وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ

Dan dari ibunya dan bapaknya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأُمِّهِ وَأَبِيهِwa-ummihi wa-abiihidan dari ibunya dan bapaknya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَأُمِّهِwa-ummihidan ibunya
  2. وَأَبِيهِwa-abiihidan bapaknya

Inti bacaan

Perluasan keterputusan ke orang tua: 'dan dari ibunya dan bapaknya', kelanjutan gambaran isolasi yang mencakup hubungan paling fundamental dalam kehidupan seseorang.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَأُمِّهِ, wa ummihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (وَأَبِيهِ, wa abiihi) juga muncul 1 kali. Dua kata di ayat ini sama-sama tidak pernah dipakai lagi di tempat lain.

Akar (وَأُمِّهِ, wa ummihi) dipakai di 108 ayat, antara lain 2:233, 4:23, 16:78, 31:14, dan 46:15. Jadi ibu salah satu pokok yang sering disebut, dan hampir selalu ia disebut sebagai pihak yang berhak dihormati.

Akar (وَأَبِيهِ, wa abiihi) dipakai di 104 ayat, antara lain 2:133, 6:74, 12:4, 19:42, dan 31:14. Di 31:14 dan 46:15 kedua akar itu disebut bersama di dalam perintah berbuat baik kepada orang tua.

Bandingkan dua tempat itu dengan ayat ini. Di sana ibu dan ayah disebut bersama sebagai pihak yang harus dihormati. Di sini keduanya disebut bersama sebagai pihak yang ditinggalkan.

Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyandingkannya cuma pasangan kata yang sama, yang di satu tempat dituju dan di tempat lain dijauhi.

Kata (وَأُمِّهِ, wa ummihi) disebut lebih dulu daripada ayah, sama seperti urutan di 31:14 dan 46:15. Urutan itu tetap sama walau maksud kalimatnya berlawanan.

Perhatikan bahwa ayat ini melanjutkan daftar yang dibuka di 80:34 tanpa satu kata kerja baru. Dua kata di sini bergantung pada kata kerja yang disebut satu ayat sebelumnya.

Susunan seperti itu berulang di 80:36, sehingga tiga ayat berjalan dengan satu kata kerja saja. Enam pihak disebut, dan cuma satu perbuatan yang menampung semuanya.

Kata (وَأُمِّهِ, wa ummihi) dan (وَأَبِيهِ, wa abiihi) sama-sama memakai kata ganti kepemilikan. Enam pihak di daftarnya seluruhnya disebut sebagai milik orang yang lari.

Cara itu membuat perpisahannya terasa lebih berat. Yang ditinggalkan bukan orang lain, melainkan pihak-pihak yang sepanjang hidupnya disebut sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Ayat ini menyebut pihak kedua dan ketiga di dalam daftarnya. Daftarnya bergerak dari saudara, ke orang tua, lalu ke istri dan anak di 80:36.

Perhatikan bahwa gerak itu berjalan dari yang seangkatan, ke yang mendahului, lalu ke yang menyusul. Tiga lapis keluarga disebut berurutan, dan tidak satu pun tersisa.

Perhatikan pula bahwa daftar ini tidak memberi satu keterangan pun tentang keadaan pihak yang ditinggalkan. Tidak disebut apakah mereka memanggil, mengejar, atau juga lari.

Kekosongan itu memusatkan gambarannya pada satu orang saja. Yang dilukiskan cuma yang lari, dan yang ditinggalkan hadir sebagai nama tanpa gerak.

Susunan seperti itu membuat pembacanya berdiri di tempat yang lari, bukan di tempat yang ditinggalkan. Sudut pandangnya sudah ditentukan sebelum satu kalimat penilaian diucapkan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rincian keterasingan dari ibu dan bapak. Ayat ini melanjutkan daftar dengan ibu dan ayah. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya juga muncul 1 kali, sehingga dua kata di ayat ini sama-sama tidak pernah dipakai lagi di tempat lain.

Akar kata pertamanya dipakai di 108 ayat, antara lain 2:233, 4:23, 16:78, 31:14, dan 46:15, sedangkan akar kata keduanya dipakai di 104 ayat, antara lain 2:133, 6:74, 12:4, 19:42, dan 31:14. Di 31:14 dan 46:15 kedua akar itu disebut bersama di dalam perintah berbuat baik kepada orang tua.

