain dalam rangkaian ini tunggal. Kata anak-anak dalam bentuk dasarnya tercatat di 77 ayat. Empat puluh di antaranya memuat sebutan Bani Israil, dan beberapa lain memuat sebutan Bani Adam, misalnya 7:26 dan 17:70. Dengan akhiran -hi, kata anak-anaknya tercatat di empat ayat. Di 2:132 dan 2:133 anak-anak itu menerima wasiat dari ayah mereka tentang agama yang dipegang sampai mati. Di 70:11 dan 80:36 mereka berada di hari itu, sekali sebagai tebusan yang ingin diserahkan dan sekali sebagai orang yang ditinggalkan.
Dua dari lima sebutan itu perempuan, yaitu ibu dan istri, dan keduanya disebut berselang-seling dengan sebutan laki-laki tanpa pembedaan. Dari segi bentuk, kelima sebutan disusun tanpa kata sifat, tanpa keterangan, dan tanpa kata kerja kedua, sehingga daftar ini terbaca sebagai hitungan orang yang ditinggalkan.
Tafsiran
Ayat ini menutup daftar orang yang ditinggalkan di hari itu. Daftarnya bergerak dari saudara, yang segenerasi, ke ibu dan bapak, yang mendahului, lalu ke istri dan anak-anak, keluarga yang dibentuk orang itu sendiri. Urutan itu mencakup orang yang ada di sampingnya, sebelum dia, dan sesudahnya. Pembagian tiga lapis ini dibaca dari urutan sebutannya.
Perbandingan dengan 70:11-14 sudah diuraikan di 80:35, dan ayat ini menambahkan satu perbedaan lagi, yaitu letak anak-anak. Di 70:11 anak-anak disebut pertama, sebagai tebusan yang lebih dahulu ditawarkan oleh (الْمُجْرِمُ, l-mujrimu) yang berarti "orang yang berbuat durhaka". Di surah ini mereka disebut terakhir, sesudah semua yang lain ditinggalkan. Dalam tawaran tebusan, anak-anak berada di depan, dan dalam pelarian mereka berada di ujung.
Di 26:88 disebutkan (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ, yawma laa yanfa'u maalun wa-laa banuuna) yang berarti "pada hari harta dan anak-anak tidak berguna", dan 26:89 mengecualikan orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Ayat ini memperlihatkan sisi lain dari hari yang sama. Anak-anak tidak berguna bagi orang tuanya, dan orang tuanya pun lari dari mereka. Alasan pelarian itu belum disebut di sini dan baru diberikan di 80:37.
Renungan dan Hikmah
- Harta dan anak-anak disebut di 18:46 sebagai (الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, al-maalu wa-l-banuuna ziinatu l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia", dan ayat yang sama menambahkan bahwa amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhan. Perhiasan dipakai selama hidup dan ditanggalkan sesudahnya. Orang yang menghabiskan tenaga untuk membesarkan anak-anak tidak sedang keliru, karena 18:46 tidak mencela perhiasan itu. Ayat ini memperlihatkan saat perhiasan itu ditanggalkan, ketika anak-anak berada di antara orang yang ditinggalkan, sementara 18:46 sudah menunjuk apa yang tetap bernilai di sisi Tuhan.
- Seorang ayah yang menjelang mati di 2:133 bertanya kepada anak-anaknya (مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي, maa ta'buduuna min ba'dii) yang berarti "apa yang kalian sembah sepeninggalku?", dan anak-anak itu menjawab dengan menyebut Tuhan ayah mereka dan Tuhan leluhur mereka. Pertanyaan itu tidak menanyakan harta atau nama keluarga. Kata anak-anaknya dengan akhiran yang sama dengan ayat ini dipakai di sana untuk anak-anak yang ditanyai ayahnya, dan di sini untuk anak-anak yang ditinggalkan. Kalau di hari itu setiap orang tersita oleh urusannya sendiri, apa yang dapat ditinggalkan untuk anak-anak selama masih hidup selain pertanyaan tentang siapa yang mereka sembah?
