وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ

Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin 'alayhaa ghabaratundan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  4. غَبَرَةٌghabaratundebu

Inti bacaan

Huruf wa- menandai pergantian ke kelompok lain, yang wajahnya berlapis debu. Selain di sini, akarnya dipakai untuk perempuan yang ditinggal bersama kaumnya, misalnya 7:83.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka (وَوُجُوهٌ, wa-wujuuhun) yang berarti "dan wajah-wajah", lalu (يَوْمَئِذٍ, yawma'idzin) yang berarti "pada hari itu", (عَلَيْهَا, 'alayhaa) yang berarti "atasnya", dan (غَبَرَةٌ, ghabaratun) yang berarti "debu". Huruf sambung wa- di awal ayat menandai golongan kedua, sedangkan wajah-wajah golongan pertama di 80:38 disebut tanpa wa-. Susunan wajah-wajah dengan wa- tercatat di dua ayat, 75:24 dan 80:40, dan keduanya membuka golongan kedua. Di surah 88 golongan kedua disebut lebih dahulu, di 88:2, dan kedua golongan dibuka tanpa wa-.

Di dua surah lain wajah golongan kedua diberi kata sifat. Di 75:24 wajah itu (بَاسِرَةٌ, baasiratun) yang berarti "muram", dan akar kata itu, ب-س-ر, tercatat di dua ayat saja, 74:22 dan 75:24. Di 88:2 wajah itu (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) yang berarti "tertunduk", dari akar خ-ش-ع yang tercatat di 16 ayat, dan di 23:2 akar yang sama dipakai untuk orang-orang yang khusyuk dalam salat. Di 80:40 wajah golongan kedua tidak diberi kata sifat, dan yang disebut berupa debu di atasnya.

Susunan kalimatnya juga berubah. Di 80:38 kata sifat langsung menyifati wajah, sedangkan di sini ada keterangan tempat, 'alayhaa, dan debu berada di atas wajah itu. Wajah golongan pertama digambarkan dengan sifat yang ada padanya, dan wajah golongan kedua digambarkan dengan sesuatu yang menempel di atasnya. Akhiran -haa pada keterangan itu berbentuk tunggal perempuan dan merujuk kepada wajah-wajah.

Kata ghabaratun tercatat di 80:40 saja. Akarnya, غ-ب-ر, tercatat di delapan ayat, dan tujuh di antaranya memakai bentuk lain untuk istri Lut, yang disebut (مِنَ الْغَابِرِينَ, mina l-ghaabiriina) yang berarti "termasuk orang-orang yang tertinggal", misalnya di 7:83, 15:60, dan 29:33. Dalam ketujuh ayat itu akarnya menandai tertinggal, dan di 80:40 menandai debu. Karena bentuk ini tidak dipakai di ayat lain, arti debu tidak dapat diuji lewat korpus.

Al-Qur'an memakai kata lain untuk debu di tempat lain. Di 100:4 debu yang diterbangkan disebut (نَقْعًا, naq'an) yang berarti "debu", dan di 4:43 orang yang tidak mendapat air diminta bertayamum dengan (صَعِيدًا طَيِّبًا, sha'iidan thayyiban) yang berarti "debu yang baik". Kata di 80:40 berbeda dari keduanya, dan tidak ada ayat lain yang memakai kata itu untuk dibandingkan.

Terjemahan ini memakai "tertutup debu" untuk ungkapan debu di atasnya. Kata tertutup tidak tertulis sebagai kata kerja dalam bahasa Arabnya, dan keterangan 'alayhaa menyatakan letak debu itu. Keterangan yawma'idzin muncul untuk ketiga kalinya dalam surah ini, sesudah 80:37 dan 80:38.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan kedua dengan wajah yang tertutup debu, dan 80:41 menambahkan lapisan kedua di atasnya. Golongan pertama digambarkan dengan tiga sifat yang memancar dari wajah, sedangkan golongan kedua dengan dua perkara yang menutupinya.

