ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ

Tertawa lagi bergembira,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌdhaahikatun mustabsyiratuntertawa lagi bergembira

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. ضَاحِكَةٌdhaahikatunyang tertawa
  2. مُسْتَبْشِرَةٌmustabsyiratunyang berseri

Inti bacaan

Tawa dan seri menggenapi tiga keadaan wajah yang bahagia, tanpa penyebab yang dinyatakan. Pola kata keduanya muncul di delapan ayat, dua kali untuk girang atas sesuatu yang salah.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri atas dua kata sifat, (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) yang berarti "yang tertawa" dan (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyiratun) yang berarti "yang berseri". Keduanya melanjutkan sifat wajah-wajah di 80:38 tanpa kata kerja dan tanpa huruf sambung wa- di antara keduanya. Kata "lagi" dalam terjemahan ditambahkan untuk menyambung dua sifat itu, dan terjemahan memakai "bergembira" untuk kata kedua. Dengan ayat ini wajah golongan pertama mendapat tiga sifat berturut-turut, cerah, tertawa, dan berseri. Susunan dua sifat tanpa wa- dipakai di empat ayat dalam surah ini, yaitu 80:14, 80:16, 80:39, dan 80:42, dan terjemahan keempatnya memakai "lagi".

Akar ض-ح-ك tercatat di 10 ayat. Di lima ayat tertawa datang dari orang yang mengejek orang-orang beriman, meremehkan tanda-tanda Allah, atau bergembira karena tidak ikut berjuang, yaitu 9:82, 23:110, 43:47, 53:60, dan 83:29. Di dua ayat tertawa tidak dicela. Di 11:71 istri Ibrahim tertawa lalu menerima kabar gembira tentang Ishaq, dan di 27:19 Sulaiman (فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا, fa-tabassama dhaahikan min qawlihaa) yang berarti "maka dia tersenyum seraya tertawa karena perkataannya", yaitu perkataan seekor semut di 27:18, lalu berdoa agar diilhami rasa syukur. Di 53:43 tertawa dan menangis disebut sebagai ciptaan Allah. Dua ayat sisanya menyebut tertawa di hari itu, yaitu 80:39 dan 83:34. Kata dengan bentuk yang tertulis di ayat ini tercatat di 80:39 saja.

Kata kedua berasal dari akar ب-ش-ر, yang tercatat di 119 ayat. Akar itu mencakup kata untuk kabar gembira dan juga kata untuk manusia, misalnya di 15:28. Pola yang dipakai di ayat ini, dengan awalan mus-, tercatat di delapan ayat, yaitu 3:170, 3:171, 9:111, 9:124, 15:67, 30:48, 39:45, dan 80:39. Di lima ayat kegembiraan itu terarah kepada karunia Allah, janji-Nya, bertambahnya iman, atau hujan, misalnya (وَيَسْتَبْشِرُونَ, wa-yastabsyiruuna) yang berarti "dan bergirang hati" di 3:170. Di dua ayat lain kegembiraan yang sama terarah kepada hal yang keliru. Di 15:67 penduduk kota datang dengan gembira kepada Lut yang sedang menerima tamu, dan di 39:45 orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat bergembira ketika disebut yang lain selain Allah.

Di 80:39 sebab kegembiraan tidak disebut, dan kedua sifat menggambarkan wajah dari luar, tawa yang terdengar dan terlihat serta seri yang tampak pada rupa. Ayat ini tidak memuat kata kerja yang menunjuk siapa yang membuat wajah itu tertawa, dan tidak memuat keterangan tentang apa yang ditertawakan atau apa yang menggembirakan. Kedua kata berakhiran -atun, sama dengan kata sifat di 80:38.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran golongan pertama. Seluruh gambarannya berupa rupa wajah, cerah, tertawa, dan berseri, tanpa tempat, tanpa nama golongan, dan tanpa perbuatan yang disebut. Di 88:8-16 gambaran yang sejajar dilanjutkan dengan taman dan isinya, sedangkan surah ini berhenti di wajah lalu berpindah ke golongan kedua.