Jadi di sana ibu dan ayah disebut bersama sebagai pihak yang harus dihormati, dan di sini keduanya disebut bersama sebagai pihak yang ditinggalkan. Urutan penyebutannya pun tetap sama, yaitu ibu lebih dulu.

Ayat ini melanjutkan daftar yang dibuka di 80:34 tanpa satu kata kerja baru, dan susunan itu berulang di 80:36, sehingga tiga ayat berjalan dengan satu kata kerja saja.

Enam pihak di daftarnya seluruhnya disebut dengan kata ganti kepemilikan. Daftar ini tidak memberi satu keterangan pun tentang keadaan pihak yang ditinggalkan: tidak disebut apakah mereka memanggil, mengejar, atau juga lari. Kekosongan itu memusatkan gambarannya pada satu orang saja, dan sudut pandang pembacanya sudah ditentukan sebelum satu kalimat penilaian diucapkan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya juga muncul 1 kali. Dua kata di ayat ini sama-sama tidak pernah dipakai lagi di tempat lain, padahal akarnya termasuk yang sering muncul: yang satu di 108 ayat dan yang lain di 104 ayat. Bentuk yang tunggal untuk akar yang sesering itu menandai bahwa susunan di ayat ini memang tidak ada bandingnya. Bentuk yang tunggal untuk akar yang sesering itu bukan kebetulan yang bisa dilewatkan. Yang tunggal di tengah yang sering justru paling patut diperiksa.
  • Di 31:14 dan 46:15 kedua akar itu disebut bersama Allah di dalam perintah berbuat baik kepada orang tua. Di sini keduanya disebut bersama sebagai pihak yang ditinggalkan. Al-Qur'an tidak menyandingkan dua keadaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyandingkannya cuma pasangan kata yang sama, yang di satu tempat dituju dan di tempat lain dijauhi. Pasangan kata yang sama di dua keadaan berlawanan menuntut pembacanya menaruh keduanya berdampingan. Dua keadaan yang berlawanan itu tidak pernah dipertemukan di satu ayat mana pun.
  • Kata pertamanya menyebut ibu lebih dulu daripada ayah, sama seperti urutan di 31:14 dan 46:15. Urutan itu tetap sama walau maksud kalimatnya berlawanan. Allah tidak mengubah susunannya ketika yang dilukiskan berubah dari penghormatan menjadi perpisahan, dan ketetapan itu berjalan tanpa satu keterangan pun. Susunan yang tidak berubah walau isinya berubah menandai bahwa urutannya sendiri punya arti. Urutan yang bertahan melewati perubahan isi adalah urutan yang memang disengaja.
  • Ayat ini melanjutkan daftar yang dibuka di 80:34 tanpa satu kata kerja baru, dan susunan itu berulang di 80:36. Tiga ayat berjalan dengan satu kata kerja saja: enam pihak disebut Allah, dan cuma satu perbuatan yang menampung semuanya. Daftar yang diikat sependek itu terbaca cepat, dan kecepatan itu sesuai dengan yang dilukiskannya. Kecepatan sebuah daftar ikut melukiskan apa yang didaftarnya, bukan cuma menyampaikannya. Tempo sebuah bacaan ikut menyampaikan isinya, dan bukan cuma menghantarkannya.
  • Kata pertama dan kata keduanya sama-sama memakai kata ganti kepemilikan, dan enam pihak di daftarnya seluruhnya disebut Allah sebagai milik orang yang lari. Cara itu membuat perpisahannya terasa lebih berat, karena yang ditinggalkan bukan orang lain melainkan pihak-pihak yang sepanjang hidupnya disebut sebagai bagian dari dirinya sendiri. Sebutan kepemilikan di saat perpisahan menajamkan apa yang sedang hilang. Yang hilang terasa lebih besar ketika ia disebut sebagai milik yang kehilangan.
  • Daftarnya bergerak dari saudara di 80:34, ke orang tua di ayat ini, lalu ke istri dan anak di 80:36. Gerak itu berjalan dari yang seangkatan, ke yang mendahului, lalu ke yang menyusul. Tiga lapis keluarga disebut Allah berurutan, dan tidak satu pun tersisa. Apa yang tertinggal bagi seseorang ketika seluruh lapis yang mengelilinginya disebut satu per satu sebagai yang ditinggalkan? Tiga lapis yang disebut berurutan tidak menyisakan satu pun tempat berlindung. Tidak ada satu arah pun yang tersisa untuk mencari perlindungan di daftar itu.