وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

Dan dari istrinya dan anak-anaknya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِwa-shaahibatihi wa-baniihidan dari istrinya dan anak-anaknya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَصَاحِبَتِهِwa-shaahibatihidan istrinya
  2. وَبَنِيهِwa-baniihidan anak-anaknya

Inti bacaan

Rangkaian lima orang yang ditinggalkan berakhir pada istri dan anak-anak, dan anak-anak muncul dalam bentuk jamak. Istri dengan kata ini tercatat di empat ayat, selalu berdampingan dengan anak.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas dua kata, (وَصَاحِبَتِهِ, wa-shaahibatihi) yang berarti "dan istrinya" dan (وَبَنِيهِ, wa-baniihi) yang berarti "dan anak-anaknya". Keduanya dibuka huruf sambung wa- dan ditutup akhiran -hi yang berarti "-nya", dan ayat ini tidak memuat kata kerja. Kedua kata itu melanjutkan rangkaian yang dimulai di 80:34, ketika orang itu lari (مِنْ أَخِيهِ, min akhiihi) yang berarti "dari saudaranya", lalu dari ibu dan bapaknya di 80:35. Kata depan "dari" di 80:34 berlaku sampai ujung rangkaian, sehingga terjemahan ini membubuhkan "dari" di awal ayat, walaupun kata itu tidak tertulis lagi di 80:36. Dengan ayat ini daftarnya genap lima sebutan, yaitu saudara, ibu, bapak, istri, dan anak-anak. Kelimanya berakhiran -hi dan merujuk kepada (الْمَرْءُ, l-mar'u) yang berarti "orang itu" di 80:34.

Kata istri di ayat ini, dalam bentuk dasarnya, tercatat di empat ayat, yaitu 6:101, 70:12, 72:3, dan 80:36, dan di keempatnya kata itu berdekatan dengan anak. Di 6:101 dan 72:3 istri dan anak disebut untuk ditiadakan dari Allah, misalnya (وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ, wa-lam takun lahu shaahibatun) yang berarti "padahal Dia tidak pernah mempunyai istri", yang di ayat itu menjadi alasan mengapa Dia tidak mungkin mempunyai anak. Di 70:12 kata itu muncul sesudah (بِبَنِيهِ, bi-baniihi) yang berarti "dengan anak-anaknya" di 70:11, dan di 80:36 anak-anak disebut tepat sesudahnya.

Akar kata itu, ص-ح-ب, tercatat di 89 ayat, dan pemakaiannya berkisar pada menyertai. Bentuk tunggal laki-lakinya tercatat di 10 ayat untuk teman atau penyerta, misalnya di 18:34 dan 53:2, dan bentuk jamaknya di 70 ayat menamai golongan atau penghuni, seperti penghuni taman dan penghuni api. Dengan latar itu, istri disebut lewat kata yang menandai kebersamaan, sedangkan saudara, ibu, dan bapak di 80:34-35 disebut lewat kata pertalian darah.

Kata (وَبَنِيهِ, wa-baniihi) berbentuk jamak, sedangkan empat sebutan lain dalam rangkaian ini tunggal. Kata anak-anak dalam bentuk dasarnya tercatat di 77 ayat. Empat puluh di antaranya memuat sebutan Bani Israil, dan beberapa lain memuat sebutan Bani Adam, misalnya 7:26 dan 17:70. Dengan akhiran -hi, kata anak-anaknya tercatat di empat ayat. Di 2:132 dan 2:133 anak-anak itu menerima wasiat dari ayah mereka tentang agama yang dipegang sampai mati. Di 70:11 dan 80:36 mereka berada di hari itu, sekali sebagai tebusan yang ingin diserahkan dan sekali sebagai orang yang ditinggalkan.

Dua dari lima sebutan itu perempuan, yaitu ibu dan istri, dan keduanya disebut berselang-seling dengan sebutan laki-laki tanpa pembedaan. Dari segi bentuk, kelima sebutan disusun tanpa kata sifat, tanpa keterangan, dan tanpa kata kerja kedua, sehingga daftar ini terbaca sebagai hitungan orang yang ditinggalkan.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar orang yang ditinggalkan di hari itu. Daftarnya bergerak dari saudara, yang segenerasi, ke ibu dan bapak, yang mendahului, lalu ke istri dan anak-anak, keluarga yang dibentuk orang itu sendiri. Urutan itu mencakup orang yang ada di sampingnya, sebelum dia, dan sesudahnya. Pembagian tiga lapis ini dibaca dari urutan sebutannya.

Perbandingan dengan 70:11-14 sudah diuraikan di 80:35, dan ayat ini menambahkan satu perbedaan lagi, yaitu letak anak-anak. Di 70:11 anak-anak disebut pertama, sebagai tebusan yang lebih dahulu ditawarkan oleh (الْمُجْرِمُ, l-mujrimu) yang berarti "orang yang berbuat durhaka". Di surah ini mereka disebut terakhir, sesudah semua yang lain ditinggalkan. Dalam tawaran tebusan, anak-anak berada di depan, dan dalam pelarian mereka berada di ujung.