Di 76:10 orang-orang berkata bahwa mereka takut kepada Tuhan mereka akan (يَوْمًا عَبُوسًا, yawman 'abuusan) yang berarti "suatu hari yang penuh kesulitan", dan di 76:11 Allah melindungi mereka dari keburukan hari itu (وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا, wa-laqqaahum nadhratan wa-suruuran) yang berarti "dan memberi mereka keceriaan dan kegembiraan". Ayat itu menyebut pemberinya, Allah, dan sebabnya, rasa takut kepada hari itu selama hidup. Dengan latar itu, tawa di 80:39 dapat dibaca sebagai pemberian, dan orang yang di dunia takut kepada hari yang penuh kesulitan mendapati wajahnya tertawa di hari itu. Surah 80 sendiri tidak menyebut pemberinya, dan sambungan ini dibaca dari 76:11. Di 80:37 setiap orang tersita oleh urusannya, dan di 80:39 ketersitaan itu tidak menghapus tawa. Bagi golongan pertama, urusan yang mencukupi mereka di hari itu terbaca sebagai urusan yang menggembirakan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 53:43 menyebut bahwa Dialah yang menjadikan tertawa dan menangis, dan 53:44 menyusulkan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan. Tawa diletakkan sejajar dengan hidup dan mati, dua perkara yang berada di luar kuasa manusia. Wajah yang tertawa di 80:39 tidak tertawa karena kehendak pemiliknya semata. Tawa itu, seperti tawa dan tangis selama hidup, berasal dari Allah, dan hari itu memperlihatkan kepada siapa tawa itu diberikan.
  • Tertawa berpindah arah di surah 83. Di 83:29 orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang beriman, di 83:30 mereka saling mengedip ketika melewati orang beriman, dan di 83:34 pada hari itu orang-orang beriman menertawakan orang-orang kufar. Surah 80 tidak menyebut apa yang ditertawakan wajah-wajah itu, dan 83:29-34 memperlihatkan satu kemungkinan, yaitu tawa yang dahulu dipakai untuk merendahkan berbalik arah. Ayat 83:36 menutup rangkaian itu dengan pertanyaan apakah orang-orang kufar telah dibalas atas perbuatan mereka.
  • Orang-orang yang tinggal di belakang di 9:81 merasa gembira karena tidak ikut berangkat, dan 9:82 menyusulkan agar mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan atas apa yang mereka usahakan. Tawa di dunia dan tangis sesudahnya dihubungkan dengan usaha. Dengan bacaan itu, tawa di 80:39 pun tidak lepas dari apa yang diusahakan sebelumnya, karena tawa itu datang sesudah urusan setiap orang di 80:37. Allah yang menetapkan tawa dan tangis sebagai balasan, dan 9:82 memperlihatkan bahwa takarannya dapat berbalik dari yang dirasakan di dunia.
  • Kata seakar dan sepola dengan kata kedua di 80:39 dipakai di 3:170 untuk orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, yang di 3:169 disebut hidup di sisi Tuhan mereka, (وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ, wa-yastabsyiruuna bi-lladziina lam yalhaquu bihim min khalfihim) yang berarti "dan bergirang hati terhadap orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang mereka". Kegembiraan itu tertuju kepada orang lain yang masih hidup. Di 80:34-36 setiap orang lari dari keluarganya, sedangkan di 3:170 kata yang sama dipakai untuk gembira yang memikirkan orang lain. Arah kegembiraan golongan pertama di 80:39 tidak disebut, dan 3:170 menunjukkan bahwa kegembiraan semacam itu dapat mencakup orang yang belum tiba.
  • Hujan di 30:48 diturunkan Allah kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki, (إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ, idzaa hum yastabsyiruuna) yang berarti "seketika mereka bergembira". Ayat 30:49 menyebut bahwa sebelumnya mereka benar-benar putus asa, dan 30:50 mengajak melihat jejak rahmat Allah yang menghidupkan bumi sesudah mati, lalu menyebut Dia pula yang menghidupkan orang mati. Kegembiraan karena hujan dipakai sebagai gambaran kebangkitan. Wajah yang berseri di 80:39 berada di ujung gambaran itu, gembira yang datang sesudah hari yang menakutkan, seperti hujan yang turun sesudah orang berputus asa.
  • Hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat di 39:45 menjadi kesal ketika Allah disebut sendirian, dan mereka bergembira ketika disebut yang lain selain Dia. Kata bergembira di sana seakar dan sepola dengan kata kedua di 80:39. Kegembiraan yang sama bentuknya dapat terarah kepada Allah atau kepada selain-Nya, dan hari itu memisahkan keduanya. Ketika Allah disebut sendirian, apakah hati seseorang merasa lapang atau sempit?