Ayat 80:38
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌwujuuhun yawma'idzin musfiratunwajah-wajah pada hari itu berseri-seri
Terjemahan per kata (3 kata)
- وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- مُسْفِرَةٌmusfiratuncerah
Inti bacaan
Kontras positif setelah gambaran krisis: 'wajah-wajah pada hari itu berseri-seri', transisi menuju golongan yang berbahagia, ekspresi fisik yang mencerminkan kondisi batin yang tenang.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وُجُوهٌ, wujuuh) muncul 7 kali, tetapi cuma di 4 surah: 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Dua angka itu berbeda karena tiga surah masing-masing memakainya dua kali.
Di 75:22 dan 75:24 kata (وُجُوهٌ, wujuuh) dipakai untuk dua golongan wajah yang berhadapan, sama seperti di surah ini. Di 88:2 dan 88:8 susunannya juga sama.
Jadi tiga surah memakai (وُجُوهٌ, wujuuh) dua kali untuk membelah manusia menjadi dua golongan lewat wajah mereka. Al-Qur'an tidak menandai pola itu dengan satu kalimat pun.
Kesamaan susunannya patut dicatat. Tiga surah yang berbeda memakai cara yang sama untuk menutup gambaran hari kiamat, dan ketiganya berada di juz yang berdekatan.
Kata (مُسْفِرَةٌ, musfirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 12 ayat saja, dan akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:15 dan 80:38.
Di 80:15 akar (مُسْفِرَةٌ, musfirah) dipakai untuk para penulis yang memegang lembaran. Di sini ia dipakai untuk wajah yang berseri. Satu akar yang cuma hidup di dua belas ayat memuat dua gambaran yang berjauhan.
Perbandingan itu menutup lingkaran kedua di dalam surahnya. Yang memegang wahyu dan yang wajahnya berseri pada hari itu dinamai dengan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Kata (وُجُوهٌ, wujuuh) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebagian, bukan seluruhnya. Susunan itu langsung menyiapkan golongan kedua di 80:40.
Akar (وُجُوهٌ, wujuuh) dipakai di 71 ayat, antara lain 2:112, 3:106, 10:26, 39:60, dan 88:2. Jadi wajah sering dipakai sebagai tempat terlihatnya keadaan seseorang.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) menunjuk hari yang disebut di 80:33. Lima ayat memisahkan keduanya, dan hari itu tidak disebut ulang namanya.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) dipakai lagi di 80:40, sehingga dua golongan sama-sama diikat kepada satu hari yang sama. Tidak ada satu kata pun yang menyatakan bahwa keduanya berdiri di waktu yang sama.
Ayat ini membuka bagian penutup surahnya, yang membagi manusia menjadi dua. Empat ayat terakhir dipakai untuk dua golongan, masing-masing dua ayat.
Perhatikan pula bahwa surah ini ditutup dengan gambaran wajah, sedangkan ia juga dibuka dengan gambaran wajah. Yang pertama bermuka masam, yang terakhir berseri dan berdebu.
Kesejajaran itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang menyatakannya cuma pilihan pokok yang sama di dua ujung surahnya.
Perbedaannya terletak pada siapa pemiliknya. Wajah di pembuka surah milik seseorang yang menilai orang lain; wajah di penutupnya milik orang-orang yang sedang dinilai.
Tafsiran
Ayat ini membagi manusia lewat wajah: golongan pertama berseri. Kata pertamanya muncul 7 kali, tetapi cuma di 4 surah: 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, karena tiga surah masing-masing memakainya dua kali.
Di 75:22 dan 75:24 kata itu dipakai untuk dua golongan wajah yang berhadapan, sama seperti di surah ini, dan di 88:2 serta 88:8 susunannya juga sama. Jadi tiga surah memakai satu kata dua kali untuk membelah manusia menjadi dua golongan lewat wajah mereka, dan ketiganya berada di juz yang berdekatan.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 12 ayat saja. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:15 dan 80:38, yaitu untuk para penulis yang memegang lembaran dan untuk wajah yang berseri.
Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebagian dan bukan seluruhnya, dan susunan itu langsung menyiapkan golongan kedua di 80:40. Akarnya dipakai di 71 ayat, antara lain 2:112, 3:106, 10:26, 39:60, dan 88:2.
