وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ

Dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌwa-wujuuhun yawma'idzin 'alayhaa ghabaratundan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَوُجُوهٌwa-wujuuhundan wajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  4. غَبَرَةٌghabaratundebu

Inti bacaan

Kontras negatif yang menyertai: 'dan wajah-wajah pada hari itu tertutup debu', gambaran fisik kesuraman yang menandai kondisi golongan yang berbeda nasib. Tak terdengar jerit, tak terlihat air mata; sunyi justru itulah beratnya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Di 75:24 kata itu juga membuka golongan kedua, persis seperti di sini.

Kesamaan itu patut dicatat. Dua surah memakai (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) untuk berpindah dari golongan pertama ke golongan kedua, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya.

Kata (وَوُجُوهٌ, wa wujuuh) dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung.

Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Susunan yang merangkai membuat keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah. Susunan yang memisahkan akan membuat keduanya terbaca sebagai dua gambaran yang berdiri sendiri.

Kata (غَبَرَةٌ, ghabarah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135.

Di empat tempat itu akar (غَبَرَةٌ, ghabarah) dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan. Jadi akar itu biasanya menamai yang tertinggal, bukan debu.

Perbandingan itu menarik. Bunyi yang biasanya menamai orang yang tertinggal di sini menamai debu yang menempel di wajah. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.

Kata (عَلَيْهَا, 'alaihaa) memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas. Debu itu dilukiskan menempel di atas wajah, bukan menyatu dengannya.

Perhatikan bahwa golongan kedua dilukiskan dengan sesuatu yang menutupi, sedangkan golongan pertama dengan sesuatu yang memancar. Yang satu tertutup, yang lain terbuka.

Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang menyatakannya cuma pilihan kata di dua pasang ayat yang berdampingan.

Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat kepada satu hari yang sama. Pengulangan itu satu-satunya penanda bahwa keduanya berdiri bersamaan.

Ayat ini membuka dua ayat terakhir tentang golongan kedua. Sesudahnya, 80:41 menambah satu lapis lagi, dan 80:42 memberi sebutan bagi mereka.

Perhatikan pula bahwa golongan kedua tidak dilukiskan menangis atau berteriak. Yang disebut cuma debu dan kegelapan, yaitu dua hal yang diam.

Pilihan itu sejalan dengan gambaran di 80:37, yang menyebut urusan yang menyita seluruh perhatian. Orang yang perhatiannya habis tidak sempat berteriak.

Kesunyian itu membuat gambarannya lebih berat daripada gambaran yang penuh suara. Yang tidak bersuara tidak bisa didengar, dan yang tidak bisa didengar tidak bisa ditolong.

Susunan itu juga sejalan dengan seluruh penutup surahnya. Empat ayat terakhir tidak memuat satu suara pun, tidak tangis dan tidak seruan, padahal ia dibuka sebuah suara yang memekakkan di 80:33.

Tafsiran

Ayat ini berpindah ke golongan kedua: wajah yang berdebu. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40, dan di 75:24 ia juga membuka golongan kedua persis seperti di sini.

Kata pertamanya dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung, sehingga keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135. Di empat tempat itu akar itu dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan, sehingga ia biasanya menamai yang tertinggal dan bukan debu.

Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas, sehingga debu itu dilukiskan menempel di atas wajah dan bukan menyatu dengannya.

Kata keduanya diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat kepada satu hari yang sama. Golongan kedua tidak dilukiskan menangis atau berteriak; yang disebut cuma debu dan kegelapan, yaitu dua hal yang diam. Kesunyian itu sejalan dengan gambaran di 80:37, karena orang yang perhatiannya habis tidak sempat berteriak.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 75:24 dan 80:40. Di 75:24 Allah juga memakainya untuk membuka golongan kedua, persis seperti di sini. Dua surah memakai kata yang sama untuk berpindah dari golongan pertama ke golongan kedua, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangannya dengan satu kalimat pun. Dua surah yang memakai satu kata untuk berpindah golongan tidak pernah saling menyebut. Dua surah itu tidak pernah menyebut satu sama lain, dan pembacanya yang menaruh keduanya berdampingan.
  • Kata pertamanya dibuka huruf sambung, berbeda dari kata pokok di 80:38 yang berdiri tanpa penghubung. Jadi dua golongan itu dirangkai Allah, bukan diletakkan berhadapan tanpa penyambung. Susunan yang merangkai membuat keduanya terbaca sebagai satu gambaran yang terbelah, dan bukan sebagai dua gambaran yang berdiri sendiri-sendiri. Susunan yang merangkai menyatukan dua golongan ke dalam satu gambaran yang terbelah. Satu huruf sambung cukup untuk menyatukan dua gambaran yang paling berlawanan.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 8 ayat saja, antara lain 7:83, 15:60, 26:171, dan 37:135. Di empat tempat itu akar itu dipakai untuk orang yang tertinggal di belakang ketika kaumnya diselamatkan. Jadi bunyi yang biasanya menamai yang tertinggal di sini menamai debu yang menempel di wajah. Bunyi yang biasanya menamai yang tertinggal di sini menamai apa yang menempel di wajah. Yang tertinggal di belakang dan yang tertinggal di wajah dinamai dengan bunyi yang sama.
  • Kata ketiganya memakai huruf yang menyatakan sesuatu berada di atas, sehingga debu itu dilukiskan Allah menempel di atas wajah dan bukan menyatu dengannya. Sesuatu yang menempel masih terbaca sebagai tambahan pada wajahnya, bukan sebagai wajahnya sendiri. Perbedaan sehalus itu dibawa cuma oleh satu huruf. Sesuatu yang menempel masih terbaca sebagai tambahan, bukan sebagai bagian dari dirinya. Apa yang menempel masih bisa dibedakan dari yang ditempelinya, dan itu bukan hal kecil.
  • Golongan kedua dilukiskan Allah dengan sesuatu yang menutupi, sedangkan golongan pertama dengan sesuatu yang memancar. Yang satu tertutup, yang lain terbuka. Perbandingan itu tidak dinyatakan dengan satu kalimat pun, dan yang menyatakannya cuma pilihan kata di dua pasang ayat yang berdampingan. Yang tertutup dan yang memancar disandingkan tanpa satu kata pembanding di antaranya. Dua arah yang berlawanan dibiarkan berdampingan, dan pembacanya sendiri yang menimbangnya.
  • Kata keduanya diulang dari 80:38, sehingga dua golongan diikat Allah kepada satu hari yang sama. Pengulangan itu satu-satunya penanda bahwa keduanya berdiri bersamaan, dan tidak ada satu kalimat pun yang menyatakannya. Apa yang dikerjakan sebuah pengulangan ketika ia menanggung seluruh beban keterangan yang tidak pernah dituliskan? Pengulangan satu kata cukup untuk menyatakan bahwa keduanya berdiri di waktu yang sama. Kebersamaan waktu itu tidak pernah diucapkan, dan cuma satu kata yang menanggungnya.