- Nuh memohon kepada Tuhannya di 11:45 dengan alasan anaknya termasuk keluarganya, dan Allah menjawab di 11:46 (إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ, innahu laysa min ahlika) yang berarti "sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu", lalu menyebut perbuatan anak itu tidak baik. Pertalian darahnya ada, tetapi Allah tidak menghitungnya sebagai keluarga karena perbuatannya. Di 11:46 pertalian dengan anak diputus oleh keputusan Allah, sedangkan di 80:36 pertalian itu ditinggalkan oleh orangnya sendiri. Dua ayat itu datang dari arah yang berbeda, dan keduanya menunjukkan bahwa ikatan keluarga tidak otomatis membawa keselamatan bersama.
- Orang-orang beriman di 64:14 diberi tahu (إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ, inna min azwaajikum wa-awlaadikum 'aduwwan lakum) yang berarti "sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian". Ayat itu segera menyusulkan anjuran memaafkan dan menyebut Allah pengampun lagi pengasih. Istri dan anak di sana dapat menjadi lawan selama hidup, dan di 80:36 mereka menjadi orang yang ditinggalkan di hari itu. Dalam kedua ayat, kedekatan tidak menjamin arah yang sama. Sikap yang ditawarkan 64:14 berupa waspada sekaligus memaafkan, dua sikap yang masih dapat diambil sebelum hari pelarian itu datang.
- Dua ayat meniadakan istri dan anak dari Allah dengan kata istri yang sama dengan ayat ini. Di 72:3 sekelompok jin yang beriman berkata (مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا, maa ttakhadza shaahibatan wa-laa waladan) yang berarti "Dia tidak beristri dan tidak beranak", dan 10:68 membantah klaim bahwa Allah mengangkat anak dengan sebutan "Dia berkecukupan". Di 16:72 pasangan serta anak dan cucu disebut sebagai pemberian Allah kepada manusia, dan di hari itu pemberian itu ditinggalkan. Dia yang tidak beristri dan tidak beranak tetap berkecukupan, dan kepada Dia setiap orang di 80:34-36 datang tanpa keluarganya.
- Tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan, Allah berfirman di 52:21 (أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ, alhaqnaa bihim dzurriyyatahum) yang berarti "Kami pertemukan keturunan mereka dengan mereka". Ayat itu ditutup (كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ, kullu mri'in bi-maa kasaba rahiinun) yang berarti "setiap orang tergadai atas apa yang diusahakannya". Keluarga yang di 80:36 berpisah dapat dipertemukan kembali, dan Allah mempertemukan mereka dengan syarat keimanan yang sama. Pelarian di 80:34-36 tidak menutup kemungkinan itu, dan 52:21 menyebut siapa yang mempertemukan dan atas dasar apa.
Ayat 80:37
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِli-kulli mri'in minhum yawma'idzin sya'nun yughniihisetiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya
Terjemahan per kata (6 kata)
- لِكُلِّli-kullibagi setiap
- امْرِئٍmri'inseseorang
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- شَأْنٌsya'nunurusan
- يُغْنِيهِyughniihimencukupkannya
Inti bacaan
Sebab orang-orang itu lari menyusul sesudah daftarnya, yakni kesibukan masing-masing di hari itu. Akar kata kerjanya muncul juga di 80:5, pada orang yang menganggap diri tak butuh.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka (لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ, li-kulli mri'in minhum) yang berarti "bagi setiap orang dari mereka". Susunan dengan huruf li- itu tercatat di dua ayat, 24:11 dan 80:37. Gabungan kata setiap dan orang tercatat di lima ayat, yaitu 24:11, 52:21, 70:38, 74:52, dan 80:37. Di 70:38 dan 74:52 gabungan itu diikuti keinginan, misalnya (بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ, bal yuriidu kullu mri'in minhum) yang berarti "bahkan setiap orang dari mereka ingin" di 74:52, sedangkan di ayat ini gabungan itu diikuti urusan.