Kata keduanya menunjuk hari yang disebut di 80:33, dan lima ayat memisahkan keduanya. Surah ini ditutup dengan gambaran wajah, sedangkan ia juga dibuka dengan gambaran wajah. Perbedaannya terletak pada siapa pemiliknya: wajah di pembuka surah milik seseorang yang menilai orang lain, dan wajah di penutupnya milik orang-orang yang sedang dinilai.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 7 kali di 3:106, 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, tetapi cuma di 4 surah, karena tiga surah masing-masing memakainya dua kali. Di 75:22 dan 75:24 Allah memakainya untuk dua golongan wajah yang berhadapan, dan di 88:2 serta 88:8 susunannya juga sama. Jadi tiga surah memakai satu kata dua kali untuk membelah manusia lewat wajah mereka, dan ketiganya berada di juz yang berdekatan. Pola yang berulang di tiga surah berdekatan menandai satu cara bertutur yang tidak pernah dinamai. Tiga kali kejadian serupa di tempat terpisah sulit dijelaskan sebagai kebetulan.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 12 ayat saja. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:15 untuk para penulis yang memegang lembaran, dan 80:38 untuk wajah yang berseri. Satu akar yang cuma hidup di dua belas ayat memuat dua gambaran yang berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu akar yang menyambungkan pemegang wahyu dan wajah yang berseri dibiarkan tanpa keterangan. Cahaya yang dibawa dan cahaya yang terpancar ternyata dinamai dengan bunyi yang sama.
- Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebagian dan bukan seluruhnya. Susunan itu langsung menyiapkan golongan kedua di 80:40, dan Allah tidak perlu menambahkan satu kata pun untuk menandainya. Pembatasan yang masuk lewat ketiadaan kata sandang bekerja lebih halus daripada pembatasan yang diucapkan. Pembatasan yang masuk lewat ketiadaan kata sandang bekerja lebih halus daripada yang diucapkan. Apa yang tidak dikatakan bisa membatasi sama kuatnya dengan apa yang dikatakan.
- Akar kata pertamanya dipakai Allah di 71 ayat, antara lain 2:112, 3:106, 10:26, 39:60, dan 88:2. Jadi wajah sering dipakai sebagai tempat terlihatnya keadaan seseorang. Yang dinilai bukan wajahnya, melainkan apa yang tampak padanya, dan Al-Qur'an memilih bagian tubuh yang paling tidak bisa disembunyikan. Bagian tubuh yang paling tidak bisa disembunyikan dipilih sebagai tempat keadaan itu terlihat. Wajah dipilih karena ia yang paling sulit diatur oleh pemiliknya sendiri.
- Kata keduanya menunjuk hari yang disebut di 80:33, dan lima ayat memisahkan keduanya tanpa hari itu disebut ulang namanya. Kata yang sama dipakai lagi di 80:40, sehingga dua golongan sama-sama diikat Allah kepada satu hari. Tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan bahwa keduanya berdiri di waktu yang sama, dan pengulangan kata itulah yang menyatakannya. Pengulangan satu kata menanggung seluruh keterangan tentang waktu yang tidak pernah dituliskan. Tanpa pengulangan itu, dua golongan bisa terbaca berdiri di dua waktu yang berbeda.
- Ayat ini membuka bagian penutup surahnya, yang membagi manusia menjadi dua. Empat ayat terakhir dipakai Allah untuk dua golongan, masing-masing dua ayat. Pembagian yang sama besar itu berulang di surah ini, sama seperti tiga ayat untuk tiap golongan di 80:5 sampai 80:10. Apa yang dinyatakan sebuah susunan yang selalu memberi ruang setara kepada dua pihak yang dinilainya? Ruang yang selalu setara bagi dua pihak adalah tanda tentang cara menilai, bukan cuma cara menyusun. Cara sebuah susunan membagi ruang menyatakan cara ia memandang yang dibaginya.
Ayat 80:39
ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
Tertawa lagi bergembira,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌdhaahikatun mustabsyiratuntertawa lagi bergembira
Terjemahan per kata (2 kata)
- ضَاحِكَةٌdhaahikatunyang tertawa
- مُسْتَبْشِرَةٌmustabsyiratunyang berseri
Inti bacaan
Ekspresi kebahagiaan yang penuh: 'tertawa lagi bergembira', penggambaran sukacita yang otentik dan tidak tertahan, kontras total dengan kepanikan golongan sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43.
Di 53:43 akar (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis. Jadi tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan, bukan yang muncul sendiri.
Kata (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30.
Jadi akar (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) salah satu yang sering dipakai, dan hampir selalu ia berhubungan dengan kabar gembira. Bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali.
Bentuk (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) menyatakan orang yang mencari atau menerima kabar gembira dengan sungguh-sungguh. Kadarnya terbawa di dalam polanya, tanpa satu kata penegas.
Perhatikan urutan dua sifat di ayat ini. Yang disebut lebih dulu tertawa, yang terlihat dari luar. Yang menyusul kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam.
Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9, yang menyebut gerak badan lebih dulu lalu keadaan hati. Dua kali di surah ini yang tampak disebut sebelum yang tersembunyi.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini berulang kali menaruh yang terlihat di depan, tanpa pernah berhenti pada yang terlihat saja.
Kata (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) dan (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) sama-sama berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokok di 80:38. Bentuknya ditentukan bendanya walau bendanya berbentuk jamak.
Rangkaian (ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ, dhaahikatun mustabsyirah) seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Tiga kali di surah ini sebuah ayat penuh berdiri cuma sebagai lanjutan sifat.
