Ayat 80:40
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin 'alayhaa ghabaratundan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- غَبَرَةٌghabaratundebu
Inti bacaan
Kontras negatif yang menyertai: 'dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu', gambaran fisik kesuraman yang menandai kondisi golongan yang berbeda nasib. Tak terdengar jerit, tak terlihat air mata; sunyi justru itulah beratnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Di 75:24 kata itu juga membuka golongan kedua, persis seperti di sini.
Kesamaan itu patut dicatat. Dua surah memakai (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) untuk berpindah dari golongan pertama ke golongan kedua, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya.
Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung.
Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Susunan yang merangkai membuat keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah. Susunan yang memisahkan akan membuat keduanya terbaca sebagai dua gambaran yang berdiri sendiri.
Kata (غَبَرَةٌ, ghabarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135.
Di empat tempat itu akar (غَبَرَةٌ, ghabarah) dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan. Jadi akar itu biasanya menamai yang tertinggal, bukan debu.
Perbandingan itu menarik. Bunyi yang biasanya menamai orang yang tertinggal di sini menamai debu yang menempel di wajah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.
Kata (عَلَيْهَا, 'alaihaa) memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas. Debu itu dilukiskan menempel di atas wajah, bukan menyatu dengannya.
Perhatikan bahwa golongan kedua dilukiskan dengan sesuatu yang menutupi, sedangkan golongan pertama dengan sesuatu yang memancar. Yang satu tertutup, yang lain terbuka.
Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang menyatakannya cuma pilihan kata di dua pasang ayat yang berdampingan.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat kepada satu hari yang sama. Pengulangan itu satu-satunya penanda bahwa keduanya berdiri bersamaan.
Ayat ini membuka dua ayat terakhir tentang golongan kedua. Sesudahnya, 80:41 menambah satu lapis lagi, dan 80:42 memberi sebutan bagi mereka.
Perhatikan pula bahwa golongan kedua tidak dilukiskan menangis atau berteriak. Yang disebut cuma debu dan kegelapan, yaitu dua hal yang diam.
Pilihan itu sejalan dengan gambaran di 80:37, yang menyebut urusan yang menyita seluruh perhatian. Orang yang perhatiannya habis tidak sempat berteriak.
Kesunyian itu membuat gambarannya lebih berat daripada gambaran yang penuh suara. Yang tidak bersuara tidak bisa didengar, dan yang tidak bisa didengar tidak bisa ditolong.
Susunan itu juga sejalan dengan seluruh penutup surahnya. Empat ayat terakhir tidak memuat satu suara pun, tidak tangis dan tidak seruan, padahal ia dibuka sebuah suara yang memekakkan di 80:33.
Tafsiran
Ayat ini berpindah ke golongan kedua: wajah yang berdebu. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40, dan di 75:24 ia juga membuka golongan kedua persis seperti di sini.
Kata pertamanya dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung, sehingga keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135. Di empat tempat itu akar itu dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan, sehingga ia biasanya menamai yang tertinggal dan bukan debu.
Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas, sehingga debu itu dilukiskan menempel di atas wajah dan bukan menyatu dengannya.
Kata keduanya diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat kepada satu hari yang sama. Golongan kedua tidak dilukiskan menangis atau berteriak; yang disebut cuma debu dan kegelapan, yaitu dua hal yang diam. Kesunyian itu sejalan dengan gambaran di 80:37, karena orang yang perhatiannya habis tidak sempat berteriak.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Di 75:24 Allah juga memakainya untuk membuka golongan kedua, persis seperti di sini. Dua surah memakai kata yang sama untuk berpindah dari golongan pertama ke golongan kedua, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya dengan satu kalimat pun. Dua surah yang memakai satu kata untuk berpindah golongan tidak pernah saling menyebut. Dua surah itu tidak pernah menyebut satu sama lain, dan pembacanya yang menaruh keduanya berdampingan.
- Kata pertamanya dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai Allah, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung. Susunan yang merangkai membuat keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah, dan bukan sebagai dua gambaran yang berdiri sendiri-sendiri. Susunan yang merangkai menyatukan dua golongan ke dalam satu gambaran yang terbelah. Satu huruf sambung cukup untuk menyatukan dua gambaran yang paling berlawanan.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135. Di empat tempat itu akar itu dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan. Jadi bunyi yang biasanya menamai yang tertinggal di sini menamai debu yang menempel di wajah. Bunyi yang biasanya menamai yang tertinggal di sini menamai apa yang menempel di wajah. Yang tertinggal di belakang dan yang tertinggal di wajah dinamai dengan bunyi yang sama.
- Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas, sehingga debu itu dilukiskan Allah menempel di atas wajah dan bukan menyatu dengannya. Sesuatu yang menempel masih terbaca sebagai tambahan pada wajahnya, bukan sebagai wajahnya sendiri. Perbedaan sehalus itu dibawa cuma oleh satu huruf. Sesuatu yang menempel masih terbaca sebagai tambahan, bukan sebagai bagian dari dirinya. Apa yang menempel masih bisa dibedakan dari yang ditempelinya, dan itu bukan hal kecil.
- Golongan kedua dilukiskan Allah dengan sesuatu yang menutupi, sedangkan golongan pertama dengan sesuatu yang memancar. Yang satu tertutup, yang lain terbuka. Perbandingan itu tidak dinyatakan dengan satu kalimat pun, dan yang menyatakannya cuma pilihan kata di dua pasang ayat yang berdampingan. Yang tertutup dan yang memancar disandingkan tanpa satu kata pembanding di antaranya. Dua arah yang berlawanan dibiarkan berdampingan, dan pembacanya sendiri yang menimbangnya.
- Kata keduanya diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat Allah kepada satu hari yang sama. Pengulangan itu satu-satunya penanda bahwa keduanya berdiri bersamaan, dan tidak ada satu kalimat pun yang menyatakannya. Apa yang dikerjakan sebuah pengulangan ketika ia menanggung seluruh beban keterangan yang tidak pernah dituliskan? Pengulangan satu kata cukup untuk menyatakan bahwa keduanya berdiri di waktu yang sama. Kebersamaan waktu itu tidak pernah diucapkan, dan cuma satu kata yang menanggungnya.
Ayat 80:41
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
Diliputi kegelapan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌtarhaquhaa qataratundiliputi kegelapan
Terjemahan per kata (2 kata)
- تَرْهَقُهَاtarhaquhaamenutupinya
- قَتَرَةٌqataratunkegelapan
Inti bacaan
Kelengkapan gambaran kesuraman: 'diliputi kegelapan', penutup deskripsi kondisi yang menyedihkan, kegelapan yang menyelimuti sebagai simbol keputusasaan total.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 10:26, 10:27, 18:73, 68:43, dan 72:13.
Di 10:26 dan 10:27 akar (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) dipakai di dua ayat berurutan yang berhadapan. Di 10:26 dinyatakan wajah orang yang berbuat baik tidak diliputi kehinaan, dan di 10:27 wajah yang lain diliputi kehinaan.
Susunan itu sama persis dengan surah ini. Dua golongan, dua keadaan wajah, dan satu akar yang dipakai untuk yang kedua. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (قَتَرَةٌ, qatarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 5 ayat: 6:141, 10:26, 17:100, 25:67, dan 80:41.
Perhatikan bahwa 10:26 memuat kedua akar itu sekaligus, yaitu akar (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) dan akar (قَتَرَةٌ, qatarah). Jadi satu ayat lain di Al-Qur'an memakai pasangan akar yang sama dengan ayat ini.
Kesamaan itu jarang. Akar (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) dan akar (قَتَرَةٌ, qatarah) sama-sama tidak sering dipakai, dan keduanya bertemu di dua tempat saja. Di 10:26 keduanya dipakai untuk menyatakan apa yang tidak menimpa wajah orang yang berbuat baik.
Jadi yang di 10:26 dinyatakan tidak akan terjadi di sini dinyatakan terjadi. Dua ayat itu berlawanan isinya dan sejajar susunannya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkannya.
Kata (تَرْهَقُهَا, tarhaquhaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata sesudahnya. Bentuknya ditentukan pelakunya, bukan sasarannya.
Kata (قَتَرَةٌ, qatarah) berdiri sebagai pelaku kata kerja di depannya. Jadi kegelapan itu disebut sebagai yang meliputi, bukan yang diliputi.
Perhatikan bahwa golongan kedua diberi dua lapis, yaitu debu di 80:40 dan kegelapan di ayat ini. Golongan pertama juga diberi dua lapis, yaitu berseri dan tertawa gembira.
Kesetaraan itu berlaku di seluruh surahnya. Dua golongan selalu diberi jumlah ayat dan jumlah sifat yang sama, dan tidak satu pun dilebihkan ruangnya.
Ayat ini menutup gambaran dua golongan. Sesudahnya cuma tersisa satu ayat, dan ayat itu memberi sebutan bagi golongan kedua.