Di 26:88 disebutkan (يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ, yawma laa yanfa'u maalun wa-laa banuuna) yang berarti "pada hari harta dan anak-anak tidak berguna", dan 26:89 mengecualikan orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Ayat ini memperlihatkan sisi lain dari hari yang sama. Anak-anak tidak berguna bagi orang tuanya, dan orang tuanya pun lari dari mereka. Alasan pelarian itu belum disebut di sini dan baru diberikan di 80:37.

Renungan dan Hikmah

  • Harta dan anak-anak disebut di 18:46 sebagai (الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, al-maalu wa-l-banuuna ziinatu l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia", dan ayat yang sama menambahkan bahwa amal saleh yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhan. Perhiasan dipakai selama hidup dan ditanggalkan sesudahnya. Orang yang menghabiskan tenaga untuk membesarkan anak-anak tidak sedang keliru, karena 18:46 tidak mencela perhiasan itu. Ayat ini memperlihatkan saat perhiasan itu ditanggalkan, ketika anak-anak berada di antara orang yang ditinggalkan, sementara 18:46 sudah menunjuk apa yang tetap bernilai di sisi Tuhan.
  • Seorang ayah yang menjelang mati di 2:133 bertanya kepada anak-anaknya (مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي, maa ta'buduuna min ba'dii) yang berarti "apa yang kalian sembah sepeninggalku?", dan anak-anak itu menjawab dengan menyebut Tuhan ayah mereka dan Tuhan leluhur mereka. Pertanyaan itu tidak menanyakan harta atau nama keluarga. Kata anak-anaknya dengan akhiran yang sama dengan ayat ini dipakai di sana untuk anak-anak yang ditanyai ayahnya, dan di sini untuk anak-anak yang ditinggalkan. Kalau di hari itu setiap orang tersita oleh urusannya sendiri, apa yang dapat ditinggalkan untuk anak-anak selama masih hidup selain pertanyaan tentang siapa yang mereka sembah?
  • Nuh memohon kepada Tuhannya di 11:45 dengan alasan anaknya termasuk keluarganya, dan Allah menjawab di 11:46 (إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ, innahu laysa min ahlika) yang berarti "sesungguhnya dia bukan termasuk keluargamu", lalu menyebut perbuatan anak itu tidak baik. Pertalian darahnya ada, tetapi Allah tidak menghitungnya sebagai keluarga karena perbuatannya. Di 11:46 pertalian dengan anak diputus oleh keputusan Allah, sedangkan di 80:36 pertalian itu ditinggalkan oleh orangnya sendiri. Dua ayat itu datang dari arah yang berbeda, dan keduanya menunjukkan bahwa ikatan keluarga tidak otomatis membawa keselamatan bersama.
  • Orang-orang beriman di 64:14 diberi tahu (إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ, inna min azwaajikum wa-awlaadikum 'aduwwan lakum) yang berarti "sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian". Ayat itu segera menyusulkan anjuran memaafkan dan menyebut Allah pengampun lagi pengasih. Istri dan anak di sana dapat menjadi lawan selama hidup, dan di 80:36 mereka menjadi orang yang ditinggalkan di hari itu. Dalam kedua ayat, kedekatan tidak menjamin arah yang sama. Sikap yang ditawarkan 64:14 berupa waspada sekaligus memaafkan, dua sikap yang masih dapat diambil sebelum hari pelarian itu datang.
  • Dua ayat meniadakan istri dan anak dari Allah dengan kata istri yang sama dengan ayat ini. Di 72:3 sekelompok jin yang beriman berkata (مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلَا وَلَدًا, maa ttakhadza shaahibatan wa-laa waladan) yang berarti "Dia tidak beristri dan tidak beranak", dan 10:68 membantah klaim bahwa Allah mengangkat anak dengan sebutan "Dia berkecukupan". Di 16:72 pasangan serta anak dan cucu disebut sebagai pemberian Allah kepada manusia, dan di hari itu pemberian itu ditinggalkan. Dia yang tidak beristri dan tidak beranak tetap berkecukupan, dan kepada Dia setiap orang di 80:34-36 datang tanpa keluarganya.
  • Tentang orang-orang beriman yang keturunannya mengikuti mereka dalam keimanan, Allah berfirman di 52:21 (أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ, alhaqnaa bihim dzurriyyatahum) yang berarti "Kami pertemukan keturunan mereka dengan mereka". Ayat itu ditutup (كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ, kullu mri'in bi-maa kasaba rahiinun) yang berarti "setiap orang tergadai atas apa yang diusahakannya". Keluarga yang di 80:36 berpisah dapat dipertemukan kembali, dan Allah mempertemukan mereka dengan syarat keimanan yang sama. Pelarian di 80:34-36 tidak menutup kemungkinan itu, dan 52:21 menyebut siapa yang mempertemukan dan atas dasar apa.