Perhatikan bahwa dua ayat tentang golongan pertama tidak menyebut satu pun perbuatan mereka di dunia. Yang disebut cuma keadaan wajah mereka pada hari itu.
Ketiadaan itu berlaku juga bagi golongan kedua di 80:40 dan 80:41. Baru di 80:42 keduanya diberi sebutan, dan sebutan itu cuma dikenakan kepada golongan yang kedua.
Perhatikan pula bahwa dua sifat di ayat ini keduanya menyatakan kegembiraan, tetapi dengan cara yang berbeda. Yang satu gerak wajah, yang lain keadaan hati.
Susunan itu melengkapi sifat di 80:38, yang menyebut cahaya pada wajah. Jadi tiga sifat diberikan kepada golongan pertama: bersinar, tertawa, dan gembira menerima kabar.
Tiga sifat itu berjalan dari luar ke dalam. Yang pertama terlihat dari jauh, yang kedua dari dekat, dan yang ketiga cuma diketahui pemiliknya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dua sifat bagi wajah golongan pertama: tertawa dan gembira menerima kabar. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43.
Di 53:43 akar itu dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis, sehingga tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan dan bukan yang muncul sendiri.
Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30. Jadi akar itu salah satu yang sering dipakai dan hampir selalu berhubungan dengan kabar gembira, sedangkan bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali.
Urutan dua sifat di ayat ini menyebut tertawa lebih dulu, yaitu yang terlihat dari luar, lalu kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam. Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9.
Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Dua sifat di ayat ini keduanya menyatakan kegembiraan, tetapi yang satu gerak wajah dan yang lain keadaan hati. Bersama sifat di 80:38, tiga sifat itu berjalan dari luar ke dalam: yang pertama terlihat dari jauh, yang kedua dari dekat, dan yang ketiga cuma diketahui pemiliknya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43. Di 53:43 akar itu dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis. Jadi tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan, bukan yang muncul sendiri, dan keadaan wajah pada hari itu pun bukan hasil usaha pemiliknya. Sesuatu yang di tempat lain disebut sebagai pemberian di sini muncul tanpa disebut asalnya. Keadaan wajah pada hari itu karena itu bukan hasil usaha pemiliknya sendiri.
- Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30. Jadi akar itu salah satu yang sering dipakai dan hampir selalu berhubungan dengan kabar gembira, sedangkan bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali. Yang paling sering dijanjikan dinyatakan dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuk yang tidak pernah diulang untuk akar yang sering muncul menandai keadaan yang tidak biasa. Keadaan yang tidak punya pembanding memang tidak bisa dinyatakan dengan bentuk yang biasa.
- Bentuk kata keduanya menyatakan orang yang mencari atau menerima kabar gembira dengan sungguh-sungguh. Kadarnya terbawa di dalam polanya, tanpa satu kata penegas dari Allah. Sebuah kadar yang masuk lewat bentuk tidak bisa dikurangi dengan membaca cepat, karena ia melekat pada katanya sendiri. Kadar yang melekat pada bentuk kata tidak bisa dikurangi oleh cara membaca mana pun. Pembacanya menerima kesungguhan itu tanpa pernah membaca satu pun kata yang menyebutnya.
- Urutan dua sifat di ayat ini menyebut tertawa lebih dulu, yaitu yang terlihat dari luar, lalu kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam. Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9. Dua kali di surah ini Allah menaruh yang tampak di depan, tanpa pernah berhenti pada yang tampak saja. Yang tampak selalu disebut lebih dulu, tetapi tidak pernah dibiarkan berdiri sendirian. Yang tersembunyi selalu menyusul, dan tidak pernah ditinggalkan begitu saja.
- Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Tiga kali di surah ini sebuah ayat penuh berdiri cuma sebagai lanjutan sifat dari ayat sebelumnya. Kedua katanya juga berbentuk perempuan tunggal mengikuti kata pokok di 80:38, walau bendanya berbentuk jamak. Ayat yang cuma berupa sifat memaksa pembacanya menengok ke ayat sebelumnya untuk melengkapinya. Ayat yang cuma berupa sifat menolak dibaca sendirian, dan itu berulang tiga kali.
- Dua ayat tentang golongan pertama tidak menyebut satu pun perbuatan mereka di dunia. Yang disebut Allah cuma keadaan wajah mereka pada hari itu, dan ketiadaan itu berlaku juga bagi golongan kedua di 80:40 dan 80:41. Apa yang dinyatakan sebuah penutup ketika dua golongan dibedakan tanpa satu kalimat pun yang menyebut apa yang telah mereka kerjakan? Pembedaan tanpa penyebutan amal menaruh seluruh beratnya pada gambaran, bukan pada catatan. Seluruh beratnya karena itu jatuh pada apa yang terlihat, bukan pada catatan yang dibacakan.