Perhatikan pula bahwa dua lapis pada golongan kedua sama-sama datang dari luar. Debu menempel, kegelapan meliputi. Tidak satu pun disebut keluar dari dirinya.
Bandingkan dengan golongan pertama. Sinar, tertawa, dan gembira semuanya memancar dari dalam. Dua golongan itu dilukiskan dengan arah yang berlawanan.
Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Yang menyatakannya cuma pilihan kata di empat ayat terakhir, dan pembacanya sendiri yang harus melihatnya.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan lapisan kedua bagi golongan itu: kegelapan yang meliputi. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 10 ayat, antara lain 10:26, 10:27, 18:73, 68:43, dan 72:13.
Di 10:26 dan 10:27 akar itu dipakai di dua ayat berurutan yang berhadapan: di 10:26 wajah orang yang berbuat baik dinyatakan tidak diliputi kehinaan, dan di 10:27 wajah yang lain diliputi kehinaan. Susunan itu sama persis dengan surah ini.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 5 ayat: 6:141, 10:26, 17:100, 25:67, dan 80:41. Jadi 10:26 memuat kedua akar itu sekaligus, dan di sana keduanya dipakai untuk menyatakan apa yang tidak menimpa wajah orang yang berbuat baik.
Yang di 10:26 dinyatakan tidak akan terjadi di sini dinyatakan terjadi. Dua ayat itu berlawanan isinya dan sejajar susunannya.
Golongan kedua diberi dua lapis, yaitu debu di 80:40 dan kegelapan di ayat ini, sama seperti golongan pertama yang juga diberi dua lapis. Dua lapis pada golongan kedua sama-sama datang dari luar: debu menempel dan kegelapan meliputi, dan tidak satu pun disebut keluar dari dirinya. Bandingkan dengan golongan pertama, yang sinarnya, tertawanya, dan kegembiraannya semua memancar dari dalam.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 10 ayat, antara lain 10:26, 10:27, 18:73, 68:43, dan 72:13. Di 10:26 dan 10:27 akar itu dipakai di dua ayat berurutan yang berhadapan: yang satu menyatakan wajah orang berbuat baik tidak diliputi kehinaan, dan yang lain menyatakan wajah lain diliputi kehinaan. Susunan itu sama persis dengan surah ini. Dua ayat berurutan yang berhadapan di surah lain memakai susunan yang sama persis dengan ini. Sebuah pola yang berulang di dua surah tidak pernah dinamai sebagai pola.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 5 ayat: 6:141, 10:26, 17:100, 25:67, dan 80:41. Jadi 10:26 memuat kedua akar di ayat ini sekaligus. Dua akar yang keduanya tidak sering dipakai bertemu di dua tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menandai pertemuan itu dengan satu kalimat pun. Dua akar yang sama-sama jarang bertemu di dua tempat saja, dan pertemuan itu tidak ditandai. Pertemuan dua kata langka di dua tempat saja sulit dibaca sebagai kebetulan.
- Di 10:26 kedua akar itu dipakai Allah untuk menyatakan apa yang tidak menimpa wajah orang yang berbuat baik. Jadi yang di sana dinyatakan tidak akan terjadi di sini dinyatakan terjadi. Dua ayat itu berlawanan isinya dan sejajar susunannya, dan yang menghubungkannya cuma dua akar yang sama-sama jarang dipakai. Apa yang ditiadakan di satu ayat ditetapkan di ayat lain dengan kosakata yang sama. Peniadaan dan penetapan memakai kosakata yang sama, dan cuma arahnya yang berbeda.
- Kata terakhirnya berdiri sebagai pelaku kata kerja di depannya, sehingga kegelapan itu disebut Allah sebagai yang meliputi dan bukan yang diliputi. Wajah itu tidak dilukiskan menjadi gelap; ia dilukiskan didatangi kegelapan. Perbedaan itu menaruh yang menimpa di luar dirinya, dan susunan katanya sendiri yang menyatakannya. Sesuatu yang datang dari luar menaruh sebabnya di luar diri orang yang ditimpanya. Sebab yang berada di luar diri tidak membuat akibatnya jadi lebih ringan.
- Golongan kedua diberi dua lapis, yaitu debu di 80:40 dan kegelapan di ayat ini, sedangkan golongan pertama juga diberi dua lapis, yaitu berseri dan tertawa gembira. Kesetaraan itu berlaku di seluruh surahnya: dua golongan selalu diberi Allah jumlah ayat dan jumlah sifat yang sama, dan tidak satu pun dilebihkan ruangnya. Kesetaraan jumlah sifat berlaku di seluruh surahnya, bukan cuma di bagian penutupnya. Kesetaraan yang berlaku di seluruh surah adalah kesetaraan yang memang dirancang.