Di 3:106 pembagian yang sama disebut (يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ, yawma tabyadhdhu wujuuhun wa-taswaddu wujuuhun) yang berarti "pada hari ketika ada wajah yang memutih dan ada wajah yang menghitam", dan pemilik wajah yang menghitam langsung ditanya (أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ, a-kafartum ba'da iimaanikum) yang berarti "apakah kalian kufur setelah beriman?". Di 39:60 wajah yang menghitam dikaitkan dengan orang-orang yang berdusta kepada Allah. Ketiga ayat itu memakai wajah sebagai tempat keadaan pemiliknya terlihat. Debu di 80:40 tidak diberi warna, sedangkan 3:106 dan 39:60 menyebut warna hitam. Orang-orang yang di 80:34-36 lari dari keluarganya tidak disebut termasuk golongan mana, dan 80:38-42 memperlihatkan bahwa pelarian itu berakhir di salah satu dari dua golongan wajah. Dalam surah ini asal debu itu tidak disebut, dan ayatnya menyebut letaknya di atas wajah. Surah 80 menunda penyebutan sebabnya sampai 80:42, sehingga pembaca lebih dahulu melihat wajahnya, lalu diberi tahu siapa pemiliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Orang yang tidak mendapat air di 4:43 diminta (فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ, fa-tayammamuu sha'iidan thayyiban fa-msahuu bi-wujuuhikum) yang berarti "maka bertayamumlah dengan debu yang baik, lalu usaplah wajah kalian". Debu diusapkan ke wajah sebagai persiapan salat, atas perintah Allah. Di 80:40 wajah juga tertutup debu, dengan kata yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Debu yang diusapkan dengan sengaja karena menaati Allah berlainan dengan debu yang menempel tanpa dikehendaki di hari itu. Ayat 4:43 menempatkan debu dan wajah dalam ketaatan, dan 80:40 menempatkannya dalam keadaan hari itu.
  • Akar kata debu di ayat ini dipakai tujuh kali untuk istri Lut. Di 7:83 Allah menyelamatkan Lut dan keluarganya (إِلَّا امْرَأَتَهُ, illaa mra'atahu) yang berarti "kecuali istrinya", dan dia termasuk orang-orang yang tertinggal. Di 80:34-36 orang lari meninggalkan keluarganya, dan di 7:83 seorang istri tertinggal ketika keluarganya diselamatkan. Tertinggal dan debu tercatat di bawah akar yang sama. Kedekatan dengan keluarga yang diselamatkan tidak membawa istri itu keluar, dan wajah yang tertutup debu di 80:40 pun berasal dari keadaan yang dibawa masing-masing.
  • Orang-orang di 67:25 bertanya kapan janji itu datang, sambil meminta bukti kebenaran. Di 67:27, ketika mereka melihatnya sudah dekat, wajah orang-orang yang kufur menjadi muram, dan dikatakan kepada mereka (وَقِيلَ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَدَّعُونَ, wa-qiila haadzaa lladzii kuntum bihi tadda'uuna) yang berarti "dan dikatakan, inilah yang dahulu kalian minta". Wajah berubah pada saat yang ditanyakan itu tiba. Debu di 80:40 dapat dibaca bersama ayat itu sebagai rupa wajah orang yang dahulu menganggap hari itu jauh dan menjadikannya bahan tantangan.
  • Orang-orang yang rukuk dan sujud mencari karunia Allah dilukiskan di 48:29 (سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ, siimaahum fii wujuuhihim min atsari s-sujuudi) yang berarti "tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud". Sebaliknya, di 68:42-43 orang-orang diseru bersujud di hari itu dan tidak mampu, pandangan mereka tertunduk dan kehinaan meliputi mereka, karena dahulu mereka diseru bersujud ketika masih sehat. Kedua ayat itu menempatkan jejak sujud atau penolakannya pada wajah dan pandangan. Debu di 80:40 tidak disebut sebabnya, dan kedua ayat itu memperlihatkan bahwa rupa wajah di hari itu dapat berhubungan dengan apa yang dikerjakan wajah itu selama hidup.
  • Ayat 20:111 menyebut (وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ, wa-'anati l-wujuuhu li-l-hayyi l-qayyuumi) yang berarti "dan wajah-wajah tunduk di hadapan Yang Hidup lagi Yang Menegakkan", dan ayat itu ditutup dengan kerugian orang yang membawa kezaliman. Di hari itu semua wajah tunduk kepada Allah, baik yang cerah maupun yang tertutup debu. Perbedaan kedua golongan terletak pada apa yang dibawa masing-masing, dan 20:111 menyebutnya kezaliman. Kalau di hari itu semua wajah tunduk, ketundukan mana yang masih dapat dipilih sekarang?
  • Para pendosa di 55:41 dikenali dengan tanda-tanda mereka, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya, dan 55:39 menyebut bahwa pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. Pengenalan itu tidak memerlukan pertanyaan, karena tandanya tampak. Debu di 80:40 dan kegelapan di 80:41 berfungsi serupa, sebagai tanda yang terlihat pada wajah sebelum nama golongannya disebut di 80:42. Allah memperlihatkan keadaan setiap orang pada wajahnya, bagian tubuh yang selama hidup dilihat orang lain setiap hari.