ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
Tertawa lagi bergembira,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌdhaahikatun mustabsyiratuntertawa lagi bergembira
Terjemahan per kata (2 kata)
- ضَاحِكَةٌdhaahikatunyang tertawa
- مُسْتَبْشِرَةٌmustabsyiratunyang berseri
Inti bacaan
Ekspresi kebahagiaan yang penuh: 'tertawa lagi bergembira', penggambaran sukacita yang otentik dan tidak tertahan, kontras total dengan kepanikan golongan sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43.
Di 53:43 akar (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis. Jadi tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan, bukan yang muncul sendiri.
Kata (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30.
Jadi akar (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) salah satu yang sering dipakai, dan hampir selalu ia berhubungan dengan kabar gembira. Bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali.
Bentuk (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) menyatakan orang yang mencari atau menerima kabar gembira dengan sungguh-sungguh. Kadarnya terbawa di dalam polanya, tanpa satu kata penegas.
Perhatikan urutan dua sifat di ayat ini. Yang disebut lebih dulu tertawa, yang terlihat dari luar. Yang menyusul kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam.
Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9, yang menyebut gerak badan lebih dulu lalu keadaan hati. Dua kali di surah ini yang tampak disebut sebelum yang tersembunyi.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini berulang kali menaruh yang terlihat di depan, tanpa pernah berhenti pada yang terlihat saja.
Kata (ضَاحِكَةٌ, dhaahikatun) dan (مُسْتَبْشِرَةٌ, mustabsyirah) sama-sama berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokok di 80:38. Bentuknya ditentukan bendanya walau bendanya berbentuk jamak.
Rangkaian (ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ, dhaahikatun mustabsyirah) seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Tiga kali di surah ini sebuah ayat penuh berdiri cuma sebagai lanjutan sifat.
Perhatikan bahwa dua ayat tentang golongan pertama tidak menyebut satu pun perbuatan mereka di dunia. Yang disebut cuma keadaan wajah mereka pada hari itu.
Ketiadaan itu berlaku juga bagi golongan kedua di 80:40 dan 80:41. Baru di 80:42 keduanya diberi sebutan, dan sebutan itu cuma dikenakan kepada golongan yang kedua.
Perhatikan pula bahwa dua sifat di ayat ini keduanya menyatakan kegembiraan, tetapi dengan cara yang berbeda. Yang satu gerak wajah, yang lain keadaan hati.
Susunan itu melengkapi sifat di 80:38, yang menyebut cahaya pada wajah. Jadi tiga sifat diberikan kepada golongan pertama: bersinar, tertawa, dan gembira menerima kabar.
Tiga sifat itu berjalan dari luar ke dalam. Yang pertama terlihat dari jauh, yang kedua dari dekat, dan yang ketiga cuma diketahui pemiliknya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan dua sifat bagi wajah golongan pertama: tertawa dan gembira menerima kabar. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43.
Di 53:43 akar itu dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis, sehingga tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan dan bukan yang muncul sendiri.
Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30. Jadi akar itu salah satu yang sering dipakai dan hampir selalu berhubungan dengan kabar gembira, sedangkan bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali.
Urutan dua sifat di ayat ini menyebut tertawa lebih dulu, yaitu yang terlihat dari luar, lalu kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam. Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9.
Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Dua sifat di ayat ini keduanya menyatakan kegembiraan, tetapi yang satu gerak wajah dan yang lain keadaan hati. Bersama sifat di 80:38, tiga sifat itu berjalan dari luar ke dalam: yang pertama terlihat dari jauh, yang kedua dari dekat, dan yang ketiga cuma diketahui pemiliknya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 10 ayat, antara lain 9:82, 11:71, 27:19, 43:47, dan 53:43. Di 53:43 akar itu dipakai di dalam pernyataan bahwa Allah yang menjadikan tertawa dan menangis. Jadi tertawa disebut sebagai sesuatu yang diberikan, bukan yang muncul sendiri, dan keadaan wajah pada hari itu pun bukan hasil usaha pemiliknya. Sesuatu yang di tempat lain disebut sebagai pemberian di sini muncul tanpa disebut asalnya. Keadaan wajah pada hari itu karena itu bukan hasil usaha pemiliknya sendiri.
- Kata keduanya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 119 ayat, antara lain 2:25, 3:170, 10:64, 39:17, dan 41:30. Jadi akar itu salah satu yang sering dipakai dan hampir selalu berhubungan dengan kabar gembira, sedangkan bentuk yang di ayat ini justru cuma sekali. Yang paling sering dijanjikan dinyatakan dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuk yang tidak pernah diulang untuk akar yang sering muncul menandai keadaan yang tidak biasa. Keadaan yang tidak punya pembanding memang tidak bisa dinyatakan dengan bentuk yang biasa.
- Bentuk kata keduanya menyatakan orang yang mencari atau menerima kabar gembira dengan sungguh-sungguh. Kadarnya terbawa di dalam polanya, tanpa satu kata penegas dari Allah. Sebuah kadar yang masuk lewat bentuk tidak bisa dikurangi dengan membaca cepat, karena ia melekat pada katanya sendiri. Kadar yang melekat pada bentuk kata tidak bisa dikurangi oleh cara membaca mana pun. Pembacanya menerima kesungguhan itu tanpa pernah membaca satu pun kata yang menyebutnya.
- Urutan dua sifat di ayat ini menyebut tertawa lebih dulu, yaitu yang terlihat dari luar, lalu kegembiraan menerima kabar, yang berasal dari dalam. Urutan itu sama dengan urutan di 80:8 dan 80:9. Dua kali di surah ini Allah menaruh yang tampak di depan, tanpa pernah berhenti pada yang tampak saja. Yang tampak selalu disebut lebih dulu, tetapi tidak pernah dibiarkan berdiri sendirian. Yang tersembunyi selalu menyusul, dan tidak pernah ditinggalkan begitu saja.
- Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua sifat tanpa satu kata kerja pun, sama seperti 80:14 dan 80:16. Tiga kali di surah ini sebuah ayat penuh berdiri cuma sebagai lanjutan sifat dari ayat sebelumnya. Kedua katanya juga berbentuk perempuan tunggal mengikuti kata pokok di 80:38, walau bendanya berbentuk jamak. Ayat yang cuma berupa sifat memaksa pembacanya menengok ke ayat sebelumnya untuk melengkapinya. Ayat yang cuma berupa sifat menolak dibaca sendirian, dan itu berulang tiga kali.
- Dua ayat tentang golongan pertama tidak menyebut satu pun perbuatan mereka di dunia. Yang disebut Allah cuma keadaan wajah mereka pada hari itu, dan ketiadaan itu berlaku juga bagi golongan kedua di 80:40 dan 80:41. Apa yang dinyatakan sebuah penutup ketika dua golongan dibedakan tanpa satu kalimat pun yang menyebut apa yang telah mereka kerjakan? Pembedaan tanpa penyebutan amal menaruh seluruh beratnya pada gambaran, bukan pada catatan. Seluruh beratnya karena itu jatuh pada apa yang terlihat, bukan pada catatan yang dibacakan.