- Ayat ini menutup gambaran dua golongan, dan sesudahnya cuma tersisa satu ayat yang memberi sebutan bagi golongan kedua. Kata pertamanya berbentuk perempuan tunggal mengikuti kata sesudahnya, sehingga bentuknya ditentukan pelakunya dan bukan sasarannya. Apa yang tersisa untuk dikatakan sesudah dua golongan dilukiskan seluruhnya lewat wajah mereka saja? Gambaran yang selesai lewat wajah saja tidak menyisakan ruang untuk pembelaan lisan. Wajah yang sudah berbicara membuat lisan kehilangan gunanya pada hari itu.
Ayat 80:42
أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ
Mereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُulaa'ika humu l-kafaratu l-fajaratumereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka
Terjemahan per kata (4 kata)
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الْكَفَرَةُl-kafaratuorang-orang kafir
- الْفَجَرَةُl-fajaratuorang-orang durhaka
Inti bacaan
Penutup 'Abasa dengan klasifikasi tegas: 'mereka itulah orang-orang kafir lagi pendurhaka', penutup surah yang mengidentifikasi golongan wajah suram sebelumnya, kombinasi penolakan keyakinan dan perilaku bermasalah sebagai definisi kategori ini.
Penjelasan pilihan kata
'Ulaa'ika' (jauh, jamak) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'mereka itulah': draf sudah tepat.
Kata (الْكَفَرَةُ, al-kafarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 465 ayat, sehingga ia salah satu akar yang paling sering muncul, sedangkan bentuk yang di ayat ini cuma sekali.
Akar (الْكَفَرَةُ, al-kafarah) muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 dan 80:42. Di 80:17 akar itu dipakai untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan di sini untuk menamai golongan kedua.
Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya. Al-Qur'an tidak menandai lingkaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) juga muncul 1 kali. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14.
Di 82:14 akar (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) dipakai untuk orang-orang durhaka yang berada di neraka, dan di 82:13 orang-orang berbakti disebut berada di kenikmatan. Susunan dua golongan itu sama dengan surah ini.
Perhatikan bahwa akar lawan (الْفَجَرَةُ, al-fajarah) yang dipakai di 82:13 juga muncul di surah ini, yaitu di 80:16 untuk para pemegang lembaran. Jadi dua surah memakai pasangan akar yang sama, tetapi menaruhnya di tempat yang berbeda.
Di surah 82 keduanya dipakai untuk dua golongan manusia. Di surah ini yang satu dipakai untuk pemegang wahyu dan yang lain untuk golongan yang tercela.
Kata (هُمُ, humu) adalah kata ganti pemisah yang menegaskan. Susunannya membatasi sebutan itu kepada mereka saja, sehingga tidak ada pihak lain yang tercakup.
Kata (أُولَٰئِكَ, ulaa-ika) menunjuk golongan yang disebut di 80:40 dan 80:41. Jadi tiga ayat terakhir terikat, dan golongan itu tidak disebut ulang.
Perhatikan bahwa golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun. Dua ayat melukiskan wajah mereka, dan tidak ada satu nama yang dikenakan kepada mereka.
Ketimpangan itu satu-satunya di surah ini. Di seluruh bagian lain dua golongan selalu diberi ruang yang setara, dan di ayat terakhir cuma satu yang diberi nama.
Surah ini ditutup dengan dua sebutan yang keduanya tidak pernah dipakai lagi di tempat lain. Yang membuka surah juga sebuah kata dari akar yang cuma hidup di tiga ayat.
Perhatikan pula bahwa surah ini tidak ditutup dengan ancaman maupun janji. Ayat terakhirnya cuma memberi nama, dan namanya berupa dua sebutan yang berdampingan.
Susunan itu meninggalkan pembacanya tanpa kalimat penutup yang melegakan. Tidak ada seruan, tidak ada ajakan, dan tidak ada penghiburan bagi golongan pertama.
Yang tertinggal cuma pembagian yang sudah selesai. Sebuah surah yang dibuka dengan seseorang yang memilih siapa yang layak diperhatikan ditutup dengan pembagian yang tidak lagi bisa dipilih siapa pun.
Tafsiran
Ayat penutup ini memberi sebutan bagi golongan kedua. Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 465 ayat, sehingga bentuk yang di ayat ini cuma sekali untuk akar yang paling sering muncul.
Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan 80:42 untuk menamai golongan kedua. Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14. Di 82:14 akar itu dipakai untuk orang durhaka yang berada di neraka, dan di 82:13 orang berbakti disebut berada di kenikmatan, sedangkan akar yang dipakai di 82:13 juga muncul di 80:16 untuk para pemegang lembaran.
Kata keduanya adalah kata ganti pemisah yang menegaskan, sehingga sebutan itu dibatasi kepada mereka saja.
Golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun, dan ketimpangan itu satu-satunya di surah ini. Surah ini tidak ditutup dengan ancaman maupun janji; ayat terakhirnya cuma memberi nama. Sebuah surah yang dibuka dengan seseorang yang memilih siapa yang layak diperhatikan ditutup dengan pembagian yang tidak lagi bisa dipilih siapa pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 465 ayat. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 80:17 untuk menyatakan kadar kekufuran manusia, dan 80:42 untuk menamai golongan kedua. Jadi surah ini dibuka celaan atas kekufuran dan ditutup dengan sebutan bagi yang menanggungnya, dan Al-Qur'an tidak menandai lingkaran itu. Celaan di awal dan sebutan di akhir dinamai dengan akar yang sama tanpa satu penanda. Empat puluh dua ayat berdiri di antara dua kemunculan itu, dan keduanya tetap terhubung.
- Kata terakhirnya juga muncul 1 kali, dan akarnya dipakai Allah di 21 ayat, antara lain 2:60, 12:18, 17:78, 75:5, dan 82:14. Di 82:14 akar itu menamai orang durhaka, dan di 82:13 akar yang lain menamai orang berbakti. Akar kedua itu juga muncul di 80:16 untuk para pemegang lembaran. Jadi dua surah memakai pasangan akar yang sama, tetapi menaruhnya di tempat yang berbeda. Pasangan akar yang sama di dua surah ditaruh di tempat berbeda, dan itu mengubah artinya. Tempat sebuah kata di dalam susunan menentukan artinya sebanyak katanya sendiri.
- Kata keduanya adalah kata ganti pemisah yang menegaskan, dan susunannya membatasi sebutan itu kepada mereka saja. Allah tidak menyisakan pihak lain yang tercakup di dalamnya. Penegasan itu masuk lewat satu kata ganti, dan tanpa kata itu kalimatnya masih bisa dibaca lebih luas daripada yang dimaksudkan. Kata ganti pemisah menutup kemungkinan pembacaan yang lebih luas daripada yang dimaksudkan. Satu kata kecil menentukan seberapa jauh sebuah sebutan boleh dibentangkan.
- Kata pertamanya menunjuk golongan yang disebut di 80:40 dan 80:41, sehingga tiga ayat terakhir terikat dan golongan itu tidak disebut ulang. Allah membiarkan pembacanya membawa sebutan itu melintasi dua ayat. Penutup yang bergantung pada ayat sebelumnya menolak dibaca sendirian, sama seperti hampir seluruh bagian surah ini. Penutup yang bergantung pada ayat sebelumnya menolak dibaca sendirian, seperti hampir seluruh surahnya. Sebuah penutup yang tidak bisa berdiri sendiri menuntut seluruh surahnya dibaca utuh.
- Golongan pertama tidak diberi satu sebutan pun. Dua ayat melukiskan wajah mereka, dan Allah tidak mengenakan satu nama kepada mereka. Ketimpangan itu satu-satunya di surah ini, karena di seluruh bagian lain dua golongan selalu diberi ruang yang setara. Apa yang dinyatakan sebuah penutup ketika cuma golongan yang tercela yang diberi nama, sedangkan yang lain dibiarkan tanpa sebutan? Satu golongan diberi nama dan yang lain tidak, dan ketimpangan itu berdiri di ayat terakhir. Yang tidak diberi nama tidak berarti tidak dikenali, dan diamnya justru menonjol.
- Surah ini ditutup dengan dua sebutan yang keduanya tidak pernah dipakai lagi di tempat lain, dan yang membuka surah juga sebuah kata dari akar yang cuma hidup di tiga ayat. Jadi Allah memilih kosakata yang tidak ada bandingnya di dua ujung surahnya. Yang paling awal dan yang paling akhir sama-sama tidak bisa dibandingkan dengan ayat mana pun. Kosakata yang tidak ada bandingnya dipilih untuk dua ujung surahnya, awal dan akhir sekaligus. Dua ujung yang sama-sama tanpa banding menandai surah yang tidak menyerupai surah lain.