Kata (امْرِئٍ, mri'in) yang berarti "seseorang" berakar م-ر-أ, akar yang sama dengan (الْمَرْءُ, l-mar'u) yang berarti "orang itu" di 80:34. Kata (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "dari mereka" menunjuk kepada semua yang disebut di 80:34-36, orang yang lari beserta lima orang yang ditinggalkannya. Keterangan (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) yang berarti "pada hari itu" muncul di sini untuk pertama kalinya dalam surah ini, lalu diulang di 80:38 dan 80:40.
Kata (شَأْنٌ, sya'nun) yang berarti "urusan" berasal dari akar ش-أ-ن, yang tercatat di empat ayat. Di 10:61 akar itu dipakai untuk urusan manusia yang disaksikan Allah, (وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ, wa-maa takuunu fii sya'nin) yang berarti "dan engkau tidak berada dalam suatu urusan". Di 24:62 akar itu dipakai untuk keperluan orang yang meminta izin pergi dari urusan bersama. Di 55:29 akar itu dipakai untuk Allah, (كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ, kulla yawmin huwa fii sya'nin) yang berarti "setiap saat Dia dalam suatu urusan". Di 80:37 kata itu tidak bersandang al- dan tidak disifati, sehingga isi urusannya tidak disebut.
Kata (يُغْنِيهِ, yughniihi) yang berarti "mencukupkannya" berasal dari akar غ-ن-ي, yang tercatat di 72 ayat. Di 4:130, 9:28, 24:32, dan 24:33 kata kerja ini mengenai orang dengan Allah sebagai pelakunya, misalnya (يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِنْ سَعَتِهِ, yughni llaahu kullan min sa'atihi) yang berarti "Allah akan mencukupkan masing-masing dari kelapangan-Nya" di 4:130. Di 80:37 pelakunya urusan itu. Urusan itu mencukupi orangnya sampai tidak tersisa perhatian untuk orang lain. Terjemahan ini menambahkan kata "menyibukkan" supaya makna cukup itu terbaca sebagai kesibukan, sedangkan kata Arabnya berarti mencukupi.
Akar yang sama muncul di awal surah, di 80:5, dalam (أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ, ammaa mani staghnaa) yang berarti "adapun orang yang merasa dirinya serba cukup". Bentuk yang dipakai di 80:5 tercatat di empat ayat, yaitu 64:6, 80:5, 92:8, dan 96:7. Di 64:6 pelakunya Allah, dan di tiga ayat lain pelakunya manusia. Dalam surah ini akar غ-ن-ي tercatat di 80:5 dan 80:37 saja. Di awal surah seseorang merasa cukup dengan dirinya, dan di hari itu setiap orang dicukupkan oleh urusannya.
Tafsiran
Ayat ini memberi alasan pelarian di 80:34-36. Alasan itu tidak menyebut benci, takut, atau malu, dan urusan masing-masing orang disebut sebagai penyebabnya. Di 70:10, tepat sebelum daftar serupa di 70:11-14, keadaan yang dekat digambarkan dengan (وَلَا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا, wa-laa yas'alu hamiimun hamiiman) yang berarti "dan tidak ada seorang teman setia menanyakan temannya". Surah 70 meletakkan keterangan itu sebelum daftar keluarga, sedangkan surah ini meletakkan alasannya sesudah daftar, sehingga pembaca lebih dahulu melihat orang yang lari lalu diberi tahu sebabnya.
Ayat ini juga membalik keadaan di awal surah. Di 80:5-10 ada orang yang merasa serba cukup lalu diberi perhatian, dan ada orang yang datang dengan bersegera dan takut lalu diabaikan. Perhatian di sana diberikan kepada orang yang merasa cukup, dan di hari itu perhatian setiap orang habis untuk dirinya sendiri. Isi urusan itu tidak disebut, dan 80:38-42 langsung menggambarkan dua golongan wajah, sehingga isi urusan itu terbaca dari akhir yang dihadapi masing-masing. Keterangan pada hari itu, yang dimulai di ayat ini, mengikat 80:37, 80:38, dan 80:40 ke hari yang sama, sehingga urusan setiap orang dan wajah kedua golongan digambarkan terjadi bersamaan.
Renungan dan Hikmah
- Kata urusan di ayat ini juga dipakai di 10:61, yang menyatakan bahwa dalam urusan apa pun engkau berada, Allah menjadi saksi ketika urusan itu dikerjakan, dan tidak ada yang luput dari Tuhan walaupun seberat zarah. Urusan yang di 80:37 menyita setiap orang pada hari itu tidak disebut isinya. Dibaca bersama 10:61, urusan hari itu tidak datang dari kekosongan, karena setiap urusan selama hidup sudah disaksikan. Kesibukan di hari itu dapat dibaca sebagai kelanjutan dari kesibukan sekarang, dengan saksi yang sama sejak awal.
- Seluruh penghuni langit dan bumi di 55:29 meminta kepada Allah, dan ayat itu ditutup dengan keterangan bahwa setiap saat Dia dalam suatu urusan. Manusia di 80:37 tenggelam dalam urusannya sampai tidak sanggup menoleh kepada ibunya, sedangkan urusan Allah meliputi semua yang meminta kepada-Nya. Kata urusan dipakai untuk keduanya, dan jangkauannya berbeda jauh. Kalau di hari itu setiap orang tersita oleh dirinya sendiri, kepada siapa lagi seseorang dapat meminta selain kepada Dia yang setiap saat dalam urusan?
- Manusia di 96:6-7 disebut melampaui batas (أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ, an ra'aahu staghnaa) yang berarti "ketika melihat dirinya serba cukup", dan 96:8 menyusulkan bahwa kepada Tuhanmulah tempat kembali. Surah 80 menempuh urutan yang serupa dengan akar yang sama. Di 80:5 ada orang yang merasa serba cukup, dan 80:7 menyebut kemungkinan dia tidak menyucitumbuhkan diri, lalu di 80:37 setiap orang dicukupkan oleh urusannya. Rasa cukup yang di dunia membuat seseorang tidak merasa perlu menyucitumbuhkan diri berganti di hari itu menjadi kecukupan yang memisahkan dia dari semua orang.
- Kata kerja yang sama dipakai di 24:32 dengan Allah sebagai pelaku, (يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ, yughnihimu llaahu min fadhlihi) yang berarti "Allah akan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya", untuk orang-orang miskin yang dinikahkan. Di sana kecukupan datang dari Allah dan membuat orang dapat membentuk keluarga. Di 80:37 kecukupan datang dari urusan hari itu dan membuat orang meninggalkan keluarganya. Membaca kedua ayat bersama memperlihatkan bahwa kata yang sama dapat menyatukan dan memisahkan, tergantung pada siapa atau apa yang mencukupkan.
- Gabungan setiap orang dari mereka di 74:52 dan 70:38 diikuti keinginan. Di 74:52 setiap orang ingin diberi lembaran-lembaran yang terbuka, dan di 70:38 setiap orang ingin dimasukkan ke taman kenikmatan. Keduanya menggambarkan keinginan orang yang berpaling dari peringatan atau kufur, menurut 74:49 dan 70:36. Di 80:37 gabungan yang sama diikuti urusan yang mencukupi, dan keinginan tidak disebut lagi. Selama hidup keinginan masih dapat diarahkan kepada Tuhan, dan di hari itu yang tersisa bagi setiap orang berupa urusannya.
- Allah membuat perumpamaan di 66:10 tentang istri Nuh dan istri Lut, yang berada di bawah dua hamba yang saleh lalu berkhianat. Ayat itu menyatakan (فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا, fa-lam yughniyaa 'anhumaa mina llaahi syay'an) yang berarti "maka keduanya tidak dapat menolong keduanya sedikit pun dari Allah", dengan akar yang sama dengan yughniihi. Suami yang saleh tidak mencukupi istrinya di hadapan Allah, dan di 80:37 setiap orang dicukupi urusannya sendiri. Kedua ayat menunjukkan bahwa kecukupan di hadapan Allah tidak berpindah dari suami kepada istri, atau dari satu orang kepada orang lain.